Cerita ini mengikuti perjalanan Misca, seorang pemimpin wilayah Utara yang enggan namun sangat efisien. Di tengah perpecahan antarwilayah yang membuat mereka rentan terhadap serangan geng eksternal bernama "The Phantom", Misca mengambil keputusan radikal: menyatukan keempat wilayah di bawah satu komando melalui duel satu lawan satu melawan tiga pemimpin wilayah lainnya. Misca percaya bahwa hanya "kekerasan terstruktur" yang dapat menghentikan kekacauan dan memberikan ketentraman sejati.
Setelah berhasil menyatukan empat wilayah di bawah sistem Kuadran Presisi (KP) yang teratur, Misca harus membayar harga mahal atas kedamaian yang ia bangun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Egi Kharisma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aliansi Di Balik Bayangan
15 hari sebelum duel
Di wilayah Barat, suasananya jauh berbeda namun tidak kalah tegang. Raka, si ketua Barat yang terkenal dengan strateginya, sedang berdiri di depan papan peta-peta, dan tumpukan dokumen intelijen yang ia kumpulkan.
Ia sedang menunjuk ke arah peta - peta wilayan mereka yang penuh dengan titik-titik berwarna. Titik hijau menandakan wilayah aman, titik kuning menandakan wilayah waspada, dan yang paling mengerikan—titik merah yang semakin banyak, menandakan lokasi-lokasi di mana kelompok misterius "The Phantom" terlihat atau dilaporkan melakukan aksi kekerasan.
"Mereka sudah pasti masuk lebih dalam ke wilayah kita, Don," ujar Raka kepada Doni, tangan kanannya yang setia. Suaranya bergetar sedikit—kombinasi antara kelelahan karena kurang tidur dan kecemasan yang terus menggerogoti pikirannya. "Lihat pola pergerakannya. Minggu lalu mereka di sini," ia menunjuk area perbatasan Timur-Barat, "lalu tiga hari lalu mereka muncul di sini," ia menunjuk area yang lebih dalam ke wilayah Barat, "dan kemarin malam, ada laporan mereka terlihat di sini."
Titik terakhir yang ia tunjuk berada sangat dekat dengan area mereka—terlalu dekat untuk kenyamanan siapa pun.
"Aku yakin mereka sudah mengawasi kita semua sejak lama," lanjut Raka sambil berjalan mondar-mandir dengan gelisah, tangannya meremas-remas jari-jarinya sendiri—kebiasaan nervous yang selalu muncul saat ia sangat stress. "Mereka tahu tentang duel kita. Mereka tahu kita semua akan sibuk saling bunuh di arena. Dan mereka... mereka mungkin sekarang sedang duduk di suatu tempat, menertawakan kebodohan kita yang sibuk berantem satu sama lain sementara musuh yang sebenarnya sedang mengintai dari luar."
Doni, yang sudah terbiasa dengan tingkat kecemasan Raka yang sering berlebihan, mencoba menenangkan dengan nada yang lebih rasional. "Rak, kita sudah mengirim semua data intel ini ke Misca seperti yang kamu mau. Dia yang paling mungkin bisa menganalisis dan membuat strategi melawan mereka. Kita sudah melakukan yang terbaik yang kita bisa."
"Tapi apakah itu cukup?!" Raka hampir berteriak, frustrasinya meluap. "Apa yang bisa kita lakukan kalau mereka menyerang sebelum duel? Apa yang—"
Tiba-tiba, pintu ruangan terbuka dengan keras tanpa ketukan.
BRAK!
Raka dan Doni refleks melompat terkejut, bahkan Raka sempat tersandung kakinya sendiri dan hampir jatuh. Tapi ketegangan itu langsung sedikit mereda—meski tidak sepenuhnya hilang—saat mereka melihat siapa yang berdiri di ambang pintu.
Misca.
Pemuda itu berdiri di sana dengan postur yang sangat tegak dan tenang, mengenakan jaket hitam dengan hoodie yang sedikit menutupi rambutnya. Di belakangnya, berdiri Bima dan dua anggota inti lainnya dari bekas geng Bima—ketiganya dengan wajah serius dan sikap disiplin yang sangat kontras dengan arogansi liar yang mereka tunjukkan dulu sebelum bergabung dengan Utara.
Kedatangan Misca yang hanya membawa tiga orang petarung tanpa Jeka atau Vino—otak dan tangan kanan terdekatnya—membuat Raka sedikit waspada. Ini bukan kunjungan basa basi. Ini adalah misi dengan tujuan spesifik.
Misca melangkah masuk tanpa basa-basi atau salam formal. Ia langsung berjalan menuju papan yang menempelkan peta - peta wilayah, matanya dengan cepat memindai . Tidak ada kata sambutan, tidak ada basa - basi—langsung ke inti permasalahan seperti biasanya.
"Pergerakan ini sangat terstruktur," ujar Misca dengan suara yang tenang dan dingin namun sangat clear—seketika memotong kepanikan yang mengisi ruangan sejak tadi. Jari-jarinya menunjuk beberapa titik merah di peta dengan gerakan yang sangat cepat. "Pola pergerakannya bukan acak. Ini bukan gerombolan preman yang bertindak tanpa rencana. Mereka tidak sedang mencari uang dari perampokan kecil-kecilan. Mereka sedang melakukan pengawasan—mencari titik lemah dalam pertahanan kita, mengidentifikasi target potensial, dan memetakan wilayah untuk operasi yang lebih besar nanti."
Raka dan Doni terdiam, mendengarkan dengan sangat serius. Bahkan Raka yang biasanya selalu punya komentar , kali ini diam—terpukau oleh analisis yang sangat jernih dari Misca.
"Mereka sedang mencari kekuasaan teritorial yang stabil," lanjut Misca. "Base operasi yang aman dari campur tangan polisi dan mudah untuk kontrol. Dan berdasarkan pola pergerakan mereka selama dua minggu terakhir..." ia menggambar garis , menghubungkan titik-titik merah, "mereka sedang mempertimbangkan dua lokasi: pinggiran wilayah Timur yang dekat dengan area industri yang ditinggalkan, atau area pelabuhan tua di perbatasan Utara ."
Misca membalikkan badannya dengan gerakan yang sangat pelan, menatap langsung ke mata Raka dengan pandangan yang sangat tajam dan fokus—pandangan yang membuat Raka merasa seperti semua rahasianya terbaca. "Aku datang untuk memverifikasi data dan mendapat informasi tambahan. Aku perlu tahu semua yang kamu ketahui tentang dua orang yang menyerang kelompokku di festival Minggu kemarin—yang satu bertubuh besar seperti wrestler, satunya lagi lebih kecil tapi sangat lincah dan terlatih."
Bima, yang berdiri tegak di belakang Misca, maju selangkah—bukan secara agresif, tapi menunjukkan bahwa ia siap bertindak atau memberikan testimony jika diperlukan. Postur tubuhnya yang tegap dan disiplin, dengan mata yang fokus dan tidak liar seperti dulu, adalah bukti nyata transformasi yang telah dilakukan Misca pada mantan musuhnya itu.
Kehadiran Bima—yang dulunya adalah musuhnya—kini berdiri dengan setia di belakang Misca sebagai anggota yang loyal, membuat Raka sedikit merinding. Ini menunjukkan betapa kuatnya pengaruh dan otoritas Misca—ia tidak hanya mengalahkan musuhnya secara fisik, tapi juga mengubah mereka menjadi aset yang sangat berharga.
Raka mengangguk cepat, lalu bergegas ke mejanya untuk mengambil sebuah folder tebal yang sudah ia siapkan sejak tadi—seolah ia sudah mengantisipasi kedatangan Misca. "Ya, ya. Jeka terluka waktu itu, dan aku langsung memerintahkan orang-orangku untuk mencari informasi. Dan kamu benar—itu jelas bukan ulah preman biasa atau begal kelas ikan teri."
Ia menyerahkan folder itu ke Misca sambil menjelaskan dengan cepat, kata-katanya keluar dengan terburu-buru karena nervous. "Kami sudah melacak mereka melalui CCTV yang berhasil kami akses dan beberapa saksi mata yang berani bicara. Kami yakin mereka adalah bagian dari The Phantom—setidaknya anggota tingkat menengah, . Mereka datang ke festival itu bukan kebetulan, Misca. Mereka sengaja mencari kamu."
"Mencari aku?" Misca membuka folder itu, matanya cepat memindai foto-foto yang diambil dari CCTV dan catatan-catatan kesaksian saksi.
"Ya," Raka mengangguk dengan sangat yakin.
"Mereka sengaja memprovokasimu dengan menyerang teman-temanmu. Mereka mau mengukur level kekuatanmu—mau tahu seberapa berbahaya 'Misca dari Utara' yang mereka dengar dari berbagai rumor. Dan kamu... kamu baru saja menunjukkan pada mereka dengan sangat jelas bahwa kamu bukan target yang mudah. Itu bisa jadi kabar baik atau kabar buruk."
"Jelaskan," perintah Misca singkat sambil terus membaca.
"Kabar baiknya, mereka sekarang tahu kalau menyerangmu secara langsung adalah ide buruk. Kabar buruknya..." Raka menelan ludah, "mereka sekarang akan lebih berhati-hati dan mungkin akan menggunakan taktik yang lebih kotor—seperti menyerang orang-orang di sekitarmu saat kamu tidak ada."
Misca menutup folder itu perlahan, lalu menatap Raka dengan pandangan yang sangat serius. "Kamu punya informasi lokasi markas mereka?"
"Belum pasti," jawab Raka jujur. "Tapi kami punya tiga lokasi yang sangat mencurigakan. Semuanya ada di folder itu—lengkap dengan peta, foto, dan catatan aktivitas mencurigakan yang kami amati."
Misca mengangguk, lalu berjalan ke arah papan peta. Ia berdiri di sana selama hampir lima menit—sebuah keheningan yang sangat panjang dan sedikit tidak nyaman bagi Raka dan Doni—sambil menganalisis semua data visual yang ada di depannya, menghubungkan informasi dari folder dengan pola pergerakan di peta.
Kemudian ia berbicara, dan analisisnya sangat detail hingga membuat Raka yang sudah terbiasa dengan overthinking merasa seperti amatir.
"Mereka mencari basis operasi yang memenuhi tiga kriteria utama," ujar Misca sambil menunjuk area-area tertentu di peta. "Pertama, jauh dari patroli polisi rutin tapi tidak terlalu terpencil hingga sulit diakses. Kedua, punya multiple exit routes untuk escape cepat jika diserang. Ketiga, dekat dengan target operasional mereka—yang dalam kasus ini kemungkinan adalah area sekolah dan perumahan kelas menengah di sekitarnya."
Ia menggambar lingkaran invisible di sekitar dua area. "Berdasarkan kriteria itu dan pola pergerakan yang kamu dokumentasikan, kemungkinan besar mereka akan memilih antara gudang tua di area industri Timur atau bangunan pelabuhan yang ditinggalkan di perbatasan Utara. Aku condong ke pilihan kedua—pelabuhan—karena akses ke laut memberikan mereka opsi escape tambahan yang sangat berharga untuk organisasi kriminal."
Raka mengangguk-angguk dengan cepat, sangat impressed dengan analisis yang cepat dan presisi itu. "Itu... itu persis yang kami pikirkan juga. Tapi kami tidak punya cukup orang untuk melakukan pengawasan dua puluh jam dalam seminggu di kedua lokasi."
"Aku akan handle itu," jawab Misca dengan nada yang tidak bisa dibantah—bukan arogan, tapi sangat percaya diri. "Utara punya lebih banyak orang sekarang setelah Bima dan kelompoknya bergabung. Kami akan lakukan pengawasan secara bergilir tanpa membuat mereka curiga."
Misca kemudian menjelaskan secara rinci tentang pertarungannya dengan Pria A di festival—tidak dengan nada sombong atau untuk pamer, tapi dengan analisis teknis yang sangat objektif. Ia menjelaskan setiap gerakan, setiap serangan, setiap counter, dan yang paling penting—setiap kelemahan yang ia identifikasi.
"Pria yang lebih kecil—itu petarung terlatih. Bukan amatir jalanan," ujar Misca sambil mendemonstrasikan beberapa gerakan dengan tangannya. "Tekniknya campuran antara Muay Thai untuk striking dan Brazilian Jiu-Jitsu untuk ground game. Ia punya stamina tinggi, ambang batas sakit yang luar biasa, dan yang paling berbahaya—ia bisa beradaptasi dengan cepat di tengah pertarungan."
"Tapi," Misca melanjutkan dengan nada yang lebih dingin, "ia punya satu kelemahan fatal: terlalu percaya diri dengan kemampuannya sendiri. Saat ia merasa sudah menguasai ritme pertarungan, ia cenderung menggunakan gerakan yang lebih flashy dan berisiko—seperti spinning kick yang ia coba lakukan. Gerakan seperti itu powerful, tapi meninggalkan opening yang sangat besar jika timing-nya tidak sempurna."
Raka mendengarkan dengan sangat fokus, sesekali mencatatnya. Informasi seperti ini sangat berharga—mengetahui musuhmu adalah langkah pertama untuk mengalahkan mereka.
"Dan yang besar——dia lebih mengandalkan kekuatan brute force dan intimidasi fisik," lanjut Misca. "Tapi ia tidak bodoh. Ia tahu kapan harus mundur dan kapan harus fight. Itu yang membuat dia bertahan di dunia kriminal selama ini. Orang yang hanya mengandalkan otot biasanya mati muda atau masuk penjara cepat. Fakta bahwa dia masih bebas dan masih punya reputasi menunjukkan dia punya kecerdasan jalanan yang cukup tinggi."
Misca menutup foldernya dan memasukkannya ke dalam tas yang dibawa Bima. "Kesimpulannya: mereka tidak akan menyerang secara terbuka sebelum duel 15 hari lagi," ujarnya dengan sangat yakin. "Mereka akan menunggu sampai kita semua babak belur setelah duel itu—entah aku yang menang, Nanda, Tino, atau bahkan kamu, Raka—mereka akan menunggu sampai pemimpin yang tersisa dalam kondisi paling lemah, baru kemudian mereka akan menyerang dengan kekuatan penuh untuk mengambil alih wilayah."
Raka mengangguk perlahan, mulai memahami strategi jangka panjang dari The Phantom. "Jadi mereka sebenarnya menunggu kita saling bunuh, lalu mereka tinggal mengambil sisa-sisanya?"
"Betul sekali," konfirmasi Misca. "Itu strategi yang sangat tepat dan resiko kecil dari sudut pandang mereka. Kenapa harus mengambil resiko bertarung melawan empat geng yang masih kuat, kalau bisa tunggu sampai mereka saling hancurkan dan tinggal ambil sisanya?"
"Tapi kita tidak akan membiarkan itu terjadi," Misca menatap tajam ke mata Raka. "Kita harus memastikan duel itu selesai secepat mungkin—tidak ada pertarungan berkepanjangan yang akan menguras semua energi kita. Dan yang paling penting: semua pemimpin yang tersisa setelah duel harus siap untuk bekerja sama melawan ancaman yang lebih besar ini. Tidak ada lagi drama . Tidak ada lagi ego dan dendam pribadi. Bertahan adalah prioritas utama."
Ada jeda panjang setelah pernyataan itu. Raka menatap Misca dengan pandangan yang sangat kompleks—campuran antara takjub, lega, dan sedikit iri. Takjub karena Misca bisa berpikir dengan sangat jernih di tengah kekacauan ini. Lega karena ada seseorang yang siap mengambil tanggung jawab dan membuat keputusan sulit. Iri karena ia sendiri tidak punya mental dan kemampuan seperti itu.
"Aku mengerti," jawab Raka akhirnya dengan nada yang jauh lebih tenang dari sebelumnya—seolah beban berat telah sedikit terangkat dari bahunya. "Dan... terima kasih, Misca. Terima kasih sudah datang dan mengambil alih beban ini. Aku... aku tidak bisa melakukannya sendiri."
Misca tidak menjawab dengan kata-kata—hanya mengangguk sekali dengan sangat singkat. Baginya, ini bukan soal terima kasih atau pengakuan. Ini soal melakukan apa yang harus dilakukan untuk melindungi semua orang.
"Aku akan pergi sekarang," ujar Misca sambil berbalik ke arah pintu. "Beri aku kabar kalau ada pergerakan baru dari The Phantom. Dan Raka—" ia berhenti sejenak tanpa menoleh, "—jaga dirimu baik-baik. Aku butuh kamu tetap hidup dan tetap waras sampai setelah duel. Otakmu yang pintar merencanakan strategi akan sangat berguna untuk mengantisipasi gerakan musuh yang tidak terduga."
Dengan itu, Misca dan ketiga anak buahnya keluar dari ruangan, meninggalkan Raka dan Doni yang masih berdiri terpaku.
Setelah pintu tertutup, Doni menghela napas panjang. "Dia... benar-benar berbeda dari ketua-ketua yang lain, ya?"
Raka mengangguk sambil merosot ke kursinya, tiba-tiba merasa sangat lelah. "Dia bukan sekadar ketua geng sekolahan, Don. Dia... dia seperti jenderal muda yang sudah pernah melihat perang sungguhan. Aku tidak tahu dari mana dia belajar semua itu, tapi aku sangat bersyukur dia ada di pihak kita."