Dituduh menjual jasad anak kandungnya sendiri, Raznalira Utami (28 th) tidak hanya kehilangan buah hatinya tetapi juga rumah tangganya. Suaminya menceraikannya tanpa memberi kesempatan untuk menjelaskan.
Dalam keterpurukan hidupnya, Razna menerima tawaran menjadi ibu susu bagi bayi laki-laki milik seorang duda muda konglomerat, Rendra Mahardika (35th). Demi bertahan hidup, ia menekan masa lalunya dan masuk ke dunia baru yang terasa asing, dingin, dan penuh rahasia.
Namun takdir seolah belum selesai mempermainkannya.
Di rumah megah itu, Razna bertemu dengan seorang wanita misterius yang membuat darahnya seketika membeku. Wanita tua yang dulu membeli jasad anaknya.
Apa tujuan sebenarnya wanita itu membeli jasad bayi Razna?
Apa hubungan wanita tua itu dengan Rendra?
Kecurigaan Razna berubah menjadi ketakutan saat perlahan ia menyadari sesuatu yang mustahil, apakah itu?
Happy reading 💕
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon FR Nursy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 22 Siapa yang Tega?
Surti melanjutkan ucapannya.
"Bantal penahan Finza sebelum kejadian posisinya berada di pinggir semua. Saya lihat sendiri waktu bantu beresin kamar tadi siang. Biasanya walaupun Finza terbangun, bantal itu tidak pernah digeser kemana-mana..." ucapnya perlahan.
Jantung Danara berdetak lebih cepat. Dia memperhatikan Rendra masih berbicara dengan dokter. Dia khawatir percakapannya dengan Surti didengar Rendra.
"Ya mungkin saja saat itu bantalnya kegeser sama Finza," jawabnya cepat.
"Tidak mungkin. Finza itu masih bayi. Rasanya sulit dipercaya kalau semua bantal penahannya sampai berpindah jauh begitu, apalagi tadi aku lihat posisi bantalnya menumpuk jadi satu," jelas Surti dengan nada tenang.
Kini Surti tidak lagi merasa takut berhadapan dengan Danara. Meskipun usianya lebih muda dari Danara, ia tidak mau direndahkan apalagi diremehkan oleh orang yang mengaku sebagai adik iparnya Tuan Rendra.
"Apalagi Finza itu masih kecil, hanya bisa tengkurap dan berguling-guling. Rasanya sulit kalau semua bantal penahannya sampai berpindah jauh begitu, ditumpuk lagi," balas Surti polos.
Ucapan itu membuat Razna perlahan mengangkat wajahnya. Keningnya berkerut mengingat posisi bantal yang memang berubah saat ia kembali ke kamar.
Rendra yang sejak tadi diam mulai menoleh setelah dokter yang menangani Finza pergi. Dia mendekati Surti yang sedang berbicara dengan Danara.
"Apa maksud perkataanmu tadi? Apa kamu tahu sesuatu?" tanya Rendra menelisik ingin tahu.
"Maaf Tuan.Tadi saya dan pelayan lain melakukan pemeriksaan di kamar Finza. Saya menemukan keanehan di kasur Finza." jelas Surti jujur.
"Aneh? Aneh gimana maksudmu?" tanya Rendra, alisnya semakin berkerut.
"Anu Tuan, biasanya Mbak Azna menjadikan bantal sebagai pengaman di setiap pinggir kasur. Tapi tadi posisinya menumpuk jadi satu di tengah kasur..." jelas Surti benar adanya.
"Jadi maksud kamu, ada orang lain yang masuk ke kamar, sengaja untuk mencelakai Finza?" tanya Rendra tajam.
Danara langsung tertawa kecil menutupi kepanikannya.
"Kak Rendra jangan berpikir yang aneh-aneh dulu. Di rumah kakak siapa juga yang tega mencelakai Finza? Kalau memang ada, Sungguh orang itu tidak tahu diri." katanya sambil memasang wajah tersinggung. Dia berupaya menutupi kegugupannya.
Namun tanpa sadar, Surti kembali berbicara,
“Maaf Nona... tadi saya sempat lihat pintu kamar Mbak Azna agak terbuka dan seperti ada bayangan orang berdiri di dekat sana...”
Wajah Danara seketika pucat. Ternyata ada yang melihat perbuatannya tadi. Dia merasa geram dengan kehadiran Surti yang justru sedang berusaha menelanjanginya.
"Surti, kamu jangan asal bicara ya!" potongnya sedikit keras.
Semua orang langsung terdiam. Semua mata tertuju pada Danara termasuk Rendra yang memperhatikan perubahan ekspresi Danara dengan sorot mata menyelidik.
Danara langsung menyadari emosinya. Secepatnya dia mengatur napasnya lalu memasang wajah sedih.
"Aku hanya emosi karena kasihan sama Finza. Tega sekali orang yang sudah berbuat hal seperti itu...." ujar Danara lirih, pura-pura sedih.
Razna memilih diam, tidak tahu harus bagaimana. Di satu sisi ia merasa semua yang terjadi karena kelalaiannya namun di sisi lain merasa tidak tenang mengingat posisi bantal yang berubah.
"Tega sekali kalau kejadian ini memang disengaja. Tapi siapa?" tanyanya membatin, matanya menatap nanar Danara yang menunjukkan sikap yang berbeda.
Tak lama kemudian seorang perawat datang dengan membawa Finza yang sedang dalam keadaan tidur.
"Orang tua bayi ini sudah bisa menemaninya di ruang perawatan!" ujar perawat ramah.
Refleks Razna berdiri tanpa di perintah. Dia ingin langsung menggendong Finza, tapi langkahnya terhenti saat Rendra lebih dulu mengambil bayi itu dengan pelan.
Tatapan pria itu dingin. Lalu mendekati Razna, tepat di telinga kanannya.
"Kamu pulang aja! Aku yang akan menjaga Finza malam ini,"
Tubuh Razna membeku. Kalimat itu terdengar biasa saja, namun cukup membuat hati Razna terasa diremas. Air matanya kembali jatuh.
"Tapi Tuan, saya ingin menemani Finza. Bagaimana kalau Finza lapar dan haus?"
Rendra menghela nafas dalam-dalam.
"Biarkan Finza minum susu formula sebagai alternatif," jawabnya santai.
Razna langsung terdiam, hatinya merasa sesak mendengar jawaban Rendra yang menganggap enteng keadaan. Padahal selama ini, ia tidak pernah tega membiarkan Finza kelaparan dan menggantikan ASI dengan susu formula tanpa alasan yang jelas.
Melihat hubungan keduanya merenggang, Danara diam-diam tersenyum puas.
"Sudahlah Mbak, mungkin Mas Rendra hanya sedang khawatir," ucapnya pura-pura menenangkan.
Razna melirik sebentar, hatinya mencelos manakala Rendra melewatinya dengan wajah dingin.
Rendra berjalan masuk ke ruang perawatan sambil menggendong Finza tanpa menoleh lagi.
Razna berdiri mematung di tempatnya, untuk pertama kalinya sejak tinggal di rumah itu, ia merasa takut kehilangan Finza.
"Tenang Razna. Finza itu hanya anak yang kamu asuh. Selamanya akan jadi anak asuh. Kamu jangan berharap banyak untuk memiliki Finza seutuhnya," batinnya dengan memejamkan matanya.
Sementara di sudut lorong rumah sakit, Danara menatap punggung Razna dengan senyum kemenangan.
"Satu persatu berhasil. Tinggal selangkah lagi menuju kemenangan yang sempurna," batin Danara puas. Dia sudah membayangkan semua rencananya akan berhasil dengan maksimal, termasuk rencana ingin menyingkirkan Razna malam ini.
Malam semakin larut. Suasana rumah sakit terasa sunyi, sepi. Hanya suara langkah perawat dan bunyi alat monitor yang sesekali terdengar dari lorong tersebut.
Razna duduk sendiri di kursi lorong rumah sakit sambil menggenggam erat ujung bajunya. Pandangannya kosong menatap lantai putih yang terasa begitu dingin. Berkali-kali ia mencoba menenangkan perasaannya, tetapi bayangan wajah Finza terus saja hadir di pikirannya. Dia terlalu mencintai Finza, sampai enggan untuk meninggalkannya.
Sesekali netranya melirik ke arah ruang perawatan bayi. Ingin rasanya ia masuk dan memastikan keadaan Finza, namun ucapan Rendra tadi masih terngiang jelas di telinganya. Apalagi sikap Rendra yang belum mau memaafkan perbuatannya.
"Finza..maafkan ibu, Nak. Tapi kamu jangan khawatir Ibu tunggu di sini. Kalau kamu haus dan lapar, panggil Ibu saja...." lirihnya.
Di sudut lorong, sepasang mata menatapnya dengan sinis. Kepalanya dipenuhi berbagai rencana. Kini, ia hanya tinggal menunggu waktu yang terasa berjalan begitu lambat untuk melancarkan aksinya.
"Ck lama sekali...."
raz.. kan dia kerja.. tp kmcemburu .. dan km yg berharap sama Rendra
padahal Rendra ngk suka ma km.. dia ngangap km adik .. pahamm!
udah jadi adek ipar masih aja ngelunjak pgen jdi istri... ngk tau diri
Degar sendiri kan dra klakuan adek ipar mu...