Kim Ae Ra hanya ingin hidup tenang setelah kehilangan ayahnya di masa kecil. Demi bertahan, ia bekerja keras hingga akhirnya diterima di Aegis Corp dan menjadi sekretaris CEO muda yang dingin, Hyun Jae Hyuk.
Bagi Ae Ra, pertemuan mereka hanyalah kebetulan. Namun tanpa ia sadari, Jae Hyuk telah mengenalnya jauh sebelum itu—pada sebuah malam hujan yang hampir mengubah hidupnya.
Saat hubungan mereka perlahan mendekat, seseorang dari masa lalu muncul kembali membawa kenangan yang telah lama terlupakan. Di antara rahasia, takdir, dan perasaan yang tumbuh diam-diam, Ae Ra mulai menyadari bahwa beberapa pertemuan bukanlah kebetulan.
Karena terkadang, orang yang berdiri di samping kita saat hujan… adalah rumah yang sejak lama kita cari.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zhafira nabhan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
(REVISI) BAB 3
“…KAU?!” Suara Kim Ae Ra hampir memecah hening di ruangan kantor CEO yang luas itu.
Ia berdiri kaku di depan pintu terbuka, mata masih melebar dan mulutnya terbuka tanpa bisa mengeluarkan suara lain setelah jeritan itu terdengar.
Hyun Jae Hyuk hanya mengangkat alisnya dengan ekspresi yang tidak terkejut sama sekali. Ia kembali duduk santai di kursinya, menjepit bibirnya sejenak sebelum berbicara dengan nada yang tetap tenang:
“Ya, aku adalah CEO Aegis Corp. Ada masalah dengan itu?”
Ae Ra akhirnya bisa menutup mulutnya dengan keras, wajahnya bergantian antara merah karena marah dan putih karena kejutan. “Aku… aku tidak bisa bekerja denganmu!” kata-katanya keluar dengan tergesa-gesa.
“Kamu menyebut aku bodoh kemarin! Bagaimana mungkin aku bisa menjadi sekretaris orang yang tidak menghargai orang lain?”
Jae Hyuk hanya menghela nafas perlahan.
“Kata itu tidak lebih dari pengingat agar kamu lebih hati-hati di depan orang banyak. Dan sekarang kamu sudah diterima sebagai sekretaris pribadiku, tidak ada alasan untuk menolaknya.” Ia berdiri dan mengambil jasnya dari sandaran kursi.
“Sekarang, kamu punya dua pilihan, mulai belajar tugasmu dari sekarang, atau pulang dan lupakan semua ini. Pilihlah sebelum aku membuat keputusan lain yang mungkin kamu tidak suka.”
Ae Ra menggigit bibir bawahnya dengan kuat. Pikiran tentang ibunya yang bekerja keras setiap hari dan kata-kata Bo Ram tentang kesempatan emas menghampiri dirinya. Ia menutup mata sebentar, lalu membukanya dengan tatapan yang semakin tegas. “Aku akan tetap di sini. Tapi itu tidak berarti aku akan menerima segala sesuatu dari kamu!”
Jae Hyuk mengangguk perlahan, sedikit tersenyum tipis.
“Baiklah, Sekretaris Kim. Mari kita lihat seberapa pantas kamu berada di sini.” Ia kemudian keluar dari kantornya tanpa melihat ke belakang lagi, menyisakan Ae Ra yang masih berdiri di tempat dengan tangan mengepal.
Setelah Jae Hyuk pergi, Ae Ra langsung mencari Yoo Min Ji di luar ruangan. Wanita itu dengan tenang berdiri di depan meja kecil yang menjadi tempat kerja Ae Ra, meja yang sudah disiapkan dengan rapi dengan komputer baru, telepon kantor, dan beberapa buku agenda.
“Ini tempat kerja Anda, Nona Kim,” ujar Min Ji dengan nada profesional namun tetap dingin.
“Tugas utama Anda adalah mengatur jadwal Tuan CEO, menyusun laporan, dan menangani semua urusan pribadi yang dipercayakan kepadanya.” Ia menunjukkan beberapa folder di atas meja. “Ini jadwal mingguan dan daftar kontak penting yang harus kamu hafal secepat mungkin.”
Ae Ra mengangguk dengan cepat, mencoba mencerna semua informasi yang masuk sekaligus. “Berapa banyak waktu yang aku punya untuk belajar semua ini?”
“Sebentar lagi ada rapat dengan Direktur Pemasaran pukul sebelas,” jawab Min Ji tanpa berbelok mata.
“Dan jangan terlambat untuk apa pun, Tuan CEO tidak menyukai orang yang tidak tepat waktu.”
Setelah Min Ji pergi, Ae Ra langsung duduk dan mulai membaca dengan cepat. Setiap kata yang ia baca terasa seperti batu yang ditambahkan ke pundaknya. Jadwal yang padat, daftar nama yang panjang, dan terminologi yang hampir tidak pernah ia dengar sebelumnya. Hanya dalam beberapa menit, keringat sudah muncul di dahinya. Ia mencoba mengingat setiap poin penting sambil mencatat dengan tangan yang mulai gemetar.
Di ruangan lain, Jae Hyuk sedang dalam rapat dengan beberapa direktur utama perusahaan. Ruangan yang besar penuh dengan suara-suara yang membahas proyek baru dan anggaran tahunan. Namun perhatiannya terganggu setiap beberapa saat, pikirannya kembali pada Ae Ra yang pasti sedang berjuang dengan semua tugas yang diberikan padanya.
“Saya rasa itu akan menjadi keputusan yang tepat untuk ekspansi kita ke pasar baru,” suara salah satu direktur menarik kembali perhatiannya.
Ia mengangguk dengan cepat dan memberikan pendapatnya dengan jelas seperti biasa, namun dalam hati ia tahu bahwa fokusnya sudah tidak sama lagi.
Setelah rapat selesai, Jae Hyuk langsung kembali ke kantornya dan melihat melalui kaca transparan ke arah meja kerja Ae Ra yang baru saja disiapkan. Ia melihat gadis itu masih duduk dengan erat menyandarkan pandangan pada beberapa kertas dengan wajah yang penuh kesusahan namun tidak menyerah. Tanpa sadar, bibirnya sedikit mengangkat membentuk senyum kecil sebelum menghilang lagi.
Ia kembali duduk di kursi empuknya dan membuka berkas tentang proyek lama yang pernah ia kerjakan bersama ayahnya sebelum mengambil alih perusahaan. Ingatan tentang masa lalunya kembali muncul, suatu hari di jembatan sungai han, suasana sedang hujan deras, gadis itu seperti sedang menangis menatap derasnya arus sungai yang sedang meluap... Namun ingatan itu seketika menghilang.
Jae Hyuk menutup berkas dengan cepat dan menghela nafas panjang. Ia merasa ada sesuatu yang ia lewatkan, sesuatu yang membuatnya merasa bahwa Ae Ra bukan hanya orang yang kebetulan ditemukannya kembali setelah sekian lama.
Sementara itu, Ae Ra akhirnya bisa mengeluarkan napas lega setelah berhasil mencatat sebagian besar poin penting yang harus ia ingat. Namun ketika ia hendak berdiri untuk mengambil gelas air, pintu kantor tiba-tiba terbuka dan Jae Hyuk muncul lagi di depannya.
“Siapkan segala sesuatu untuk kunjungan kerja ke pabrik kita besok pagi,” ujarnya dengan cepat.
“Kita akan berangkat pukul delapan pagi tepat waktu. Jangan sampai terlambat lagi seperti kemarin.” Ia kemudian melihat sekilas pada meja Ae Ra yang sudah mulai berantakan karena catatan dan buku yang tersebar. “Dan jaga kerapian tempat kerjamu, tidak sopan kalau ada tamu melihatnya.”
Sebelum Ae Ra bisa menjawab apa pun, ia sudah pergi lagi, menyisakan gadis itu dengan wajah yang memerah karena marah.
“Kau sendiri yang membuat aku panik tadi pagi!” gumamnya pelan, namun terdengar cukup jelas oleh Jae Hyuk yang baru saja keluar dari ruangan dan menghentikan langkahnya sejenak sebelum melanjutkan pergi.
Di tempat lain, Hyun Jin Suk sedang duduk di ruang kerjanya yang penuh dengan buku dan dokumen tua tentang perusahaan. Do Hyun berdiri di depannya dengan sikap patuh.
“Bagaimana perkembangan hari pertama gadis itu?” tanya Jin Suk dengan tatapan yang tajam namun penuh rasa ingin tahu.
“Seperti yang diperkirakan, Tuan. Ia sedang berjuang dengan semua tugas dan informasi baru yang diberikan padanya, namun tidak menyerah sama sekali,” jawab Do Hyun dengan suara yang tetap datar.
Jin Suk tersenyum tipis sambil menyesap tehnya. “Begitu ya… aku ingin melihat bagaimana mereka berdua bekerja bersama nantinya. Siapkan saja segala sesuatunya dan pantau saja dari jauh. Jangan campuri urusan mereka kecuali jika benar-benar diperlukan.”
Setelah Do Hyun pergi, Jin Suk menatap ke luar jendela dengan pandangan yang jauh. Ia merenung tentang masa lalunya ketika juga pernah membuat keputusan yang tidak masuk akal karena perasaan semata.
“Sepertinya anak itu mirip denganku dalam berbagai hal,,” gumamnya pelan sebelum kembali fokus pada pekerjaannya.
Ketika jam kerja hampir berakhir, Ae Ra masih duduk di mejanya menyusun kembali catatan dan mencoba menghafal nama-nama penting yang harus ia ingat. Ia merasa kepala mulai berat dan mata mulai berkaca-kaca akibat kelelahan. Namun ketika ia hendak membersihkan mejanya untuk pulang, pintu kantor kembali terbuka dan Jae Hyuk muncul lagi.
“Kamu belum pulang?” tanyanya dengan nada yang lebih lembut dari biasanya.
“Belum, Tuan. Aku masih belajar tentang semua tugas ini.”
Jae Hyuk hanya mengangguk dan melihat sekeliling meja Ae Ra yang sedikit berantakan namun tetap teratur dengan cara sendiri.
“Baiklah. Jangan terlalu lama bekerja sampai larut malam. Besok kita harus bangun lebih awal lagi.” Ia kemudian berjalan lagi meninggalkan Ae Ra yang hanya bisa menatapnya pergi dengan perasaan yang semakin bercampur aduk dalam dirinya.
Akhirnya Ae Ra bisa menyelesaikan pekerjaannya untuk hari itu dan mengambil tasnya untuk pulang. Saat ia keluar dari gedung, ia melihat ke atas pada gedung yang tinggi dengan lampu yang masih menyala di lantai tertinggi. Ia tahu bahwa Jae Hyuk pasti masih ada di sana.
Tanpa sadar ia tersenyum sedikit sebelum berjalan pergi menuju perjalanan pulangnya. Hari pertamanya memang sangat melelahkan dan penuh kejutan, namun dalam hatinya mulai tumbuh rasa ingin tahu yang besar tentang pria yang menjadi bosnya, Hyun Jae Hyuk. Siapa sebenarnya dirinya dan mengapa merasa sudah mengenalnya jauh sebelum mereka bertemu kemarin?