NovelToon NovelToon
Jangan Sentuh Anak-anakku

Jangan Sentuh Anak-anakku

Status: sedang berlangsung
Genre:Single Mom / CEO / Balas Dendam
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Ummu Umar

Biah merupakan seorang Single parent yang membesarkan ke-tujuh orang anak, dan diantaranya adalah anak dari adiknya sendiri yang meninggal dalam kecelakaan.

Hidupnya yang dulu bisa berada dirumah setiap hari kini harus berjuang seorang diri untuk membesarkan mereka.

Suaminya meninggal karena menolong seorang perempuan yang hendak diperkosa oleh beberapa orang, dia meninggal sehari sebelum adiknya meninggal dunia dan menitipkan kedua putranya kepadanya

Mampuka dia membesarkan mereka dengan segala himpitan ekonomi dan juga penghinaan orang-orang??

Novel terbaru kami yang penuh kisah inspiratif dan juga tangis

Silahkan dukung kami🙏🙏

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ummu Umar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 22

Biah membawa sang anak kerumah sakit menyusul sang anak lainnya.

"Tolong suster, obati putra saya". Ucapnya menurunkan sang anak di ranjang rumah sakit.

"Baik Bu, tolong segera urus administrasinya".

Mereka segera mengurus Ubay karena melihat Biah dikawal ketat oleh para tentara disampingnya

"Tolong komandan kami juga diurus suster, dia juga terluka". Jawab salah satu tentara itu dengan dingin sambil menunjuk kearah biah

Para tentara Elit itu memang mengenakan seragam kebanggaannya sedangkan sang komandan hanya memakai pakaian biasa.

Suster itu langsung tertegun sejenak mendengar apa yang mereka katakan, perempuan terlihat berpenampilan biasa saja itu adalah komandan pasukan elit.

Dia menatap mereka dengan lama dan baru menyadari jika mereka semua adalah orang-orang yang muncul dalam berita nasional yang tengah gempar itu

"Baik pak". Jawabnya terbata-bata.

Dia mengalihkan pandangannya kepada Biah yang duduk termenung entah apa yang dipikirkan.

"Mari Bu, saya harus merawat ibu juga". Ucapnya dengan sopan sambil mempersilahkan Biah lewat.

Biah hanya mengangguk pelan dan berdiri kemudian mengalihkan pandangannya kepada mereka semua dengan senyuman tipis dan dibalas dengan sopan oleh anak buahnya.

"Maaf suster, apakah ada pasien anak yang terluka ditangan dan beberapa anggota tubuhnya bernama Uwais al-Qarni disini?". Tanyanya pelan saat dia berjalan mengikuti suster kedalam.

Sang suster menghentikan langkahnya kemudian menatapnya dengan sopan

"Benar Bu, dia ada di UGD sedang ditindak lanjuti oleh dokter karena banyaknya darah yang keluar dan beberapa anggota tubuhnya harus dijahit, ibu mengenal anak itu?".

Biah menghembuskan nafas lega, ternyata lelaki yang menolong mereka tadi menepati ucapannya. Dia menatap suster dihadapannya dengan mata berkaca-kaca dan rasa syukur

"Dia putra saya suster, dimana orang yang membawanya?, saya ingin ketemu".

Suster bernama Putri itu tersenyum tulus kemudian mengangguk pelan.

"Ibu akan bertemu dengannya didalam di UGD karena ibu harus dirawat dan dijahit juga seperti kedua putra ibu, mari saya antar".

Biah memang sejak tadi tidak melepaskan maskernya karena banyaknya wartawan yang mengikuti mereka semua sejak tadi untuk mengambil gambarnya bahkan sang anak juga dia berikan masker dan juga topi untuk menutupinya.

Setelah sampai didalam, dia membuka maskernya dan merapikan jilbabnya.

"Suster bisakah saya meminta tolong?". Tanyanya dengan sopan.

Suster itu sejak tadi hanya tersenyum, dia seakan tidak percaya jika perempuan tegap dan tinggi dihadapannya ini adalah komandan pasukan elit, dia mengetahui itu karena pakaian mereka tidak sama dengan tentara pada umumnya, dia tahu karena ada keluarganya yang bekerja sebagai seorang tentara nasional.

"Iya Bu, ada yang bisa saya bantu?".

"Bisakah saya ditangani oleh dokter dan suster perempuan, aku yakin suster paham dengan maksudku".

Biah menatapnya dalam seakan menyampaikan apa yang sejak tadi menjadi pemikirannya.

"Tentu Bu, saya akan mengurusnya, saya tahu dan paham apa yang ibu inginkan, mari kita masuk keruang IGD yang lainnya, disana memang khusus UGD untuk perempuan berjilbab seperti ibu".

"Terima kasih suster, semoga Allah membalas kebaikan suster". Jawabnya dengan tulus.

"Sama-sama Bu, ibu yang kuat yah, kadang memang keluarga selalu menjadi Boomerang utama dalam kehidupan kita, seandainya bisa tolong maafkan ayah ibu, biar bagaimanapun dia adalah ayah ibu sendiri, ibu pasti tahu hukum berbakti pada kedua orang tua".

Wajah Biah yang tadinya tersenyum hangat berubah menjadi dingin mendengar ucapan suster dihadapannya itu

"Sebagai anak saya sudah memaafkan semua kesalahan yang dia lakukan pada saya dimasa lalu suster, tapi sebagai ibu dan abdi negara, saya tidak mungkin tinggal diam saja saat dia melakukan kejahatan pada anakku dan juga merusak hukum negara".

Suster itu tersentak mendengar kalimat dingin dan tajam itu, dia tidak menyangka wanita berwajah cantik dan lembut itu bisa mengeluarkan nada tegas seperti itu.

"Suster pasti sudah melihatnya disiaran nasional tadi, dia tidak hanya membahayakan kedua putra saya hanya karena warisan yang bukan haknya tapi dia menggunakan hukum sebagai mainan karena menculik anak dibawah umur dan menggunakan para tentara untuk menculiknya, itu tindakan yang melanggar kode etik kami , jadi saya tidak bisa melakukannya ".

"Bukan hanya itu, ayah saya juga terlibat pembunuhan berencana pada ibu kandung saya bersama selingkuhan yang kini menjadi istrinya dan lagi-lagi memanfaatkan jabatannya untuk menutup kasus itu".

"Dan lagi masih banyak kasus yang dia salah gunakan menggunakan jabatannya untuk menutupi kebusukan yang dia lakukan selama ini, apakah menurut suster sebagai komandan khusus yang mengurus mafia hukum seperti itu saya harus diam saja hanya karena dia ayah saya?".

Biah mengangguk kemudian tersenyum lega, dia berjalan mengikuti sang suster.

Suster itu menunduk, nafasnya tercekat mendengar perkataan barusan, ternyata perempuan ini melakukan itu bukan semata-mata karena dendam pribadi tetapi untuk menyelamatkan negara dari orang-orang yang merusaknya.

"Selain saya menyelamatkan diri saya dan anak saya, saya mencegah orang yang merusak negara, kalian tidak tahu kan jika dia tidak hanya melakukan itu kepada saya tetapi banyak ibu yang kehilangan anaknya dan anak kehilangan keluarganya dan tempat tinggalnya karena keserakahannya, saya tidak mungkin menutup mata tentang itu ".

Lagi-lagi suster itu semakin menunduk, perempuan didepannya ini memang tidak berkata keras tetapi setiap katanya menghantam telak perkataan dirinya tadi.

Dia tetap melakukan tugasnya mengobati Biah sambil menunggu dokter IGD datang menangani pasien khusus ini

"Suster benar, jika bakti seorang anak itu penting tapi aku seorang abdi negara yang bertugas melindungi orang, dan ayahku adalah orang yang merusaknya, menurut suster aku harus melakukan apa?".

Biah menghela nafas pelan matanya kembali berkaca-kaca mengingat betapa jahatnya ayahnya itu, tidak hanya pada dirinya tapi juga banyak orang lain yang sangat dia rugikan.

"Aku sangat membencinya suster, dia tidak hanya membuang ku dan ketiga adikku, tapi dia juga menghilangkan nyawa ibuku dan merampas hak kami sekarang dia bahkan melakukan semua itu kepada kedua adikku dan anak-anak ku, tidak berhak kah aku sebagai manusia biasa membencinya?".

Ini pertama kali dia mengungkapkan perasannya kepada orang lain, suster itu sudah melihat wajahnya dan menyadari jika orang didepannya adalah penjual makanan yang menjadi langganannya.

"Aku juga tidak tahu komandan". Jawabnya lirih.

Dia sadar perempuan didepannya ini menyimpan banyak luka sehingga begitu membenci ayahnya, dan jika itu mungkin terjadi padanya dia juga tidak akan pernah memaafkan sang ayah.

"Tolong rahasiakan aku yah suster, aku tahu suster mengenalku, karena suster adalah pelanggan setiaku, aku tidak hanya sedang bertugas tapi juga sengaja menjadi masyarakat biasa untuk bisa melakukan tugasku dengan benar".

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!