Renata seorang istria dan ibu rumah tangga, dia mengabdikan hari-harinya untuk sang suami tercintanya Raditya dan anak semata wayang mereka Rindiani.
Dulunya Renata merupakan seorang direktur diperusahaan yang saat ini dipegang oleh suaminya tapi karena dia sudah memiliki anak jadi memilih untuk menyerahkan jabatan ke Raditya suaminya dan akan mengurus anaknya saja dirumah.
Tapi sepertinya keputusan dia salah, karena sang suami ternyata berselingkuh dibelakangnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Atul Maronge, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24 Rindiani Ingin Mama Dan Papanya Bersama Lagi
Kini tibalah acara ulang tahun Rindiani, dia sangat bahagia karena di ulang tahunnya kali ini semua keluarga berkumpul.
Tahun kemarin nenek dan kakeknya tidak bisa hadir karena mengurus Rani yang saat itu sedang ada masalah dikampusnya.
Tapi sekarang semua terlihat hadir, ayah dan ibu Raditya datang bersama Rani serta Romi. Romi bahkan hari ini sengaja mengosongkan jadwalnya agar bisa menghadiri pesta ulang tahun sang keponakan.
Dia memang selalu hadir di pesta ulang tahun Rindiani, Romi sangat menyayangi Rindiani meskipun Raditya dan Renata sudah berpisah dia akan selalu mengunjungi Rindiani jika ada waktu luang.
"Ratih tidak ikut Raditya?" Tanya ibu setelah selesai acara tiup lilin dan Raditya bergabung dengannya
"Tidak bu, Ratih hari ini ada interview sama agency" Jawab Raditya.
"Agency apa emangnya? Sepenting itukah sampai tidak mau menghadiri pesta ulang tahun anak kamu?" Tanya ibu Raditya.
"Agency model bu, dia ingin kembali ke dunia modeling lagi bu. Ya bagaimana lagi kan jadwalnya barengan lagi pula Ratih sudah menitipkan kado untuk Rindiani" Jawab Raditya dengan santai.
"Yaudah kalau gitu, ibu mau ambil makanan dulu" Ucap ibunya dan berlalu kearah stand makanan yang ada disana.
Raditya melihat Rindiani begitu bahagia diujung sana bersama teman-temannya, mungkin jika Rindiani tahu hal yang sebenarnya dia tak akan bisa sebahagia ini.
*****
Ditempat lain kini Ratih sudah mulai wawancara dan ternyata dia dapat job menjadi model majalah dewasa, mau ditolak juga sayang lagian kesempatan kembali kedunia modeling tidak akan datang untuk kedua kalinya.
"Bagaimana Tih apa kamu setuju?" Tanya Rini sang pengurus agency modeling tempat Ratih melamar pekerjaan disana.
"Baiklah saya setuju miss asalkan tidak terlalu fulgar" Jawab Ratih.
"Halaah nanti kalau kamu udah dapat cuannya mah paling gas aja" Ucap Rini dengan tawa sedikit mengejek karena kebanyakan model majalah yang baru datang memang seperti itu, tapi setelah mendapatkan cuan yang besar apalagi kalau posenya sangat fulgar uang yang didapatkan semakin banyak.
Dan kini mereka bahkan tidak sungkan lagi meminta job yang bertemakan fulgar fulgar untuk majalah dewasanya.
"Silahkan kamu baca surat kontrak dan poin-poin dalam perjanjiannya harus kamu fahami terlebih dahulu" Ucap Rini dengan menyodorkan surat kontrak pada Ratih.
Ratih segera menerima kontrak kerjanya dan mulai membaca secara detail dan teliti, dia tak mau ceroboh dengan asal membubuhkan tanda tangan karena ini menyangkut karirnya apalagi dia terjun didunia modeling seperti ini pasti banyak sekali poin penting didalamnya.
Setelah memastikan semuanya oke, Ratih segera membubuhkan tanda tangannya dikolom yang sudah disediakan dalam surat kontrak kerja itu.
"Sudah miss, jadi kapan saya mulai ada job?" Tanya Ratih.
"Tunggu saya calling, tapi besok kamu harus datang kesini lihatlah teman-teman kamu jika mereka sedang berpose. Selama ini kan kamu bukan model majalah dewasa jadi harus banyak belajar...!" Ujar Rini dengan nada penuh penekanan.
"Baik miss, besok saya akan datang. Jam berapa mereka akan mulai pemotretan?" Tanya Ratih.
"Datanglah jam sepuluh pagi" Jawabnya.
"Baik miss, kalau begitu saya permisi" Ucap Ratih yang langsung diangguki oleh Rini.
Ratih melangkah keluar dari kantor agency tersebut, saat dia diparkiran pandangan matanya menatap ke arah pemuda yang pernah dia temui dijalan tempo hari sewaktu macet.
"Laki-laki itu.." Gumam Ratih dan terus menatapnya hingga punggung laki-laki itu hilang karena sudah masuk ke kantor agency model.
"Jangan-jangan dia salah satu model disini" Lanjut Ratih dan langsung mencari taksi yang sedang mangkal disekitar sana.
Disana banyak sekali taksi yang mangkal karena masuk area perkantoran, dan taksi biru diizinkan untuk mangkal disana.
"Keapartemen xxx dijalan ahmad yani ya pak" Ucap Ratih pada driver taksi.
"Baik mbak" Jawabnya dan mulai melajukan mobilnya meninggalkan area gedung perkantoran itu.
Tak berapa lama taksi yang dinaiki oleh Ratih sampai di apartemen tempat tinggalnya bersama dengan Raditya.
Ratih segera masuk kedalam lift, disana dia terlihat sedikit uring-uringan karena Raditya tidak mengabarinya sama sekali dan malah membuat status foto kebersamaan keluarganya di acara ulang tahun Rindiani yang ke-6 tahun.
"Hihhh dasar..! Apa dikiranya aku gak penting apa" Gerutu Ratih.
Tak berapa lama liftnya berhenti di lantai tempat tinggalnya, dengan langkah pasti dan dibuat se songong mungkin dia melangkah ke unitnya.
Dia memang sengaja bertingkah seperti itu, agar jika berpapasan dengan orang lain mereka akan segan dengannya.
"Huuhhh ketemu kasur juga" Ucap Ratih dan merebahkan dirinya diatas ranjang berukuran King size itu.
Sembari rebahan dia menscrol akun media sosial miliknya, dan pandangan matanya bertumpu pada postingan seseorang.
"Mas Rifky?" Gumam Ratih.
Ya Rifky adalah suami dari Rohana yang merupakan sahabat Renata, ternyata Rifky mantan kekasih Ratih saat duduk dibangku kuliah dulu.
Dia melihat postingan Rifky bersama dengan Rohana dan juga Rindiani yang sedang berulang tahun hari ini.
"Hmm ternyata dia suami sahabatnya Renata sib*doh itu" Gumam Ratih dan membuka akun media sosial milik Rifky.
Dia melihat-lihat semua fotonya disana, terlihat Rifky begitu bahagia dengan Rohana.
Bahkan beberapa foto terlihat mereka sedang jalan-jalan keluar negeri.
"Harusnya kalau dulu aku gak selingkuhin kamu mungkin saja aku yang jadi pendampingmu, tapi aku sih bahagia bisa lepas dari kamu dan mencari lelaki yang lebih kaya dan mapan dari kamu" Ucap Ratih.
Dari tadi dia mengomel sendiri tak terasa matanya sangat ngantuk dan susah untuk dibuka, akhirnya dia ketiduran dengan tetap memegang ponsel ditangannya.
Sedangkan di tempat lain kini Rindiani tengah merengek agar sang papa tetap disana, dia ingin tidur ditemani papa dan mamanya seperti dulu.
Kini Renata dan Raditya hanya saling menoleh tanpa ada yang bisa memberikan jawaban atas permintaan Rindiani.
"Ayolah pa, nanti temani kakak tidur bareng mama juga" Ucap Rindiani dengan manja.
"Kalau kakak mau tidur bareng papa ayok sayang, tapi mama gak ikut ya" Jawab Raditya.
"Gak mau pa, maunya sama papa dan mama" Ucap Rindiani.
"Sayang, saat ini mama dan papa tidak boleh untuk satu kamar bersama kalau tidur" Ucap Renata mencoba menjelaskan dengan perlahan pada sang putri.
"Kenapa ma? Padahal dulu kita sering tidur bertiga, bahkan kalau gak tidur sama kakak mama dan papa kan tidur bersama" Jawab Rindiani.
"Iya sayang tapi itu dulu, kalau sekarang gak boleh nak. Nanti dosa"
"Kok bisa gitu ma?" Tanya Rindiani
"Mass bantuin dong, jangan diam aja aku bingung menjelaskannya" Ucap Renata dengan sedikit berbisik.
"Ya bagaimana aku juga bingung menjelaskannya" Jawab Raditya dengan menghendikkan bahunya.
"Huuuhhhh...."
"Kenapa ma? Kok malah kalian bingung?" Tanya Rindiani.
"Mama sama papa sudah tidak bisa bersama lagi nak. Nanti kalau kamu sudah besar pasti tahu maksud mama" Ucap Renata.
"Tapi...kalian mau kan untuk malam nanti menemani kakak tidur bersama?" Pinta Rindiani dengan nada memohon.
"Hmm baiklah nak, hanya untuk malam ini" Kini Raditya menjawab dengan yakin karena tidak ingin membuat kecewa sang putri di hari istimewanya.