NovelToon NovelToon
Because Of Music We Met

Because Of Music We Met

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Crazy Rich/Konglomerat / Anak Genius
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Sandra Yandra

Banyak yang beranggapan bahwa musik hanyalah suara yang disusun demikian rupa sehingga mengandung irama, lagu, dan keharmonisan. Terutama suara yang dihasilkan dari alat-alat yang mampu menciptakan nada indah.

Namun, tidak... Musik tidak sesederhana itu.

Musik jauh lebih kompleks dan dalam daripada apa pun di dunia ini. Musik mengandung kekuatan magis yang mampu membuat seseorang menjadi lebih kreatif, lebih inovatif, lebih peka terhadap rasa, dan bahkan menjadi sosok yang penuh dramatis.

Musik memiliki kekuatan untuk membentuk kehidupan seseorang, namun di saat yang sama, ia juga bisa menjadi alat yang menghancurkan segalanya.

Ketika musik menjadi alasan bagi seseorang untuk memutuskan ikatan emosionalnya dengan orang lain, lalu menutup diri dari dunia...

Maka pertanyaannya kini adalah...

Bisakah musik itu juga menjadi alasan untuk mempersatukan mereka kembali?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sandra Yandra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bercerita

[HARMONI HIGH SCHOOL]

[Di Dalam Kelas]

Judika sudah berada di sekolahnya. Saat ini, dirinya hanya bisa berdiam diri di bangku kelasnya. Pikiran dan hatinya sama sekali tidak bisa fokus pada pelajaran, karena masih terus tertuju pada kejadian pagi tadi di mana kakak kandungnya, Chandra menampar pipinya dengan keras, lalu dia membalasnya dengan pukulan.

Bagi Judika, dia tidak terima ditampar begitu saja hanya oleh kakaknya hanya karena dia tidak menginginkan kakaknya dan ibunya mengusik kehidupannya, padahal disini dia yang korbannya. Ditambah lagi, tamparan tersebut adalah tamparan kedua yang dia terima sejak pertemuan tersebut.

Tanpa diminta, setetes cairan bening jatuh dari mata bulatnya, diikuti oleh tetesan-tetesan lainnya.

"Aku membenci kalian. Aku membenci kalian," batin Judika berteriak. Memendam rasa sakit yang begitu dalam.

Tanpa sadar sosok-sosok yang selama ini selalu ada untuknya yaitu Arjuna, Yongki, Hendy, Nathan, Jericko dan Tamma telah datang menghampiri meja Judika. Mereka langsung duduk mengelilingi adik kesayangan mereka itu, seolah membentuk benteng perlindungan.

PUK..

Nathan menepuk pelan bahu Judika. Sentuhan itu sukses menyadarkan lamunan panjang Judika.

Perlahan Judika mengangkat kepalanya dan menatap satu per satu wajah para kakaknya dengan tatapan yang masih sayu dan basah oleh air mata.

"Kenapa, hum?" tanya Arjuba lembut, mencoba memancing cerita.

"Ceritalah pada kami. Keluarkan semuanya. Jangan dipendam sendiri," ujar Tamma dengan tatapan teduh.

"Aku membenci mereka. Aku ingin mereka pergi dari kehidupanku selamanya," jawab Judika lirih namun penuh penekanan.

"Dika. Kakak tahu perasaanmu dan betapa besar kesedihanmu. Tapi bagaimana pun, mau tidak mau, suka tidak suka, mereka adalah keluargamu. Ibu dan Kakak kandungmu sendiri," kata Hendy mencoba menasihati dengan nada selembut mungkin.

"Aku tidak peduli! Mereka telah merenggut kebahagiaanku dari sejak aku kecil. Mereka pergi dan memilih meninggalkanku sendirian bersama Ayah tanpa membawaku serta mereka. Dan sekarang... kehadiran mereka kembali justru membuat Ayahku pergi meninggalkanku untuk selamanya."

"Aku tidak butuh mereka. Aku bisa hidup sendiri walau tanpa mereka sekali pun," jawab Judika dengan nada tinggi. Emosinya mulai naik kembali.

"Dika," ucap Arjuna lembut sambil memegang kedua bahu Judika dan memaksanya menatap wajahnya. "Dengarkan kakak. Kakak tahu apa yang kau alami. Kakak sudah menganggapmu sebagai adik kakak sendiri. Kakak mohon, Dika! Jangan benci mereka. Mereka keluargamu."

Mendengar kalimat itu, Judika justru dengan kasar menepis tangan Arjuna dari bahunya. Dia langsung berdiri menatap tajam kakak tertuanya itu.

"Kakak bilang, kakak mengerti apa yang aku alami. Kakak bilang, kakak sangat mengerti perasaanku. Tapi kenapa justru kakak menyuruhku untuk tidak membenci mereka?" tanya Judika dengan nada menuntut.

"Kakak tahu tidak? Sejak Ayah berhenti dan tidak memukuliku lag. Sejak Ayah menyayangiku lagi. Sejak Ayah menjadi malaikat pelindungku. Sejak Ayah memenuhi semua kebutuhanku. Sejak itulah aku benar-benar berusaha keras untuk tidak membenci ibuku dan kakakku lagi. Sebisa mungkin aku akan memaafkan mereka dan menerima mereka untuk kembali ke dalam hidupku."

Judika berhenti sejenak untuk menelan ludah, kenangan pahit itu kembali berputar jelas di kepalanya.

"Saat itu ibu menelpon Ayah. Dan aku bisa lihat dengan mataku sendiri, Ayah begitu bahagia menerima panggilan dari ibu. Wajahnya bersinar cerah."

"Tapi saat Ayah meminta alamat rumah, dimana ibu dan kakakku tinggal, ibu langsung mematikan panggilan tersebut. Raut wajah Ayah berubah drastis menjadi sangat sedih dan kecewa. Dan dari situlah. Dari detik itulah aku mulai membenci mereka lagi. Bahkan rasanya jauh lebih besar dari sebelumnya."

Judika mengusap kasar air matanya yang terus mengalir. "Aku saja mau memaafkan Ayah. Padahal dia lah yang paling sering menyakitiku. Kenapa mereka tidak?"

"Ayah sudah cukup menderita atas kesalahannya selama ini. Apa tidak cukupkah penderitaan itu bagi mereka sehingga mereka menolak memaafkan kesalahan Ayah?

"Sehingga pada akhirnya, Ayah rela mengorbankan nyawanya hanya untuk mendapatkan kata maaf dari ibu. Ayah berhasil mendapatkan maaf itu. Ayah berhasil mendapatkan kembali senyum ibu dan kakak. Tapi lihatlah! Ayah pergi meninggalkanku. Pergi untuk selamanya!" teriak Judika meluapkan segala sesak di dadanya.

Tanpa pikir panjang, Arjuba langsung menarik tubuh Judika dan memeluknya sangat erat. Tangannya bergerak otomatis mengusap-usap punggung adiknya itu, berusaha menyalurkan kekuatan.

"Menangislah. Keluarkan semuanya. Jangan kau tahan isakkanmu, Dika!" bisik Arjuna di telinga Judika.

"Hiks... Hiks! Mereka jahat pada Ayah. Mereka sudah merebut Ayah dariku. Mereka sudah membuat Ayah pergi meninggalkanku. Aku membenci mereka, kak. Aku membenci mereka.. Hiks."

Akhirnya bendungan yang sedari tadi ditahan oleh Judika pun pecah. Isak tangisnya lepas kendali di dada bidang Arjuna.

Melihat pemandangan itu membuat Yongki, Hendy, Nathan, Jericko dan Tamma pun ikut meneteskan air mata. Mereka merasakan betapa beratnya beban yang selama ini dipikul oleh adik kesayangan mereka itu.

"Sudahlah. Jangan menangis lagi. Bagaimana kalau hari ini, kau menginap di rumah kakak? Lagian juga kau sudah lama tidak menginap di rumah kakak," tawar Arjuna setelah Judika sedikit tenang. Dia mencoba mengalihkan suasana dan memberikan rasa aman.

Judika perlahan melepaskan pelukannya, lalu menatap wajah tampan kakaknya itu dengan mata yang sembab.

"Benarkah? Aku boleh menginap di rumahmu, kak Juna? Apa nanti Ayah dan Ibunya kakak tidak akan membunuhku saat sudah disana?" tanya Judika polos di sela-sela sisa tangisnya.

TAK..

"Aww."

Arjuna menjitak kening putih Judika cukup kencang. Dia menatap kesal sekaligus gemas pada adiknya itu.

"Kau pikir orang tuaku psikopat, hah?!"

Judika seketika memanyunkan bibirnya dengan cemberut. "Ya. Siapa tahu? Kan tidak ada yang tahu isi hati manusia, selain Tuhan."

"Jadi, bagaimana? Mumpung penawarannya masih berlaku," ucap dan tanya Arjuna sambil menjahili Judika agar suasana jadi lebih ringan.

Mendengar itu, wajah sedih Judika perlahan berubah cerah. Dia mengangguk-anggukkan kepalanya dengan sangat cepat layaknya anak anjing yang diberi makanan.

Melihat tingkah lucu Judika, mereka semua pun tersenyum gemas. Mereka semua lega melihat senyum itu kembali hadir.

1
whiteblack✴️
apa Dika mulai buka hatinya untuk damai...akan lebih baik...terus mengejar cinta ya dika
sri wahyu
judika masih perang dengan batinnya sendiri pelan pelan saja
whiteblack✴️
hati Dika masih tertutup rapat... apa masih proses menerimaan..
sri wahyu
pelan2 saja judika jangan terburu buru
sri wahyu
pecah sudah tangisku di bab ini kak,,,, mendengar cerita judika
sri wahyu
baru baca 4 bab aq dah mau nangis kak💪💪💪👍👍👍
sri wahyu
cerita baru ya kak
whiteblack✴️
Dika masih perang ego nya😤
Himme
Ada yang mau bantu nonjok si Chandra... sungguh bikin emosi banget. Nggak sadar diri💢/Speechless/
whiteblack✴️
sahil loe ya...enggak ngerti suasana serius...tadi ngomong serius..biar chandra itu sadar mala..di ajak bercanda..😒
whiteblack✴️
sepertinya butuh waktu lama..Dika berdamai ..apa lagi punya kakak emosian suka maen tangan pula😒
Himme
Taukan kenapa Judika sulit memberikan maaf pada ibu dan kakaknya tapi mereka berdua aja yg egois/Wilt//Grievance/
Sandra Yandra: benar sekali.
Egois nya adalah mereka tidak mau memaafkan dan memberikan kesempatan kepada suaminya/ayahnya. Sementara mereka terus mendesak Judika untuk memaafkan mereka.
total 1 replies
Himme
Benci banget sumpah.. yang satu egois dan satunya emosian💢
whiteblack✴️
aku benci banget kakaknya gampang emosian maen tangan pula apa lagi ibunya egois sekali/Panic/
whiteblack✴️
lebih baik judika belajar untuk ikhlas aja..siapa tau hari" nya bisa menyenangkan kembali...
Himme
Kasihan Judika.. lagian itu si Chandra dan ibunya egois nya kebangetan💢
Himme
Part yang paling aku hindari/Sob/
whiteblack✴️
chan loe egois dan gampang emosi/Panic/ .. enggak sadar kesalahan loe huh/Angry/
whiteblack✴️
pertempuran ego+ hati= suara mulut pedas akan segera di mulai/Scare/
whiteblack✴️
hemmm...tuw kan Judika marah besar...ama ibunya..../Grievance/....sepertinya butuh waktu untuk berdamai semuanya...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!