Lin Xiurong dahulu adalah putri manusia yang mati secara tragis karena dibunuh oleh kekasihnya sendiri, Yao Tian, akibat fitnah dan permainan takdir. Kebencian, cinta, dan luka yang tidak selesai membuatnya jatuh ke Alam Bawah. Di sana, ia tidak mati, tidak hidup, dan perlahan berubah menjadi iblis terkuat.
Ribuan tahun kemudian, Lin Xiurong berhasil membunuh Raja Iblis lama dan menjadi penguasa Alam Kegelapan. Semua makhluk takut padanya, tetapi tidak ada yang tahu bahwa penguasa paling kejam itu hanya menunggu satu orang: Yao Tian.
Namun, saat Yao Tian akhirnya datang, ia tidak datang sebagai kekasih yang mengingat janji lama. Ia datang sebagai murid Kaisar Dewa yang ditugaskan untuk membunuh Lin Xiurong.
Masalahnya, Lin Xiurong masih mencintainya.
Dan Yao Tian tidak ingat bahwa perempuan yang ingin ia bunuh adalah perempuan yang pernah ia cintai sampai mati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Enzelynn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Takhta yang Tidak Menghangatkan
Hari pertama pemerintahan Lin Xiurong dimulai tanpa pesta. Ia memanggil para kepala klan iblis yang tersisa dan membuat mereka berdiri di aula yang lantainya masih menyimpan bekas perang. Siapa pun yang dahulu setia pada Juan Ling diperbolehkan hidup jika menyerahkan sumpah darah. Siapa pun yang menyembunyikan niat memberontak akan dibakar sebelum sempat berbicara.
Beberapa kepala klan menuduhnya tidak punya legitimasi. Lin Xiurong mendengarkan sampai mereka selesai, lalu meminta Qi An membacakan daftar dosa mereka di masa Juan Ling: perdagangan budak, penyiksaan tawanan, dan pengorbanan iblis kecil untuk memperpanjang umur. Aula menjadi sunyi setelah itu.
Lin Xiurong tidak perlu banyak membunuh. Kadang, kebenaran yang dibuka di depan umum lebih tajam daripada pedang.
Di sela peristiwa itu, satu hal menjadi semakin jelas: tidak ada keputusan yang benar-benar bersih di tiga alam. Setiap pilihan selalu membawa bayangan pilihan lain yang tidak diambil. Musuh bisa bersembunyi di balik sumpah, keluarga bisa lahir dari kesetiaan, dan takdir sering datang dengan wajah yang terlalu kejam untuk dikenali sejak awal.
Tiga alam tidak pernah benar-benar adil. Surga punya aturan, Alam Bawah punya hukum, dan manusia hanya punya harapan yang sering pecah sebelum sempat tumbuh.
Qi An dan Song Xiaolian bekerja seperti dua sisi dari pisau yang sama. Qi An mengeksekusi perintah dengan cepat, dingin, dan nyaris tanpa ekspresi. Song Xiaolian memeriksa para tawanan, memberi minum yang sekarat, dan mencatat siapa saja yang bisa berguna bagi pemerintahan baru. Mereka sering bertengkar, namun keduanya selalu berakhir pada tujuan yang sama: melindungi Lin Xiurong.
Ketika semua urusan siang itu selesai, Song Xiaolian membawa teh merah ke ruang takhta. Qi An berdiri di dekat pintu dengan pedang di pinggang. Mereka menemukan Lin Xiurong tidak duduk, melainkan berdiri menghadap jendela panjang yang memperlihatkan langit merah Alam Bawah.
Tidak ada sorak kemenangan di wajahnya. Hanya letih yang terlalu tua untuk seorang perempuan yang wajahnya tetap berusia dua puluh tiga tahun.
Di sela peristiwa itu, satu hal menjadi semakin jelas: tidak ada keputusan yang benar-benar bersih di tiga alam. Setiap pilihan selalu membawa bayangan pilihan lain yang tidak diambil. Musuh bisa bersembunyi di balik sumpah, keluarga bisa lahir dari kesetiaan, dan takdir sering datang dengan wajah yang terlalu kejam untuk dikenali sejak awal.
Di Alam Bawah, kebenaran jarang datang dalam bentuk terang. Ia lebih sering muncul sebagai bau darah, bekas luka, atau keheningan yang terlalu lama dipertahankan.
Song Xiaolian berkata kemenangan ini seharusnya membuat Lin Xiurong bahagia. Lin Xiurong tersenyum tanpa menoleh. Ia menjawab bahwa bahagia adalah kata manusia, dan manusia dirinya telah mati terlalu lama. Qi An menggigit bibir, ingin membantah, tetapi ia tahu ada luka yang tidak boleh disentuh sembarangan.
Malam itu Lin Xiurong masuk ke kamar pribadinya dan membuka kotak hitam bersegel api. Di dalamnya ada pita rambut putih, pecahan giok, dan selembar kain yang dulu pernah menyerap darahnya ketika ia masih menjadi Putri Ming.
Ia menyentuh pita itu dan nama Yao Tian kembali datang. Kemenangan ternyata tidak pernah bisa menyingkirkan satu orang dari ingatan.
Di sela peristiwa itu, satu hal menjadi semakin jelas: tidak ada keputusan yang benar-benar bersih di tiga alam. Setiap pilihan selalu membawa bayangan pilihan lain yang tidak diambil. Musuh bisa bersembunyi di balik sumpah, keluarga bisa lahir dari kesetiaan, dan takdir sering datang dengan wajah yang terlalu kejam untuk dikenali sejak awal.
Lin Xiurong selalu percaya bahwa kelembutan adalah kemewahan. Namun setiap kali masa lalunya menyentuh pikiran, keyakinan itu runtuh sedikit demi sedikit.
Bagi Lin Xiurong, hari-hari awal kekuasaan bukan sekadar urusan menang atau kalah. Ia harus membuktikan bahwa takhta baru tidak hanya mengganti nama penguasa, tetapi juga mengganti cara Alam Bawah bernapas. Mereka yang tunduk karena takut harus belajar tunduk karena hukum, sementara mereka yang menunggu kesempatan memberontak harus dibuat sadar bahwa mata Phoenix tidak pernah benar-benar tidur.
Qi An melihat perubahan itu lebih cepat daripada siapa pun. Ia tidak percaya pada belas kasihan yang terlalu mudah, tidak percaya pada sumpah yang diucapkan ketika leher seseorang berada di bawah pedang, dan tidak percaya pada masa damai yang diumumkan terlalu awal. Dalam pikirannya, kedamaian hanya mungkin berdiri jika bahaya sudah lebih dulu dipatahkan kakinya.
Song Xiaolian menyimpan pandangan lain. Ia tahu Lin Xiurong tidak membutuhkan pujian, tetapi pemerintahan yang hanya dibangun dari ketakutan akan melahirkan Juan Ling baru dalam bentuk berbeda. Karena itu, ia selalu mencari celah kecil untuk menyelamatkan sesuatu: seorang anak, seorang tawanan, atau sepotong harapan yang hampir dianggap tidak berguna.
Di atas semua itu, ada takdir yang bergerak perlahan. Alam Bawah boleh berubah warna menjadi merah Phoenix, tetapi masa lalu Lin Xiurong tidak ikut terbakar. Ia tetap ada dalam kotak-kotak tersegel, dalam nama yang tidak pernah disebut keras-keras, dan dalam mimpi yang datang setiap kali kemenangan terasa terlalu sunyi.
Lin Xiurong dapat memerintah ribuan iblis, menghukum klan yang memberontak, dan menantang langit tanpa menundukkan kepala. Namun kekuatan tidak selalu berarti kebebasan. Kadang kekuatan hanya membuat seseorang cukup lama hidup untuk terus mengingat semua hal yang gagal ia lupakan.
Bagi Lin Xiurong, hari-hari awal kekuasaan bukan sekadar urusan menang atau kalah. Ia harus membuktikan bahwa takhta baru tidak hanya mengganti nama penguasa, tetapi juga mengganti cara Alam Bawah bernapas. Mereka yang tunduk karena takut harus belajar tunduk karena hukum, sementara mereka yang menunggu kesempatan memberontak harus dibuat sadar bahwa mata Phoenix tidak pernah benar-benar tidur.
Qi An melihat perubahan itu lebih cepat daripada siapa pun. Ia tidak percaya pada belas kasihan yang terlalu mudah, tidak percaya pada sumpah yang diucapkan ketika leher seseorang berada di bawah pedang, dan tidak percaya pada masa damai yang diumumkan terlalu awal. Dalam pikirannya, kedamaian hanya mungkin berdiri jika bahaya sudah lebih dulu dipatahkan kakinya.
Song Xiaolian menyimpan pandangan lain. Ia tahu Lin Xiurong tidak membutuhkan pujian, tetapi pemerintahan yang hanya dibangun dari ketakutan akan melahirkan Juan Ling baru dalam bentuk berbeda. Karena itu, ia selalu mencari celah kecil untuk menyelamatkan sesuatu: seorang anak, seorang tawanan, atau sepotong harapan yang hampir dianggap tidak berguna.
Di atas semua itu, ada takdir yang bergerak perlahan. Alam Bawah boleh berubah warna menjadi merah Phoenix, tetapi masa lalu Lin Xiurong tidak ikut terbakar. Ia tetap ada dalam kotak-kotak tersegel, dalam nama yang tidak pernah disebut keras-keras, dan dalam mimpi yang datang setiap kali kemenangan terasa terlalu sunyi.
Lin Xiurong dapat memerintah ribuan iblis, menghukum klan yang memberontak, dan menantang langit tanpa menundukkan kepala. Namun kekuatan tidak selalu berarti kebebasan. Kadang kekuatan hanya membuat seseorang cukup lama hidup untuk terus mengingat semua hal yang gagal ia lupakan.
Bagi Lin Xiurong, hari-hari awal kekuasaan bukan sekadar urusan menang atau kalah. Ia harus membuktikan bahwa takhta baru tidak hanya mengganti nama penguasa, tetapi juga mengganti cara Alam Bawah bernapas. Mereka yang tunduk karena takut harus belajar tunduk karena hukum, sementara mereka yang menunggu kesempatan memberontak harus dibuat sadar bahwa mata Phoenix tidak pernah benar-benar tidur.
Qi An melihat perubahan itu lebih cepat daripada siapa pun. Ia tidak percaya pada belas kasihan yang terlalu mudah, tidak percaya pada sumpah yang diucapkan ketika leher seseorang berada di bawah pedang, dan tidak percaya pada masa damai yang diumumkan terlalu awal. Dalam pikirannya, kedamaian hanya mungkin berdiri jika bahaya sudah lebih dulu dipatahkan kakinya.
Song Xiaolian menyimpan pandangan lain. Ia tahu Lin Xiurong tidak membutuhkan pujian, tetapi pemerintahan yang hanya dibangun dari ketakutan akan melahirkan Juan Ling baru dalam bentuk berbeda. Karena itu, ia selalu mencari celah kecil untuk menyelamatkan sesuatu: seorang anak, seorang tawanan, atau sepotong harapan yang hampir dianggap tidak berguna.
Di atas semua itu, ada takdir yang bergerak perlahan. Alam Bawah boleh berubah warna menjadi merah Phoenix, tetapi masa lalu Lin Xiurong tidak ikut terbakar. Ia tetap ada dalam kotak-kotak tersegel, dalam nama yang tidak pernah disebut keras-keras, dan dalam mimpi yang datang setiap kali kemenangan terasa terlalu sunyi.
Lin Xiurong dapat memerintah ribuan iblis, menghukum klan yang memberontak, dan menantang langit tanpa menundukkan kepala. Namun kekuatan tidak selalu berarti kebebasan. Kadang kekuatan hanya membuat seseorang cukup lama hidup untuk terus mengingat semua hal yang gagal ia lupakan.
Bagi Lin Xiurong, hari-hari awal kekuasaan bukan sekadar urusan menang atau kalah. Ia harus membuktikan bahwa takhta baru tidak hanya mengganti nama penguasa, tetapi juga mengganti cara Alam Bawah bernapas. Mereka yang tunduk karena takut harus belajar tunduk karena hukum, sementara mereka yang menunggu kesempatan memberontak harus dibuat sadar bahwa mata Phoenix tidak pernah benar-benar tidur.
Qi An melihat perubahan itu lebih cepat daripada siapa pun. Ia tidak percaya pada belas kasihan yang terlalu mudah, tidak percaya pada sumpah yang diucapkan ketika leher seseorang berada di bawah pedang, dan tidak percaya pada masa damai yang diumumkan terlalu awal. Dalam pikirannya, kedamaian hanya mungkin berdiri jika bahaya sudah lebih dulu dipatahkan kakinya.
Song Xiaolian menyimpan pandangan lain. Ia tahu Lin Xiurong tidak membutuhkan pujian, tetapi pemerintahan yang hanya dibangun dari ketakutan akan melahirkan Juan Ling baru dalam bentuk berbeda. Karena itu, ia selalu mencari celah kecil untuk menyelamatkan sesuatu: seorang anak, seorang tawanan, atau sepotong harapan yang hampir dianggap tidak berguna.
Di atas semua itu, ada takdir yang bergerak perlahan. Alam Bawah boleh berubah warna menjadi merah Phoenix, tetapi masa lalu Lin Xiurong tidak ikut terbakar. Ia tetap ada dalam kotak-kotak tersegel, dalam nama yang tidak pernah disebut keras-keras, dan dalam mimpi yang datang setiap kali kemenangan terasa terlalu sunyi.