Aurora menyeringai, "Kakak maafkan aku. Aku tidak bermaksud menyakiti mu. Selama ini kami saling mencintai. Karena kamu memaksa, akhirnya Jake menikahi mu. Jadi aku mengambil yang sudah menjadi hak ku."
"Apa maksud mu? Jake suami ku," ucap Caroline dengan nada menekan. Air matanya sudah mengalir, entah semenjak kapan. Ia tidak tau. Sakitnya seperti tercabik-cabik.
Tommy tertawa dan melangkah ke arah Caroline. "Jake suami mu." Sekali lagi ia mengulang ucapan Caroline. Ia mendekatkan mulutnya ke telinga Caroline. "Apa selama ini kau menikmati pelayanan ku?"
.....
Demi balas dendam untuk kekasihnya. Jake Willowind dan Tommy Willowind menggunakan sandiwara. Mereka bergantian tidur dengan Caroline. Seolah Caroline adalah barang. Sehingga suatu hari, Caroline mengetahui semuanya bahwa Jake memiliki saudara kembar dan sering kali berperan sebagai suaminya. Bahkan suaminya diam-diam masih bersama dengan adik tirinya Aurora.
"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sayonk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab dua empat
Caroline menaikkan sebelah alisnya. Dia menatap Aurora yang berada di hadapannya dengan perut buncit. Sudah lima bulan lamanya ia dan Luca tidak pernah keluar menemui Jake.
Kedatangan Jake selalu di sambut tidak hangat. Luca yang begitu dingin dan tegas. Bahkan pada Tommy sekalipun. Bertemu dengan Aurora pun Luca begitu dingin karena dia tau rubah jelek itu.
"Kau kesini, ada angin apa?" tanya Caroline. Tadi seorang pelayan yang menemui Caroline dan mengatakan kedatangan Aurora.
Aurora tersenyum, ia menang karena ia bisa hamil. "Kedatangan ku kesini hanya ingin bersahabat dengan mu. Kau mengandung Luca anak Jake, tapi aku tidak tau dia anak Jake atau Tommy. Sedangkan aku anak Jake. Jadi apa salahnya aku bersahabat dengan mu. Kita sama-sama membesarkan keluarga Willowind."
Ejekan Aurora tidak mempengaruhi pikiran Caroline. "Begitu ya, tapi maaf saja. Aku bisa membesarkan Luca tanpa meminta tanggung jawab Jake dan Tommy. Sedangkan kau, kau harus mengemis tanggung jawabnya. Bahkan kau belum di nikahi sekalipun anak itu anak Jake. Aku takutnya Jake hanya menginginkan anak mu bukan dirimu. Kalau aku beda sedikit. Jake menginginkan aku dan Luca."
Aurora menahan amarahnya. Gemuruh di hatinya bagaikan pisau yang ingin memotong lidah Caroline. "Kau begitu sombong. Kau lihat saja saat aku membuktikan bahwa anak ini adalah anak Jake."
"Aku mendukung mu. Lakukan saja, kami tidak kekurangan uang dan menjilat ranjang orang lain."
"Aurora." bentak Tommy. Darahnya mendidih melihat Aurora berada di rumah Caroline. "Apa kau berniat menyakiti Caroline dan Luca? Aku tidak akan membiarkan sedikit pun kau menyentuh mereka."
"Tommy dia sedang hamil. Kau tidak boleh mengkasari orang hamil."
Semenjak Jake dan ia bercerai. Ia mulai akur pada Tommy hanya karena ingin memanfaatkannya. Tommy bisa ia manfaatkan untuk membuat Aurora mendidih setiap saatnya. Sampai dimana kebenaran itu terbukti.
Kini Jake menunggu anak itu lahir meskipun bisa Test DNA tanpa menunggu Aurora melahirkan. Tapi ia tetap bersikeras pada Jake. Membujuk Jake agar Aurora melahirkan anak itu. Ia tidak ingin anak itu di gugurkan oleh Aurora karena terbukti bukan anak Jake. Ia kasihan pada anak itu. Aurora tidak mungkin mengakui anak itu.
"Tommy kau kesini untuk apa?" tanya Caroline. Ia sama sekali tidak tertarik dengan kedua pria busuk ini.
"Aku dan Luca sudah janjian untuk memancing," jawab Tommy.
Luca datang tepat waktu. Dia memakai topi dengan sebuah rompi dan kaos putih. Alat pancingnya dan tas besarnya itu di bawah oleh seorang pengawal di belakangnya.
"Hay Mom. Aku janjian dengan Om Tommy untuk memancing. Mommy ikut aku. Emm dan Tante Aurora ada angin apa kesini?" tanya Luca.
"Tidak ada, aku hanya ingin bertemu dengan mu. Sebentar lagi aku akan menikah dengan Daddy mu. Jadi pastinya kau akan menjadi saudara dengan anak ku."
"Begitu ya, aku senang jika memiliki saudara." Luca menoleh ke arah Caroline. "Jika tidak ada pembicaraan lagi. Aku mau mengajak Mommy pergi dengan Om Tommy."
Aurora berdiri, ia tersenyum. "Baiklah Tante pergi dulu. Semoga hari kalian menyenangkan." Ia sangat senang Tommy dan Caroline begitu dekat. Dengan begitu Jake pasti menyerah.
...
Aurora mendatangi kantor Jake. Ia memandangi kantor Jake yang begitu luas. Suatu saat anaknya pasti yang akan mewarisinya. Sedangkan Luca hanyalah nasib menjadi anak pungut saja. Selama masih ada dirinya. Ia akan menjadikan anaknya pewaris satu-satunya di keluarga Willowind.
Setelah sampai di ruangan Jake. Aurora tersenyum sambil menghampiri Jake. "Jake besok waktu ku cek kandungan. Aku ingin di temani oleh dirimu."
"Kau punya kaki. Aku sibuk." Jake berdiri lalu meninggalkan Aurora di ruangannya.
Kedua telinga Aurora memanas, hatinya seperti di bakar habis. Kedua air matanya menggenang. ia harus bisa menahan semua ini demi suatu hari nanti.