Raisa anak kedua dari keluarga dengan ibu tunggal bernama Sri, Sri telah lama menjadi tulang punggung keluarga setelah suami nya meninggal saat Raisa masih kecil.
Kakak nya yang lebih tua bernama Ratna menikah dengan Rio dari keluarga yang berada.
masalah muncuk ketika Ratna dan Rio yang sudah lima tahun menikah masih belum juga memiliki keturunan karna kesuburan Ratna kurang,, tekanan yang di berikan keluarga Rio membuat Ratna memiliki niat untuk membuat Raisa hamil anak suami nya ..
Niatan itu di ungkap kan Ratna kepada ibu dan adik nya walau pun tanpa sepengetahuan suami nya sendiri..
Apa yang harus di lakukan Raisa untuk bisa membantu kesulitan Ratna kakak nya,, Apa dia akan menerima nya dan setuju menjadi pelakor apa menolak nya..?
Jangan lewatkan cerita nya untuk mengetahui kelanjutan nya🥰🥰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti_1234, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE 19: "KESEMBUNYIAN DAN PERHATIAN YANG TIDAK DIHARAPKAN"
*****
Hari itu hujan turun deras di kota Semarang. Raisa sedang duduk di sudut perpustakaan kampus, mata terpaku pada layar laptopnya namun pikirannya jauh melayang ke rumah—ke gambar Rio yang sedang bermain dengan Bara di taman belakang, atau ketika dia melihat Rio memberikan ciuman lembut pada dahi Ratna saat mereka makan malam bersama.
Rasa cemburu yang semakin kuat membuatnya sulit untuk fokus pada tugas kuliahnya. Dia sering menggenggam gelang kecil yang pernah diberikan Rio padanya, merasakan jejak hangat yang tidak bisa dia hilangkan dari hatinya.
“Kamu sudah tiga kali membaca kalimat yang sama, Raisa,” suara Reza terdengar dari belakangnya. Raisa terkejut dan segera menutup buku yang sedang dia baca. “Maaf kalau mengganggu, tapi kamu tampak sangat jauh pikiran akhir-akhir ini.”
Raisa berdiri dengan tergesa-gesa, mencoba untuk bersikap tenang. “Tidak apa-apa, Reza. Aku hanya sedikit capek saja. Kamu tidak perlu khawatir.”
Tanpa menghiraukan penolaknya, Reza menarik kursi dan duduk di hadapannya. “Kamu tidak bisa terus menyembunyikan apa yang kamu rasakan, Raisa. Aku melihatnya setiap hari—bagaimana kamu sering melihat ke arah pintu kampus seperti sedang menunggu seseorang, atau bagaimana wajahmu menjadi murung saat kamu melihat foto keluarga di ponselmu.”
Raisa merasa hatinya berdebar kencang. Dia tidak pernah menyangka bahwa Reza bisa menyadari apa yang sedang dia alami. “Aku tidak tahu apa yang kamu bicarakan,” jawabnya dengan suara lembut, menurunkan pandangan agar tidak melihat mata Reza yang penuh perhatian.
“Kamu tidak perlu menyembunyikannya padaku,” ucap Reza dengan nada yang lembut namun pasti. “Aku tahu bahwa kamu sedang mengalami kesusahan yang besar, dan kamu tidak bisa membicarakannya dengan siapapun. Aku tidak akan memaksamu untuk memberitahuku apa itu, tapi jika kamu membutuhkan seseorang untuk berbicara atau hanya untuk duduk bersama dalam diam, aku akan ada di sini.”
Raisa merasa mata nya berkaca-kaca. Dia sangat ingin membuka hati dan cerita tentang segalanya, namun dia tahu bahwa jika dia melakukannya, rahasia yang dia simpan dengan susah payah akan terkuak dan merusak keluarga yang dia cintai.
“Terima kasih, Reza,” ucapnya dengan suara bergetar. “Tapi aku harus bisa mengatasinya sendiri. Aku tidak ingin menyusahkan orang lain dengan masalahku.”
Tanpa berkata apa lagi, Raisa mengambil tasnya dan segera pergi meninggalkan Reza yang masih duduk di sana dengan wajah yang penuh dengan kekhawatiran. Dia berlari keluar dari perpustakaan dan berlindung di lorong belakang yang sepi, menangis dengan diam-diam sambil menyembunyikan wajahnya di antara kedua tangan.
Di rumah, Rio sedang membantu Ratna memasak makan malam. Mereka sedang bercanda riang saat menyiapkan bahan makanan, sementara Bara sedang tertidur di buaian di sudut dapur. Suasana yang hangat dan penuh cinta membuat Rio merasa lega dan bahagia, namun di dalam hatinya ada bagian kecil yang selalu teringat pada Raisa.
“Kamu sedang berpikir tentang sesuatu ya, sayang?” tanya Ratna dengan senyum lembut, menyadari bahwa Rio sedang sedikit jauh pikiran.
Rio tersenyum dan menggeleng. “Tidak, sayang. Aku hanya bersyukur bisa ada di sini bersama kamu dan Bara. Ini adalah tempat terbaik untukku.”
Saat itu, Raisa masuk ke rumah dengan wajah yang sedikit memerah dan mata yang sedikit bengkak karena menangis. Dia segera menyembunyikan wajahnya dan berkata bahwa dia hanya capek setelah kuliah seharian.
“Kamu harus istirahat saja ya, Ras,” ucap Ratna dengan penuh perhatian. “Kita akan makan sebentar lagi. Aku sudah memasak makanan kesukaanmu.”
Raisa mengangguk dan segera pergi ke kamarnya, menutup pintu dengan lembut. Dia berdiri di depan cermin dan melihat wajahnya yang masih merah karena menangis. Rasa cemburu yang meluap membuatnya merasa sakit hati—dia melihat betapa bahagia Rio dan Ratna bersama-sama, sementara dia hanya bisa menyaksikannya dari kejauhan tanpa bisa menunjukkan apa-apa.
Keesokan paginya, Raisa datang ke kampus lebih awal dari biasanya. Dia berharap bisa menghindari Reza, namun pria itu sudah menunggu di depan gedung kuliah dengan membawa segelas kopi hangat dan roti bakar.
“Untukmu,” ucap Reza dengan senyum lembut, memberikan wadah makan pagi padanya. “Aku tahu kamu sering terlupa makan saat kamu sedang khawatir.”
Raisa merasa hatinya terasa hangat meskipun dia mencoba untuk menjaga jarak. “Terima kasih, Reza. Kamu tidak perlu melakukan ini untukku.”
“Tidak ada salahnya untuk merawat teman kan?” jawab Reza dengan lembut. “Kamu bisa terus menghindariku jika itu yang kamu inginkan, tapi ingat—aku akan selalu ada di sini ketika kamu membutuhkanku. Tanpa harus menanyakan apa-apa dan tanpa mengharapkan balasan apapun.”
Raisa tidak bisa berkata apa-apa. Dia hanya menerima makanan yang diberikan Reza dan mulai makan dengan diam. Meskipun dia masih ingin menyembunyikan masalahnya dari semua orang, dia merasa lega mengetahui bahwa ada seseorang yang peduli padanya tanpa harus memaksanya untuk membuka hati.
Di kantor, Rio sedang bekerja ketika dia melihat pesan singkat dari Raisa di ponselnya: “Kak Rio, aku baik-baik saja. Jangan khawatirkan aku ya. Fokus pada kakak dan Bara.”
Rio merasa hati nya terasa sakit. Dia tahu bahwa Raisa sedang mengalami kesusahan, namun dia juga tahu bahwa saat ini dia tidak bisa melakukan apa-apa selain fokus pada keluarga nya. Dia mengetik balasan singkat: “Aku selalu ada untukmu, Ras. Jangan pernah lupa itu.”
......................
...****************...
...----------------...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...