NovelToon NovelToon
Yun Ma Yang Menolak Takdir Novel

Yun Ma Yang Menolak Takdir Novel

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi ke Dalam Novel / Identitas Tersembunyi / Kelahiran kembali menjadi kuat / Bepergian untuk menjadi kaya / Mengubah Takdir
Popularitas:10.6k
Nilai: 5
Nama Author: inda

Yun Ma, seorang gadis modern yang sedang menikmati cuti dari pekerjaannya yang melelahkan, tak pernah menyangka kematiannya di dasar sebuah sumur tua justru membawanya ke dunia lain. Saat membuka mata, ia terbangun sebagai Yun Mailan, putri sah Menteri Pendidikan Kekaisaran tokoh utama wanita dalam sebuah novel tragis yang pernah ia baca dan benci.

Dalam cerita asli, Yun Mailan dibenci ayahnya, dimanfaatkan kakaknya, dikhianati tunangannya, difitnah tanpa pembelaan, lalu mati sendirian dalam kehinaan. Mengetahui seluruh alur nasib tersebut, Yun Ma menolak menerima takdir.

Pada malam kebangkitannya, ia melarikan diri dari kediaman keluarga Yun dan membakar masa lalu yang penuh kepalsuan. Bersama pelayan setia bernama Ayin, Yun Mailan memulai hidup baru dari nol.

Berbekal pengetahuan masa depan, tekad kuat untuk bertahan hidup, dan sebuah liontin peninggalan ibunya yang menyimpan kekuatan tersembunyi, Yun Mailan bersumpah untuk bangkit. Suatu hari, ia akan kembali bukan sebagai korban

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon inda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20

Hari ini rombongan Xuan dan Yun Ma sudah mulai bergerak kembali untuk menuju saksi Tapi perjalanan mereka terasa panjang dan tiba tiba Yun Ma berhenti mendadak.

Xuan yang berjalan di sampingnya langsung ikut berhenti. “Ada apa?”

Yun Ma menutup mata sejenak, lalu membuka lagi. “Ada dua arah.”

Shen Yu yang berjalan di belakang langsung mendekat. “Musuh?”

“Belum,” jawab Yun Ma. “Pilihan.” lanjutnya

Ye menyilangkan tangan. “Jelaskan.”

“Dewan Bayangan mulai bergerak lebih aktif,” kata Yun Ma. “Mereka memecah perhatian. Satu jalur menuju wilayah saksi berikutnya. Jalur lain… mengarah ke Qinghe.”

Hui langsung melonjak. “Hei! Qinghe itu rumah kita!”

Xuan menegang. “Mereka menguji Ayin.”

“Bukan menyerang langsung,” lanjut Yun Ma. “Lebih seperti menekan. Mencari celah.” ujar Yun ma menatap jauh di sana

Lin Que mengerutkan kening. “Kalau kita balik ke Qinghe, saksi-saksi lain bisa hilang.”

“Kalau kita lanjut,” Shen Yu menambahkan, “dan Qinghe jatuh, kita kehilangan jangkar.”

Hening jatuh di antara mereka.

Xuan menarik napas panjang. “Pendapat kalian.”

Ye berbicara lebih dulu. “Qinghe masih aman. Perlindungan Nona Yun Ma kuat. Tapi tidak dirancang untuk tekanan jangka panjang.”

Shen Yu mengangguk. “Dewan Bayangan tidak bodoh. Mereka tidak akan memukul keras. Mereka akan mengikis.”

Hui menoleh ke Yun Ma. “Kalau Ayin kenapa-kenapa, kau akan balik tanpa peduli strategi, kan?”

Yun Ma tidak langsung menjawab.

Ia menatap tanah, lalu ke arah timur ke arah Qinghe. “Ayin tahu risikonya. Dan dia memilih berdiri.”

Xuan menatap Yun Ma lama. “Kau mempercayainya.”

“Ya.” jawab Yun Ma mantap

“Kalau begitu,” kata Xuan tegas, “kita lanjut.”

Lin Que terkejut. “Yang Mulia—”

“Kita lanjut mengumpulkan saksi,” ulang Xuan. “Kalau Dewan Bayangan mau memancing, kita tidak akan menggigit umpannya.”

Ia menoleh ke Yun Ma. “Namun, kita percepat.”

Yun Ma mengangguk. “Aku setuju.”

Hui menghela napas panjang. “Baiklah… tapi kalau kota itu sampai lecet sedikit saja—”

“Kau akan ribut,” potong Ye. “Kami tahu.” lanjut ye dan berlalu duluan

Hui menatapnya sengit karena ucapannya di potong begitu saja.

Dua hari berikutnya mereka bergerak cepat, tidak berlama-lama di satu tempat.

Datang, dengar, catat, pergi.

Mereka menemukan lebih banyak cerita yang mirip.

Desa yang dibakar tanpa tanda pasukan.

Orang-orang yang dibunuh secara selektif kepala desa, tabib, penjaga gerbang.

Lalu kabar disebar, pasukan Xuan lewat sini.

Seorang pria paruh baya memukul meja kayu dengan marah. “Aku melihat mereka! Mereka tidak pakai lambang kerajaan! Tapi orang-orang istana bilang kami berbohong!”

Xuan berdiri di depannya. “Kau tidak berbohong.”

“Kalau begitu kenapa dunia percaya yang lain?” teriak pria itu.

“Karena kebohongan diulang lebih cepat dari kebenaran,” jawab Yun Ma. “Tugas kita sekarang adalah mengubah itu.”

Malam itu mereka berkumpul di sebuah gudang kosong.

Shen Yu membentangkan peta kasar. “Pola ini jelas. Semua desa ini berada di jalur suplai lama Dewan Bayangan.”

“Artinya mereka membersihkan saksi sejak dulu,” kata Ye.

“Dan menyalahkan aku,” tambah Xuan datar.

Lin Que mengepalkan tangan. “Mereka membangun kebencian perlahan.”

Yun Ma mencondongkan tubuh ke depan. “Dan sekarang kita bongkar.”

Hui mengangkat kaki depan. “Pertanyaan penting! Setelah semua ini, apa rencana besar kita? Karena jujur saja, aku mulai lelah sembunyi-sembunyi.”

Xuan mengangkat kepalanya. “Kita tidak akan lama bersembunyi.”

Semua mata tertuju padanya.

“Ada satu tempat,” lanjut Xuan, “yang Dewan Bayangan tidak bisa abaikan.”

Shen Yu menyipitkan mata. “Ibu kota luar.”

“Benar,” jawab Xuan. “Pasar Agung.”

Lin Que terkejut. “Di sana penuh pedagang, utusan, dan mata-mata!”

“Justru itu,” kata Xuan. “Kebenaran paling cepat menyebar di tempat paling berisik.”

Yun Ma tersenyum tipis. “Kita tidak datang membawa pasukan.”

“Kita datang membawa suara,” kata Xuan.

Di saat yang sama, di Qinghe, Ayin berdiri di tengah halaman toko obat.

Simbol-simbol di tanah berdenyut tidak stabil.

Ia merasakan tekanan seperti seseorang mendorong dari luar, pelan tapi terus-menerus.

“Kalian keras kepala,” gumam Ayin. “Nona bilang tidak boleh masuk.”

Bayangan di sudut gang bergerak.

Seseorang melangkah keluar seorang pria berjubah abu-abu, wajahnya biasa saja, terlalu biasa.

“Kami hanya ingin bicara,” katanya ramah.

Ayin tidak mundur. “Dengan kota yang bukan milikmu?”

Pria itu tersenyum. “Kau bukan Yun Ma.”

“Aku tidak perlu menjadi dia,” jawab Ayin. “Aku cukup.”

Udara bergetar.

Simbol menyala lebih terang.

Pria itu menghela napas. “Sayang sekali. Aku harap kau mau bekerja sama.”

Ayin mengangkat sapunya. “Pergi.”

Untuk sesaat, tekanan meningkat.

Lalu berhenti.

Pria itu mundur selangkah. “Kau kuat untuk seorang dayang.”

“Aku penjaga,” kata Ayin dingin.

Pria itu tertawa kecil. “Baiklah. Sampaikan salamku pada Nona Yun Ma.”

Bayangan itu menghilang.

Ayin berdiri lama setelahnya, napasnya berat.

“Cepatlah pulang,” bisik Ayin untuk Yun Ma

Kembali ke rombongan.

Yun Ma tiba-tiba berhenti dan menekan dadanya.

Xuan langsung memegang lengannya. “Apa yang terjadi?”

“Qinghe ditekan,” jawab Yun Ma singkat. “Tapi Ayin bertahan.”

Xuan mengangguk. “Kita harus bergerak lebih cepat.”

Ye menyeringai. “Bagus. Aku mulai bosan jalan santai.”

Hui mengepalkan kaki depannya. “Akhirnya! Aksi terbuka!”

Yun Ma menatap ke depan, ke arah Pasar Agung. “Kalau Dewan Bayangan mau perang,” katanya pelan, “mereka akan mendapatkannya.”

Xuan berdiri di sampingnya. “Bukan perang pedang.”

“Tapi perang kebenaran,” lanjut Yun Ma.

Dan untuk pertama kalinya, itu terdengar bukan seperti harapan melainkan ancaman nyata.

Bersambung.

1
Cindy
lanjut kak
Shai'er
👍👍👍👍👍👍
Shai'er
😱😱😱😱
Shai'er
💪💪💪💪💪
Shai'er
🤦‍♀️🤦‍♀️🤦‍♀️🤦‍♀️🤦‍♀️
Shai'er
🤧🤧🤧🤧🤧
sahabat pena
bener ternyata mantan ya? mantan yg menyesal dan mengejar masa depan
sahabat pena
siapa itu? apa mantan tunangan nya ya
Naviah
lanjut thor
Shai'er
puyeng 😵‍💫😵‍💫😵‍💫😵‍💫
Shai'er
lha...... kenapa baru sekarang lu ngomong tentang keadilan 😏😏😏
Shai'er
hayoo loh😏😏😏
Shai'er
Ayin💪💪💪
Cindy
lanjut kak
Naviah
ini perang narasi kah 🤔 dan siapa itu Dewan bayangan
Naviah
semangat Ayin bertahan lah🙌
Shai'er
waduh😱😱😱
Shai'er
pengecut 🙄🙄🙄
Shai'er
/Determined//Determined//Determined//Determined//Determined//Determined//Determined//Determined//Determined//Determined/
Shai'er
Ayin🤧💪💪💪💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!