Rania, seorang dokter spesialis bedah yang logis dan tenang, merasa hidupnya adalah definisi kebahagiaan. Suaminya, Damar, adalah kontraktor sukses yang penyayang. Namun, kesempurnaan itu runtuh saat Damar hilang tanpa jejak. Polisi menyerah, namun insting Rania sebagai istri dan dokter mengatakan ada yang tidak beres.
Penyelidikan mandiri membawanya ke sebuah ruang bawah tanah di kantor lama Damar. Di sana, ia menemukan koleksi gaun, wig, dan alat rias.
Apa yang terjadi pada Damar ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Me Tha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Negeri Gajah Putih
Pesawat jet pribadi itu membelah awan dengan tenang, membawa Mario dan Dara menuju Bangkok. Di dalam kabin yang mewah, Dara duduk tertegun menatap hamparan laut dari jendela kecil di sampingnya. Tangannya yang dingin digenggam erat oleh Mario. Ini bukan sekadar perjalanan liburan; bagi Dara, ini adalah perjalanan menuju kematian identitas lamanya dan kelahiran sosok baru yang selama ini ia dambakan.
Sesampainya di Bangkok, mereka tidak menuju hotel biasa, melainkan sebuah rumah sakit kosmetik internasional yang lebih mirip hotel bintang lima. Mario telah memesan kamar super-VIP yang luas, lengkap dengan perawat pribadi yang siaga dua belas jam. Mario benar-benar menunjukkan kelasnya sebagai pengusaha sukses yang royal. Baginya, Dara adalah investasi kebahagiaannya, dan ia tidak akan membiarkan satu detail pun terlewatkan.
Ambisi Kecantikan yang Tanpa Batas
Awalnya, rencana mereka hanyalah operasi penegasan gender atau Sex Reassignment Surgery (SRS). Namun, sesampainya di sana dan berkonsultasi dengan dr. Thanawat, salah satu ahli bedah plastik terkemuka di Thailand, ambisi Mario dan Dara mulai berkembang.
"Jika kita ingin melakukannya, mari kita lakukan dengan sempurna, Sayang," ujar Mario saat mereka duduk di ruang konsultasi yang dipenuhi dengan monitor canggih. "Aku ingin saat kamu kembali ke Semarang nanti, tidak akan ada satu orang pun yang bisa mengenalimu. Kamu akan menjadi wanita tercantik yang pernah aku miliki."
Dara yang awalnya ragu, akhirnya terbuai oleh visi Mario. Operasi yang tadinya bersifat fungsional kini merambah ke ranah estetika total. Selain operasi kelamin yang rumit, Mario meminta dokter untuk melakukan Rhinoplasty—operasi plastik pada hidung agar bentuknya lebih mancung dan kecil, sesuai dengan proporsi wajah Dara yang mungil. Tidak berhenti di situ, mereka juga sepakat untuk melakukan V-Line Jaw Surgery untuk merampingkan tulang rahang dan dagu agar terlihat lebih tirus dan feminin.
Namun, yang paling ambisius adalah operasi pita suara atau Vocal Cord Surgery. Dara ingin suaranya tidak lagi memiliki sisa-sisa vibrasi maskulin. Ia ingin suaranya melengking lembut, manis, dan sepenuhnya wanita. Ia ingin setiap kata yang keluar dari bibirnya adalah bukti bahwa Damar telah benar-benar mati.
Hari-hari di Bawah Pisau Bedah
Minggu pertama adalah masa yang paling berat. Operasi dilakukan secara bertahap. Mario tidak pernah meninggalkan sisi Dara. Saat Dara terbangun dari bius total pertamanya dengan wajah yang dibalut perban putih tebal, Mario ada di sana, memegang tangannya dan membisikkan kata-kata cinta.
"Sabar, Sayang. Sakit ini hanya sementara. Sebentar lagi ulatnya akan menjadi kupu-kupu yang sangat indah," bisik Mario sambil mengusap jari Dara yang masih lemas.
Dara tidak bisa bicara. Mulutnya terasa kaku dan tenggorokannya perih akibat intubasi dan operasi pita suara. Ia hanya bisa berkomunikasi melalui tulisan di papan kecil atau sekadar remasan tangan. Rasa sakit pasca operasi kelamin juga bukan main-main. Ada rasa perih yang menjalar ke seluruh sarafnya, membuatnya harus bergantung pada dosis morfin yang diatur perawat.
Namun, perhatian Mario benar-benar luar biasa. Mario menyuapinya bubur lembut, membacakan buku, hingga memijat kakinya agar aliran darah tetap lancar. Mario bahkan menolak menghadiri pertemuan bisnis penting di Bangkok demi memastikan Dara mendapatkan perawatan terbaik. Di mata Mario, Dara adalah mahakarya yang sedang ia pahat dengan penuh kesabaran.
Masa Pemulihan yang Eksklusif
Satu bulan berlalu di Thailand, namun hasil operasi belum sepenuhnya terlihat karena pembengkakan yang masih ada di wajah. Mario memutuskan untuk memperpanjang masa tinggal mereka. Ia menyewa sebuah vila mewah di kawasan Hua Hin yang tenang dan tersembunyi dari keramaian.
"Kita tidak akan pulang ke Semarang sampai bengkakmu hilang total dan kamu bisa berjalan dengan tegak, Dara," tegas Mario. "Aku ingin efek pasca operasinya minimal. Aku ingin kamu benar-benar pulih tanpa komplikasi."
Di vila tersebut, Dara benar-benar dimanja. Setiap hari, seorang fisioterapis dan ahli gizi datang untuk memantau asupan makanannya agar mempercepat penyembuhan jaringan. Dara mulai belajar menggunakan suara barunya. Awalnya hanya bisikan pelan, namun perlahan suara itu mulai terbentuk—suara yang tinggi, halus, dan sangat feminin.
Dara sering menghabiskan waktu di depan cermin besar di kamarnya. Meskipun wajahnya masih sedikit memar keunguan di sekitar hidung dan rahang, ia bisa melihat perubahan drastis itu. Hidungnya sekarang terlihat begitu proporsional, dagunya lebih lancip, dan struktur wajahnya kini sepenuhnya lembut. Ia tidak lagi melihat bayangan pria yang dulu sering ia benci di cermin. Ia melihat seorang wanita cantik bernama Dara.
Bayang-bayang di Tengah Kemewahan
Di tengah segala kemewahan dan kasih sayang Mario, ada saat-saat di mana kesunyian malam di Hua Hin membawa pikiran Dara kembali ke tanah air. Saat ia duduk di tepi kolam renang sambil menikmati jus buah yang disiapkan pelayan, ia teringat wajah ibunya di SPBU waktu itu. Ia teringat perut Rania yang membuncit.
Rasa bersalah itu terkadang muncul seperti duri kecil yang menusuk, namun segera ia tepis dengan ego yang membatu. Ia meyakinkan dirinya bahwa hidupnya bersama Mario adalah satu-satunya jalan untuk mencapai kebahagiaan sejati. Ia menganggap penderitaan Rania dan orang tuanya sebagai "biaya" yang harus dibayar demi kebebasannya.
"Kamu sedang melamunkan apa?" Mario datang dari belakang, menyampirkan syal sutra ke bahu Dara agar tidak kedinginan oleh angin laut.
Dara tersenyum dengan wajah barunya yang kaku karena belum terbiasa bergerak bebas. "Aku hanya sedang berpikir, betapa beruntungnya aku memilikimu, Mario. Kamu mengubahku dari sebuah 'kesalahan' menjadi sesuatu yang indah."
Mario mencium pelipisnya. "Kamu bukan kesalahan, Dara. Kamu adalah takdirku. Minggu depan, kita akan mulai prosedur laser untuk menghilangkan bekas luka operasi. Aku ingin kulitmu mulus tanpa cacat."
Dara mengangguk patuh. Ia benar-benar menjadi boneka cantik di tangan Mario, dan ia menyukainya. Ia merasa aman dalam sangkar emas ini. Ia merasa bahwa dengan suara baru dan wajah baru ini, ia bisa menghapus dosa-dosanya di masa lalu. Ia tidak tahu bahwa sementara ia bersembunyi di Thailand, klinik Rania di Kendal mulai beroperasi, dan bayinya mulai menendang dengan kuat—sebuah kehidupan baru yang tetap membawa darahnya, sekeras apa pun ia mencoba menghapusnya melalui pisau bedah.
Satu bulan berubah menjadi dua bulan. Mario bersikeras melakukan segalanya demi kesempurnaan. Ia tidak tahu bahwa di Semarang, kerabatnya sedang mempersiapkan peresmian klinik Rania, dan nama "Mario" yang disanjung oleh Danang akan segera menjadi jembatan yang menarik Dara kembali ke realitas yang ia benci.
Di Thailand, metamorfosis itu hampir selesai. Dara bukan lagi Damar. Ia telah bertransformasi sepenuhnya secara fisik, suara, dan identitas. Namun, jauh di lubuk hatinya, gema suara ibunya dan tangisan Rania tetap tersimpan, menanti waktu yang tepat untuk meledak ketika ia menginjakkan kaki kembali di tanah Jawa nanti.