Hanie, seorang gadis blasteran Indo-Melayu, yang menjadi koban ego para siswa di masa sekolahnya. Baginya, Devian Azka adalah sebuah mimpi ngeri.Orang yang memiliki mata cokelat indah, tetapi kepribadiannya menyebalkan, dan seorang pengecut yang rela menindas demi memuaskan egonya, telah menyakiti Hanie
Namun, itu hanya kisah silam dan takdir tidak pernah salah.
Tiga tahun kemudian, di tempat kuliah yang sama mereka bertemu lagi.Dengan sifat Hanie yang mulai dingin dan Devian Azka yang memohon maaf atas dosa-dosanya dulu.Devian Azka yang berdiri di depan Nur sekarang itu bukanlah lagi anak berandalan yang brengsek seperti dulu.Dia kini adalah pria dewasa yang bisa membesarkan salah dan benar. Baginya hanya Hanie jiwa nya.
Apakah bisa Hanie memaafkannya atau kebencian dan kekecewaan lebih besar di hatinya?
Nantikan kisah lanjutnya di "Our Hurt Story"
Selamat membaca dan mohon dimaafkan atas segala kekurangannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zaniera99, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 22 :Wisuda
Hari Wisuda akhirnya tiba setelah lama diriku menanti.Tidak lama lagi,kebebasan yang kunanti akan kudapatkan.Dan mimpiku untuk menjadi psikologi akan bisa kuusahakan.
Aula besar sekolah kini sesak oleh siswa dan siswi yang telah lulus SMA. Suara tawa lega dan isak tangis perpisahan juga bunyi klik kamera memenuhi setiap sudut ruangan yang berhawa dingin itu. Semua orang tampak bahagia, saling berpelukan dengan sahabat karib, dan sibuk mengabadikan momen terakhir mereka sebagai siswa SMA. Namun bagiku, hari ini bukanlah sebuah perayaan prestasi. Hari ini ialah sebuah pemulaan bagi hidupku untuk menjadi peribadi yang lebih bak dari sekarang.Hari ini juga sebagai penutupan dari setiap mimpi ngeri dan trauma yang telah kualami selama hari-hari ku disini.
Aku menarik nafas lega merasakan akhirnya perjuangan diriku disini.Dan aku bersyukur nilai ku juga lulus dan memungkinkan ku untuk kuliah di universitas pilihanku nanti.
Aku berdiri menyendiri di salah satu sudut aula yang agak remang, menjauh dari keramaian. Di tanganku, aku menggenggam map ijazah dengan sangat erat, seolah-olah kertas itu adalah tiket keluarku untuk melarikan diri dari masa lalu. Cahaya lampu aula yang memantul di wajahku membuat kulit kuning langsatku tampak sedikit lebih cerah, apalagi dengan polesan riasan tipis yang kupakai hari ini. Riasan sederhana yang membuat kecantikan ku terpancar.
Beberapa guru yang lewat sempat berhenti sejenak, memberikan ucapan selamat dan memuji penampilanku yang terlihat berbeda hari ini. Aku hanya mampu membalasnya dengan senyuman tawar, senyum sopan yang dipaksakan hingga sedikit menampakkan lesung pipit di pipiku. Lesung pipit yang biasanya dianggap manis oleh orang lain.
Di tengah aula, aku melihat Syasya dan Amani. Mereka sedang sibuk berswafoto dengan gaya berlebihan, tertawa lepas seolah-olah dunia adalah milik mereka. Mereka tidak menoleh sedikit pun ke arahku, seolah-olah aku hanyalah bayangan yang tidak pernah benar-benar ada dalam kehidupan mereka selama dua tahun terakhir. Tak ada lagi cacian, tak ada lagi pandangan merendahkan, yang tersisa hanyalah pengabaian total. Dan anehnya, aku merasa jauh lebih baik dengan pengabaian itu.
Tiba-tiba, aku merasakan sesuatu yang aneh.Entah hanya fikiranku atau benar-benar wujud.Tetapi aku merasa seperti ada sepasang mata yang sedang melihatku dari kejauhan. Awalnya aku mencoba mengabaikannya, mengira itu hanya perasaan yang membuat halusinasi.
Aku memutar tubuh perlahan, menatap ke arah belakang.Di sana mataku terpaku dengan dua bola mata hazel yang sedang menatap ke arahku dan tak sengaja beradu tatap.Devian Azka.Itu dia
Dia terlihat sangat berbeda hari ini. Jubah wisudanya terpasang sempurna di bahunya yang lebar, membuatnya nampak sangat gagah. Rambutnya yang biasanya berantakan dan menutupi dahi, kini tersisir rapi ke belakang, mempertegas garis wajahnya yang tajam. Dan tentu saja, sepasang mata hazel yang indah itu untuk pertama kalinya mendebarkan ku.
Dia tidak bersama Arif atau gengnya kali ini. Dia berdiri seorang diri, terpisah dari keriuhan teman-temannya yang sedang merayakan kelulusan dengan riangnya.
Kami saling berpandangan untuk waktu yang terasa sangat lama.Satu saat..dua ...tiga saat....Dan saat tersadar ke saat terakhir aku pun memalingkan wajahku.
Dalam jarak sekitar beberapa meter yang memisahkan kami,dan beberapa saat yang singkat aku bahkan masih bisa mengingat riak wajahnya. Tiada senyum kemenangan yang meremehkanku. Dan tiada lagi riak menyebalkan yang biasanya ia tunjukkan untuk memancing amarahku. Bibirnya tampak sedikit bergerak, seolah-olah dia sedang membisikkan namaku dalam hati, namun suaranya tertelan oleh riuh orang sekitar.Namun mengingatkan apa yang sudah ia perbuat membuatku memalingkan wajahku.Dan aku juga malas ingin tahu tentang dia lagi.Cukuplah masa remajaku di sekolah hancur kerana orang seperti dia.
Mata hazel itu kini nampak redup.Tiada kebencian hanya sayu dan rapuh.Dan tentu saja aku takkan terpedaya hanya kerana pandangan itu.Aku bisa merasakan gejolak batinnya dari jauh.Dia seperti ingin melangkah maju.Ingin mendekat dan menghilangkan jarak kepadaku.
Namun disisi lain, aku juga melihat keragu-raguan yang amat besar dalam dirinya. Dia tampak keliru dan bingung.Mungkin dia takut jika aku akan menolaknya mentah-mentah, atau mungkin jauh di dalam lubuk hatinya, dia merasa bahwa dirinya memang tidak layak untuk berdiri di sampingku setelah segala luka yang ia torehkan. Namun ku biarkan saja dan tiba-tiba aku terdengar ada yang memanggil ku.
"Hanie, ayo pulang!"
Suara Ibu memecah keheningan sunyi di antara aku dan Azka. Ibu sudah berdiri di dekat pintu keluar aula dengan wajah yang menunjukkan ketidaksabaran yang biasa. Beliau tidak suka berlama-lama di tempat yang ramai dan berisik seperti ini.
Aku menghela napas panjang, mencoba menenangkan debaran aneh yang muncul secara tiba-tiba.
Aku menatap Azka untuk terakhir kalinya.
Aku tidak memberinya senyuman. Aku tidak melambaikan tangan sebagai tanda perpisahan. Aku hanya menatapnya dengan pandangan yang kosong dan datar.Mungkin tatapan terakhir yang ingin menyampaikan bahwa meski aku telah memilih untuk memaafkan demi ketenanganku sendiri, aku tidak akan pernah bisa melupakan apa yang telah terjadi. Masa lalu tetaplah masa lalu, dan ia tidak memiliki tempat di masa depanku.
Saat aku melangkah keluar meninggalkan aula, aku sempat menoleh sedikit ke belakang. Azka masih berdiri kaku di tempat yang sama, tak bergeming sedikit pun. Aku bisa melihat mata hazelnya mulai berkaca-kaca, memerah saat dia memperhatikan setiap langkahku hingga sosokku hilang ditelan pintu besar dewan.Apa dia menangis?Tetapi kubiarkan saja.kerana aku tahu aku tidak sepenting itu di kehidupannya.Bahkan orang lain sekalipun.
"Selamat tinggal, Devian Azka.Selamat tinggal semua mimpi ngeriku.Aku berharap takkan ada yang akan bertemu lagi denganku.Kalau bisa selamanya." bisikku pelan dan hanya aku yang bisa mendengarnya.
Sambil berjalan menuju tempat parkir, aku mengeluarkan cermin kecil dari tas. Aku menatap pantulan wajahku di sana. Lesung pipitku muncul sedikit secara alami. Kali ini, itu bukan karena aku merasa bahagia dalam pengertian yang biasa. Aku tersenyum karena aku merasa bebas. Bebas dari belenggu sekolah ini, bebas dari intimidasi Arif, dan yang terpenting, bebas dari bayang-bayang mata hazel yang selama ini menghantuiku.
Satu hal yang tidak pernah kuketahui saat itu adalah, di balik jubah graduasi , tangan Devian Azka sedang menggenggam erat sebuah amplop kecil yang tersimpan di saku celananya. Itu adalah surat permohonan maaf yang ia tulis berkali-kali. Sebuah surat yang berisi pengakuan jujur tentang perasaannya. Namun, hingga detik terakhir, dia tetap tidak cukup berani untuk menyerahkannya padaku.
Dia hanya bisa berdiri mematung, melihat Hanie pergi pergi menjauh tanpa sempat menebus satu inci pun luka yang pernah ia tanamkan.
Sedangkan bagiku, Hanie, hari terakhir di sekolah ini adalah hari untuk dia lebih menyayangi dirinya sendiri.
Memaafkan semuanya,siapa pun yang pernah menabur duri di jalanku, siapa pun yang pernah menghina, meski mereka tidak pernah datang untuk meminta maaf secara langsung. Aku melakukan itu bukan untuk mereka, tapi untuk diriku sendiri. Karena mulai detik ini, niatku hanya satu ,hidup sepenuhnya sebagai Hanie yang baru, tanpa beban masa lalu, dan tanpa luka yang tertinggal. Dunia di luar sana sedang menungguku, dan aku sudah siap untuk menghadapi segala ujian dan cobaan yang ditakdirkan untukku.
Selamat tinggal jiwa lamaku. Tuhan bantu aku untuk hidupku dan diriku...