NovelToon NovelToon
Tante Sasa

Tante Sasa

Status: sedang berlangsung
Genre:Tante / Fantasi
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: Dutta Story_

Seorang pria muda, yang menyukai wanita lebih tua darinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dutta Story_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

-

Sementara itu, Laras sedang duduk di atas ranjang di dalam kamarnya. Tangannya memegang telepon genggam. Tatapannya begitu lekat pada layar ponsel tersebut. Dia berbicara pelan, "Ke mana, ya? Arif kok enggak balas-balas," gumamnya pelan. Lalu, dia pun kembali mengirim pesan ke Arif.

~Laras: Sayang, kamu ke mana sih?

Pesan itu terkirim, namun Arif sama sekali tak membaca apalagi membalas pesan itu.

Sedangkan Arif, dia sedang menaiki lift bersama Sasa untuk menuju ke lantai atas. Sampai lift itu terhenti, pintu terbuka dan memperlihatkan sebuah lorong.

"Ayo," ucap Sasa. Tangannya bergerak menarik tangan Arif dan membawanya pergi.

"Luas banget apartemen kamu," kata Arif sambil melangkah dan sesekali menatap ke pintu-pintu yang dia lewati.

"Enggak terlalu luas, sih," jawab Sasa sampai terhenti di depan pintu. Dia pun membuka pintu itu hingga terlihat ruangan yang begitu mewah.

Arif melangkah masuk ke ruangan itu. Ingatan dan hatinya terasa nyaman saat melihat ruang utama yang terpajang foto-foto, hiasan, serta kursi. Dari belakang, Sasa yang selesai menutup pintu mendekat dan berbicara.

"Di sini beginilah, berantakan banget," ucapnya pelan.

Arif membalikkan wajah. "Ini enggak berantakan, kok. Tapi bersih, rapi, sama nyaman banget," ucapnya dengan wajah tersenyum.

"Oh iya, bentar." Sasa melangkah menuju pintu, lalu dia pun menutup dan mengunci pintu itu dengan erat.

"Kok dikunci, sih?" tanya Arif sambil duduk di kursi sofa itu.

"Enggak apa-apa, biar nyaman saja. Enggak ada yang ganggu kita. Rif, ngomong-ngomong kamu sekolah di mana?" tanya Sasa sambil duduk di kursi sofa tersebut.

"Aku di SMA 1 Mars," jawab Arif.

"Eh, kok sama ya sama anak aku."

"Maksudnya gimana?"

"Laras. Dia juga masuk SMA 1 Mars, dia masuk kelas 11A. Sebelumnya dia sekolah di SMA 1 Yogya."

Arif terdiam. Dia menatap Sasa. Dalam pikirannya dia terus berkata, "Laras? Dia kan pacarku. Kok bisa? Ini enggak benar. Masa iya sih, gue selingkuh sama mamanya juga?" gumam Arif dalam hati. Dia merasa bingung dengan kenyataan yang baru diketahuinya.

"Arif, kamu kenal Laras?" tanya Sasa menatapnya begitu lekat.

"Kenal. Dia orangnya pintar banget. Aku enggak terlalu kenal, cuma kenal sebagai teman satu kelas."

"Eumm, kalau gitu aku titip Laras, ya. Kalau ada apa-apa kamu jagain. Laras itu orangnya baik, sopan. Tapi kadang orang suka membencinya."

"Hmzz. aku bakalan jagain."

"Kalau misalkan kamu jadi papa dia, gimana menurutmu?"

"Eh? Gimana kalau Laras nolak? Lagian aku masih muda, sama Laras kayaknya beda beberapa tahun doang. Aku enggak yakin kalau misalkan aku nikah, Laras jadi anak angkat, pasti dia enggak mungkin menerima."

Dalam pikiran Arif langsung berkata, "Aduh, gimana nih? Tapi kalau Sasa tahu aku pacaran sama Laras, gawat banget. Apa aku putusin Laras?... Enggak mungkin aku bisa menyukai orang yang sama dalam satu waktu," gumamnya dalam hati.

"Sudah lupain, kita jalanin hubungan kita saja. Soal Laras nanti saja, yang pasti aku bisa nyaman denganmu." Sasa menggerakkan tangannya menyentuh hidung Arif.

Arif menganggukkan kepalanya, lalu dia pun tersenyum. Perlahan dia berbicara, "Aku ingin tahu, kenapa orang lain enggak ada yang suka sama kamu?" tanyanya.

"Kalau aku rasa, enggak ada yang cocok saja," jawab Sasa sambil menaikkan alisnya.

"Kok mau sama aku?"

"Aku suka saja sama penampilan kamu, wajah kamu, dan hati kamu. mulai sekrang kita memiliki hubungan yang sepecial," Sasa menggerakkan tangannya memegang tangan Arif, lalu Sasa kembali berbicara. "Kita janji agar saling menyayangi," ucapnya disertai senyuman.

Arif mengangguk. tanpa di sadari, Sasa langsung memeluk Arif di kursi itu. Mereka berdua berpelukan.

Dalam hati, jantungnya berdebar-debar. Arif baru kali ini merasakan hangatnya pelukan, walaupun dia dipeluk oleh orang yang lebih tua.

Hatinya berkata, "aku kerasukan apa sih? Bisa-bisanya mamanya Laras meluk dan menyukai aku. Kok aku merasa beda banget dengan perasaan aku ke Laras?" gumamnya.

Sasa tak hanya memeluk, dia juga menciumnya. Arif yang membayangkan hal itu tiba-tiba matanya terbuka lebar saat sentuhan bibir terasa di lehernya.

Lagi-lagi, pikirannya terbang. Hatinya berkata, "Jir, ini janda berpengalaman. Buset dah, tegang banget. Aduh, Jon, lo ngapain ikut berdiri?" gumamnya. Perlahan senyuman timbul di bibirnya.

Tak lama Sasa melepas pelukan itu. Arif menatap lekat. Tiba-tiba Sasa menaikkan alisnya dengan wajah yang tersenyum.

Godaan Sasa sangatlah maut. Walaupun Sasa belum berpengalaman dan hanya melihat lewat drama India, sungguh gila, tapi Sasa memiliki tujuan. Apa yang dia lakukan itu seperti sebuah bekas yang akan membuat Arif tak bisa pergi jauh darinya. Walaupun Sasa tak yakin dengan rencananya, tapi dia percaya dia bisa membuat Arif tidak akan pernah jauh darinya.

Sasa yang duduk bersama Arif di kursi itu kini berdiri, lalu dia pun berbicara, "Aku ke kamar mandi dulu," ucapnya.

"Iya Sasa," jawab Arif, walaupun dia merasa ragu memanggil nama itu.

"Kamu mau ikut?"

"Enggak ah, sudah malam. dingin soalny."

"Kata siapa dingin? Justru kamu belum coba jadi enggak tahu rasanya. Hangat, tahu."

"Maksudnya gimana? Kok bisa hangat?" Arif merasa bingung, sedangkan dalam pikirannya dia sedang traveling ke Jepang.

"dengar sayang, kamar mandi di sini kan ada air hangatnya."

"Begitu ya? Enggak deh, aku tunggu di sini saja," jawab Arif sambil tersenyum.

"Ya sudah," jawab Sasa, lalu dia pun melangkah pergi mengambil handuk yang seperti pakaian, berwarna putih yang berada di atas meja.

Arif yang duduk menatap kepergian Sasa masuk ke dalam pintu kamar mandi. Saat pintu itu ditutup, Arif pun mengambil telepon genggamnya. Saat telepon genggam dia nyalakan, dia melihat banyak sekali notifikasi dari Laras.

~Laras: Sayang?

~Laras: Kamu sudah sampai rumah kah, Sayang?

~Laras: Kok enggak dibaca sih?

~Laras: Aku kangen, Sayang.

~Laras: Kita VC yuk?

Arif menghela napas kasar dengan hati yang terkejut melihat pesan dari Laras. Arif masih menatap pesan itu, pikirannya mencari solusi, lalu dia pun membalas pesan tersebut.

~Arif: Aku udah di rumah.

~Arif: Maaf Sayang, aku kecapean jadi ketiduran.

Arif menatap pesan yang dia kirim ke Laras. Pesan itu hanya centang satu. Saat Arif melihat ke arah jam di telepon genggamnya, waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Pantas saja pesan Laras sudah centang satu.

Saat Arif mematikan telepon genggamnya, dia pun menaruhnya di atas meja. Dari arah pintu kamar mandi, Sasa membuka pintu itu. Sasa melangkah keluar dengan pakaian putih panjang sampai ke lutut dengan pinggang yang diikat. Sasa menghentikan langkahnya, lalu berbicara.

"Kamu mau tidur? Ganti pakaian dulu ya, biar tidurnya nyaman," ucap Sasa dengan wajah tersenyum.

"nanti aja. Aku masih belum ngantuk soalnya. Kalau kamu mau tidur duluan enggak apa-apa," jawab Arif menatap Sasa.

"Aku duluan ya, tapi kamu juga tidur ya. Jangan di situ tidurnya, di kamar sama aku."

"Tapi..."

"Jangan malu Sayang, enggak ada yang lihat. Lagian cuma kita berdua doang." Sasa tersenyum dan menaikkan kedua alisnya, lalu dia pun melangkah pergi menuju ke arah kamar.

1
Haikal Nto
suka,,,jadi penisirin
sitanggang
sahabatnya me inggal malah pergi kencan dan hak ada mellow2nya, ini jalan ceritanya kok jelek bgt yaa🤣🤣🤣👎👎
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!