Dunia ini gila? Mungkin benar. Tapi kalau sudah begini, aku mending ikutan gila saja daripada pusing sendiri. Ikuti kisah konyol Bima dan kawan-kawan yang hidupnya selalu diisi kejadian tak terduga dan kelakuan yang bikin ketawa terus!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon WA_19019, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MAU BAGI TAKJIL,MALAH SALAH SASARAN
Sudah memasuki pertengahan bulan puasa. Setiap sore, suasana di lingkungan jadi makin meriah. Banyak warga yang saling berbagi takjil untuk buka puasa, baik ke tetangga maupun orang yang kebetulan lewat di jalan.
Sore itu, Pak Harun membawa kantong besar berisi kolak, es buah, dan aneka kue yang dimasak oleh istrinya.
“Ini kita bagi-bagi aja ke warga yang lewat depan kantor dan tetangga sekitar. Lumayanlah, sekaligus berbagi pahala,” katanya sambil meletakkan kantong itu di meja.
“Siap! Pasti beres cepat,” jawab Ojak dengan semangatnya yang tak pernah habis.
Kami bagi tugas seperti biasa: Bima dan Ojak keliling ke rumah tetangga, sedangkan Nina, Kak Dedi, dan Pak Joko menunggu di depan kantor untuk membagikan ke orang yang lewat. Tidak lupa juga Sari dan Rara yang kebetulan singgah, langsung ikut membantu tanpa diminta.
Bima dan Ojak berjalan membawa dua keranjang besar berisi makanan dan minuman. Mereka mulai dari rumah terdekat, ketuk pintu, sapa pemiliknya, dan serahkan takjil dengan ramah.
“Assalamualaikum, ini ada sedikit rezeki, semoga berkenan,” kata Bima setiap kali menyerahkan.
Sudah beberapa rumah dilewati, semuanya berjalan lancar sampai mereka sampai di ujung gang. Di sana terlihat sebuah rumah yang pintunya setengah terbuka, dan dari dalam tercium bau masakan yang sangat sedap.
“Nah, ini rumah terakhir di jalur kita. Ayo, serahkan saja,” kata Ojak sambil melangkah mendekat.
Bima mengikuti dari belakang, lalu mengetuk pelan: “Assalamualaikum… maaf mengganggu, ini kami mau bagi takjil sedikit.”
Belum sempat ada jawaban dari dalam, pintu terbuka lebar. Keluar seorang kakek yang rambutnya sudah memutih, mengenakan baju lusuh dan terlihat sedang sibuk memegang sendok besar di tangannya.
“Wah, terima kasih banyak anak muda! Sudah lama saya menunggu,” kata kakek itu sambil tersenyum lebar dan langsung menerima keranjang yang dibawa Bima.
Karena sudah terburu-buru ingin segera pulang dan bergabung dengan yang lain, Bima dan Ojak hanya mengangguk sopan, pamit sebentar, lalu segera berjalan kembali ke kantor.
“Nah, sudah selesai semua! Gampang sekali hari ini,” kata Ojak sambil mengusap keringat di dahi.
Belum sampai sepuluh menit mereka duduk santai di kantor, tiba-tiba dari arah jalan datanglah seorang bapak yang terlihat agak bingung. Begitu melihat Bima dan Ojak, dia langsung mendekat.
“Permisi… maaf ya, tadi ada dua orang anak muda yang datang ke rumah saya membawa makanan?” tanya bapak itu.
Bima dan Ojak saling pandang, lalu menjawab: “Iya Pak, tadi kami lewat, membagikan takjil ke semua rumah di sekitar sini. Ada apa ya?”
Bapak itu tertawa sambil menggaruk kepalanya. “Wah, ternyata kalian ya. Tadi kalian serahkan ke rumah sebelah, bukan ke rumah saya. Itu kakek yang menerima itu baru saja pindah seminggu lalu, dia juga sedang membagikan takjil ke tetangga! Dia pikir kalian adalah orang yang dia suruh mengantarkan ke saya, dan kalian pikir dia warga yang akan menerima, kan?”
Mendengar penjelasan itu, Bima dan Ojak melongo tidak percaya. “Jadi… kita salah sasaran?”
“Tepat sekali! Tapi tenang saja, tidak ada yang salah kok. Kakek itu senang sekali menerimanya, dan dia juga mengirimkan bawaannya ke rumah saya. Jadinya kita saling bertukar makanan secara tidak sengaja,” jelas bapak itu sambil masih tertawa.
Begitu mendengar cerita itu, yang lain langsung berkumpul dan tertawa terbahak-bahak.
“Wah, ini baru namanya saling tukar rezeki tanpa sengaja!” seru Pak Joko sambil menepuk pahanya.
“Untungnya malah jadi cocok, bukan malah marah-marah. Kalau tidak, bisa jadi salah paham” tambah Nina sambil tersenyum geli.
Tidak lama kemudian, terlihat kakek yang tadi juga datang berjalan santai ke arah kantor, membawa sebuah bungkusan besar di tangannya. Begitu melihat Bima dan Ojak, dia langsung tertawa lebar.
“Wah, ketemu juga kalian! Tadi saya kira kalian orang yang saya minta tolong, ternyata kalian yang mau berbagi. Ini sebagai gantinya, terimalah sedikit makanan buatan saya juga!” katanya sambil menyerahkan bungkusan itu.
Ternyata isinya juga aneka kue dan minuman yang sama lezatnya. Jadinya hari itu kami malah dapat tambahan banyak makanan lebih dari yang dibawa keluar tadi.
Menjelang waktu berbuka, semuanya berkumpul kembali. Makanan yang tadinya untuk dibagi sebagian malah pulang lagi, ditambah lagi dengan bawaan dari kakek itu.
“Lihat kan? Salah sasaran tidak selalu berarti buruk. Kadang justru membawa rezeki yang tidak disangka-sangka,” kata Pak Harun sambil menikmati es buahnya.
Sari dan Rara juga tidak berhenti menertawakan kejadian itu.
“Besok kalau mau bagi-bagi, pastikan dulu nama dan alamatnya ya, jangan sampai jadi tukar-menukar terus!” goda Rara sambil mencatat kejadian itu di buku kecilnya.
Bima dan Ojak hanya bisa nyengir lebar, menerima segala ledekan teman-temannya. Dalam hati Bima berpikir:
Memang benar, dalam urusan berbagi tidak akan pernah rugi. Sekalipun salah alamat atau salah orang, niat baiknya tetap sampai, dan rezekinya malah bertambah. Hari ini jadi bukti kalau kesalahan kecil bisa berubah jadi cerita lucu dan keuntungan yang menyenangkan.