NovelToon NovelToon
Pijar Hati

Pijar Hati

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama
Popularitas:237
Nilai: 5
Nama Author: Isshabell

Dimas Anggara laki-laki yang berusia sekitar 33 tahun, nama dan wajahnya akan selalu membuat hati seorang Ratih terhenyak betapa tidak karena sudah lebih dari sepuluh tahun ini orang yang selalu mengisi hari-hari nya itu tiba-tiba pergi begitu saja meninggalkan dirinya tanpa ada salam dan kata perpisahan untuknya.

Dan kini di tengah Ratih sudah mulai bangun dari kerapuhan hatinya tiba-tiba saja dia bertemu kembali dengan Dimas Anggara.

yuk baca kisahnya di sini

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Isshabell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab.21 malam di penginapan

Ternyata cuaca memang sedang tidak bersahabat dengan Dimas dan Ratih. Semakin malam hujan makin deras, berharap menunggu bantuan yang datang pun sudah tak mungkin. Sementara waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam ini.

"Dim. bagaimana ini, dari tadi tidak ada satupun kendaraan yang lewat di jalan ini, kita terjebak sudah cukup lama di sini," wajah panik Ratih kembali terlihat.

"Iya dari tadi gak ada kendaraan yang lewat. Sebentar aku coba cek lagi mungkin masih bisa di perbaiki sedikit," Dimas mencoba membuat Ratih tenang.

"Tapi hujan masih deras," Ratih menatap hujan dari kaca mobil mereka.

"Gak apa-apa, ada payung," Dimas membuka pintu mobil sambil membawa payung yang ada di dalam mobil itu.

Dimas mulai membuka kap mobil sementara tangan yang satunya memegang payung, Dimas mulai memeriksa mesin mobil dan mencari sesuatu yang bisa membuat mobil itu bergerak meski sedikit saja.

Ratih yang memperhatikan Dimas dari dalam mobil merasa sangat kasihan pada Dimas yang berjuang sendiri memperbaiki mobil tersebut agar mereka bisa keluar dari situasi sulit ini.

Perlahan Ratih membuka pintu mobil, Ratih keluar menghampiri Dimas menembus hujan yang masih deras yang membuat baju dan rambutnya sedikit basah.

"Ngapain kamu keluar dari mobil Rat? lihat itu bajumu basah," ucap Dimas yang kemudian mengarahkan payung yang di pegangnya di atas kepala Ratih yang sudah berdiri di sampingnya.

"Aku mau bantuin kamu pegangi payungnya Dim," Ratih meraih payung dari tangan Dimas dan Dimas membiarkannya karena memang tadi dia sedikit kerepotan waktu memegang payung sambil memperbaiki mesin mobil.

Dengan segera Dimas mengutak-atik mesin mobil itu sementara Ratih memayungi Dimas dari hujan yang tak kunjung reda.

Setelah di rasa selesai akhirnya Dimas dan Ratih masuk ke dalam mobil, Dimas mulai mencoba menghidupkan mobil itu dan akhirnya mobil itu bisa hidup lagi.

"Sudah bisa Rat," Dimas menoleh pada Ratih yang duduk disampingnya itu.

"Iya Dim," Ratih terlihat senang, kepanikannya sedikit mencair.

Dimas mulai menjalankan mobil itu tapi saat perjalanan mereka sudah hampir memasuki kota tiba-tiba saja mobil itu kembali mogok.

"Dim." panggil Ratih saat mobil mereka tersendat lagi.

"Mogok lagi Rat, tapi gak apa-apa kamu jangan panik aku akan coba membawanya perlahan."

Ratih menganggukkan kepalanya berharap Dimas bisa membawa mobil itu sampai ke kota lagi.

Dengan sabar dan susah payah Dimas menjalankan mobil itu meski tersendat-sendat dan akhirnya tepat jam satu malam mobil mogok total tepat di depan sebuah penginapan kecil di pinggiran kota.

"Rat, terpaksa kita harus menginap di penginapan ini dulu karena waktu sudah sangat malam ini dan kamu sepertinya sudah kecapekan," ujar Dimas.

"Iya," Ratih terlihat sudah lelah dan pasrah.

Akhirnya mereka berdua pun turun dari mobil dan berjalan menuju ke arah pintu masuk penginapan itu.

"Permisi mbak, mau pesan dua kamar," ucap Dimas pada resepsionis penginapan tersebut.

"Maaf mas kamarnya cuma sisa satu saja," ucap resepsionis itu pada Dimas.

Dimas terdiam sejenak tiba-tiba saja Ratih mengiyakan ucapan resepsionis tadi.

"Iya mbak gak apa-apa kami ambil kamarnya," ucap Ratih pada resepsionis itu sambil mendekap kedua tangannya di dada karena kedinginan.

"Rat, kamu saja yang tidur di dalam kamar, biar aku numpang tidur di lobby," kata Dimas pada Ratih.

"Gak apa-apa Dim, kamu tidur di kamar juga, sedari tadi kamu sudah kelelahan membetulkan mobil dan bersusah payah membawa mobil itu sampai ke sini," empati Ratih mulai keluar dia kasihan juga pada Dimas yang terlihat sangat kecapekan.

"Beneran kamu gak apa-apa Rat?" Dimas mengulang kata Ratih.

Ratih mengangguk sambil tersenyum pada Dimas, kemudian mereka pun berjalan ke arah kamar yang sudah di pesan.

"Aku tidur di lantai ini saja, kamu tidur di tempat tidur itu Rat," ucap Dimas demi keamanan Ratih.

"Iya."

Dimas melihat Ratih yang masih kedinginan kemudian dia memanggil salah satu pelayan penginapan itu untuk meminta handuk dan selimut.

Dimas keluar kamar dia menyuruh pelayan penginapan itu untuk memberikan handuk dan selimut yang di mintanya tadi pada Ratih.

"Ini mbk handuk dan selimutnya, tadi mas nya yang minta untuk di kasihkan ke mbaknya," ucap pelayan itu sambil menyerahkan handuk dan selimut itu pada Ratih.

"Terimakasih," ucap Ratih sopan pada mbak pelayan penginapan itu.

Ratih tersenyum sendiri dia sadar kalau perhatian Dimas kali ini sangat menyentuh hatinya dan ternyata Dimas juga menjaga kesopanan nya, Dimas keluar kamar dulu selama Ratih mengeringkan tubuhnya.

Dimas berjalan ke arah cafe mini yang ada di sudut dekat lobby penginapan itu, dia memesan secangkir kopi hitam untuk menghangatkan tubuhnya yang mulai terasa dingin.

"Kopi hitam satu mas," pinta Dimas pada salah satu pelayan cafe itu.

"Baik. Di tunggu," tak berapa lama kopi pesanan Dimas sudah datang.

Dimas duduk di bangku cafe yang sepi itu cuma ada satu orang di kursi ujung sana. Perlahan Dimas menyeruput sedikit demi sedikit kopi itu, kopi yang masih mengepul itu sempat membuat tubuh Dimas menjadi hangat.

"Dim, kamu tidak kembali ke kamar untuk istirahat? Aku sudah selesai," WhatsApp Ratih ke Dimas.

"Ya," Dimas membalas WhatsApp Ratih.

Dimas menghabiskan kopinya yang tinggal seteguk itu, kemudian dia pun melangkah pergi kembali ke kamar tempat mereka menginap.

Dimas masuk ke dalam kamar yang memang sengaja pintunya di buka oleh Ratih.

"Kamu belum tidur Rat?" Dimas melihat Ratih sedang duduk di bibir kasur.

"Belum. Oh ya tadi aku sudah beri alas selimut buat tempat kamu tidur Dim," Ratih menunjuk ke lantai tempat Dimas nanti tidur.

"Makasih Rat," Dimas duduk di alas yang di siapkan Ratih tadi.

Bukan hanya alas tidur yang sudah di siapkan Ratih tapi dia juga sudah menata bantal dan guling untuk Dimas.

"Kamu beneran gak apa-apa tidur di bawah Dim?" tanya Ratih lagi pada Dimas.

"Gak apa-apa Rat, kamu tenang saja aku akan jagain kamu di sini," Dimas melepas sepatunya dan menyelonjorkan kakinya yang terasa pegal.

"Sudah Rat kamu istirahat dulu aja."

"Iya," Ratih kemudian merebahkan tubuhnya di atas kasur menghadap Dimas yang tidur di bawah.

"Malam Dim," ucap Ratih sebelum memejamkan matanya.

"Malam juga Rat," Dimas membalas salam dari Ratih.

Mungkin karena kecapekan akhirnya Ratih tertidur juga, sementara Dimas yang berbaring sambil menatap langit-langit kamar itu masih belum bisa tidur dia berbalik ke kanan menatap Ratih yang sudah tertidur pulas.

"Kasihan kamu Rat, harus jatuh ke dalam penjara Regan. Maafkan aku, aku berjanji akan melepaskan kamu dari jeratan Regan," Dimas menatap nanar wajah Ratih.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!