yaseer, seorang anak yang hidup di negara konflik. keluarga petani zaitun, namun dia bermimpi untuk mengembangkan usaha orangtuanya dewasa kelak. Namun, karena konflik semakin parah, semua usahanya perlahan runtuh. hingga ketika konflik berhenti, yaseer berusaha sekuat tenaga nya beserta keluarga nya untuk membangun kembali. tapi tiba-tiba hantaman rudal dari penjajah meluluh lantakkan bahan utama usahanya. hingga akhirnya menghancurkan usahanya tak bersisa. akan kah yaseer bangkit kembali atau tamat dengan keadaan fustasi berat? yuk kita simak
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ummi Adzkia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 19 Camp yang Meresahkan.
" SIAPA YANG MENGIZINKAN KALIAN DATANG KE SINI!!! Bentak salah satu tentara kepada sopir truk.
Tiba-tiba datang dan membentak sopir yang membawa bantuan. Para pengungsi itu saling berpandangan heran. Mengapa harus izin mereka? Bukan kah ini masih tanah pemerintahan Gaza? Ada hak apa mereka melarang pemerintah memberikan bantuan pada rakyat nya di tanah sendiri? Apalagi rakyatnya sedang dalam kesulitan pangan di pengungsian yang seharusnya menjadi tanggung jawab mereka yang mengarahkan dan membawa mereka ke tempat ini.
" Mengapa kami harus mendapat izin dari kalian?" Tanya salah satu sopir truk.
" Kami hanya mengantarkan logistik di tanah kami sendiri. Apa hak kalian melarang kami heh?" lanjutnya menantang.
" Pengungsi di sini adalah tanggung jawab kami. Kami yang membawa mereka ke tempat ini !!" jawab sopir militer itu.
" Owh jika memang tanggung jawab kalian, mengapa mereka semua harus merasakan kelaparan sampai ber hari-hari?" Tanya nya menohok militer zion*s itu.
* Itu urusan kami. kalian jika ingin kemari harus atas izin kami..!!" tegas nya lagi.
" Kepada siapa kami harus meminta izin?"
" Apakah ada jaminan barang yang kami bawa akan sampai ke tujuan?"
" Apakah kami ada jaminan tidak akan kalian habisi sesuka kalian?"
Pertanyaan beruntun dari sopir truk membuat sopir militer itu kikuk. Bagaimana tidak? Militer zion*s itu mengasingkan mereka supaya mereka mati secara perlahan tanpa ada bantuan pangan yang masuk.
Para penjajah itu akan berbuat sesuka hati mereka agar tercapai apa yang mereka inginkan. Karena apa? Karena merasa mereka adalah manusia pilihan yang tidak boleh ada yang menentang apa pun aturan mereka. Sungguh di luar akal sehat.
Mereka membunuh, menyiksa, menahan, bahkan memperk*sa para gadis dan wanita yang mereka sukai. Manusia jenis apa yang memuliakan kelakuan b*jat seperti itu? Padahal Tuhan sendiri mengutuk orang yang berbuat kerusakan pada sesama makhluk. Tuhan sangat murka pada manusia yang berbuat seenaknya terhadap makhluk ciptaanNya.
" Untuk kali ini kami berikan keringanan. Tapi untuk berikutnya kalian harus meminta izin dahulu kepada kami!! " Putus nya sebelum memasuki mobilnya pergi dari pengungsian.
" Beri tahu kami, kepada siapa kami harus menghadap..!!" seru sopir truk.
Namun militer zionis itu pergi begitu saja. Meninggalkan debu beterbangan yang menghalangi pandangan para pengungsi. Mereka hanya saling pandang pada akhirnya karena tak mendapat jawaban pasti.
" Aneh sekali para penjajah itu. Mereka dulu datang bertamu tapi sekarang seolah mereka adalah tuan rumah..." Gerutu sopir truk itu.
" Benar sekali, apa tadi katanya? Meminta izin. Ini negara milik siapa, seolah kita adalah ungsian dari luar negara." sambung salah satu pengungsi.
" Tapi bagaimana pun. Kami sangat bersyukur atas bantuan yang kalian bawa. Sungguh ini adalah oase di keadaan kami saat ini. Terima kasih banyak.." Ucap pemimpin pengungsi mewakili.
" Ini tanggung jawab pemerintah juga. Sudah seharusnya kami memberikan bantuan kepada rakyat nya.." Terang sopir truk.
* Kami pamit . Jagalah diri kalian. Kami baru bisa memberikan bantuan ini. Semoga saja bisa berkelanjutan" Sambungnya bersalaman dan menaiki truk nya.
Truk pergi setelah menyampaikan tujuan nya. Para pengungsi berharap bantuan ini bukan yang pertama dan terakhir kalinya. Semoga para penjajah itu mempermudah perizinan pengiriman bantuan, karena mereka lah yang mengarahkan untuk mengungsi ke tempat ini dan meninggalkan rumah-rumah nya masing-masing.
Yaseer yang melihat kejadian menegangkan di depannya, mulai memahami bahwa para penjajah itu seolah sedikit demi sedikit menguasai negri mereka. Sepertinya benar apa yang selalu dibicarakan orang-orang di desanya. Ia mendengar bahwa ada misi yang sudah para zionis itu siapkan untuk menduduki wilayah Palestina sebagai negara baru mereka.
*****
Sore tiba, masakan selesai di buat dan siap untuk dibagikan kepada seluruh penghuni pengungsian. Mereka harus berhemat. setidaknya sampai bantuan berikutnya tiba, mereka tidak kelaparan.
Laila dan anak-anak nya makan bersama di luar tenda. Hanya dengan beginilah mereka bisa berkumpul bersama.
" Ummi sepertinya malam ini gelap banget langitnya.. " Celetuk Yaseer di tengah makan nya.
Laila dan lainnya mendongak ke langit. Sepertinya iya mendung karena tak tampak bintang satupun. Semoga saja kalaupun hujan, tidak begitu deras dan tidak berangin.
" Ummi, kalau hujan bagaimana?" Tanya Abia.
" Ya semoga menjadi berkah untuk kita..". Jawab ummi tersenyum menenangkan.
" Aku lihat kita seperti berada di bawah ummi. Bukan dataran yang tinggi. Dikhawatirkan kalau hujan air nya tidak mengalir." Kekhawatiran Yaseer membuat yang lain merasa gelisah.
Iya benar juga apa yang dikatakan Yaseer, tenda mereka berada di dataran yang lebih rendah. Apakah yang lainnya juga merasakan kekhawatiran yang sama dengan apa yang dikatakan Yaseer.
" Kita berdoa semoga hujan belum turun malam ini. Supaya kita bisa tidur dengan tenang malam ini". Harap ummi di angguki anak-anak nya.
Setelah makan malam, mereka bersiap untuk sholat isya lalu melanjutkan dengan kegiatan lainnya.
***
tik...tik....tik...
Terdengar suara air menimpa tenda-tenda mereka. Rupanya hujan turun malam ini. Kekhawatiran mulai merayapi mereka. Bagaimana jika deras, bagaimana jika terjadi genangan air dan masuk ke dalam tenda mereka, bagaimana jika disertai angin kencang. Berbagai pertanyaan bermunculan di benak mereka.
Mereka hanya bisa berdiam di dalam tenda. Di tengah istirahat malam mereka, terbangun karena suara riuh para pengungsi lain agar bersiap karena hujan turun khawatir akan terjadi genangan.
" Ummi.... Kalau air masuk ke dalam tenda kita gimana?" Tanya Abia khawatir juga.
" Semoga tidak ya sayang. Tadi sebelum tidur para bapak-bapak menggali tanah untuk tanggul di sekeliling tenda." Jelas ummi.
Hujan turun semakin deras. Para lelaki sudah banyak yang keluar tenda mengaman kan aliran air. Dan menampung air hujan di wadah-wadah air yang ada.
Hujan adalah Rahmat, sebaik mungkin mereka memanfaatkan air hujan untuk keperluan mereka nantinya. Untuk menghemat air bersih juga.
*****
Pagi menyapa dengan sinar matahari hangat nya. Para pengungsi sibuk berbenah dan mencuci pakaian mereka dengan air yang sudah tertampung. Mereka bersyukur hujan semalam tidak turun terlalu lama. Sehingga tenda-tenda mereka aman dari masuknya air.
Pagi ini, para lelaki berbenah memperbaiki aliran air supaya tidak ada genangan jika terjadi hujan lagi. Sebaik mungkin tenda harus aman dari masuknya air. Karena jika tidak, maka akan merendam tempat tidur mereka berserta pakaian juga. Di musim dingin begini sungguh penderitaan berlipat bagi mereka.
" Kakak ngapain itu mi?" Tunjuk abia pada kakaknya yang sedang melakukan sesuatu.
" Coba kita lihat. Yuk.." ajak ummi menghampiri Yaseer.
" Lagi ngapain kak?" Tanya Abia mengagetkan Yaseer.
" Astaghfirullah... Ade. Kaka kaget..!!" Seru Yasser.
" Hehehe.. Maaf kak..."
" Kakak lagi buat apa? Serius banget.." Tanya ummi menuntut jawaban.
" Oh ini mi, aku lagi bikin alat buat penyaringan air.." Jawab Yaseer sambil meneruskan proyeknya
" Siapa yang ngajarin?" Tanya ummi lagi.
" Aku pernah lihat dari temen Abang pas lagi bikin proyek mi" Jawab Yaseer santai sambil fokus menyusun lapisan demi lapisan penyaringan air.
" Rencananya mau kakak buat apa nanti?" Tanya ummi lagi.
" Ya buat apa saja nanti, Ini mau aku coba dulu. Jika berhasil nanti aku mau untuk menyaring aliran air hujan biar bisa dipake buat kebutuhan kita". Terang nya sambil membayangkan proses proyeknya nanti.
" Wah.. Kakak bisa jadi pahlawan nih mi... ". Seru Abia sambil tepuk tangan heboh.
" Iya semoga proyek kakak berhasil yah.." Doa ummi mengelus kepala Yaseer bangga.
" aamiin,.."
" Alhamdulillah udah siap.. Yuk kita coba. Kita saring air genangan itu" tunjuk Yaseer sambil membawa wadah kecil di tangannya.
Yaseer menyiduk genangan air hujan semalam, dan menuangkannya ke dalam alat yang dia buat. Air merembes dengan perlahan hingga keluarlah tetesan air dari sela lubang yang di sediakan. Tetesan air di tampung dalam sebuah gelas kaca.
" Lihat mi, airnya bening....!" Seru Yaseer kegirangan proyeknya berhasil.
" Tapi kok lama banget kak... Keburu haus aku kalo nunggu selama itu... Cuma tes...tes..tes..gitu..?" Protes Abia.
" Ini percobaan de'... Nanti Kakak akan coba buat dengan bapak-bapak disini dengan alat yang lebih besar." Jelasnya pada rencana kedepannya.
" hhemm... Iya.. Goodjob boy..!" Puji Abia menirukan gurunya di sekolah sambil menepuk pundak kakaknya dramatis.
" heh.... !
happy reading 💪
happy Ied Mubarak
komen baik nya ditunggu ya.