NovelToon NovelToon
Candu Ragamu

Candu Ragamu

Status: sedang berlangsung
Genre:One Night Stand / Dark Romance / Obsesi
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: Nona Syela

Book #1 of The Walter Brothers Dia pria, pengacara paling licik di New York. Dia wanita, CEO muda yang kehilangan segalanya dalam satu malam. Satu kasus mempertemukan mereka dengan syarat yang tak masuk akal. Emily Cooper hanya ingin memenangkan kembali hak atas hidupnya. Raphael Walter hanya tertarik pada permainan yang membuat tubuhnya panas. "Aku menangkan kasusmu. Tapi kau harus menghiburku di ranjangku." Dalam dunia penuh siasat, tubuh dan kuasa adalah alat tawar. Tapi ketika menyecap panasnya hasrat, dan tiap sentuhan menjadi candu nikmat, siapa yang sebenarnya dikendalikan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Syela, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Lost Control (B)

Hampir tiga puluh menit ketegangan itu berlangsung. Raphael bisa merasakan peluh membasahi pelipisnya, sementara rahangnya mengeras rapat demi menahan gejolak pekat yang kian menekan hebat dari dalam dada. Sungguh sebuah ironi yang nyata. Dengan segala pengalaman dan kuasa yang ia miliki untuk membuat siapa pun bertekuk lutut dalam hitungan menit, justru di sini, bersama Emily, ia mendapati sebuah kebuntuan yang membuatnya terheran-heran. Kenyataannya, Emily sama sekali belum menyerahkan seluruh kesadarannya pada pesona pria itu.

Bukannya merasa puas, Raphael justru merasa harga dirinya ditantang habis-habisan. Semakin ia memaksakan dominasinya, semakin jelas Emily menunjukkan bahwa wanita itu hanya merasakan kepedihan dan kemuakan. Wajar saja, bagaimana mungkin Emily bisa mencapai titik kepasrahan jika seluruh isi pikirannya dipenuhi oleh penolakan, rasa jijik, dan tekanan mental? Rasa traumatis itu membuat batin Emily menutup diri rapat-rapat, menolak mentah-mentah setiap jamahan yang dipaksakan masuk ke dalam dirinya.

Raphael menunduk dengan napas yang memburu liar. Wajahnya mengeras karena amarah dan hasrat yang tidak tertuntaskan dengan sempurna. Otot dadanya naik-turun dengan cepat, sementara sepasang netranya menatap gelisah wanita di hadapannya. Ada bara obsesi yang menyala, rasa lapar yang tak terpuaskan, dan harga diri yang perlahan terkikis.

Untuk pertama kalinya, Raphael merasa kendali permainan ini tidak sepenuhnya berada di tangannya, dan egonya menolak keras untuk mengakui hal itu. Situasi ini justru membuatnya semakin kehilangan akal dan semakin berambisi untuk membuktikan bahwa tidak ada satu pun wanita yang mampu bertahan dari kuasanya.

Ia kembali memaksakan kehendaknya dengan intens yang kian menuntut, seolah ingin meruntuhkan seluruh pertahanan tubuh yang tampak ringkih itu. Suara kasur berdecit memecah keheningan malam seiring dengan Emily yang terguncang hebat, namun tetap saja, kepasrahan mutlak yang ditunggu-tunggu oleh Raphael tidak kunjung ia dapatkan.

Hingga akhirnya, sebuah ironi kejam kembali menampar ego sang pria. Bukannya Emily yang menyerah, justru Raphael yang tidak lagi kuasa membendung gejolak di dalam dirinya sendiri. Dengan satu pendorongan berat yang penuh keputusasaan, seluruh ketegangan itu pecah menumpahkan gejolak panas yang mengakhiri sesi mereka malam itu. Tubuhnya terguncang hebat, ia mendapatkan kepuasan secara fisik, namun mentalnya terbakar oleh rasa malu yang luar biasa.

Sialan! Pada akhirnya, dialah yang kalah dalam pertarungan ego ini.

Dengan geram dan napas tersengal, Raphael segera menarik dirinya menjauh, memutuskan kontak di antara mereka dengan kasar. Ia merapikan kembali sisa pembatas yang digunakannya dengan cengkeraman tangan yang begitu kuat menahan emosi. "Sialan," gerutunya rendah dengan suara parau yang dipenuhi rasa frustrasi.

Tanpa sudi melirik ke arah Emily yang kini terkulai lemas, Raphael turun dengan langkah berat yang tampak kesal, menyebarkan aura amarah yang pekat. Emily hanya mampu menolehkan kepalanya perlahan dengan pandangan yang mengabur oleh air mata, menatap punggung tegap pria itu yang menjauh dengan cepat. Detik berikutnya, suara dentuman keras menggema saat Raphael membanting pintu kamar mandi.

Emily mencengkeram sisinya, berusaha menahan rasa perih luar biasa yang masih menjalar hebat di sekujur tubuhnya. Setiap tarikan napas dan gerakan kecil membuat rasa nyeri itu menusuk hingga ke syarafnya, namun ia memaksa raganya yang rapuh untuk bangkit. Dengan jemari yang gemetar hebat, ia meraih tas di sisi nakas dan mengeluarkan ponselnya dengan terburu-buru. Napasnya terengah patah-patah, sesekali ia menggigit bibir bawahnya erat-erat demi menahan isak tangis yang nyaris pecah.

"Pick me up. Now! Jangan tanya apa-apa. Just get me out of here," suaranya menahan ngilu. Ia tidak mau berlama-lama di tempat terkutuk ini.

Sementara itu, di kamar mandi, Raphael berdiri tegak di depan wastafel. Kedua tangannya mencengkeram sisi benda tersebut begitu keras sampai buku-buku jarinya memutih. Air menetes percuma dari keran, tapi ia tak peduli. Tatapannya terkunci pada bayangan dirinya di cermin.

"Sialan..." erangnya marah, gigi bergemeletuk. "Apa yang barusan kau lakukan, Raphael? Kau lose control?"

Ia menunduk, mengembuskan napas kasar. Tubuhnya masih bergetar, bukan hanya karena ledakan panas tadi, tapi karena rasa kalah yang menusuk harga dirinya. "Thirty minutes, and she didn't even moan..." ia terkekeh pendek, pahit. "What the hell is wrong with you?"

Tangannya menghantam permukaan wastafel dengan keras, menciptakan dentuman yang memecah keheningan ruangan. Ia kembali menatap pantulan dirinya di cermin dengan wajah yang dipenuhi kebengisan. "Raphael Walter... pengacara paling brilian di kota ini. Pria yang bisa mendikte siapa saja dengan uang dan kekuasaan yang kau miliki. Tapi satu Emily Cooper, satu wanita keras kepala itu, bisa membuatmu sefrustrasi ini?"

Ia membasuh wajahnya dengan air dingin, membiarkan helai rambutnya berantakan seiring dengan napasnya yang masih memberat. "Ini belum berakhir," gumamnya dengan suara rendah yang berbahaya. "Mungkin ini karena ini adalah pengalaman pertamanya. Tapi segera... aku akan memastikan dinding keangkuhannya runtuh total. Aku akan membuatnya memohon di hadapanku. Tidak ada satu pun wanita yang bisa menolak kuasaku. Not a single one."

Tatapan matanya di cermin kian menggelap, berubah menjadi begitu dingin dan kejam tanpa menyisakan kehangatan sedikit pun. Sebuah senyuman sinis perlahan tersungging di sudut bibirnya—tampak menawan, namun di saat yang sama menyimpan bahaya yang mematikan.

Raphael mengepalkan tangannya kuat-kuat, mengunci komitmennya sendiri untuk tidak lagi membiarkan ego dan ketenangannya diuji oleh wanita mana pun. Ia menarik napas panjang dan dalam, berusaha meredam gemuruh di dalam kepalanya sebelum melangkah kembali keluar.

Pintu kamar mandi didorong terbuka. Raphael melangkah keluar dengan wajah penuh niat, siap melanjutkan malam panjang itu. Namun seketika langkahnya terhenti. Kamar kosong. Tak ada Emily. Bahkan benda-benda milik wanita itu pun sudah lenyap.

"What the hell!" ucapnya geram, menggertakkan gigi, menahan amarah. Sekejap kemudian ia menggebrak meja kasar di sudut ruangan, membuat permukaan kayu itu retak saking kuatnya pekulan itu.

Ponselnya diraih cepat, menekan nomor Emily dengan emosi. Nada sambung berulang. Sekali, dua kali, tiga kali. Lalu panggilan di-reject. Bahkan berkali-kali, sebanyak Raphael mencoba terus-menerus.

"Kau sedang menguji kesabaranku, Emily?" gumamnya seraya menggigit bibir bawahnya kuat-kuat hingga memucat, berusaha meredam letupan emosi yang meledak di dalam dadanya. "Kau berani melangkah keluar dan meninggalkanku begitu saja?"

Ia menatap layar ponsel yang kini menggelap dengan sorot mata yang begitu dingin dan berbahaya. "Kau pikir kau bisa lari dan bersembunyi dariku setelah malam ini? Tidak, sweetheart. Ini belum berakhir. Pertandingan di antara kita tidak akan pernah berakhir sampai aku yang menghentikannya."

Sementara itu, Emily bersandar di kursi belakang mobil, tatapannya kosong menelusuri jalanan New York yang ramai. Malam itu, kota tetap hidup, tak peduli pada kekacauan yang baru saja ia tinggalkan di hotel itu. Di balik kaca jendela, semua tampak biasa saja, seakan dunia tak pernah peduli pada luka-luka yang tak terlihat.

Tanpa sadar, setetes air mata jatuh di pipinya. Emily cepat-cepat mengusapnya dengan punggung tangan, menahan napas. No, ia menegur dirinya dalam hati. Aku bukan tipe wanita yang tenggelam dalam kelemahan. Aku bukan korban.

Ia menegakkan punggungnya, menggenggam tas erat-erat. Keputusan yang diambilnya malam ini adalah titik balik. Bukannya ia kalah, justru ia sedang memilih jalannya sendiri. Jadi tidak perlu disesali.

"Mulai besok, aku harus lebih kuat. Aku harus jadi Emily yang semua orang kenal," batinnya, meneguhkan diri. Bukankah ia sudah memberikan apa yang Raphael mau? Maka kini, giliran pria itu menunaikan bagiannya—membantunya menuntaskan seluruh kasus dengan Andrew, sampai semuanya bersih. Setelah itu, ia bisa fokus membangun perusahaannya, lebih besar, lebih berpengaruh, hingga ia berdiri tepat di puncak ambisi yang sejak lama ia kejar.

1
Mita Paramita
Ralph lagi curhat nih 🤣🤣🤣
Mita Paramita
semangat Emily 💪 Ralph terlalu memaksa kn Emily jadi takut 🤣🤣🤣 lanjut Thor 💪💪💪
Nona Syela: Wkwk iya nih Raphael mau enaknya doang
total 1 replies
Mita Paramita
lanjut Thor 🔥🔥🔥
Nona Syela: Okay😍
total 1 replies
Mita Paramita
lanjut Thor semangat nulisnya 🔥🔥🔥 ceritanya bagus
Nona Syela: Thank you kak semoga betah😍
total 1 replies
Mita Paramita
lanjut Thor 🔥🔥🔥
Nona Syela: 😍💪 siap
total 1 replies
Mita Paramita
lanjut Thor double up 💪💪💪
Nona Syela: 😍💪 Thank you kak
total 1 replies
Mita Paramita
lanjut Thor 🔥🔥🔥
Nona Syela: Siap kak 😍💪
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!