Dahulu, dia hanyalah seorang wanita biasa yang hidup pas-pasan. Namun, takdir berkata lain. Dia terbangun dalam tubuh seorang permaisuri yang tak dicintai, diabaikan oleh suaminya dan tak dianggap oleh rakyat.
Tapi, bukannya bersedih, dia malah kegirangan! Siapa yang peduli dengan cinta jika dia memiliki kekayaan, kekuasaan, dan kehidupan mewah yang tak pernah dia bayangkan sebelumnya? Menjadi permaisuri abal-abal yang kaya raya? Tentu saja dia mau!
Dia akan menikmati setiap momen dalam kemewahan ini, biarpun tanpa cinta. Karena baginya, yang penting adalah menjadi permaisuri kaya, bukan permaisuri yang dicintai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Afrasya Andila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
3: Wajah Baru dan Suami yang Menornya Minta Ampun
Kinan berjalan mengekor di belakang jubah Raja yang berkibar-kibar. Dia masih sibuk membersihkan sisa krim kue di sudut bibirnya saat mereka melewati deretan penjaga berbaju zirah perak yang mengkilap.
"Lin, Lin," bisik Kinan setengah berlari kecil supaya sejajar dengan Dayang Lin yang ikut di belakangnya.
"Itu si Bos... eh, si Raja, namanya siapa sih? Dari tadi saya cuma panggil 'Yang Mulia', ngeri salah sebut kalau diajak ngobrol serius."
Dayang Lin membelalakkan mata, wajahnya pucat pasi. "Yang Mulia Permaisuri, apakah benturan di kepala Anda benar-benar parah? Nama Yang Mulia Raja adalah Nolan. Raja Nolan de Valerius. Tolong jangan lupakan itu, atau orang-orang akan mengira Anda kehilangan akal sehat."
"Oh, Nolan. Oke, oke. Keren juga namanya, kayak merek helm," gumam Kinan pelan. "Terus, nama saya sendiri siapa? Jangan bilang nama saya 'Permaisuri' doang."
"Nama Anda adalah Melan, Yang Mulia," jawab Lin dengan suara gemetar.
Melan? Kinan mengernyit. Kinan jadi Melan. Nama gue di-upgrade jadi lebih estetik, tapi kok rasanya kayak merek melamin ya?
Mereka sampai di depan sebuah pintu kayu raksasa dengan ukiran naga yang mulutnya terbuka lebar. Raja Nolan masuk duluan, sementara para pelayan dan dayang berhenti di depan pintu.
"Yang Mulia Melan, silakan masuk sendiri. Kami tidak diizinkan masuk ke ruang kerja Raja," ucap Lin sambil memberi hormat.
Kinan menarik napas dalam-dalam. "Sip. Doain gue nggak keluar jadi sate ya, Lin."
Begitu masuk, Kinan langsung disambut oleh pemandangan ruangan yang super mewah, tapi matanya tertuju pada satu benda.
Cermin besar dengan bingkai emas di sudut ruangan. Rasa penasarannya membuncah. Selama di kamar tadi, dia belum sempat bercermin dengan jelas.
Dia melangkah mendekati cermin itu. Deg.
"Buset... ini gue?"
Wajah di cermin itu memang bukan wajah Kinan si kasir minimarket. Kulitnya putih bersih tanpa noda, sehalus porselen mahal.
Matanya bulat dengan bulu mata lentik, bibirnya mungil kemerahan. Tubuhnya juga lebih tinggi dan sintal, jauh lebih 'berisi' di tempat-tempat yang tepat dibanding tubuh Kinan yang dulu kering kerontang karena sering lupa makan.
"Gila, kalau di dunia lama gue begini, gue udah jadi selebgram centang biru," gumamnya takjub.
"Berhenti mengagumi diri sendiri, Melan. Mau secantik apa pun polesan yang Anda pakai, sifat Anda tetap saja menjijikkan."
Suara dingin itu memecah kekaguman Kinan. Nolan sudah duduk di balik meja kerjanya yang besar, menatap Kinan dengan pandangan menghina.
Kinan menoleh, alisnya bertaut. "Apa maksud Anda berkata begitu?"
Nolan mendengus kasar, dia berdiri dan berjalan mendekati Kinan. Cahaya lampu lilin menyinari pakaiannya yang... astaga, Kinan baru sadar kalau rumbai-rumbai emasnya ada payet-payetnya juga.
"Anda pikir dengan berpura-pura amnesia atau bertingkah konyol di meja makan tadi, saya akan tertarik pada Anda?" Nolan berdiri tepat di depan Kinan, menunduk dengan tatapan merendahkan.
"Wajah Anda itu... Anda merasa cantik? Bagi saya, melihat wajah Anda saja sudah membuat mual. Jelek. Tidak ada bedanya dengan sampah di pinggir jalan."
Darah Kinan mendidih. Dia paling tidak suka dihina fisik, apalagi sekarang dia merasa dirinya sudah cantik maksimal.
"Bentar, bentar," Kinan berkacak pinggang. "Anda bilang saya jelek? Apa mata Anda sedang bermasalah, Nolan? Lihat kulit bening seperti ini dibilang sampah. Justru Anda yang aneh! Pakaian macam apa yang Anda pakai itu? Menor sekali! Anda mau memimpin rapat atau mau ikut karnaval?"
Suasana ruangan langsung beku. Dua penjaga yang berdiri di dekat pintu langsung mencabut pedang dan menodongkan ujung tombak ke arah leher Kinan. Sring!
"Beraninya Anda menghina Yang Mulia Raja!" bentak salah satu penjaga.
Kinan kaget, tapi harga dirinya lebih tinggi dari rasa takutnya. Dia melirik ujung pedang yang dingin itu, lalu kembali menatap Nolan yang wajahnya sudah merah padam karena marah.
"Turunkan senjata kalian," perintah Nolan dengan nada rendah yang berbahaya. Penjaga itu patuh, meski tetap siaga. Nolan kembali menatap Kinan.
"Anda... benar-benar sudah bosan hidup, ya? Berani-beraninya Anda mengomentari pakaian kebesaran kerajaan ini?"
"Habisnya norak!" balas Kinan ketus.
"Emas di mana-mana, rumbai-rumbai, payet-payet... Anda itu Raja, bukan lampu pohon natal. Apa memang semua orang di sini seleranya berlebihan begini? Saya lihat tadi pelayan-pelayan juga bajunya ramai sekali seperti bungkus kado."
Nolan tertawa, tapi tawanya terdengar kering dan kejam. "Dengar, Melan. Saya memanggil Anda ke sini bukan untuk mendengar ocehan tidak bermutu Anda. Saya hanya ingin memperingatkan Jangan pernah ganggu saya lagi. Jangan datang ke kamar saya, jangan cari perhatian di depan saya, dan jangan bertingkah seperti perempuan rendahan yang haus belaian seperti biasanya. Anda di sini hanya karena gelar Duke ayah Anda. Bagi saya, Anda tidak lebih dari pajangan rusak."
Kinan mencibir, wajahnya menunjukkan rasa jijik yang dibuat-buat. "Dih, percaya diri sekali Anda. Siapa juga yang mau mengejar-ngejar Anda? Memangnya Anda setampan apa sampai saya harus merendahkan diri di depan Anda? Hanya modal muka saja, tapi kelakuan seperti es batu, selera baju seperti biduan. Saya tidak tertarik!"
Nolan tertegun. Biasanya, Melan akan menangis, memohon-mohon, atau bahkan bersujud di kakinya untuk meminta perhatian. Tapi perempuan di depannya ini justru terlihat... sangat tidak peduli.
"Keluar!" bentak Nolan sambil menunjuk pintu. "Sebelum saya benar-benar membuang Anda ke penjara bawah tanah!"
"Tanpa disuruh pun saya akan keluar! Bau dupa di sini membuat pusing, kebanyakan asap seperti kebakaran hutan!" Kinan berbalik, menyambar rok gaunnya yang berat, dan melenggang pergi tanpa memberi hormat sedikit pun.
Begitu pintu tertutup dengan bantingan keras dari dalam, Kinan langsung disambut oleh Dayang Lin yang sudah menangis sesenggukan.
"Yang Mulia... Anda masih hidup?" tangis Lin.
"Masih, tenang saja. Si Nolan itu cuma banyak gaya," jawab Kinan sambil berjalan cepat menuju paviliunnya.
"Eh, Lin, saya mau tanya serius. Sebenarnya Melan yang dulu itu seperti apa? Kenapa Raja sepertinya benci sekali sampai bilang saya 'perempuan rendahan'?"
Lin mengusap air matanya, dia celingukan dulu sebelum berbisik. "Aduh, Yang Mulia... sebelumnya, Anda itu... sangat terobsesi pada Raja. Anda sering masuk ke kamar beliau tanpa izin, menangis di depan pintu ruang kerjanya berjam-jam. Anda dikenal sebagai... Permaisuri yang gila belaian, Yang Mulia."
Kinan hampir tersedak ludahnya sendiri. Hah? Gila belaian? Maksudnya... gue sebucin itu?
Lin mengangguk pelan. "Setiap hari Anda hanya berdandan dan menunggu di jalur yang dilewati Raja, lalu pura-pura pingsan di depannya. Tapi Raja tidak pernah peduli karena pernikahan ini memang paksaan politik demi mengamankan dukungan dari ayah Anda, Duke."
Kinan berhenti melangkah, dia menatap langit malam kerajaan yang bertabur bintang. Senyum miring muncul di wajahnya.
Oalah... pantesan si Nolan judesnya minta ampun. Ternyata Melan yang asli emang rada-rada ya kelakuannya, batin Kinan.
Dia menepuk telapak tangannya dengan semangat.
"Oke, Lin. Mulai sekarang, beritahu semua orang. Permaisuri Melan yang lama sudah mati eh, maksudnya sudah hilang ingatan. Melan yang sekarang tidak butuh belaian Raja. Saya hanya butuh uang, makanan enak, dan kasur empuk. Nolan mau pakai baju gorden atau mau kayang sekalipun, saya tidak akan peduli!"
Lin melongo. "Tapi Yang Mulia, bagaimana dengan cinta Raja?"
Cinta? Emang cinta bisa buat beli bakso? Kinan tertawa renyah. "Mending jadi permaisuri kaya tapi dibenci, daripada jadi permaisuri miskin tapi dicintai. Ayo, kita kembali ke kamar! Saya mau periksa harta karun apa lagi yang bisa saya simpan!"