Semua berawal dari malam ia melarikan diri dari kejaran prajurit kerajaan. Dia dan ibunya berlari terpisah di tengah kekacauan kota. Karena terburu-buru, sang ibu tak menyadari bahwa ia tertinggal.
Keringat dingin membasahi punggungnya. Ia tersesat, berlari tanpa arah di lorong-lorong gelap yang asing. Dan sialnya, di setiap ujung jalan, bayang-bayang prajurit mulai mengepungnya.
Tepat sebelum tangan kasar seorang prajurit menyentuh kerah bajunya, tiba-tiba mereka berjatuhan. Satu per satu, tanpa suara. Sany berdiri di depannya, dengan ujung jari telunjuk masih teracung ke depan.
Setelah mengantarnya ke tempat yang aman, Sany memberinya beberapa emas dan pergi begitu saja. Tanpa nama. Tanpa alasan. Tanpa janji.
Tapi dia, tak akan pernah melupakan siapa yang menyelamatkannya malam itu.
Dan suatu saat nanti... ia yakin akan menemukan bertemu lagi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sizzz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rumah pohon
Di rumah.
Mizuki melangkah masuk, lalu berhenti.
Matanya berkedip beberapa kali, seolah tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.
Dari luar, rumah pohon itu tampak kecil dan sederhana. Bahkan sedikit kumuh. Tapi begitu pintu terbuka, isinya sangat berbeda dari yang ia kira.
Kayu-kayu yang seharusnya terlihat tua dan semestinya lapuk, ternyata dinding mulus berwarna krem hangat. Lantai yang diperkirakan akan berderit ternyata terbuat dari papan halus mengilap, dipelitur dengan wangi kayu alami yang menenangkan.
Di sudut kiri, ada dapur kecil. Lengkap dengan kompor batu bata merah dan peralatan masak yang tergantung rapi di dinding.
Di sudut kanan, kursi panjang berlapis kain tebal berwarna biru tua, dengan bantal-bantal empuk yang mengundang siapa saja untuk duduk berlama-lama.
Dan di bagian paling ujung, Mizuki hampir tersenyum melihatnya, sebuah kasur empuk. Tebal. Berwarna krem muda dengan selimut biru kehijauan terlipat rapi di ujungnya, seperti menunggu seseorang merebahkan badan setelah berhari-hari lelah.
Dan untuk pertama kalinya di malam itu, setelah berjam-jam berlari, dilalui ketakutan, pertempuran, dan air mata. Mizuki merasa ada sesuatu yang melunak di dadanya
Ia menoleh ke Aisa yang sudah duduk santai di kursi panjang, sambil menyilangkan kaki.
"Kak Aisa benar-benar tinggal di sini sendirian?"
Aisa mengangkat alis. "Kenapa? Takut aku kesepian?"
Mizuki menggeleng cepat. "Bukan. Aku hanya... heran. Tempat ini rasanya seperti rumah. Bukan tempat persembunyian,"
Aisa terdiam sejenak. Matanya menerawang ke luar jendela. Di balik kaca, hutan malam bergoyang pelan ditiup angin.
"Kadang," suara Aisa lirih, "tempat persembunyian bisa berubah jadi rumah. Kalau kita cukup lama bersembunyi di dalamnya."
Ia tersenyum. Tapi senyum yang pahit.
Mizuki tidak bertanya lebih jauh. Ia hanya duduk di ujung kasur, merasakan kelembutan selimut di ujung jarinya.
Aisa terdiam sejenak. Matanya menerawang ke luar jendela. Di balik kaca, hutan malam bergoyang pelan ditiup angin.
"Omong-omong, kau sudah makan?" tanya Aisa. Suaranya tiba-tiba berubah menjadi lebih ringan.
Seperti sedang mengajak ngobrol santai.
Mizuki menggeleng pelan. Dari perutnya terdengar suara kecil yang cukup untuk menjawab pertanyaan itu.
"Belum," jawabnya malu-malu.
Aisa tersenyum. Bukan senyum sinis seperti tadi di hadapan prajurit. Bukan juga senyum tegang, seperti saat melarikan diri. Ini senyum seorang kakak yang melihat adiknya kelaparan.
"Kalau begitu, tunggu sebentar di depan TV. Kakak mau masak di dapur,"
Mizuki mengerjakan mata.
"TV? Di rumah pohon di tengah hutan?" batinnya.
Ia menoleh ke sudut ruangan, dan benar saja sebuah televisi layar lebar berdiri di atas meja kayu panjang.
"Terima kasih," ucap Mizuki.
Ia duduk di depan televisi. Kakinya diselonjorkan ke depan. Selimut masih tergenggam di tangannya.
Dari dapur, terdengar suara air mengalir, suara pisau mengenai talenan, dan suara kompor yang dinyalakan.
Api kecil terdengar.
Wangi bawang mulai menyebar perlahan.
Mizuki menatap layar televisi, menonton berita sekaligus mencari tahu keberadaan ibunya.
Tapi telinganya tetap mendengar dapur.
Setiap suara dari sana terasa hangat. Ia merasa di rumah, seperti ibunya masih ada.
Mata Mizuki mulai berkaca-kaca lagi.
Tapi kali ini, ia tidak menangis.
Ia hanya menatap layar, menahan sesuatu yang menggenang di dadanya.
"Sebentar lagi ya," suara Aisa dari dapur.
"Kakak masak mie. Cepet kok!"
Mizuki tersenyum kecil.
"Iya," jawabnya dengan pelan.
Suara Mizuki nyaris tenggelam oleh gemerisik wajan dari dapur. Tapi Aisa masih bisa mendengarnya. Atau setidaknya, ia merasakannya.
Selang beberapa menit, wangi mulai merambat. Bukan wangi bawang lagi. Tapi wangi mie panas dengan kaldu yang meresap, sedikit aroma merica, dan sesuatu yang gurih menggelitik hidung.
Mizuki menoleh spontan.
Perutnya berbunyi lagi.
Masakan mie sudah jadi.
Mizuki sedang duduk di kasur tipis sambil menonton TV. Kakinya dilipat ke samping, tubuhnya sedikit membungkuk, menikmati hangatnya selimut yang masih membalut pinggangnya.
Di meja kecil di depannya, semangkuk mie mengepul.
Bukan mie biasa. Tapi mie dengan telur ceplok di atasnya, sedikit sayuran hijau, dan irisan daun bawang yang ditabur begitu rapi. Sederhana. Tapi terasa begitu mewah di malam yang dingin ini.
"Makannya, jangan kebanyakan lihat TV, nanti kedinginan," kata Aisa sambil duduk di sebelahnya.
Tangannya memegang mangkuk sendiri, ikut menatap layar televisi.
Mizuki mengangguk. Tapi matanya tidak berpindah dari layar.
Ia menyendok mie perlahan. Meniupnya sebentar. Lalu memasukkannya ke mulut.
Matanya membesar sedikit.
"Enak, Kak," ucap Mizuki yang hampir tidak percaya dengan yang ia rasakan.
Aisa tersenyum puas. "Ya iyalah. Masakan kakak pasti enak,"
Mereka makan dengan Tenang.
Hanya suara sendok mengenai mangkuk, suara TV dari acara tertentu dan kadang suara angin di luar yang menyentuh dinding kayu.
Mizuki merasa hangat.
Untuk pertama kalinya, setelah sekian berlari, takut, kehilangan, ia merasa hangat.
Ia tidak tahu, apakah besok akan lebih berat.
Tapi malam ini, di rumah pohon ini, bersama seorang perempuan aneh yang menyelamatkannya...
Ia ingin mengucap terima kasih.
Tapi mulutnya sibuk mengunyah.
"Kak," ucap Mizuki di sela suapan.
"Hm?"
"Kalau besok latihan... latihan apa?"
Aisa berhenti mengunyah. Matanya menyipit, lalu tersenyum misterius.
"Latihan membuatmu kuat. Sampai tidak ada satu pun prajurit istana yang bisa menyakitimu lagi,"
Mizuki menelan mienya perlahan.
Mata kecil itu berbinar.
Bukan karena takut.
Tapi karena harapan.
Mizuki tidak perlu meminta persetujuan lagi. Ia tidak perlu bertanya, "Bolehkah aku dilatih?" atau "Apakah aku sanggup?"
Di dalam hatinya, jawabannya sudah bulat.
Ia melihat dengan matanya sendiri. Saat Aisa bergerak begitu cepat hingga tak terlihat. Saat satu pasukan terbaik istana tumbang dalam hitungan detik.
Mizuki ingin bisa seperti itu.
Bukan untuk membanggakan diri.
Tapi, agar tidak ada lagi orang yang ia cintai direbut darinya.
Keesokan harinya.
Cahaya matahari menyusup di sela-sela dedaunan. Embun pagi masih menempel di rumput. Udara pagi di hutan begitu dingin, segar, dan sedikit lembap.
Mizuki sudah berdiri di halaman belakang rumah pohon.
Pakaiannya sudah diganti dengan baju longgar yang dipinjamkan Aisa. Matanya menahan kantuk, tapi tetap tajam.
"Jadi... latihan pertamaku apa?" tanya Mizuki.
Aisa berdiri di depannya. Juga berpakaian sederhana, lengan bajunya digulung hingga siku.
Ia tersenyum kecil.
"Sarapan dulu, setelah itu pemanasan."
Mizuki menghela napas lega. Lari pagi memang penting, tapi perutnya yang masih kosong jelas tidak akan bisa diajak kompromi.
Mereka mulai sarapan pagi.
Di meja kayu kecil halaman belakang, semangkuk bubur hangat dengan telur rebus dan sedikit kecap asin. Kesederhanaan yang terasa luar biasa di tengah hutan. Aisa makan dengan tenang, sesekali menyuap lebih cepat dari Mizuki yang masih mengantuk.
"Makannya jangan lama-lama," kata Aisa tanpa menoleh.
"Iya, Kak..."
Bersambung...