NovelToon NovelToon
Digigit Mbak Janda

Digigit Mbak Janda

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Janda / Crazy Rich/Konglomerat / Cinta pada Pandangan Pertama / Kaya Raya
Popularitas:87
Nilai: 5
Nama Author: Raey Luma

"Jangan menggodaku, Rania.” Radit mundur satu langkah, tapi Rania justru mendekat. Tangannya menyentuh dada pria itu, perlahan turun sambil tersenyum nakal. “Kamu yang datang sendiri malam-malam begini,” bisiknya.
Lalu bibirnya menempel di leher Radit, menggigit pelan, meninggalkan jejak merah. “Anggap aja… ucapan selamat datang, dari Mbak janda muda.”

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Raey Luma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Staf Baru

Pagi harinya, langit masih menyisakan warna kebiruan pucat, embun belum sepenuhnya hilang. Namun Rania sudah rusuh sejak subuh.

Ia mengecek jam tangannya terus-menerus sambil merapikan rok dan mengencangkan belt-nya yang sempat miring. "Sial... telat lagi aku." Napasnya tak karuan saat taksi yang ia tumpangi melaju kencang menyusuri jalan kota.

Setibanya di parkiran kantor, Rania nyaris tergelincir saat menuruni taksi, buru-buru mengatur nafas dan postur.

Namun langkahnya terhenti.

Seseorang berdiri tak jauh dari tempatnya turun.

Mereka sama-sama terdiam.

Pandangan bertabrakan sesaat, cukup untuk membuat tubuh Rania tegang. Reyhan terlihat seperti ingin menyapa, namun detik berikutnya ia berpura-pura sibuk dengan ponselnya.

Rania mendengus pelan, lalu berjalan masuk ke lobi gedung, menekan lift menuju lantai atas.

Sesampainya di depan ruangan Radit, suasana masih sepi. Wajar, jam dinding baru menunjukkan pukul 07.10. Radit belum datang. Rania pun memutuskan untuk membalikkan badan dan kembali ke ruangannya.

Namun...

"Ran."

Langkahnya terhenti.

Suara itu.

Rania menoleh pelan. Dan Reyhan sudah berdiri tepat di belakangnya.

Wajah Rania mengeras.

“Kenapa kamu ada di sini sepagi ini?” tanyanya dengan cuek.

Reyhan tersenyum singkat, “Mulai hari ini, aku akan bantu perusahaan Radit.”

Jantung Rania mencelos.

“Apa?” suaranya pelan, nyaris tidak terdengar.

“Aku gak bercanda.” Reyhan mengangguk ringan. “Aku dikasih posisi sebagai Executive Partnership Advisor... katanya bantuin proyek internasional. Timnya Radit butuh orang tambahan.”

Tangan Rania mengepal di balik map yang ia genggam.

Ia menelan ludah, mencoba tenang. Tapi emosinya sudah naik setengah badan.

“Kalau kamu kerja di sini cuma buat ngawasin aku, lebih baik kamu siap-siap,” ucap Rania tajam. “Aku bisa keluar kapan aja. Aku gak akan bertahan di tempat yang bikin aku gak nyaman.”

Reyhan mengangkat kedua tangannya pelan. “Hey, hey… aku bukan ngikutin kamu, serius. Aku bahkan gak tahu kamu kerja di sini sampai lihat kamu kemarin.”

“Kamu bisa bohong semudah itu, ya?”

“Rania,” ujar Reyhan tenang, “Kamu tahu sendiri kan aku tipe orang yang… ikut apa kata orang tua. Aku cuma jalani tugas. Bukan nyari masalah.”

Dan itu benar.

Rania tahu itu.

Reyhan bukan pembohong ulung. Ia tidak bisa bersandiwara. Ia adalah pria yang hidup dengan kontrol penuh dari orang tuanya, bahkan hingga hari ini.

Mendengar itu, dada Rania justru sesak. Ia kembali diingatkan pada masa lalunya. Masa di mana Reyhan menyerah bahkan sebelum mereka benar-benar memulai.

Pernikahan diam-diam itu, perlakuan dingin keluarganya, lalu kepergian Reyhan hanya beberapa minggu setelah Aira lahir…

Semua terputar seperti mimpi buruk.

“Aku cuma nggak mau kamu salah sangka,” ujar Reyhan lagi, lirih. “Aku juga kaget, jujur aja. Tapi ini bukan tentang kamu.”

Rania tidak menjawab. Hanya menatapnya sejenak, kemudian berbalik dan melangkah pergi tanpa satu kata pun lagi.

Langkahnya cepat, tegas.

Ia tak mau memberi kesempatan apa pun.

Setelah beberapa saat, Rania pun memasuki ruang kerjanya. Lampu-lampu neon menyala putih pucat di atas meja kerjanya yang bersih, namun hari ini terasa berbeda.

Ia meletakkan tas di atas meja, menarik kursi, lalu duduk.

Namun…

Tangannya gemetar.

Satu klik… dua klik…

Ia membuka lembar kerja promosi digital di laptopnya. Tapi fokusnya hilang. Huruf-huruf yang ia ketik tampak kabur di layar. Tangannya berkeringat, dan pikirannya berkecamuk.

"Kalau Radit tahu... kalau Reyhan itu mantan suamiku...

Dan Aira... Aira anak kami..."

Dadanya mulai sesak.

Rania mengangkat jari-jarinya dari keyboard dan menutup wajah dengan kedua telapak tangannya.

"Kenapa sekarang? Kenapa harus sekarang dia muncul?"

Satu sisi ia ingin jujur. Tapi sisi lainnya terlalu takut. Kontrak itu tak pernah menuliskan pasal soal masa lalu. Tapi Rania tahu, konsekuensi bisa jauh lebih rumit dari apa pun yang tertulis.

Ia kembali menatap layar.

Namun kali ini, kesalahan tak bisa dihindari.

Alih-alih mengetik “Free International Shipping”, jemarinya malah mengetik “Free Internal Screaming”.

“Astaga, fokus dong!” desisnya, memukul pelan pipi sendiri.

Tok tok!

Pintu ruangannya diketuk pelan. Seorang staf perempuan masuk, membawa map berisi dokumen yang ditandai URGENT dengan sticky note warna merah.

“Ini draft promosi minggu depan, Mbak Rania,” ujar si staf sambil mendekat. “Maaf, aku masuk mendadak.”

Rania tersenyum tipis dan mengambil map tersebut. Tapi saat ia menandatangani tanda terima, si staf memiringkan kepalanya sambil melirik layar komputer Rania.

“Eh?” gumamnya kecil. “Free… internal screaming?”

Rania langsung menutup laptopnya dengan cepat, gugup.

“Typo,” jawabnya cepat. “Salah ketik.”

Si staf terkekeh. “Tahu kenapa salah ketik?”

Rania menatapnya dengan bingung.

“Karena Pak Radit udah dateng. Dan kayaknya kamu tahu banget posisi ruangannya ada di mana, jadi…” Si staf mengedipkan mata nakal. “Jangan galau lagi dong, Mbak Rania.”

Rania sempat tertegun, lalu tertawa kecil, menutupi kekacauan pikirannya.

“Aku? Apa urusannya sama Pak Radit?” ucap Rania santai, memasang wajah netral.

Si staf mengangkat bahu, masih dengan senyum nakal. “Gak tau ya… tapi biasanya yang senyumnya berubah waktu Pak Radit dateng, itu kamu.”

Rania tersenyum tipis, tapi matanya menyiratkan kecemasan yang tak bisa dia tutupi sepenuhnya.

Setelah staf itu pergi, Rania menatap laptopnya kembali.

Ia menarik napas panjang... Lalu, menenggelamkan diri dalam pekerjaan.

Tangannya kembali mengetik, membuka satu folder ke folder lainnya, memastikan semua data promosi minggu depan tersusun rapi. Namun tetap saja, jantungnya masih tidak stabil.

Bayangan Reyhan masih menari-nari dalam pikirannya. Tapi dia tahu, satu-satunya cara agar semuanya tetap aman adalah bersikap biasa.

Telepon kantornya tiba-tiba berdering.

> Radit: “Ke ruanganku sekarang.”

Rania langsung menegakkan badan. Ada nada tegas dan langsung dalam pesan itu.

Langkahnya cepat, napasnya berat.

Pintu ruangan Radit terbuka.

Dan di sana…

Reyhan sudah duduk di sofa seberang meja kerja Radit.

Rania langsung berhenti sejenak di ambang pintu. Jantungnya seolah berhenti berdetak sesaat.

Namun cepat-cepat ia memasang wajah tenang.

“Silakan masuk,” ucap Radit sambil berdiri.

Rania melangkah pelan. Ia sempat melirik Reyhan yang langsung ikut berdiri. Ada ketegangan yang tak terlihat oleh mata biasa, namun terasa jelas di udara.

“Rania,” kata Radit sambil menoleh ke arah Reyhan, “Kenalkan, ini Reyhan Mahendra. Dia adikku. Baru beberapa hari ini pulang dari Eropa.”

Adik.

Kata itu menusuk. Tapi Rania tersenyum.

Ia langsung mengulurkan tangan sambil menatap Reyhan dalam-dalam.

“Rania—tim promosi dan produksi,” ucapnya lantang, “Kalau ada yang bisa aku bantu selama Kak Reyhan kerja di sini, jangan segan kabari aku, ya.”

Radit tampak lega melihat reaksi Rania yang begitu profesional.

Reyhan tersenyum tipis, sedikit kaku, namun tetap membalas jabatan tangan itu.

“Senang akhirnya bisa ketemu langsung,” ucap Reyhan, nyaris berbisik.

Rania hanya mengangguk, tetap menjaga senyumnya.

Radit pun duduk kembali ke kursinya. “Reyhan ini akan bantu beberapa divisi, terutama divisi pengembangan bisnis dan cabang internasional. Dia udah lama tinggal di luar, jadi pemikirannya... ya, segar lah.”

Reyhan tersenyum lebih santai. “Ya… begitulah. Tapi, aku harus banyak belajar juga dari sistem di sini.”

Radit mengangguk. “Kemarin sempat cerita juga sih, katanya sempat hampir melamar seseorang di Eropa.”

Radit tertawa kecil. “Tapi kayaknya belum jodoh ya?”

Suasana menegang.

Reyhan langsung mengalihkan pandangan. “Ah, iya… itu cerita lama. Kita bahas yang penting-penting aja deh.”

Rania hanya mengangguk kecil, seolah tak terusik. Tapi di balik sorot matanya, ia menyimpan banyak luka dan rahasia.

Radit berdiri, lalu menatap Rania. “Kamu bawa draft promosi yang aku minta?”

“Oh, iya.” Rania menyerahkan map biru muda itu dengan tangan stabil.

“Bagus,” ucap Radit sambil membolak-balik beberapa halaman. “Kamu kerja bagus minggu ini. Aku gak nyangka, kamu bisa tetap stabil padahal banyak tekanan.”

Rania hanya tersenyum, lalu melirik Reyhan sekilas.

Reyhan juga memperhatikan Rania diam-diam, namun saat mata mereka bertemu, keduanya langsung memalingkan wajah.

“Kalau gak ada lagi, aku kembali ke ruanganku,” ucap Rania sambil bersiap mundur.

Radit mengangguk. “Oke. Nanti aku kabari kalau ada rapat sore.”

Rania berjalan keluar, dan saat pintu tertutup…

Radit sempat mengerutkan dahi.

“Aneh,” gumamnya.

“Kenapa?” tanya Reyhan datar.

“Gak tahu. Aku cuma ngerasa… kamu kayak udah kenal dia sebelumnya.”

Reyhan menahan napas, lalu tertawa kecil. “Mungkin karena wajahnya familiar.”

Radit tertawa juga. “Ya, bisa jadi.”

Reyhan hanya menatap kakaknya, lalu mengalihkan pembicaraan lagi.

Di luar ruangan, Rania berdiri memejamkan mata sebentar.

Tangannya menggenggam tablet kerja erat-erat, sebelum akhirnya kembali melangkah.

Rania berusaha prosfesional, meskipun ia tahu hal ini akan membahayakan dirinya, terlebih Radit.

Ia sempat berpikir untuk menerima tawaran Mahendra, soal pernikahan dengan Radit secepatnya, agar ia bisa terhindar dari Reyhan.

Tak berapa lama...

Pintu diketuk perlahan.

Rania mendongak, dan begitu pintu terbuka—Reyhan berdiri di sana.

Rania langsung kembali menunduk, berpura-pura sibuk dengan berkas-berkas di mejanya.

"Ada yang bisa saya bantu?" tanyanya, nada suaranya dingin dan netral.

Reyhan masuk dengan hati-hati. “Tenang, aku nggak bermaksud ganggu. Aku cuma mau nanya tentang sistem approval vendor. Tadi Radit bilang kamu yang handle,” katanya dengan suara ringan, mencoba mencairkan suasana.

Rania masih tak menatapnya. Ia meraih satu map dari rak di sampingnya, lalu meletakkannya di meja.

“Ini sistem vendor-nya. Semua udah digital sekarang, tinggal masukin request dan upload kelengkapan. Ada link aksesnya di halaman depan folder,” jelasnya singkat.

Reyhan menatapnya sesaat. Ia ingin mengatakan sesuatu, tapi ragu. Hingga akhirnya ia buka suara, lembut, namun tetap terdengar jelas.

“Tentang tadi… di ruang Radit. Aku tahu kamu bersikap profesional. Aku hargai itu.”

Rania akhirnya menatap Reyhan.

“Perkataanku tadi itu… formalitas,” ujarnya tegas. “Jadi jangan salah paham. Aku gak benar-benar mengatakannya dari hati. Aku cuma jaga imej.”

Reyhan mengangguk pelan. “Aku ngerti. Aku gak akan ganggu. Tenang aja, aku bisa jaga jarak.”

Rania terdiam. Ia menatap Reyhan yang kini tampak jauh berbeda dari dulu. Lebih dewasa, lebih tenang… namun tetap dengan karakter patuh yang membuatnya dulu mudah dikendalikan oleh keluarganya.

"Aku gak butuh pengertianmu, Rey. Yang aku butuh, kamu tetap profesional dan gak bawa-bawa masa lalu ke tempat ini."

“Aku janji,” jawab Reyhan cepat, serius. “Aku gak bakal rusak apa yang sedang kamu bangun. Aku cuma membantu sodaraku di sini. Itu aja.”

Rania mendesah pelan.

“Bagus kalau kamu ngerti.”

Reyhan tersenyum tipis, lalu menunjuk map di tangannya. “Aku bawa ini dulu ya. Makasih.”

Ia berbalik, melangkah pelan keluar ruangan.

Begitu pintu kembali tertutup, Rania menyandarkan tubuhnya ke kursi. Matanya memandang langit-langit kosong.

“Kenapa semua ini harus terjadi di waktu yang sama…” gumamnya lirih.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!