Sebelum kau membaca kisah ini, kau harus tahu satu hal:
Aku bisa melihat bagaimana kau akan mati.
Bukan dengan bola kristal. Bukan dengan ritual aneh. Cukup dengan menyentuhmu. Satu sentuhan, dan mataku akan dipenuhi gambar—kau di ujung napas terakhir, dengan cara yang mungkin tidak pernah kau bayangkan.
Kakek bilang ini kutukan. Aku bilang ini hadiah.
Karena dengan hadiah ini, aku tahu siapa yang harus aku hindari.
Tapi malam itu, saat pertama kali menyentuh Damian Adhiratria, aku tidak melihat kematiannya.
Aku melihat kematianku sendiri.
Dan aku tersenyum.
Karena akhirnya, setelah 24 tahun, aku tahu kapan aku akan mati.
Tepat 6 bulan setelah menikahi iblis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anonymous MC, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22: Ruangan yang Bernafas
Tidak ada yang lebih menakutkan daripada kegelapan yang hidup.
Alea merasakannya di detik pertama pintu besi tertutup. Bukan sekadar gelap karena matanya belum beradaptasi—tapi kegelapan yang bergerak, yang menyentuh pipinya seperti jari-jari dingin, yang membisikkan sesuatu di telinganya meski tak ada suara.
Ia mencengkeram gagang pintu. Terkunci.
“Damian!” Teriakannya memantul dari dinding batu, kembali padanya dengan nada yang berbeda. Seperti suara anak kecil menirunya dari kejauhan.
Tidak ada jawaban.
Alea menekan telapak tangan ke logam dingin itu. Visi—Tuhan, visi itu sudah mulai menyerang sejak ia masuk. Seketika, tanpa izin. Tangan kanannya menyentuh gagang, dan otaknya dibanjiri gambar: seorang wanita dengan gaun pengantin robek, darah di kerahnya, senyum di bibirnya. Wanita itu adalah dirinya sendiri, berdiri di atas mayat Damian.
Ia melepas gagang seperti tersengat listrik.
“Aku tidak akan mati di sini,” bisiknya pada dirinya sendiri. Suaranya terlalu kecil, terlalu rapuh untuk ruangan yang terasa seperti paru-paru raksasa ini.
Langkah kakinya bergerak tanpa peta. Alea mengeluarkan ponsel dari saku—tidak ada sinyal. Tentu saja. Lampu senternya menyala, menyorot dinding-dinding batu yang lembap, lantai yang dingin, dan...
Langkahnya terhenti.
Di sudut ruangan, ada boneka beruang. Satu mata. Bulunya kusam, seperti pernah direndam air terlalu lama. Di sampingnya, tumpukan buku anak-anak dengan sampul usang. Alea mendekat perlahan, lampu ponselnya bergetar di tangan.
Buku paling atas: The Little Prince. Alea mengenalnya. Ia membacanya saat kecil, ketika kakaknya masih hidup.
Lalu ia melihat dinding.
Coretan kapur merah. Bukan—bukan kapur. Alea tidak ingin berpikir apa bahannya. Tulisan itu berantakan, seperti ditulis oleh tangan anak kecil yang sedang menggigil.
“AKU MASIH DI SINI.”
“TOLONG JEMPUT AKU.”
“MAMA BOHONG.”
Alea mundur selangkah. Dua langkah. Tumitnya menyentuh sesuatu yang lembut. Hangat.
Ia membeku.
“Kak, main petak umpet lagi yuk?”
Suara itu di belakangnya. Dekat sekali.
Alea menoleh pelan. Damian Kecil berdiri di sana—bocah laki-laki dengan piyama sutra kebesaran, rambut hitam kusut, mata hitam yang sama persis dengan Damian dewasa tapi kosong. Kosong seperti sumur yang tidak pernah melihat matahari.
“Damian—” suara Alea serak.
“Aku suka kakak main sama aku.” Damian Kecil tersenyum. Gigi depannya ompong. “Di sini sepi. Damian dewasa jarang main. Dia sibuk bunuh orang.”
Alea merasakan dingin menjalari tulang punggungnya. Tapi bukan karena takut. Ada yang lain—sesak di dada, seperti melihat anak kucing basah kuyup di tengah hujan.
“Kamu... tinggal di sini?” tanyanya perlahan.
Damian Kecil mengangguk. “Iya. Dari dulu. Damian dewasa bilang ini rumah aku. Tapi gelap. Kak, kenapa gelap?”
Alea tidak tahu harus menjawab apa.
“Di sini gelap terus,” lanjut Damian Kecil, duduk di lantai, memeluk boneka beruang satu mata itu. “Tapi kalau kakak di sini, aku senang. Kakak mau main sama aku?”
“Aku...” Alea berjongkok, berusaha setara dengan tinggi bocah itu. “Aku tidak bisa lama-lama di sini. Aku harus keluar.”
“Kenapa?”
“Karena... karena di luar ada yang menungguku.”
Damian Kecil menunduk. Tangannya meremas boneka beruang itu. “Damian dewasa juga bilang begitu. Dia bilang dia akan jemput aku. Tapi sampai sekarang belum.” Ia menatap Alea. Matanya berair, tapi tidak menangis. Seperti sudah kehabisan air mata. “Kakak juga akan bohong?”
Alea merasakan sesuatu patah di dadanya.
---
Dari luar, jarak sepuluh meter di atas ruang bawah tanah, Damian dewasa berdiri di depan lemari yang menutup pintu rahasia. Tangannya di saku celana, wajahnya datar seperti biasa. Tapi jari-jarinya mengepal di balik kain.
Rania mendekat. “Tuan Damian, para tamu sudah menunggu di ruang makan.”
“Batalkan.”
“Tapi mereka dari—”
“Batalkan.” Damian berbalik, matanya menatap Rania dengan sesuatu yang jarang muncul di sana: kebingungan. “Rania.”
“Ya, Tuan?”
“Jika seseorang... terjebak di tempat gelap terlalu lama... apa yang terjadi?”
Rania mengernyit. “Depends. Bisa trauma. Bisa— ”
“Bisa apa?”
“Bisa menjadi sesuatu yang lain.”
Damian terdiam. Ia menatap lemari itu lagi. Lalu berjalan pergi, meninggalkan Rania yang masih berdiri dengan tatapan curiga.
---
Di dalam ruang hukuman, waktu berjalan dengan kecepatan berbeda.
Alea sudah tidak tahu sudah berapa lama ia di sini. Ponselnya mati karena baterai habis—atau mungkin ponselnya mati karena tempat ini menginginkan kegelapan total. Damian Kecil masih duduk di sampingnya, sesekali mengoceh tentang hal-hal yang membuat perut Alea mulas.
“Kak, aku dulu punya adik. Tapi dia mati. Mama bilang karena aku jahat. Apa aku jahat, Kak?”
“Tidak,” jawab Alea cepat. “Kamu tidak jahat.”
“Tapi Damian dewasa jahat.”
“Dia... dia juga tidak jahat. Dia hanya... bingung.”
“Bingung kenapa?”
“Bingung bagaimana caranya mencintai dirinya sendiri.”
Damian Kecil diam lama. Lalu ia menyandarkan kepalanya di paha Alea. “Kak, aku mau cerita. Tentang waktu pertama kali aku di sini.”
Alea tidak bisa menolak. Tangannya tanpa sadar mengusap rambut Damian Kecil. Lembut. Seperti dulu ia mengusap rambut kakaknya saat sakit.
“Aku dikurung di sini sama Papa. Karena aku nangis waktu Mama mati. Papa bilang laki-laki tidak boleh nangis. Jadi dia kunci aku di sini supaya aku belajar tidak nangis.”
Suara Damian Kecil datar. Seperti membaca buku cerita yang sudah dibaca ribuan kali.
“Aku di sini berapa lama, Kak?”
“Berapa lama?”
“Aku nggak tahu. Hitung hari pakai coretan di dinding, tapi coretannya habis. Dindingnya penuh.” Damian Kecil menunjuk ke sudut ruangan. Alea mengikuti arah jarinya. Di sana, dinding memang penuh. Ratusan coretan. Mungkin ribuan.
“Aku teriak-teriak minta keluar. Tapi nggak ada yang dengar. Papa bilang, kalau aku berhasil keluar sendiri, aku boleh jadi anak baik. Tapi aku nggak bisa keluar. Pintunya berat.”
Alea menelan ludah. “Lalu... bagaimana akhirnya kamu keluar?”
Damian Kecil mengangkat wajahnya. Untuk pertama kalinya, matanya tidak kosong. Ada sesuatu di sana—sesuatu yang tua, sesuatu yang lelah.
“Aku nggak keluar, Kak. Aku mati di sini.”
Udara di ruangan itu berubah. Lebih berat. Lebih dingin.
“Damian dewasa yang keluar. Dia laki-laki yang tidak pernah nangis. Tapi aku...” Damian Kecil tersenyum. “Aku masih di sini. Menunggu.”
Alea merasakan matanya panas. Bukan karena takut. Bukan karena iba. Tapi karena marah. Marah pada pria yang melakukan ini pada anak kecil. Marah pada Damian dewasa yang mengurung bagian paling murni dari dirinya di tempat ini. Marah pada dunia yang membiarkan ini terjadi.
“Aku akan keluar,” kata Alea. Suaranya tidak lagi bergetar. “Dan aku akan menjemputmu.”
Damian Kecil mengerjap. “Janji?”
“Janji.”
---
Sementara itu, di atas, Damian dewasa duduk di kamarnya. Di atas meja, foto seorang wanita dengan rambut panjang dan mata yang sama dengan Alea. Kakak Alea. Arya.
Ia mengambil foto itu, menatapnya lama.
“Kau bilang, jika aku menemukan wanita yang bisa melihat Damian Kecil, dia akan menyelamatkanku,” bisik Damian. “Tapi kau lupa bilang, dia juga akan menghancurkanku.”
Foto itu tidak menjawab.
Damian meletakkannya kembali, lalu berdiri. Ia berjalan ke lemari, mengambil kunci kecil dari saku dalam jaketnya. Kunci itu tidak pernah ia gunakan selama sepuluh tahun terakhir.
Tangannya gemetar.
---
Di ruang bawah tanah, Alea tiba-tiba merasakan sesuatu. Visi. Bukan yang biasa—bukan kematian. Tapi sesuatu yang lebih dalam. Lebih tua.
Ia memejamkan mata, dan ia melihat:
Seorang anak laki-laki, delapan tahun, dengan piyama biru. Ia duduk di pojok ruangan ini, menggigil, menulis di dinding dengan jari berdarah. Di luar, suara ayahnya: “Kau tidak akan keluar sampai kau bisa membunuh.”
Lalu anak itu berhenti menulis. Ia menatap ke arah Alea—melampaui waktu, melampaui ruang—dan berkata, “Aku tidak ingin membunuh. Aku hanya ingin dipeluk.”
Alea membuka mata. Air mata mengalir di pipinya.
“Aku lihat,” bisiknya.
“Lihat apa, Kak?”
“Aku lihat kapan Damian dewasa lahir.”
Damian Kecil menunduk. “Iya. Aku yang buat dia. Supaya aku tidak perlu sakit lagi.”
Alea memeluk bocah itu. Tubuhnya dingin, tapi terasa nyata. Terlalu nyata untuk sekadar kepribadian yang terdisosiasi.
“Aku akan keluar,” ulang Alea. “Dan aku akan menjemputmu. Damian dewasa mungkin tidak bisa mencintai dirinya sendiri. Tapi aku bisa mencintai kalian berdua.”
Damian Kecil mendongak. Matanya basah. “Kakak... kakak nggak takut sama aku?”
“Kenapa aku harus takut?”
“Karena... karena aku yang bunuh adikku.”
Alea terkesiap. “Apa?”
“Waktu Mama meninggal, adikku masih bayi. Papa suruh aku bunuh dia. Karena dia tangis terus. Papa bilang, kalau aku bunuh dia, aku boleh keluar.” Damian Kecil tersenyum pahit. “Aku nggak mau. Tapi akhirnya... aku nggak tahu. Suatu hari, adikku nggak nangis lagi. Papa bilang karena aku doain dia mati. Jadi mungkin aku yang bunuh.”
“Itu bukan salahmu.”
“Tapi Papa bilang—”
“Papa mu pembohong!” Alea membentak. Damian Kecil terkejut. Alea menarik napas, mencoba menenangkan diri. “Dengar. Aku psikiater. Aku tahu bagaimana cara kerja pikiran. Kau tidak membunuh siapa pun. Ayahmu yang melakukannya, lalu menyalahkanmu agar kau merasa bersalah dan patuh. Itu yang disebut manipulasi.”
Damian Kecil diam. Lalu, perlahan, senyumnya kembali. “Kakak... kakak pintar.”
“Aku tidak pintar. Aku hanya pernah berada di posisi yang sama.”
“Kakak juga pernah disalahkan?”
Alea mengangguk pelan. “Kakakku meninggal. Aku pikir itu salahku. Tapi ternyata... bukan. Dan aku tidak akan membiarkanmu berpikir hal yang sama.”
---
Di atas, pintu lemari terbuka.
Damian dewasa berdiri di depan tangga menuju ruang bawah tanah. Kunci kecil itu menggantung di jarinya. Ia menatap ke bawah—ke dalam kegelapan yang pernah ia tinggalkan dua puluh tahun lalu.
Ia bisa mendengar suara. Samar. Tapi jelas.
Suara Alea. Suara Damian Kecil.
Mereka sedang berbicara.
Damian menutup matanya. Dan untuk pertama kalinya sejak ia menjadi “Damian dewasa”, ia membiarkan dirinya mendengar.
“Aku hanya ingin dipeluk.”
“Aku akan menjemputmu.”
Tangannya bergerak tanpa izin. Memasukkan kunci ke lubang. Memutar.
Pintu besi terbuka dengan bunyi panjang, seperti rintihan tua yang lama ditahan.
---
Di dalam, Alea mendengar suara itu. Ia menoleh. Cahaya redup dari atas menerobos, membentuk siluet pria di ujung tangga.
Damian. Dewasa.
Ia tidak turun. Hanya berdiri di sana, menatap ke bawah dengan ekspresi yang tidak bisa Alea baca.
Damian Kecil meremas tangan Alea. “Kak... dia datang.”
“Iya.”
“Apa dia akan marah?”
“Entahlah.”
Damian dewasa mulai menuruni tangga. Satu anak tangga. Dua. Tiga. Setiap langkahnya terasa berat, seperti kakinya ditanam di tanah. Alea memperhatikan jari-jarinya—menggenggam kunci kecil itu sampai buku-buku jarinya memutih.
Ketika jarak mereka hanya tiga meter, Damian berhenti.
Matanya beralih ke Damian Kecil. Lalu ke Alea. Lalu ke dinding penuh coretan.
Tidak ada yang bicara.
Akhirnya, Damian Kecil melepas tangan Alea. Ia berdiri, berjalan perlahan ke arah Damian dewasa, dan berhenti tepat di depannya. Damian dewasa lebih tinggi, jauh lebih tinggi, tapi Damian Kecil tidak takut.
“Kamu datang,” kata Damian Kecil.
Damian dewasa tidak menjawab.
“Aku pikir kamu lupa sama aku.”
Masih diam.
Damian Kecil mengulurkan tangannya. Tangan kecil itu menggenggam udara. “Aku mau pulang, Dam.”
Untuk pertama kalinya dalam dua puluh tahun, Damian dewasa merasakan sesuatu yang tidak ia kenali. Bukan marah. Bukan dingin. Tapi sesak—di dada, di tenggorokan, di matanya.
Ia berlutut. Perlahan, seperti mesin berkarat yang dipaksa bergerak.
Lalu ia memeluk Damian Kecil.
Alea menutup mulutnya dengan tangan. Air mata mengalir deras di pipinya. Karena ini bukan sekadar pelukan. Ini adalah pertemuan antara dua bagian jiwa yang terpecah dua puluh tahun lalu. Ini adalah Damian—utuh, untuk pertama kalinya.
“Aku... minta maaf,” bisik Damian dewasa. Suaranya pecah. Hancur. “Aku lupa. Aku sengaja lupa.”
“Nggak apa-apa,” jawab Damian Kecil. Tangannya memeluk leher Damian dewasa. “Aku nggak marah.”
“Kamu... kamu harusnya marah. Aku mengurungmu di sini.”
“Kamu cuma takut. Aku juga takut.”
Damian dewasa menggigit bibir bawahnya sampai berdarah. Tapi ia tidak menangis. Karena ia lupa caranya.
Tapi Damian Kecil menangis untuk mereka berdua.
---
Alea berdiri, mendekati mereka. Ia berjongkok di samping Damian dewasa, meletakkan tangan di pundaknya.
“Damian,” katanya lembut. “Kau tidak perlu menyembunyikannya lagi.”
“Aku tidak bisa menangis.”
“Bukan itu. Kau tidak perlu menyembunyikan dia lagi. Damian Kecil bisa keluar. Kau bisa membiarkan dirimu menjadi utuh.”
Damian dewasa menatap Alea. Matanya merah, tapi kering. “Aku takut. Jika dia keluar... aku akan hilang.”
“Kau tidak akan hilang. Kau akan menjadi lebih dari yang selama ini kau kira.”
“Bagaimana kau tahu?”
“Karena aku melihatnya.” Alea tersenyum. “Aku melihat masa depanmu, Damian. Dan kau tidak mati di tanganku. Setidaknya... tidak sekarang. Yang aku lihat adalah kau tersenyum. Damian dewasa. Damian Kecil. Kalian tersenyum bersama.”
Damian dewasa diam. Lalu ia melepaskan pelukannya. Damian Kecil berdiri di sampingnya, menggenggam jari telunjuk Damian dewasa dengan kedua tangannya.
“Aku mau keluar,” kata Damian Kecil. “Boleh?”
Damian dewasa mengangguk pelan. “Iya.”
---
Mereka bertiga naik ke atas. Damian dewasa berjalan paling depan, Damian Kecil di tengah, Alea di belakang. Saat kaki Damian Kecil menginjak anak tangga terakhir, cahaya lampu ruang tamu menyentuh wajahnya. Ia mengerjap beberapa kali, lalu tersenyum.
“Terang,” bisiknya. “Kak, ini terang banget.”
Alea tertawa kecil. “Iya. Ini dunia di luar.”
Damian dewasa berjalan ke sofa, duduk di sana, menatap Damian Kecil yang berjalan-jalan di ruang tamu seperti anak kecil yang baru pertama kali melihat salju.
“Dia... dia bisa dilihat orang lain?” tanya Alea.
“Tidak. Hanya kau. Dan mungkin beberapa orang dengan kemampuan serupa.”
“Jadi dia hanya ada di mataku?”
“Dia ada di sini.” Damian dewasa menunjuk dadanya. “Tapi kau bisa melihatnya karena... karena kau melihat apa yang orang lain tidak lihat.”
Alea duduk di sampingnya. “Damian.”
“Hm.”
“Kenapa kau mengurungnya? Kenapa tidak kau biarkan dia keluar sejak dulu?”
Damian dewasa menatap lurus ke depan. “Karena jika dia keluar, aku akan ingat semua yang kulupakan. Rasa takut. Rasa sakit. Rasa... sedih. Aku tidak bisa menjalankan organisasi dengan perasaan itu.”
“Dan sekarang?”
“Sekarang...” Ia menoleh ke arah Alea. “Sekarang aku punya kau.”
Alea merasakan jantungnya berdetak lebih cepat.
“Kau bisa melihatnya,” lanjut Damian. “Kau tidak takut padanya. Kau tidak takut padaku. Mungkin... mungkin ini saatnya.”
“Untuk apa?”
“Untuk berhenti menjadi monster.”
---
Damian Kecil berlari kembali ke arah mereka, melompat ke pangkuan Damian dewasa. Damian dewasa sedikit kaget, tapi tangannya otomatis menangkap bocah itu.
“Aku mau nonton TV!” seru Damian Kecil.
“TV-nya rusak,” jawab Damian dewasa datar.
“Bohong! Aku lihat ada TV di kamar Kakak Alea!”
“Itu bukan untukmu.”
“Aku mau!”
Alea tertawa. Untuk pertama kalinya sejak ia masuk ke rumah ini, ia tertawa dengan tulus. “Ayo, aku temani kamu nonton.”
Damian Kecil melompat dari pangkuan Damian dewasa, meraih tangan Alea, menariknya menuju kamar. Damian dewasa hanya bisa memandang mereka berdua—wanita yang menikahinya karena paksaan dan kepribadian keduanya yang selama ini ia sembunyikan—berjalan bergandengan tangan seperti kakak dan adik.
Ia menyadari sesuatu.
Untuk pertama kalinya, ruang hukuman itu tidak lagi kosong. Tidak lagi gelap. Karena sesuatu telah keluar dari sana. Bukan monster.
Tapi harapan.
---
Malam itu, Alea tidak tidur di kamarnya. Ia tidur di sofa ruang tamu dengan Damian Kecil di pangkuannya, acara kartun masih menyala di TV. Damian dewasa duduk di kursi seberang, memperhatikan mereka.
“Kau bisa tidur,” kata Alea mengantuk.
“Aku tidak tidur.”
“Karena Damian Kecil akan muncul? Dia sudah di sini.”
“Bukan karena itu.”
“Lalu kenapa?”
Damian dewasa diam. Lalu dengan suara yang hampir tidak terdengar: “Karena jika aku tidur, mungkin aku akan kembali ke ruang itu.”
Alea membuka matanya. Ia menatap Damian dewasa—pria yang disebut-sebut sebagai mafia paling kejam, yang tidak takut pada apapun—dan melihat anak kecil yang sama dengan yang ada di pangkuannya.
“Aku akan di sini,” kata Alea. “Jika kau mimpi buruk, kau bisa bangun dan melihatku.”
“Apakah itu janji?”
“Janji.”
Damian dewasa mengangguk. Ia memejamkan mata. Perlahan, tubuhnya mulai rileks.
Di pangkuan Alea, Damian Kecil bergumam dalam tidurnya. “Kak... jangan pergi...”
Alea mengusap rambutnya. “Aku tidak akan pergi.”
Ia melihat Damian dewasa. Ia melihat Damian Kecil. Dan ia tahu—keduanya adalah jiwa yang sama, terbelah oleh rasa sakit, menunggu untuk disatukan kembali.
Mungkin itulah alasan Tuhan memberinya kemampuan melihat kematian. Bukan untuk menakut-nakuti. Tapi untuk menyelamatkan.
---
Pagi harinya, Alea terbangun dengan selimut di tubuhnya. Damian Kecil sudah tidak ada di pangkuannya. Tapi di meja samping sofa, ada secangkir teh hangat dan selembar kertas.
Tulisan Damian dewasa. Rapi. Tegas.
“Terima kasih telah menjemputnya. Dan menjemputku.”
Alea tersenyum. Ia memegang cangkir teh itu, menghirup aromanya. Hangat. Wangi. Seperti pagi yang baru saja dimulai.
Lalu ia melihat sesuatu di balik jendela. Sosok Damian dewasa berdiri di taman, berbicara dengan Rania. Wajahnya masih datar seperti biasa. Tapi ada yang berbeda.
Di sampingnya, Damian Kecil berdiri, memegang jari Damian dewasa, melambaikan tangan pada Alea.
Alea melambai balik.
Dan untuk pertama kalinya, ia tidak melihat kematian saat matanya tertuju pada Damian.
Ia melihat kehidupan.
---Bersambung---
💀 Bagaimana menurutmu? Apakah Damian pantas mendapatkan kesempatan kedua? Atau Alea terlalu cepat memaafkan?
🔥 Jika kamu suka dengan pertemuan Damian dewasa dan Damian Kecil di bab ini, jangan lupa:
· ✅ Like — biar cerita ini semakin terlihat!
· 💬 Komen — tulis pendapatmu! Apakah kamu tim Damian dewasa atau tim Damian Kecil?
· 📲 Share — ajak temanmu baca, biar mereka juga ikut merasakan emosinya!
📌 Jangan lewatkan Bab 23: Alea mulai menyusun rencana terapi untuk menyatukan Damian dewasa dan Damian Kecil. Tapi Rania mulai curiga—dan Haydar, musuh lama keluarga Damian, mulai bergerak. Siapakah yang akan lebih dulu menemukan kelemahan Damian?
🌟 Dukung terus cerita ini dengan like dan komentar di setiap bab! Setiap like adalah energi untuk Damian Kecil, setiap komentar adalah pelukan untuk Damian dewasa.
Sampai jumpa di bab selanjutnya, para pembaca pemberani! 💀🖤
---
— Penulis