NovelToon NovelToon
Pernikahan Rahasia Di Balik Seragam

Pernikahan Rahasia Di Balik Seragam

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Dunia Masa Depan / Idola sekolah
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Selenium Alchemy

Masa remaja Andini, seorang gadis SMA yang ceria, seharusnya dihabiskan dengan mengerjakan PR, tertawa bersama teman-teman, dan menikmati masa muda yang bebas. Namun, takdir berkata lain. Sebuah perjodohan mendadak menyeretnya ke dalam ikatan pernikahan yang tidak pernah ia bayangkan, dengan pria yang berada di dunia yang sangat jauh berbeda dari dunianya.

​Charles, seorang CEO muda yang dikenal dengan reputasi "es berjalan". Baginya, hidup adalah tentang keuntungan, strategi, dan kesempurnaan. Ia tidak pernah menginginkan pernikahan ini baginya, Andini hanyalah tanggung jawab yang harus ia jaga demi memenuhi wasiat sang kakek.

​Di sekolah, Andini adalah siswi biasa yang berusaha menjalani hari dengan tenang. Namun di balik pintu apartemen mewah, ia adalah istri dari pria yang paling disegani sekaligus ditakuti di dunia bisnis. Pernikahan ini harus dirahasiakan rapat-rapat; satu kesalahan kecil bisa menghancurkan reputasi Charles dan masa depan sekolah Andini...?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Selenium Alchemy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 21

POV Vivian

Dinginnya lantai marmer lobi Utama Group terasa menembus hingga ke sela-sela sepatu hak tinggiku. Aku berjalan dengan langkah yang dipaksakan untuk tetap tegak, meskipun di dalam dadaku, jantungku bertalu-talu seperti genderang perang yang pecah. Dua orang petugas keamanan berbadan tegap berjalan di kiri dan kananku. Mereka tidak menyentuhku, namun keberadaan mereka di sana—mengawalku keluar dari gedung yang selama bertahun-tahun kuanggap sebagai singgasanaku—adalah sebuah penghinaan yang paling mematikan.

"Cukup! Saya bisa berjalan sendiri!" desisku dengan suara tertahan, menepis angin di antara kami saat kami mencapai pintu kaca berputar.

Para petugas itu berhenti tepat di batas pintu luar, memberikan penghormatan terakhir yang terasa seperti ejekan masam. Di luar, rintik hujan Jakarta menyambutku, membasahi aspal dan menciptakan pantulan abu-abu yang suram. Aku berdiri di undakan anak tangga, meremas tali tas *Hermès*-ku hingga jemariku memutih.

Aku menoleh ke belakang, menatap menara kaca setinggi puluhan lantai itu. Di atas sana, di ruangan paling mewah, Charles Utama pasti sedang duduk dengan tenang, menikmati kemenangannya.

"Kau pikir kau sudah menang, Charles?" bisikku, suaraku bergetar oleh perpaduan antara amarah dan rasa tidak percaya. "Kau membuangku... membuangku yang sudah berdarah-darah demi perusahaan ini, hanya untuk gadis ingusan itu?"

Rasa perih menyengat mataku, bukan karena air mata kesedihan, melainkan karena harga diriku yang diinjak-injak hingga lumat. Aku, Vivianne Rahardja, wanita yang selalu menjadi standar keanggunan di setiap pertemuan bisnis kelas atas, kini diusir seperti pencuri. Ditendang secara tidak hormat oleh Kakek Utama hanya karena aku mencoba menyingkirkan sebuah kerikil kecil yang mengganggu jalan kami.

Aku melangkah masuk ke dalam mobil BMW-ku yang sudah menunggu di lobi. Begitu pintu tertutup dan kebisingan kota meredup, aku meluapkan segalanya. Aku memukul kemudi dengan brutal, berteriak hingga tenggorokanku terasa terbakar.

"Sialan! Sialan kau, Charles! Sialan kau, Andini!"

Ponselku di atas kursi penumpang bergetar hebat. Nama pengacara pribadiku berkedip di layar. Dengan tangan yang masih gemetar karena sisa amarah, aku menyambungkannya ke pengeras suara mobil.

"Halo, Vivian? Kau harus mendengarkan ini," suara pengacaraku terdengar panik, menghilangkan seluruh profesionalisme yang biasanya ia agungkan. "Laporanmu di kepolisian semalam tidak hanya ditolak, tapi tim hukum Charles sudah memasukkan gugatan balik atas pencemaran nama baik, perbuatan tidak menyenangkan, dan pelanggaran berlapis terkait privasi anak di bawah umur. Staf administrasi sekolah yang kau hubungi semalam... dia sudah menyerahkan rekaman suaramu pada penyidik."

Napasku tercekat. "Apa kau bilang? Staf bodoh itu berkhianat?"

"Dia tidak punya pilihan, Vivian! Charles mengancam akan menuntut yayasan sekolah mereka jika mereka menyembunyikan bukti. Sekarang posisimu sangat berbahaya. Polisi bisa mengeluarkan surat perintah penahanan dalam waktu dua puluh empat jam jika kita tidak bisa membuktikan bahwa kau tidak memiliki niat jahat."

"Niat jahat?!" teriakku histreris. "Aku hanya ingin menyelamatkan Utama Group dari skandal moral! Pria dewasa menikahi anak SMA, di mana letak kesalahanku?!"

"Masalahnya, pernikahan mereka sah di mata hukum dan memiliki dokumen dispensasi yang lengkap, Vivian. Kau yang menyebarkan foto itu ke publik, kau yang menciptakan skandal itu sendiri untuk menjatuhkan Charles. Hakim tidak akan melihatmu sebagai penyelamat, melainkan sebagai komplotan yang berniat melakukan kudeta bisnis."

Sambungan telepon itu terputus setelah aku mematikannya secara sepihak. Aku menyandarkan kepala di sandaran kursi, menatap langit-langit mobil dengan pandangan kosong. Dunia seolah runtuh menimpaku dalam hitungan jam. Semua rencana matang yang kususun—mulai dari menyuap media, memengaruhi komite sekolah, hingga memanfaatkan kepolisian—berbalik menyerangku seperti bumerang yang haus darah.

Aku teringat bagaimana tatapan mata Charles di ruang rapat tadi. Dingin, tajam, dan sama sekali tidak memiliki ruang untuk belas kasihan. Sepuluh tahun aku berada di dekatnya, mencoba mengisi kekosongan hatinya setelah kematian orang tuanya, berharap suatu hari nanti es di dalam dirinya akan mencair untukku. Aku meniru semua standarnya. Aku menjadi wanita yang ambisius, dingin, dan tak tersentuh, mengira itulah tipe wanita yang ia butuhkan untuk memimpin Utama Group bersamanya.

Namun, semua teoriku runtuh saat melihat bagaimana dia memperlakukan Andini. Gadis kampung yang tidak memiliki apa-apa selain cerita-cerita cengeng tentang orang tuanya yang sudah tiada. Gadis yang mengenakan seragam sekolah kusam, yang bahkan tidak tahu cara memegang garpu formal dengan benar. Di depan gadis itu, Charles melepaskan jubah esnya. Dia menjadi manusia. Dan hal itu membuatku sadar akan satu kenyataan yang paling pahit: Charles bukan tidak bisa mencintai, dia hanya tidak bisa mencintaiku.

"Kenapa harus dia, Charles?" tanyaku pada kesunyian di dalam mobil. "Kenapa kau memilih menghancurkan kariermu, menurunkan saham perusahaanmu, dan memusuhi aku yang selalu mendukungmu, hanya untuk melindungi anak kecil itu?"

Aku merogoh tas, mengeluarkan dokumen cadangan yang sempat kusimpan. Di sana ada profil lengkap Andini. Foto wajahnya yang polos menatapku dari lembaran kertas putih itu. Tatapannya yang jernih, tanpa beban, justru membuatku semakin muak. Dia tampak begitu suci, sementara aku harus mendekam di dalam mobil ini dengan bayang-bayang penjara di depanku.

Aku menatap telapak tanganku yang dihiasi cat kuku merah mewah. Tanganku ini telah menandatangani kontrak-kontrak bernilai miliaran rupiah, telah bersalaman dengan para menteri dan pengusaha internasional. Tapi hari ini, tangan ini terancam akan diborgol.

"Aku tidak akan membiarkan ini berakhir seperti ini," desisku sambil meremas kertas profil Andini hingga membentuk bola kecil, lalu melemparnya ke lantai mobil.

Jika aku harus jatuh dari menara kaca ini, maka aku pastikan pondasi yang mereka pijak juga akan ikut retak. Charles mungkin telah memenangkan pertempuran di ruang rapat, dan Andini mungkin merasa aman di dalam apartemen mewah itu. Namun, badai hukum yang sesungguhnya baru saja dimulai. Aku akan menggunakan seluruh sisa koneksi keluarga Rahardja, seluruh simpanan uangku di luar negeri, untuk menyewa pembela terbaik.

Aku tidak akan melarikan diri seperti pecundang. Aku akan menghadapi Charles di pengadilan. Jika aku tidak bisa memiliki Utama Group, dan jika aku tidak bisa memiliki Charles, maka tidak boleh ada seorang pun yang bisa menikmatinya dengan tenang.

Aku menghidupkan mesin mobil, menginjak pedal gas dalam-dalam, membelah hujan Jakarta menuju kantor firma hukum keluarga kami. Vivianne Rahardja belum selesai. Puing-puing ambisiku hari ini akan menjadi senjata yang lebih tajam untuk hari esok. Mereka pikir mereka telah menemukan kedamaian, tetapi aku akan memastikan bahwa kedamaian itu berharga sangat mahal.

1
Eni Wati
sll menunggu
R.A Naimah
nggak faham alur ya selalu berputar
Eni Wati
Lanjut
Eni Wati
sll menuggu
Eni Wati
Lanjut
Wawan
Semangat... ✍️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!