Jiang Qiuye, putri tabib Jiang begitu sedih setelah tahu bahwa dirinya bukanlah putri kandung dari orang yang telah membesarkannya selama lima belas tahun.
Apalagi saat ia tahu bahwa ayah kandungnya tidak menginginkannya bahkan tega membuangnya begitu saja.
Untuk itu Qiuye berusaha agar bisa masuk ke dalam istana dan berharap mendapatkan informasi mengenai dirinya dan keluarga aslinya itu.
Akan tetapi perjuangannya tidak lah mudah, Qiuye harus menghadapi berbagai macam rintangan. Bahkan ayah kandungnya yang telah mengetahui bahwa dirinya masih hidup pun, menjadikannya sebagai buronan istana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon novi niajohan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23. Membawa pergi
Beberapa saat sebelumnya.
Rombongan iring-iringan membawa sang kaisar negeri ini kembali dari perbatasan utara bersama dengan tuan perdana menteri pertahanan dan para prajurit yang dipimpin langsung oleh jenderal besar Guan Mu Long menuju istana.
Sedangkan disisi lain, pasukan berkuda anak buah khusus terlatih yang dipimpin oleh jenderal muda Guan Yu tengah siap sedia menunggu di tengah perbatasan kota untuk menyambut iring-iringan tersebut.
Selain tujuannya untuk menjaga keamanan dan menyambut kedatangan kaisar Song, pasukan itu juga bermaksud menahan perjalanan kaisar agar tidak berpapasan dengan rombongan keluarga Huang yang sama-sama sedang menuju ke pertigaan di pusat kota.
Selama menunggu rombongan tersebut, tiba-tiba salah seorang anak buah Guan Yu datang menghampiri dan membawa sebuah berita tidak terduga.
"Tuan muda, rombongan keluarga Huang diserang sekumpulan orang tidak dikenal."
"Apa?"
"Ya Tuan," balas orang itu.
Tanpa berpikir panjang, Guan Yu segera menarik kudanya hingga berbalik arah, lalu memerintahkan beberapa orang agar ikut dengannya.
"Antar aku kesana!" ucapnya pada si pembawa pesan.
"Baik Tuan," balas si pembawa pesan.
"Xin, selama aku pergi, aku memerintahkan kau agar mengambil ambil alih pasukan kita untuk menyambut kaisar pulang," titah Guan Yu sebelum pergi.
"Baik Tuan," patuh Xin mengerti. Lalu Guan Yu segera pergi menuju tempat kejadian dimana rombongan nona huang diserang oleh sekelompok orang tidak dikenal.
Setelah tiba di tempat tujuan, Guan Yu berfokus pada suatu tujuan. Dimana ia menemukan Qiuye tengah berjuang mati-matian menahan serangan dari pria bertopeng. Lalu ia terbang turun dari kudanya dan langsung menebas kepala orang yang telah menusuk Qiuye.
Guan Yu kemudian berjongkok untuk melihat keadaan gadis itu, lalu bergegas membawanya pergi agar mendapatkan pengobatan sebelum terlambat.
"Ku mohon bertahanlah ..." ucap Guan Yu sambil mengendarai kudanya.
Sementara itu Xin melihat iring-iringan kaisar telah datang mendekat dan ia segera menyambut rombongan besar itu sebagaimana yang telah diperintahkan oleh tuannya.
"Salam hormat pada Kaisar, Jenderal Besar dan Tuan Perdana Menteri Huang. Selamat datang kembali," salam Xin memberi hormat.
"Kenapa kau yang menyambut pasukan ini? Lalu ada dimana Jenderal Muda?" tanya Jenderal Guan Mu Long ayahnya Guan Yu.
"Jenderal muda sedang ada urusan mendadak dan meminta hamba yang mewakili beliau untuk menyambut anda semua," jawab Xin.
"Urusan penting apa sampai mengabaikan kedatangan pimpinan negara ini?" tanya Jenderal Guan Mu Long sedikit gusar.
"Sudahlah Mu Long, putramu adalah ketua mata-mata negara kita. Jika dia tidak bisa menyambut kita dan enggan memberi tahu apa alasannya, maka sedang terjadi urusan yang sangat penting," sela Kaisar menyibak kain yang menutupi keretanya.
"Benar Jenderal Besar, Guan Yu adalah pria kompeten dan dia juga pria yang berprinsip. Dalam hidupnya aku selalu melihat ia selalu mengedepankan kepentingan negara dibandingkan kepentingan keluarganya sendiri," sambung Tuan Huang membela.
"Ucapan anda benar Kaisar dan tuan Huang," ucap Jenderal Guan Mu Long tidak memperpanjang lagi. "Xin, antar rombongan ini ke istana!" titahnya kemudian karena ia tidak bisa mengantar rombongan itu lebih lanjut dikarenakan dirinya harus kembali ke perbatasan utara bersama prajuritnya.
"Baik Jenderal Besar," jawab Xin patuh lalu mengambil alih pasukan.
Namun belum sempat ia pergi, dua orang wanita dengan wajah panik mendekati rombongan itu.
"Ayah! Ayah!" pekik wanita tersebut yang ternyata adalah nona Huang.
"Yao Er!" balas Tuan Perdana Menteri menuruni kudanya. Ia berlari ke depan menyambut raga putrinya yang sedang menangis ketakutan sambil di papah oleh Bibi Lan pengasuhnya.
"Ayah, tolong Qiuye. Tolong dia?"
"Apa maksudmu Yao Er? Ucapkan pelan-pelan Ayah tidak mengerti," ucap Tuan Huang berusaha menenangkan putrinya yang panik.
"Qiuye ... Dia dalam bahaya ... ." Nona Huang menceritakan kejadian yang baru saja ia alami, dan meminta pada ayahnya agar segera membawa pasukan untuk membantu Qiuye melawan perampok di dekat pertigaan jalan pusat kota.
"Ayah tolonglah Qiuye, dia rela berkorban demi melindungi." Nona Huang terisak-isak lalu terkulai lemas tak sadarkan diri dipangkuan ayahnya karena syok.
"Yao Er!" sahut Tuan Huang panik begitu pula dengan yang lain.
"Ada apa dengan putrimu?" tanya Guan Mu Long yang juga mendekati.
"Ada perampok mencoba membunuh putriku, tapi beruntung putri tabib Jiang melindungi putriku," jawab Tuan Huang lalu mengangkat putrinya agar menaiki kereta.
"Kau bilang apa? Putri Tabib Jiang?" ucap Jenderal Guan Mu Long bergetar hebat.
"Ya, dia sedang dalam bahaya. Dan Yao Er memintaku agar membawa pasukan dan membantu putri tabib Jiang melawan perampok," jawab Tuan Huang.
"Apa!" Seketika kejadian lima belas tahun terlintas dalam benak Guan Mu Long, dimana ia pernah menitipkan bayi perempuan kepada tabib Jiang sahabatnya agar dirawat.
Tak banyak bicara Guan Mu Long segera menaiki kudanya, lalu pergi kepertigaan jalan pusat ibu kota untuk melakukan penyelamatan.
"Mu Long!" panggil Tuan Huang kepada Jenderal Guan Mu Long yang tiba-tiba saja pergi.
"Ada apa? Kenapa rombongan kita belum jalan?" tanya Kaisar Song.
"Maaf Yang Mulia, biarkan hamba periksa terlebih dahulu," ucap Tabib Nan yang ternyata ikut bersama dengan Kaisar dalam satu kereta.
Dan setelah mendapatkan berita ia segera menyampaikannya kepada Kaisar.
"Apa? Di jam segini berani sekali mereka merampok putri perdana menteri, berikan titah untuk menangkap perampok itu dan berikan hukuman berat!" ucap Kaisar Song Murka.
"Baik Yang Mulia," ucap Kasim yang menerima titah dari kaisar.
Sebagai kepeduliannya, Kaisar Song turun dan menemui Tuan Huang agar bisa melihat keadaan putrinya. "Bagaimana dengan putrimu?" tanyanya kemudian.
"Dia hanya mengalami syok Yang Mulia," jawab Tuan Huang.
"Biarkan Nona Huang istirahat dalam kereta ini, periksa dan rawat dia dengan baik. Kita harus kembali ke istana secepat mungkin dan akan membahas masalah perampokan ini," ucap Kaisar.
"Baik Yang Mulia," ucap semua orang yang mendengar.
...***...
Sementara itu Jenderal Guan Mu Long telah tiba di tempat kejadian, ia segera menarik kudanya agar berhenti dan memandangi sekitar berharap menemukan sesuatu.
Selain barang-barang yang berantakan dan beberapa orang tidak bernyawa yang berbaring di atas tanah. Jenderal Guan Mu Long tidak menemukan seorang gadis pun yang dimaksud, ia bergegas turun untuk memeriksa sendiri dan menemukan sebuah boneka terkena noda darah.
"Dimana dia? Ada dimana?" ucapnya mencari-cari ke sekitar.
Namun pencarian terhenti ketika salah satu anak buah Guan Yu datang untuk memberitahu sesuatu.
Merasa kenal dengan pria itu Guan Mu Long membiarkannya mendekat.
"Tuan besar, orang yang anda cari sudah ada di kediaman anda."
"Benarkah?" tanyanya mencoba meyakinkan lagi.
"Benar, Tuan besar. Tuan muda telah membawanya pulang untuk diobati," balas salah satu anak buah Guan Yu.
...Bersambung....