NovelToon NovelToon
MATA TAKDIR

MATA TAKDIR

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Kultivasi Modern / Komedi
Popularitas:671
Nilai: 5
Nama Author: samsu234

Gagal naik ke Alam Dewa karena masih terikat karma fana, jiwa sang Kultivator Tertinggi terpaksa kembali ke tubuh aslinya di dunia modern sebagai Dika.

Berbekal Mata Takdir untuk membereskan hutang budi dan dendam masa lalu, Dika berniat menyelesaikan misinya dengan cepat dan diam-diam.

Namun, sebuah kesalahan takdir membuat isi hati dan keluh kesah batinnya bisa didengar jelas oleh wanita-wanita di sekitarnya!

Sanggupkah Dika menjaga wibawanya sebagai calon dewa, saat semua strategi dan gengsinya bocor lewat suara hati sendiri?

#UrbanFantasy #RomanceKomedi #KultivasiModern

#IsiHatiTerdengar #PuraPuraLemah #MantanDewa

#ZeroToHero #BenciJadiCinta

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon samsu234, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pelarian Sepuluh Menit dan Rahasia di Balik Lift Barang

Langkah kaki Dika yang dibalut sepatu pantofel KW super—yang solnya sudah agak mangap—terdengar mantap di atas lantai koridor bawah tanah Menara Wijaya. Mantel wol hitamnya berkibar dramatis, memotong sisa asap beraroma melati mati yang mulai memudar. Penampilannya saat ini benar-benar meyakinkan, seperti seorang pahlawan dari komik kultivasi modern yang siap meratakan satu sekte sendirian.

Namun, itu tampak luarnya saja. Di dalam batok kepala Dika, pusat kendali batinnya sedang mengalami histeria masal skala lokal.

“Sembilan menit empat puluh detik lagi, Lin! Waktu gue berjalan mundur kayak bom waktu di film-film aksi murahan!” raung suara batin Dika, mengguncang jaringan kesadaran Lina sampai gadis itu refleks memegangi pelipisnya. “Gue bisa ngerasain energi panas dari lima lembar koyo cabai premium di punggung gue mulai meresap ke sumsum tulang. Ini bukan lagi stimulan meridian, ini namanya penyiksaan selimut api! Kalau dalam sepuluh menit kita nggak keluar dari gedung sialan ini, gue bakal berubah jadi patung dewa encok yang nangkring di pinggir jalan!”

Lina mempercepat langkahnya, setengah berlari di samping Dika sambil mendekap map dokumen Hendra yang kaku. Keringat dingin membasahi dahi gadis itu. "Bisa diam nggak, Dik? Suara batin lo bikin kuping spiritual gue pengang! Lagian, jalan lo jangan terlalu sok keren begitu, dong. Langkah lo kepanjangan, itu mempercepat penguapan energi tahu!"

"Ini namanya psikologi perang, Lina sayang," balas Dika, bibirnya sama sekali tidak bergerak, namun aura emas tipis di sekitar matanya berkedip jenaka. "Kalau gue jalan sambil bungkuk-bungkuk megangin pinggang, tiga karyawan magang yang tadi melongo di kantin bakal sadar kalau dewa mereka ini sebenarnya cuma remahan rengginang yang lagi sekarat. Kita harus terlihat mengintimidasi sampai kaki kita menginjak aspal luar!"

Tepat saat mereka berbelok di tikungan koridor menuju akses lift utama, pemandangan di depan mereka membuat langkah Dika mendadak terkunci. Lima orang pria berjas hitam dengan postur tegap layaknya algojo korporat sudah berdiri berbaris, menutup total akses jalan. Di dada kiri jas mereka, tersemat pin perak berbentuk jalinan benang takdir yang terputus—simbol faksi pengawal khusus Keluarga Wijaya yang sudah terkontaminasi oleh ajaran Sekte Hitam.

"Subjek nomor 404, Dika Pratama. Dan sekretaris pengkhianat, Lina," ucap pria yang berdiri di paling depan. Suaranya datar, tanpa emosi, namun sepasang matanya memancarkan pendar keunguan yang redup. "Tuan Besar sudah memberikan perintah. Jiwa atau raga, salah satu harus tetap tinggal di gedung ini."

Dika menghela napas panjang. Ia melirik jam dinding digital di koridor. Sisa waktu: delapan menit tiga puluh detik.

"Lin, lo mundur tiga langkah," bisik Dika lewat transmisi suara.

"Lo mau tarung? Energi lo tinggal berapa persen?!" Lina panik, wajahnya pucat.

"Tiga puluh persen ini kalau dipake buat tonjokan fisik biasa, tangan fana gue bisa remuk karena tekanan balik. Jadi, kita pakai metode yang sedikit lebih... beradab." Dika maju satu langkah. Ia melipat kedua tangannya di depan dada, dagunya terangkat angkuh, menatap kelima pria berjas hitam itu dengan pandangan merendahkan yang luar biasa mutlak.

"Hamba-hamba fana yang tersesat," suara Dika mendadak keluar dari tenggorokannya, berat dan berwibawa, mengguncang udara koridor hingga lampu-lampu neon di atas mereka bergetar. "Kalian berdiri di hadapan Penguasa Takdir yang telah melihat runtuhnya seribu galaksi. Masih berani kalian menghalangi jalanku dengan tubuh-tubuh fana yang rapuh itu?"

Bersamaan dengan ucapan itu, Dika secara sengaja membocorkan sedikit—hanya satu persen—dari energi emas murni yang meledak dari simpul meridiannya tadi. Tekanan spiritual yang tak kasat mata namun luar biasa pekat mendadak memenuhi koridor sempit itu. Kelima pria berjas hitam itu seketika menegang. Lutut mereka gemetar hebat, dan aura ungu di mata mereka langsung padam, tergantikan oleh rasa teror purba yang langsung menusuk ke dalam naluri bertahan hidup mereka.

Bagi manusia biasa yang sedikit memahami dunia spiritual, tekanan itu rasanya seperti sedang berdiri di bawah kaki gunung raksasa yang siap runtuh menimpa mereka.

"S-Sial... informasi dari pelayan tadi salah... Dia bukan wadah kosong... Dia benar-benar dewa yang terbangun!" bisik salah satu pengawal di belakang, wajahnya mandi keringat.

"Mundur! Kita bukan tandingannya!"

Tanpa perlu Dika menggerakkan satu jari pun, kelima pengawal berjas hitam itu langsung berbalik arah dan tunggang-langgang menyelamatkan diri, mengabaikan seluruh perintah Tuan Besar mereka demi keselamatan nyawa masing-masing. Koridor kembali kosong dalam hitungan detik.

"Gila... lo cuma gertak sambal tapi mereka langsung lari?" Lina melongo, menatap koridor yang kini sepi.

"Gertak sambal kepalamu botak!" Dika mendadak membungkuk, wajahnya meringis menahan perih luar biasa. "Aduh, aduh, aduh! Satu persen energi tadi kayaknya bikin dua koyo cabai di bagian atas copot jalurnya! Sekarang punggung gue rasanya kayak lagi ditempelin setrikaan panas! Lin, buruan! Jangan lewat lift utama, mereka pasti sudah memutus jalurnya dari pusat kendali. Kita lewat lift barang di ujung kanan!"

Lina segera memapah lengan Dika yang mendadak lemas. Keduanya setengah berlari menyusuri koridor yang remang-remang, menuju pintu besi tebal yang bertuliskan 'Khusus Lift Barang & Logistik'. Ketika Lina menekan tombol panggil, pintu besi itu terbuka dengan suara berderit yang memekakkan telinga.

Namun, begitu mereka melangkah masuk ke dalam kabin lift yang luas dan berbau oli paking itu, Dika merasakan sesuatu yang aneh. Lantai lift ini tidak dilapisi oleh pelat besi biasa, melainkan diukir dengan pola-pola garis melingkar yang sangat rumit, nyaris tak terlihat jika tidak diperhatikan dengan jeli di bawah temaramnya lampu kuning lift.

"Tunggu, Lin... jangan tekan tombol lantai dasar dulu," cegah Dika, matanya menyipit tajam menatap lantai lift.

"Kenapa lagi? Waktu kita tinggal enam menit, Dika!"

"Ini bukan lift barang biasa. Ini... Formasi Pembalik Aliran Spiritual," desis Dika, rasa terkejut melintas di wajah dewasanya. "Keluarga Wijaya bener-bener licik. Mereka nggak cuma pakai gedung ini sebagai kantor bisnis, tapi seluruh struktur Menara Wijaya ini adalah sebuah alat penyaring energi raksasa. Lift barang ini fungsinya untuk menyedot sisa-sisa esensi spiritual dari bawah tanah—termasuk dari tubuh Dika yang asli dulu—lalu dialirkan langsung ke atas."

Lina mengerutkan kening, mencoba memahami. "Maksud lo, lantai paling atas? Ke ruangan Tuan Besar?"

"Tepat. Pria paruh baya yang tadi lo ceritain, yang memimpin manipulasi dokumen Hendra... dia bukan cuma sekadar pengusaha korup. Dia adalah Kultivator Inti dari Sekte Hitam yang menggunakan energi penderitaan manusia di bawah tanah ini untuk memperpanjang usianya dan memperkuat ilmu hitamnya. Kalau kita naik lift ini ke lantai dasar tanpa memutus formasinya, energi emas gue yang tinggal dua puluh sembilan persen ini bakal langsung tersedot habis sebelum kita sampai ke lobi!"

"Terus kita harus gimana? Lewat tangga darurat? Pasti sudah dijaga ketat!" Lina mulai panik, tangannya yang memegang map gemetar.

Dika terdiam sejenak. Ia melihat ke panel tombol lift yang menunjukkan angka B3 hingga Lantai 40. Otak dewanya bekerja dengan kecepatan penuh, menghitung segala kemungkinan fisik dan metafisik yang tersisa dari sisa energinya yang kian menipis.

"Kita nggak akan turun, Lin," ucap Dika tiba-tiba, sebuah senyuman tipis yang sarat akan kenekatan muncul di sudut bibirnya.

"Hah?! Maksud lo?!"

"Kita naik ke atas. Lantai 40. Ruangan Tuan Besar Wijaya."

Lina menatap Dika seolah-olah pemuda di depannya ini sudah benar-benar kehilangan seluruh kewarasannya akibat efek samping koyo cabai. "Lo gila ya?! Di bawah saja kita dikejar-kejar, sekarang lo mau nganterin nyawa langsung ke markas musuh?! Energi lo itu tinggal hitungan menit, Dika!"

"Justru karena tinggal hitungan menit," Dika melangkah maju, menjentikkan jarinya ke udara. Setitik cahaya emas murni melesat dari ujung jarinya, menghantam tepat ke pusat ukiran formasi di lantai lift. Krek! Pola garis-garis gaib itu mendadak berbalik arah, memancarkan pendar cahaya keemasan yang hangat, bukan lagi ungu kehitaman yang kelam.

"Gue baru saja membalikkan polaritas formasinya," ujar Dika dengan nada puas, meskipun pelipisnya kini dialiri keringat sebesar biji jagung. "Sekarang, lift ini nggak akan menyedot energi gue. Sebaliknya, lift ini bakal menyedot seluruh energi pertahanan spiritual yang ada di lantai atas dan mengubahnya jadi bahan bakar untuk memulihkan meridian gue selama perjalanan naik! Kita hancurkan rencana mereka dari jantungnya, sekalian kita ambil bukti asli kepemilikan tubuh ini yang pasti disimpan di ruangan kerja sialan itu."

Sebelum Lina sempat melayangkan protes lebih lanjut, Dika sudah menekan tombol angka 40 dengan mantap. Pintu besi lift menutup rapat dengan suara dentangan keras. Bzzzzt! Kabin lift bergetar hebat, lalu melesat naik ke atas dengan kecepatan yang tidak masuk akal, menembus batas-batas ruang dan takdir yang selama dua dekade ini telah mengurung mereka dalam kepalsuan.

Di dalam kecepatan yang menderu itu, Dika memegangi pinggangnya dengan satu tangan, sementara tangan lainnya bersiap menganyam kembali takdir baru. Musuh di atas mungkin sangat kuat, tapi mereka lupa satu hal: singa yang sedang terluka dan encok pun, tetaplah seekor raja.

1
SANG
Semangat ya thor💪👍
SANG
Sembilan belas bunga untukmu thor/Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose/
SANG
Mantap, mantap banget💪👍
SANG
Cerita baru semangat baru ya dek💪👍
SANG
Ceritanya seru banget💪👍
Protocetus
jika berkenan mampir ya ke novelku Remontada
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!