NovelToon NovelToon
Cinta Sesuai Takdir

Cinta Sesuai Takdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Mengubah Takdir / Dunia Masa Depan
Popularitas:468
Nilai: 5
Nama Author: Hsnwy

Amelia hanya gadis desa biasa yang hidup dalam kekurangan dan percaya bahwa kerja keras cukup untuk bertahan hidup.

Sampai suatu malam…

orang yang paling dia percaya menjualnya untuk melunasi hutang.

Dibawa ke kota asing dan dijadikan barang di tempat pelelangan ilegal, Amelia mengira hidupnya sudah berakhir.

Namun di malam yang sama—

dia bertemu pria yang seharusnya tidak pernah masuk ke dunianya.

Lorenzo Moretti.

Pria dingin, berbahaya, dan ditakuti seluruh dunia bawah tanah.

Awalnya Lorenzo hanya berniat memburu pengkhianat.

Tapi satu keputusan kecil membuat semuanya berubah—

dia membawa pulang gadis desa yang bahkan tidak mengenal namanya.

Amelia pikir mansion megah itu akan menjadi tempat perlindungan.

Dia salah.

Karena sejak malam itu, dia justru masuk lebih dalam ke dunia penuh darah, pengkhianatan, dan perang kekuasaan.

Dan ketika organisasi misterius mulai mengincarnya…

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hsnwy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21 — Perhatian Kecil yang Berbahaya

Bab 21 — Perhatian Kecil yang Berbahaya

Pagi datang perlahan di mansion keluarga Moretti.

Hujan semalam sudah berhenti, menyisakan udara dingin dan aroma tanah basah di halaman luas mansion. Cahaya matahari masuk melalui jendela besar kamar Amelia, membuat suasana terasa sedikit lebih hangat dibanding malam sebelumnya.

Namun Amelia baru benar-benar membuka mata ketika sinar matahari mulai menyentuh wajahnya.

Ia mengerjap pelan sambil mencoba mengingat kejadian semalam.

Pria pengkhianat.

Suara tembakan.

Lorenzo yang menangkap tubuhnya sebelum jatuh.

Dan…

tangan pria itu yang ia bersihkan sendiri.

Pikiran itu langsung membuat wajah Amelia memanas.

“Astaga…” gumamnya pelan sambil menutupi wajah dengan selimut.

Kenapa dirinya melakukan itu semalam?

Dan lebih aneh lagi…

kenapa Lorenzo membiarkannya?

Tok tok.

“Nona Amelia?”

Suara Clara terdengar lembut dari balik pintu.

“Masuk…”

Clara masuk sambil membawa nampan sarapan lengkap dengan teh hangat dan roti panggang.

Begitu melihat Amelia sudah bangun, wanita itu tersenyum lega.

“Syukurlah. Semalam Anda membuat semua orang khawatir.”

Amelia perlahan duduk sambil merapikan rambutnya.

“Maaf…”

“Yang paling khawatir tentu saja Tuan Lorenzo.”

Jantung Amelia langsung berdetak aneh.

“Khawatir?”

Clara mengangguk kecil sambil meletakkan nampan di meja kecil dekat tempat tidur.

“Beliau beberapa kali bertanya keadaan Anda pada dokter.”

Amelia perlahan menunduk.

Entah kenapa…

hatinya terasa hangat mendengar itu.

Namun di saat bersamaan ia juga bingung.

Karena semakin Lorenzo menunjukkan perhatian kecil seperti itu…

semakin sulit bagi Amelia untuk menjaga jarak.

“Apa Tuan Lorenzo sudah pergi?” tanya Amelia pelan.

“Belum. Beliau ada di ruang kerja sejak pagi.”

Amelia mengangguk kecil.

Clara memperhatikan wajah Amelia beberapa detik sebelum akhirnya berkata pelan,

“Nona Amelia takut pada beliau sekarang?”

Pertanyaan itu membuat Amelia terdiam.

Ia memikirkan wajah Lorenzo semalam.

Tatapan dingin pria itu saat menembak pengkhianat.

Dan darah di tangannya.

“Aku… tidak tahu.”

Clara tersenyum kecil.

“Semua orang takut pada Tuan Lorenzo.”

“Termasuk Clara?”

Clara tertawa pelan.

“Kadang-kadang.”

Jawaban jujur itu membuat Amelia ikut tersenyum tipis.

Namun Clara kemudian melanjutkan dengan nada lebih lembut,

“Tapi saya tahu satu hal.”

“Apa?”

“Tuan Lorenzo tidak pernah membiarkan siapa pun dekat dengannya.”

Amelia sedikit bingung.

“Maksudnya?”

“Beliau selalu menjaga jarak dengan semua orang. Bahkan dengan keluarganya sendiri.”

Tatapan Clara perlahan berubah lebih serius.

“Tapi terhadap Anda… beliau berbeda.”

Jantung Amelia kembali berdetak tidak tenang.

Ia cepat-cepat menggeleng pelan.

“Itu tidak mungkin…”

Clara hanya tersenyum tipis tanpa membantah.

Karena bahkan seluruh mansion mulai menyadari perubahan kecil pada Lorenzo.

Dan itu belum pernah terjadi sebelumnya.

Sementara itu, di ruang kerja mansion…

Lorenzo sedang duduk sambil membaca laporan dari beberapa anak buahnya.

Namun sejak tadi fokusnya terus terganggu.

Tatapannya beberapa kali kosong tanpa sadar.

“Aku belum pernah melihatmu diam selama ini,” ucap Marco sambil duduk santai di sofa.

Lorenzo tidak menjawab.

Marco menyeringai kecil.

“Kau memikirkan Amelia?”

Tatapan dingin langsung mengarah padanya.

“Aku memikirkan bagaimana cara membuangmu dari mansion.”

Marco tertawa kecil.

“Sayangnya kau terlalu membutuhkan aku.”

Lorenzo menghela napas tipis lalu menutup dokumen di tangannya.

“Bagaimana keadaan Romano?”

“Dia mulai panik.”

Tatapan Lorenzo kembali tajam.

“Bagus.”

Marco mengangguk pelan sebelum akhirnya berkata,

“Tapi ada masalah lain.”

“Apa?”

“Orang-orang organisasi mulai menyadari kau terlalu melindungi Amelia.”

Suasana ruangan langsung berubah lebih dingin.

“Itu bukan urusan mereka.”

“Masalahnya…” Marco menatap Lorenzo serius, “kalau musuh tahu Amelia penting bagimu, mereka akan terus memburunya.”

Lorenzo terdiam.

Karena ia tahu Marco benar.

Namun anehnya…

meski sadar Amelia adalah kelemahan besar, Lorenzo tetap tidak bisa menjauh darinya.

“Perketat keamanan Amelia,” ucap Lorenzo akhirnya.

Marco langsung menghela napas panjang.

“Lihat? Bahkan sekarang kau memprioritaskan dia.”

Lorenzo tidak membantah.

Dan hal itu justru membuat Marco semakin yakin.

Bosnya benar-benar sudah kehilangan kendali.

Tak lama kemudian, suara ketukan pintu terdengar.

Salah satu pelayan masuk.

“Tuan Lorenzo, Nona Amelia sudah bangun.”

Tatapan Lorenzo langsung sedikit berubah.

“Dia baik-baik saja?”

“Sepertinya lebih baik.”

Lorenzo mengangguk kecil lalu kembali membaca dokumennya, berusaha terlihat biasa saja.

Namun Marco jelas melihat perubahan kecil itu.

Dan itu cukup lucu baginya.

“Kalau orang luar melihatmu sekarang, mereka tidak akan percaya kau Lorenzo Moretti.”

Tatapan Lorenzo kembali dingin.

“Aku tetap bisa menembakmu.”

Marco tertawa kecil.

“Tapi kau sedang terlalu sibuk jatuh cinta.”

Beberapa menit kemudian…

Amelia turun ke lantai bawah dengan langkah pelan.

Ia masih sedikit lemas, tetapi jauh lebih baik dibanding semalam.

Begitu memasuki ruang makan, Amelia langsung melihat Lorenzo duduk sendirian sambil meminum kopi hitam.

Pria itu mengenakan kemeja hitam sederhana dengan lengan sedikit tergulung.

Tatapannya langsung terangkat saat Amelia masuk.

Dan seperti biasa…

jantung Amelia langsung terasa tidak tenang.

“Kau sudah bangun.”

Nada suara Lorenzo terdengar lebih lembut dari biasanya.

Amelia mengangguk kecil.

“Iya…”

Lorenzo memperhatikan wajah Amelia beberapa detik.

“Kau masih pucat.”

“Aku baik-baik saja.”

“Dokter bilang kau harus istirahat.”

Amelia perlahan duduk di kursi seberang Lorenzo.

Suasana mendadak canggung.

Karena mereka berdua sama-sama mengingat kejadian semalam.

“Apa tanganmu masih sakit?”

Pertanyaan Amelia membuat Lorenzo sedikit mengangkat alis.

“Tidak.”

Amelia menunduk pelan.

“Syukurlah…”

Sunyi beberapa detik.

Lalu Lorenzo berkata tiba-tiba,

“Kau tidak perlu melihat hal seperti semalam lagi.”

Amelia langsung menatapnya.

“Apa itu mungkin?”

Tatapan Lorenzo sedikit meredup.

Karena jawabannya sebenarnya tidak.

Selama Amelia berada di dekatnya, dunia gelap itu akan terus mengikutinya.

Namun Lorenzo tetap berkata,

“Aku akan mencoba.”

Kalimat sederhana itu justru membuat hati Amelia terasa aneh.

Karena pria seperti Lorenzo…

yang selalu terlihat dingin dan tidak peduli…

ternyata benar-benar berusaha untuknya.

Saat suasana mulai tenang—

Suara langkah kaki sepatu hak tinggi terdengar dari arah pintu utama mansion.

Seorang wanita cantik masuk dengan percaya diri.

Rambut cokelat panjangnya tergerai indah. Pakaiannya mahal dan elegan. Wajahnya sangat cantik dengan aura wanita kota yang berkelas.

Begitu melihat Lorenzo, wanita itu langsung tersenyum.

“Lorenzo.”

Namun langkahnya perlahan berhenti saat melihat Amelia duduk di sana.

Tatapan wanita itu langsung berubah.

“Dan siapa dia?”

Suasana mendadak terasa berbeda.

Amelia langsung merasa tidak nyaman.

Sementara Lorenzo justru terlihat dingin seperti biasa.

Wanita itu berjalan mendekat perlahan.

“Aku datang jauh-jauh dan ternyata kau sedang sarapan dengan wanita lain?”

Marco yang baru masuk ruangan langsung bergumam pelan,

“Wah… masalah datang.”

Amelia melirik bingung.

Wanita cantik itu menatap Amelia dari atas sampai bawah sebelum akhirnya tersenyum tipis.

“Perkenalkan, aku Sofia Bellini.”

Amelia langsung gugup.

“Aku Amelia…”

Sofia masih tersenyum.

Namun matanya jelas sedang menilai Amelia.

Dan Amelia bisa merasakan itu.

“Aku belum pernah melihat Lorenzo membawa wanita tinggal di mansion.”

Tatapan Sofia kini beralih pada Lorenzo.

“Menarik.”

Namun Lorenzo hanya meminum kopinya dengan tenang.

“Sofia.”

“Hmm?”

“Jangan mengganggunya.”

Kalimat singkat itu langsung membuat senyum Sofia sedikit menghilang.

Sementara Amelia justru makin bingung.

Karena untuk pertama kalinya…

ia merasakan sesuatu yang asing dalam dirinya saat melihat wanita cantik itu dekat dengan Lorenzo.

Perasaan tidak nyaman.

Yang perlahan mulai menyerupai… cemburu.

Sofia akhirnya duduk di samping Lorenzo tanpa meminta izin.

Gerakannya sangat alami, seolah ia memang terbiasa berada dekat pria itu.

Dan hal kecil itu kembali membuat hati Amelia terasa aneh.

“Sudah lama sekali sejak terakhir kita makan bersama,” ucap Sofia santai.

“Aku sibuk.”

“Kau selalu sibuk.”

Sofia tersenyum tipis lalu tanpa ragu merapikan sedikit kerah kemeja Lorenzo.

Gerakan sederhana itu langsung membuat Amelia membeku.

Sementara Lorenzo terlihat biasa saja.

Dan entah kenapa…

pemandangan itu membuat Amelia kehilangan selera makannya.

“Kalau begitu aku kembali ke kamar dulu…” ucap Amelia pelan sambil berdiri.

Tatapan Lorenzo langsung terangkat.

“Kau belum selesai makan.”

“Aku sudah kenyang.”

Padahal Amelia hampir tidak menyentuh makanannya.

Namun gadis itu tetap berjalan pergi sebelum siapa pun menghentikannya.

Sofia memperhatikan kepergian Amelia sambil tersenyum kecil.

Dan Lorenzo…

terus memandangi punggung gadis desa itu sampai menghilang di ujung lorong.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!