NovelToon NovelToon
Lara Di Tapal Batas

Lara Di Tapal Batas

Status: sedang berlangsung
Genre:Kelahiran kembali menjadi kuat
Popularitas:45k
Nilai: 5
Nama Author: Sopaatta

Mengulik kisah seorang pria bernama Rafael yang menerima kesepakatan menjadi bapak rumah tangga dan membiarkan istrinya berkarier di luar rumah.

Seiring bertambah usia pernikahan, kesepakatan mereka perlahan mulai mengusik ego dan jadi dilema bagi Rafael sebagai laki-laki.

》Apakah Rafael bisa bertahan menjalani aktivitasnya sebagai bapak rumah tangga dan melihat kesuksesan karier istrinya?

》Ikuti kisahnya di Novel ini: "Lara Di Tapal Batas"

Karya ini didedikasikan untuk yang selalu mendukungku berkarya. Tetaplah sehat dan bahagia di mana pun berada. ❤️ U 🤗

Selamat Membaca
❤️🙏🏻💚

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sopaatta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22.

...~•Happy Reading•~...

Setelah berbicara dengan Rafael, Pak Yafeth turun meninggalkan dia sendiri untuk memikirkan pembicaraan mereka. "Rafa mana, Pa?" Laras yang sedang menunggu di lantai bawah, terkejut melihat Papanya turun seorang diri.

"Berikan Rafa waktu untuk berpikir. Kau masuk ke kamar untuk istirahat." Pak Yafeth berbisik, karena khawatir Rafael sedang menyusulnya turun.

"Apa Rafa bersedia, Pa?" Laras masih penasaran dan ingin tahu reaksi Rafael setelah bicara dengan Papanya.

"Laras, tadi Papa bilang, biarkan Rafa sendiri untuk berpikir. Jadi dia belum memutuskan." Pak Yafeth coba bersabar. "Jangan coba-coba naik ke atas. Kecuali kau ingin semuanya bubar." Ucap Pak Yafeth sebelum melangkah meninggalkan Laras.

"Juan juga, jangan naik ke atas. Biarkan Kak Rafa sendiri untuk berpikir dan istirahat." Pak Yafeth mencegah Juano yang juga sudah menunggu untuk naik ke lantai atas. "Kita semua pergunakan waktu ini untuk istirahat." Ucap Pak Yafeth yang melihat istrinya mendekat.

Pak Yafeth hanya bisa menggelengkan kepala melihat Laras masuk ke kamar dengan wajah cemberut. "Ayo, ke kamar, Ma." Ajak Pak Yafeth yang melihat istrinya terdiam sambil menatap punggung Laras.

"Juan juga, masuk kamar."

"Iya, Pa. Ini mau masuk. Apa Kak Rafa sakit, Pa?"

"Gak. Hanya ingin istirahat. Biarkan Kak Rafa sendiri, ya." Pak Yafeth lebih lunak kepada Juano, sebab dia sedang khawatir.

Bu Ester ikut masuk ke kamar setelah melihat kedua anaknya sudah masuk kamar. "Ada apa, Pa? Apa Rafa menolak?" Bu Ester jadi penasaran melihat sikap suaminya.

"Rafa belum putuskan. Biarkan dia berpikir, sebab dia bukan pria yang tidak tahu diri. Jangan kita berdua ikut mendesaknya. Biarkan dia memilih, supaya dia bertanggung jawab dengan pilihannya."

"Iya, Pa. Aku setuju. Laras sangat tidak sabaran. Aku kok jadi kasihan sama Rafa. Padahal dia sendiri belum bisa bersikap layaknya orang yang sedang berpacaran dengan Laras."

"Ya, itu. Dia sangat berhati-hati berpacaran dengan Laras. Bukan saja menjaga sikap dari kita, tapi juga dari Juan." Pak Yafeth mengakui yang dikatakan istrinya.

"Kita berpikir saja, mungkin Laras pernah gagal dengan Jarem, jadi dia takut itu akan terjadi lagi dengan Rafa." Bu Ester berpikir dari kegagalan Laras sebelumnya.

"Tapi Rafa tinggal dalam rumah ini. Apa itu tidak bisa jadi jaminan bagi Laras? Anak itu kalau sudah cinta, buta pada hal-hal yang terpampang jelas di depan matanya."

"Kalau gak ingat ada Rafa dalam rumah ini, aku sudah ketok kepalanya. Rafa pasti ingin bisa diandalkan dalam keluarga seperti Papa."

"Iya, Ma. Itu yang bikin aku sedih bicara dengannya. Apa lagi dia bertanya, bapak dan ibu bisa menerima saya seperti ini? Hmmmm..."

"Aku bisa rasakan pergolakan batinnya, Pa. Kalau tidak lihat Papa, mungkin akan sangat mudah dia menolak untuk menikah sekarang."

"Rafa tidak mau mengecewakanmu dan dia khawatir terjadi sesuatu dengan Laras di tempat tugas karna sendiri."

"Iya, Ma. Itu yang aku lihat di atas. Dia hanya memandang tanaman, tapi pikirannya tidak di sana. Wajahnya yang biasa cerah di akhir pekan, jadi redup."

"Mari kita istirahat sebentar. Mungkin nanti sore ada sedikit secerca harapan untuk menyelesaikan ini. Aku sekarang hanya berharap pada keputusan Rafa. Laras anak kita, tapi aku lebih mengkhawatirkan Rafa."

"Iya, Pa. Laras minim pengalaman hidup. Kita sudah salah mendidiknya sejak kecil selalu berikan yang dia mau. Sekarang pun dia berpikir akan dapatkan yang dia inginkan."

"Aku akui itu. Karna lama baru ada Juan, jadi kira hanya dia anak kita. Jadi turuti semua maunya."

"Sangat berbeda dengan Rafa. Mungkin karna sudah kehilangan Ayahnya dan harus pikul tanggung jawab untuk mengurus ibu dan adiknya. Jadi benar-benar dewasa dan matang sebelum waktunya."

"Dia tidak grasak grusuk ambil keputusan. Dia mau keputusan yang diambil berdampak positif bagi dirinya dan juga orang sekitanya."

"Iya, Pa. Itulah mengapa aku bersyukur dia bisa berpacaran dengan Laras. Pengaruhnya sangat positif pada sifat Laras yang tidak berpikir panjang."

"Tapi untuk menikah, Laras akan berjuang." Ucap Pak Yafeth sambil membaringkan diri. Bu Ester jadi ikut berbaring di sampingnya, sebab Pak Yafeth menarik nafas berat dan perlahan.

~••

Menjelang sore, Rafael turun ke lantai bawah. Dia terkejut melihat Laras sedang duduk di ruang nonton sendiri. Sedangkan Bu Ester sedang sibuk di dapur. Pak Yafeth dan Juano tidak terlihat. "Rafa, perlu sesuatu?" Tanya Bu Ester yang melihat Rafael ragu masuk ke dapur.

"Mau minta air mineral, Bu." Rafael jadi berbalik mendekati Bu Ester.

"Kalau begitu, tunggu sebentar." Bu Ester mengambil cangkir dan menuang air.

"Terima kasih, Bu." Ucap Rafael sambil mengambil cangkir. "Bu, saya minta ijin mau pulang ke kampung untuk bicara dengan Ibu." Ucap Rafael setelah minum.

"Sudah bilang sama Papa Juan?" Bu Ester terkejut, sebab salah mengerti. Dikira Rafael akan meninggalkan rumahnya.

"Sudah, Bu. Tadi sudah minta ijin dari kantor dan mau pulang kampung..." Rafael menjelaskan maksudnya mau pulang kampung.

"Oh, iya, iya. Saya salah mengerti. Itu bicara dengan Laras di ruang nonton. Bengong saja dari tadi, karna dilarang Papanya naik ke atas." Ucap Bu Ester sambil mendorong pundak Rafael.

"Tadi sempat istirahat sebentar. Saya mau temui Laras dan Juan, Bu." Bu Ester menggerakan tangan, seakan mengusir Rafael dari dapur.

Rafael berjalan pelan ke ruang nonton. "Nonton apa?" Tanya Rafael membuat Laras terkejut dan langsung berdiri.

"Bikin kaget saja. Nonton layar TV." Jawab Laras dengan wajah cemberut sambil memukul lengan Rafael.

"Belum bicara dengan Papamu?"

"Papa gak bilang apa-apa. Malah minta aku gak boleh naik untuk bicara denganmu." Laras masih merajuk.

"Ya, Papamu tahu, isi kepalaku perlu didinginkan sebelum berasap. Sekarang berhenti cemberut. Pikirkan apa yang harus dilakukan kalau mau menikah cepat dalam waktu dekat."

"Jadi kau setuju?" Tanya Laras yang wajahnya mulai berubah riang. Rafael mengangguk. Laras langsung memeluk, tanpa menghiraukan Papanya yang baru keluar dari kamar.

Rafael balik memeluk dan menepuk punggungnya. "Aku mau pulang kampung nanti sore untuk bicara dengan Ibuku..."

"Pulang kampung?" Laras melepaskan pelukan dan melihat wajah Rafael.

"Iya. Aku masih punya Ibu..."

"Kalau begitu aku ikut." Laras tidak menunggu Rafael menyelesaikan kalimat. Jantungnya berdetak tidak teratur mengetahui Rafael akan pulang kampung.

"Kau tidak kerja?"

"Aku akan ambil cuti." Laras menjawab tanpa berpikir.

"Ambil cuti untuk urus surat-surat. Awas kalau sampai minta bantuan Papa."

"Tapi aku mau ikut denganmu." Laras coba mendesak.

"Kalau mau menikah tahun depan? Ayo, ikut."

"Tidak. Bulan depan." Laras melarat, tanpa sadar sudah terjebak.

"Bulan depan, itu dua minggu lagi. Lupa?"

"Tapi aku mau i..."

"Kalau tidak percaya padaku, mengapa minta menikah denganku?" Rafael menatap Laras serius.

Rafael tahu maksud Laras minta ikut dengannya ke kampung. Bukan mau bertemu keluarganya. Tapi hanya mau memastikan dia tidak kabur dari rencana pernikahan.

...~•••~...

...~•○♡○•~...

1
🍒⃞⃟🦅 𝐀⃝🥀 B3NassIR🪡
laras ingatlah , bahwa seharusnya kau lebih banyak bersyukur dengan perangai suamimu yang penyayang dan penyabar seperti rafael.
ingatlah anak adalah amanah yang dititipkan kepada mu ,jika Tuhan tidak mempercayaimu maka kmu belum tentu hamil semudah ini.
ketahuilah diluaran sana banyak pejuang garis 2 yang susah payah mengusahakan kehadiran buah hati
berbagai macam terapi dan kesakitan mereka jalani demi menimang baby.
pikirkan juga perasaan rafa
ˢ⍣⃟ₛ 𝐓𝐞𝐬𝐚🤎GD ❥␠⃝ ͭ🍁
sampai disini aku setuju dengan pemikiran pak Yafeth seperti menyimpan api dalam sekam sewaktu waktu Rafael bakalan meledak karena Laras terlalu egosentris tapi semoga baik baik saja sih cuma berpikir kemungkinan itu pasti' ada masalah nanti 🤔
❥␠⃝ ͭ🍁Hermina🧣❣️
aku setuju dengan pak yafeth. api dalam sekam, kita tunggu ada yang menulut api . siapa yg akan terbakar. 🙊🙈
Rahmawati
pada akhirnya tdk ada yg bahagia, Rafa tertekan sementara laras tetap dengan keegoisan nya
❥␠⃝ ͭ🍁𝗨𝗺𝗺𝗮💃🆂🅾🅿🅰🅴
Semoga ketenangan Rafael menghadapi Laras membutuhkan hasil yang signifikan mengubah Laras jadi lebih baik lagi dan keluarga mereka semakin harmonis dan saling memahami satu sama lainnya tidak ada yg merasa tertekan
⚔️⃠❥␠⃝ ͭ🍁🧸𝐘𝐖💋🅚🅙🅢👻ᴸᴷ🔱
Org yg tenang, justru lebih 'berbahaya' klo udh mledak 🤦🤦🤦
⚔️⃠❥␠⃝ ͭ🍁🧸𝐘𝐖💋🅚🅙🅢👻ᴸᴷ🔱
Laras... Laras...kpn dirimu blajar menghargai Rafa 🤦🤦🤦
❥␠⃝ ͭ🍁Ƭђi̽єʀᴀ💋🅚🅙🅢👻ᴸᴷ
Laras selalu mengambil keputusan tanpa berunding dulu jangan karena kamu punya segalanya jadi bisa berbuat semaunya pasti Rafa marah karena dia sebagai suami merasa tidak dihargai dan dilibatkan dalam keputusan penting
ˢ⍣⃟ₛ 𝐓𝐞𝐬𝐚🤎GD ❥␠⃝ ͭ🍁
duhhhh Larassss kau ini makin kesini makin ngeselin banget deh kenapa tidak bicara dulu dengan Rafael kalo mau beli rumah jangan hanya karena kau punya uang punya pekerjaan bagus kau sepelekan itu Rafael namanya dia bukan patung dan pastinya punya rasa kenapa kau tak peka sebagai istrinya 🤧😒
❥␠⃝ ͭ🍁Hermina🧣❣️
pasti laras takut dipantau sama orang tuanya makanya mau tinggal sendiri. babang rafa sabar ya punya istri koplak. mau menang sendiri 🙊🙈😡
Rahmawati
ya ampun gedeg bgt sama laras ini, dia bener bener gk menghargai Raffa, ambil keputusan semaunya😡
❥␠⃝ ͭ🍁𝗨𝗺𝗺𝗮💃🆂🅾🅿🅰🅴
Laras kenapa gak bilang dulu ke Rafael kalo berencana memiliki rumah sendiri, giliran sudah milih baru bilang seharusnya kamu bilang dulu mau tinggal dirumah seperti apa, yg jelas Rafael pasti merasa tidak dianggap sebagai suami dan karena kamu selalu saja begitu
Yayang Suami Risa
Rafael hebat sabar banget hadapi Laras yang gampang marah dan egois apalagi sekarang Laras sedang hamil malah jadi egois lagi deh
Yayang Suami Risa
Laras orang tua kamu memang bijaksana dan adil wajar mereka ada di pihak Rafael bukan di pihak kamu walau kamu anak mereka
Yayang Suami Risa
Laras kamu ngga tahu kalau selama ini yang bantu pekerjaan kamu di belakang adalah Rafael suami kamu
Yayang Suami Risa
Rafael hebat menyuruh Laras makan nasi padahal Rafael sedang kesal ke Laras tapi tetap perhatian banget ke Laras
Yayang Suami Risa
Laras kenapa kamu belum bisa berpikir dewasa seperti Rafael kenapa kamu masih gampang marah kamu harusnya senang kamu hamil
Risa Istri Cantik
Rafael ayo sabar hadapi Laras apalagi sekarang sedang hamil pasti sikapnya Laras manja dan egois lagi deh
Risa Istri Cantik
Laras kejam banget kamu ya keterlaluan sama Rafael pengen lempar gayung ke wajah Laras
Risa Istri Cantik
Laras kamu harusnya bangga menikah dengan Rafael yang selalu perhatian ke kamu bahkan selalu sabar hadapi kamu termasuk bantu kerjaan kamu tanpa sepengetahuannya kamu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!