Chandra Baswara lahir pada malam yang indah di bawah cahaya rembulan, tetapi kebahagiaan itu retak sejak awal ketika ayahnya menolak dirinya hanya karena tanda lahir besar di wajahnya. Sejak kecil Chandra tumbuh dengan kasih sayang ibunya, namun dunia di sekitarnya tidak selalu sebaik itu. Tatapan aneh, bisikan, dan ejekan membuatnya terbiasa menyendiri dan perlahan menutup hatinya dari orang lain. Baginya, hidup sendiri terasa lebih aman daripada harus kembali merasakan penolakan. Namun semuanya mulai berubah ketika seseorang hadir tanpa memandang kekurangannya, sementara sebuah rahasia yang selama ini disembunyikan keluarganya perlahan terungkap. Di tengah luka, penerimaan, dan pencarian jati diri, Chandra harus belajar memahami bahwa manusia tidak selalu sekejam yang ia bayangkan, dan bahwa nilai dirinya jauh lebih besar daripada apa yang terlihat di wajahnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yikkii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab XXIII—SUKA
Mereka berdua telah sampai di halaman rumah. Halaman rumah yang begitu sepi dan sunyi oleh suara-suara. Halaman rumah yang dihiasi oleh banyak macam bunga yang berjejer di sana. Terdapat juga air mancur sederhana dengan beberapa ikan didalam kolam. Menandakan bahwa halaman rumah yang begitu terawat oleh tangan telaten.
Disela indahnya taman kecil itu, seorang wanita cantik dengan rambutnya yang terurai panjang, keluar dari balik pintu. Wanita itu melihat kearah Chandra dan Alera yang baru datang dari sekolah. Ia tersenyum hangat seolah menyambut kedatangan kedua remaja tersebut walaupun matanya asing pada wajah Alera.
“Assalamualaikum Bu…” Salam Chandra pada ibunya lalu mencium punggung tangan dari Ibunya.
“Waalaikumsalam Le…” Jawab salam Mandira.
Alera pun demikian ia menunduk sopan kepada Mandira, lalu mengikuti gerakan Chandra yaitu menyalami tangan Mandira.
Tanpa basa-basi Mandira memulai pembicaraan “Adik…pacar Chandra?.”
Mata Alera melebar, kaget atas pertanyaan dari Mandira.
Chandra juga terkaget-kaget, tapi dia tak tinggal diam “Apa sih Bu…Dia Alera. Alera Wening, Sepupu dari Arka Bu…” Selanya terbata-bata.
“Ah…Bukan ya?” katanya “Ayo masuk dik. Ayo-ayo masuk dik!” Ajaknya.
Alera menganggukan kepala lalu mengikuti ajakan dari Ibu Chandra. Ketiganya masuk kedalam rumah tepatnya di ruangan tamu.
“Le…Buatkan Adik cantik ini minuman dan ambilkan beberapa cemilan” Perintahnya pada Chandra. Sedangkan dia duduk di sofa, posisinya duduk saling berhadapan dengan Alera.
Chandra langsung masuk kedalam dapur untuk membuatkan minuman untuk Alera dan menyiapkan beberapa cemilan.
“Dik Alera…Mau kerja kelompok ya sama Chandra?” Tanyanya dengan senyuman.
Alera menggelang “Tidak Bu…Hanya ingin bertemu sama sampean.” Ucapnya dengan membalas senyuman dari Mandira.
Mandira mengangkat kedua alisnya, penasaran atas perkataan Alera, tujuan ke rumah untuk bertemu dengannya.
Mandira mengangkat tangan kanannya lalu menunjuk dadanya sendiri lalu bertanya kembali “Adik mengenal Ibu…?.”
Alera kembali menggelengkan kepalanya “Belum Bu…Maka dari itu saya kemari untuk mengenal Ibu.” Ucapnya
“Saya ingin mengenal seorang Ibu yang telah melahirkan kata dari ‘Ketampanan’ dan ‘Ketulusan’ secara bersama.” Lanjutnya sambil tangan kanannya menyentuh dada.
Mandira semakin kebingungan atas pernyataan dari Alera. Perkataanya terlalu sulit untuk di pahami oleh seorang ibu-ibu seperti Mandira tapi dia dapat sedikit mencerna pernyataan tersebut. Hingga Mandira kembali bertanya “Maksudnya Dik Lera, Chandra…?”
Alera tersipu malu dengan beberapa anggukan kepala.
Mandira menarik kedua ujung pipinya, seakan senyumnya kali ini sungguh senyum yang paling indah dari senyum-senyum sebelumnya.
“Adik ini bisa saja” balasnya “kenalin ya, Ibu ini namanya Mandira, Ibu Chandra. Ibu dari kata ketampanan dan ketulusan seperti yang kamu ucapkan tadi.” Ujarnya mengenalkan diri sambil meledek sedikit Alera.
Alera tak kuasa menaham malu. Ia hanya mengangguk dan tersenyum malu-malu memejamkan matanya. Dalam hatinya ia berkata:
AHHH GILA, GILA, GILA, betapa bodohnya aku. Sungguh ini memalukan untuk anak perempuan bicara seperti itu. Sungguh…tolong siapapun pukul aku untuk sekarang karena kebodohanku ini sangat memalukan…
Mandira geleng-geleng namun tetap dengan senyuman tulusnya. Tatapannya masih tertuju pada Alera yang terlihat semakin salah tingkah lalu ia berkata “Dik lera suka sama Chandra?…” Tanyanya yang keluar begitu saja.
Alera yang tadi hanya menunduk, kini benar-benar membeku. Tangannya yang berada di atas paha perlahan mengepal, napasnya tertahan sejenak. “I-iya… bukan… maksudnya…” ucapnya terbata-bata tidak tersusun dengan baik. Seolah semua yang ada di kepalanya tiba-tiba berantakan.
Mandira memperhatikan dengan seksama, tanpa memotong. Senyumnya tetap ada, namun matanya sedikit menyipit, mencoba membaca lebih dalam.
Alera menunduk lebih dalam. Wajahnya saat ini mulai memerah. Ia bahkan tidak berani mengangkat pandangan. “S-saya… ti-tidak tahu Bu…” ucapnya yang tetap terbata-bata.
“Tidak tahu?.”
Alera mengangguk kecil “Saya… merasa saat melihatnya hati saya seakan ingin meledak,” lanjutnya pelan. “Dan… jantung saya juga demikian.” Kali ini suaranya lebih jelas, meski masih tertahan.
Mandira tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap Alera beberapa detik lalu tersenyum kembali. Senyum yang lebih lembut dari sebelumnya.
“Iya itu berarti kamu suka padanya kan?…” Ucapannya pelan, seolah mengulang kata itu dalam pikirannya sendiri.
Di dalam dapur, Chandra berdiri diam.
Tangannya memegang gelas, namun tidak bergerak. Air yang seharusnya ia tuangkan sejak tadi masih belum berpindah dari teko. Ia hanya menatap permukaan air itu, seolah pikirannya berada di tempat lain, di ruang tamu.
Pintu dapur tidak tertutup rapat. Suara dari ruang tamu terdengar samar tapi tidak cukup jelas untuk didengar ataupun dimengerti.
Hanya potongan-potongan kecil yang terdengar. Ia tidak benar-benar mencoba mendengarkan tetapi juga tidak sepenuhnya mengabaikan. Ada sesuatu yang membuatnya tetap berdiri di sana, entah apa itu tak ada yang tahu kecuali dirinya.
Ia menarik napas pelan, lalu akhirnya menuangkan air ke dalam gelas. Gerakannya begitu tenang. Di luar, suara percakapan masih terdengar samar. Namun kali ini ia memilih untuk tidak memedulikannya.