menceritakan seorang raja kehidupan yang tertarik dengan sang ratu kematian yang dia baca di sebuah buku legenda sang ratu kematian yang sangat cantik dan dingin
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon leona athena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 22 : perjalanan waktu dan malam pertemuan
Minggu demi minggu berlalu, berganti menjadi bulan, dan bulan pun berganti bulan. Waktu terus berjalan, namun kesungguhan dan keteguhan hati Xavier tidak pernah berubah sedikit pun. Sejak hari itu, ia selalu datang kembali, dan setiap kunjungannya, Elara memberikan tantangan baru baginya—sebuah cara untuk menguji kesungguhan, kesabaran, dan ketulusan hatinya.
Ada kalanya ia diminta membantu membersihkan bagian-bagian kastil yang sudah lama tidak terjamah, tempat yang dipenuhi debu dan kesunyian selama ribuan tahun. Xavier melakukannya dengan senang hati, tidak pernah mengeluh atau merasa rendah diri, karena baginya, melakukan apa pun untuk Elara adalah hal yang terhormat. Ada kalanya ia hanya diminta duduk diam dan menemaninya, tanpa berbicara apa pun berjam-jam lamanya, dan ia pun melakukannya dengan sabar, karena ia mengerti bahwa bagi Elara, kehadiran saja sudah cukup berarti.
Namun tantangan yang paling berat dan menguji adalah ujian kesetiaan yang pernah diberikan Elara padanya.
Pada suatu hari, saat Xavier datang seperti biasa, ia mendapati banyak wanita dengan kecantikan yang luar biasa menunggunya. Mereka adalah makhluk dan wanita dari berbagai penjuru dunia, yang dipilih secara khusus karena keanggunan, kecerdasan, dan keindahan mereka—semuanya dianggap lebih menonjol dibandingkan apa yang dimiliki Elara. Mereka mendekatinya, memujinya, menawarkan cinta dan kesetiaan, bahkan berjanji akan memberikan segala yang ia inginkan, hanya agar ia mau meninggalkan Elara dan memilih bersama mereka.
Namun, bagi Xavier, semuanya tidak ada artinya. Ia menolak mereka dengan halus namun tegas. Ia mengatakan bahwa hatinya sudah dimiliki sepenuhnya oleh Elara, dan tidak ada satu pun hal yang bisa menggantikan posisi wanita itu di dalam hidupnya. Ia menjelaskan bahwa ia mencintai Elara bukan karena kecantikan atau kekuatannya saja, tapi karena dirinya apa adanya—termasuk segala luka, kesedihan, dan kebaikan yang tersembunyi di dalam dirinya. Kesetiaannya tidak goyah sedikit pun, dan hal itu akhirnya membuat semua wanita itu pergi dengan hati yang terharu, karena mereka tahu bahwa kesetiaan seperti itu adalah hal yang sangat langka dan berharga.
Semua tantangan itu berhasil dilalui Xavier dengan baik, dan seiring berjalannya waktu, perubahan-perubahan terus terjadi. Elara yang tadinya selalu dingin dan ragu, kini mulai menunjukkan sisi lembutnya lebih sering. Ia mulai tersenyum, berbicara dengan nada yang lebih hangat, dan bahkan sesekali tertawa—sesuatu yang tidak pernah ia lakukan selama ribuan tahun lamanya.
Hingga pada suatu malam yang indah, seekor burung gagak besar terbang dengan cepat menuju istana Kerajaan Cahaya. Burung itu bernama Shelter, burung kesayangan Elara yang selalu ia percayakan untuk membawa pesan-pesan penting. Ia mendarat dengan lembut di ambang jendela kamar Xavier, dan di kakinya terikat selembar surat yang tersegel dengan cap lambang kerajaan Elara.
Xavier segera membukanya, dan saat membaca isinya, matanya berbinar-binar penuh harapan dan kegembiraan.
Surat itu berisi undangan untuk menghadiri jamuan makan malam yang akan diadakan di Kerajaan Kegelapan. Di dalamnya tertulis bahwa malam itu akan menjadi malam penentu, di mana Elara akan memberikan jawaban—apakah Xavier sudah layak untuk mendampinginya, dan apakah ia bersedia menerima cinta dan kesetiaan yang telah diberikan Xavier selama ini. Bahkan, Elara memberikan izin khusus agar Xavier bisa membawa beberapa orang terdekatnya untuk menjadi saksi atas jawaban yang akan disampaikannya.
Tanpa membuang waktu, Xavier segera mempersiapkan segala sesuatunya. Ia memilih penasihat utamanya, jenderal perang yang setia, dan juga dua orang penasihat istana yang sudah lama mendampinginya—mereka yang selalu menginginkan kebaikan bagi raja dan kerajaannya.
Saat rombongan itu tiba di wilayah Kerajaan Kegelapan, hal-hal yang mereka lihat membuat mereka tertegun takjub.
Mereka masih mengingat cerita-cerita lama yang menyebutkan bahwa tempat ini adalah wilayah yang gelap, sunyi, menakutkan, dan tidak ada kehidupan. Namun apa yang mereka lihat sekarang benar-benar berbeda dari apa yang pernah mereka bayangkan.
Begitu memasuki daerah desa yang ada di bagian luar, mereka melihat rumah-rumah yang berdiri rapi dan terawat dengan baik. Jalan-jalan dibersihkan dan dihiasi tanaman-tanaman yang tumbuh subur
Saat berjalan lebih jauh, mereka sampai di tepi sungai besar yang mengalir melintasi seluruh wilayah. Dulu, air sungai itu berwarna gelap dan berbahaya, namun sekarang airnya jernih dan mengalir dengan lembut, serta memancarkan aroma yang harum dan menyejukkan. Di dalamnya terlihat terumbu karang dengan berbagai warna yang indah, serta ikan-ikan yang berenang bergerombol dengan lincah dan cerah.
Dan saat mereka sampai di tepi danau yang luas, dari dalam air muncul sosok yang indah dan ramah—Lunaris, penjaga sungai dan danau yang sudah dikenal baik oleh Xavier.
"Selamat datang, Raja Xavier, dan para tamu terhormat," sapa Lunaris dengan suara yang lembut dan ceria, menyapa mereka dengan penuh keramahan yang tidak pernah ditunjukkan kepada orang luar sebelumnya. "Kami sudah menunggu kedatangan kalian. Silakan ikuti aku."
Dengan gerakan yang anggun, Lunaris bergerak, dan seketika itu juga jembatan yang indah terangkat dari dalam air, membentang lebar dan kokoh menghubungkan daratan dengan tempat kedudukan istana. Jembatan itu dihiasi ukiran-ukiran yang halus dan bercahaya, membuatnya terlihat seperti jembatan yang berasal dari kisah dongeng.
Saat mereka melintasi jembatan itu dan masuk ke halaman istana, kekaguman mereka semakin bertambah.
Istana yang dulu terlihat gelap, suram, dan menakutkan, kini berubah menjadi tempat yang penuh cahaya dan keindahan. Berbagai jenis bunga yang memancarkan cahaya lembut bermekaran di mana-mana—ada yang berwarna keemasan, kebiruan, ungu, dan merah muda—menghiasi setiap sudut halaman, dinding, dan lorong-lorongnya. Keharuman mereka tercium sampai jauh, menciptakan suasana yang menenangkan dan menyenangkan.
Di sepanjang jalan, para prajurit berbaris dengan rapi dan tegak. Mereka bukan lagi hanya bayangan-bayangan yang diam dan kaku, melainkan terlihat hidup dan penuh semangat. Saat rombongan Xavier lewat, mereka menundukkan kepala dan memberi hormat dengan hormat dan hangat, menunjukkan rasa penghormatan yang tulus.
Namun yang paling membuat mereka tertegun adalah pemandangan yang ada di atas menara tertinggi istana.
Di sana, Sentinel—naga legendaris yang menjadi penjaga utama dan kekuatan inti kerajaan—terbaring tenang seperti biasanya. Dulu, tubuhnya tertutup batu-batu keras yang gelap dan kaku, yang membuatnya terlihat seperti patung yang tidak hidup. Namun sekarang, semua batu itu telah terlepas dan menghilang. Seluruh kulit dan sisik tubuhnya kini tertutup kristal berwarna ungu yang berkilau dan bercahaya lembut, membuatnya terlihat begitu megah, indah, dan agung. Cahaya yang dipancarkan dari tubuhnya menerangi seluruh wilayah istana, seolah ia menjadi matahari yang selalu bersinar di tempat ini.
Seluruh wilayah yang dulu disebut sebagai Kerajaan Kegelapan atau Obsidian impire kini telah berubah sepenuhnya. Tempat yang dulunya identik dengan kesunyian, kesedihan, dan keterasingan, kini menjadi tempat yang penuh cahaya, kedamaian, dan kebahagiaan. Semua yang ada di sini seolah sedang merayakan sesuatu yang istimewa, seolah-olah mereka semua tahu bahwa malam ini adalah malam yang akan mengubah segalanya selamanya.
Rombongan itu terus berjalan, terpesona oleh setiap pemandangan yang mereka lihat, dan semakin yakin bahwa perasaan dan usaha yang dilakukan Raja Xavier selama ini bukanlah hal yang sia-sia. Mereka tahu, apa yang terjadi di sini bukanlah kebetulan semata, tapi adalah hasil dari ketulusan hati yang mampu mengubah segala sesuatu yang dianggap tidak mungkin berubah.
Malam penentu pun telah tiba.
Bersambung...