NovelToon NovelToon
Janda Muda Pilihan CEO

Janda Muda Pilihan CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO / Mengubah Takdir
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: nazla bibah

Bagi Nazya, janda muda yang membawa trauma mendalam akibat mantan suaminya yang abusif, pernikahan adalah neraka yang tidak akan pernah ia masuki lagi. Namun, takdir berubah dalam semalam ketika mobil mewah milik Dafa Mahardika, seorang CEO dingin dan berkuasa, menabrak motor yang ia tumpangi bersama ayahnya hingga membuat Nazya mengalami cacat sementara.
Dihantam rasa bersalah sekaligus ketertarikan kuat pada pandangan pertama, Dafa langsung menyetujui tuntutan ayah Nazya untuk bertanggung jawab dengan cara menikahi putrinya. Nazya yang pasrah terpaksa menurut demi sang ayah.
Pernikahan mewah pun terjadi, namun penderitaan baru justru dimulai di kepala Nazya. Terjebak dalam trauma masa lalu, Nazya selalu ketakutan setiap kali berdua dengan Dafa—ia tak berani makan duluan, takut meminta nafkah, dan refleks menghindar karena mengira sang suami akan memukulnya.
Di tengah dinding trauma yang begitu tebal, mampukah kelembutan dan perlindungan posesif dari sang CEO menyembuhkan hati Nazya y

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nazla bibah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 23: DI UJUNG JARUM MAUT

Aroma obat penenang yang samar di dalam kamar VIP Rumah Sakit Pusat Mahardika seketika menguap, digantikan oleh hawa pekat dari kecemasan dan kegilaan yang memuakkan. Nazya Humaira merasakan punggungnya menghantam dinding beton kamar dengan keras. Langkah kakinya yang masih dibalut gips ringan terasa begitu kaku dan tak berdaya. Di hadapannya, Rendy berdiri dengan tatapan mata yang sepenuhnya telah kehilangan waras, memegang sebuah alat suntik berisi cairan racun saraf yang siap merenggut paksa sisa napasnya.

"R-Rendy... sadar! Apa yang kamu lakukan?!" pekik Nazya dengan suara yang bergetar hebat menahan rasa syok. Kedua tangan kurusnya mencengkeram erat tongkat penyangga kayu di samping tubuhnya, mencoba menjadikannya sebagai satu-satunya tameng pelindung terakhir. "Jika kamu melakukan ini... kamu tidak akan pernah bisa lolos dari Mas Dafa! Seluruh dinasti Mahardika akan memburumu sampai ke ujung dunia!"

Mendengar nama Dafa disebut dari bilah bibir ranum Nazya, rahang Rendy seketika mengeras sempurna. Seringai distorsi di wajahnya berubah menjadi sebuah kerutan kemarahan yang luar biasa pekat.

"Dafa Mahardika?! Jangan sebut nama bajingan sombong itu di depanku, Nazya!" bentak Rendy, suaranya parau dan melengking tinggi membelah keheningan kamar yang tersisih. "Dia yang menghancurkan hidupku! Dia yang merebutmu dariku! Dia mengira dengan uang dan kekuasaannya, dia bisa memperlakukan keluargaku seperti sampah! Malam ini, Baskoro Sanjaya sudah menyiapkan kuburan massal untuk Dafa dan ibunya di pelabuhan... dan di sini, aku yang akan membebaskanmu dari jerat gairah pria dominan itu!"

Rendy melangkah maju satu langkah lebar lagi, mengikis jarak di antara mereka hingga deru napasnya yang memburu terasa menjijikkan di kulit wajah Nazya. Ujung jarum suntik maut yang tajam itu diarahkan lurus, hanya berjarak beberapa sentimeter dari permukaan kulit leher jenjang Nazya yang kini telah memucat menyerupai mayat.

Di saat yang sama, di kawasan galangan kapal pelabuhan utara kota, pertempuran di tengah kegelapan total akibat bom EMP telah mencapai puncaknya. Dafa Mahardika bergerak layaknya badai hitam yang tak kasat mata di antara celah-celah kontainer besi raksasa. Senapan serbu taktis di tangan kanannya terus memuntahkan timah panas secara manual, menumbangkan setiap anggota tentara bayaran internasional The Vipers yang mencoba mempersempit ruang geraknya.

Mikael dan beberapa anggota tim taktis divisi satu telah berhasil membawa Mami Kinanti masuk ke dalam terowongan evakuasi bawah tanah dengan aman. Namun, Dafa sengaja tetap tinggal di area dermaga luar, memosisikan dirinya sendiri sebagai umpan hidup untuk menarik seluruh perhatian pasukan musuh agar tidak mengejar jalur pelarian ibunya.

BANG! BANG!

Dua selongsong peluru milik musuh melesat membelah rintik hujan, menghantam dinding kontainer tepat di samping kepala Dafa, memercikkan bunga api yang menerangi sepasang mata elangnya yang berkilat tajam penuh haus darah. Luka goresan peluru di lengan kanannya terus mengalirkan darah segar yang membasahi kemeja putihnya yang koyak, namun pria dominan itu sama sekali tidak bergeming. Sifat posesif dan insting predator puncaknya malam ini telah bertransformasi seutuhnya menjadi sosok malaikat maut.

"Pak Dafa! Helikopter bantuan dari divisi dua telah tiba di atas udara!" teriak salah satu pengawal taktis Mahardika melalui alat komunikasi darurat cadangan yang baru saja diaktifkan secara manual.

Di atas langit pelabuhan yang pekat, tiga helikopter tempur mewah berwarna hitam tanpa logo mendadak muncul dari balik awan, menyalakan lampu sorot raksasa berkekuatan jutaan lumen yang seketika menghancurkan kegelapan total di area galangan kapal.

Di bawah siraman cahaya terang benderang tersebut, sisa-sisa pasukan The Vipers yang terkejut langsung menjadi sasaran empuk bagi rentetan tembakan taktis dari udara. Keunggulan jumlah mereka lenyap dalam hitungan menit di bawah amukan amunisi Mahardika.

Dafa melangkah keluar dari balik bayangan kontainer dengan gerakan yang sangat tenang namun menindas. Ia mengarahkan laras senjatanya tepat ke arah komandan operasional The Vipers yang kini telah terdesak di ujung dermaga dengan kaki yang tertembak.

"Katakan pada Baskoro... waktu bermainnya telah habis," desis Dafa, suaranya terdengar sangat rendah, bariton, dan dipenuhi oleh tekanan intimidasi mutlak seorang penguasa tertinggi.

PHUT!

Satu tembakan akhir berperedam mengakhiri perlawanan di pelabuhan malam itu. Dafa membalikkan tubuh besarnya, menyerahkan sisa pembersihan area kepada Mikael yang baru saja keluar dari terowongan evakuasi.

Pria itu merogoh ponsel cadangannya yang baru saja pulih dari dampak EMP, berniat menghubungi pihak rumah sakit untuk memastikan kondisi istrinya. Namun, belum sempat jarinya menyentuh layar, sebuah panggilan darurat dari kepala pengamanan internal Rumah Sakit Pusat Mahardika mendadak masuk dengan nada dering yang melengking cepat.

"P-Pak Dafa... mohon ampun, Pak! Ini darurat tingkat tinggi!" suara kepala pengawal di seberang telepon terdengar sangat histeris dan dipenuhi kepanikan yang luar biasa. "Seseorang... seseorang baru saja memotong kabel arus utama CCTV di lantai VIP. Sisa-sisa anak buah Sanjaya melakukan serangan pengalihan di lobi utama... dan kami baru saja mendapati bahwa Rendy... mantan suami Ibu Nazya, telah berhasil menyusup masuk ke dalam kamar VIP dengan menyamar sebagai dokter! Kamar dalam kondisi terkunci rapat dari dalam, Pak!"

Detik itu juga, seluruh pasokan darah di dalam tubuh tegap Dafa seolah berhenti berputar dingin. Sepasang mata elangnya melebar sempurna, memancarkan binar kemurkaan dewa perang yang teramat sangat mengerikan hingga membuat Mikael yang berdiri di sampingnya refleks melangkah mundur ketakutan.

"Jika terjadi seujung rambut saja luka pada istriku... besok pagi seluruh kepala pengawal di rumah sakit akan kupastikan membusuk di dasar laut!" raung Dafa dengan suara baritonnya yang menggelegar membelah gemuruh hujan pelabuhan. Pria itu langsung melesat kencang melompat masuk ke dalam mobil SUV hitam antipeluru cadangan, menghentak pedal gas hingga batas maksimal, membelah jalanan kota menuju rumah sakit dengan kecepatan yang menantang maut.

Kembali ke dalam kamar VIP rumah sakit, kesabaran Rendy yang telah digerogoti oleh kegilaan dendam akhirnya habis total. Seringai kejamnya mengembang lebar saat melihat Nazya yang sudah tidak memiliki ruang lagi untuk menghindar di sudut dinding.

"Selamat tinggal, Nazya sayang... Mari kita mulai kehidupan baru kita di dunia bawah," desis Rendy parau.

Tangan kanan Rendy bergerak secepat kilat, menghantamkan jarum suntik maut itu ke depan, mengincar langsung untuk menusuk pembuluh darah di leher jenjang Nazya.

Dalam kondisi yang teramat terdesak antara hidup dan mati tersebut, insting bertahan hidup Nazya bergolak hebat. Menggunakan seluruh sisa kekuatan otot lengannya, janda muda itu mengangkat tongkat penyangga kayu di tangan kanannya, lalu mengayunkannya sekuat tenaga ke arah pergelangan tangan Rendy.

PRAAAKKK!

Hantaman keras tongkat kayu itu berhasil mengenai sasaran dengan telat. Alat suntik berisi racun saraf itu terlepas dari genggaman Rendy, terbang ke udara dan jatuh pecah berantakan di atas lantai keramik, menumpahkan seluruh cairan kimia berbahaya itu hingga menguap mengeluarkan bau menyengat.

"Bajingan perempuan!" teriak Rendy murka saat melihat rencana pembunuhan halusnya gagal total.

Rasa frustrasi dan kegilaannya membumbung ke puncaknya. Tanpa memedulikan rasa sakit di pergelangan tangannya, Rendy maju menerjang maju, kedua tangan kekarnya langsung mencengkeram kuat leher jenjang Nazya, mencekik wanita itu dengan kekuatan penuh hingga tubuh ramping Nazya terangkat sedikit dari lantai.

"Uhuk... Mas... Mas D-Dafa..." lirih Nazya, suaranya tersendat di tenggorokan akibat pasokan udara yang terputus total. Wajah cantiknya mulai berubah memerah keunguan, dan kedua tangan kurusnya meraba-raba liar ke udara, mencoba melepaskan cengkeraman maut mantan suaminya yang sedang kesetanan tersebut. Sepasang mata indahnya perlahan mulai membalik ke atas saat kesadarannya berada di ambang batas kepunahan.

BOOOOOOMMMM!

Pintu kayu tebal kamar VIP yang dikunci dari dalam mendadak hancur berantakan menjadi serpihan kecil akibat dihantam oleh tabrakan badan mobil SUV hitam milik Dafa yang nekat dikendarai menerobos masuk menembus dinding kaca koridor lantai dua rumah sakit.

Dafa Mahardika melompat turun dari balik kemudi mobil dengan pakaian yang bersimbah darah dan aura haus darah yang telah mencapai level tak terbatas. Pria dominan itu melesat maju seperti macan tutul yang mengamuk, mencengkeram rambut belakang Rendy dengan kasar, lalu membanting tubuh pria gila itu ke atas lantai batu dengan kekuatan yang sanggup meremukkan tulang punggung manusia dalam sekali gerak.

Dafa langsung menduduki dada Rendy, tangan kirinya mengunci leher Rendy di atas lantai, sementara tangan kanannya yang memegang pistol berperedam suara diarahkan tepat, menempel keras di antara kedua mata Rendy yang kini terbelalak ketakutan melihat kedatangan sang malaikat maut.

"Mas Dafa... j-jangan..." panggil Nazya dengan suara yang sangat parau dan lemah sembari terengah-engah merosot di sudut lantai, mencoba menahan suaminya agar tidak melintasi batas hukum demi dirinya.

Namun, tepat di saat jari telunjuk Dafa sudah mulai menekan pelatuk senjata untuk meledakkan kepala Rendy, dari arah kolong ranjang perawatan yang remang-remang, sebuah alat pemantik bom bunuh diri (detonator) berbentuk kotak hitam kecil yang ternyata telah dipasang oleh Rendy sebelumnya, mendadak mengeluarkan suara desis digital yang cepat berbunyi bip-bip-bip dengan angka digital merah yang menghitung mundur: 00:03... 00:02... 00:01...

1
miilieaa
halo kak, baru awal baca udah seru nihh
miilieaa: baik kakak, saya lanjut baca dulu lagi yaa kak
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!