Taqi Bassami, hanya karena ia seorang anak angkat, pria itu harus mengorbankan hidup selamanya. Taqi menukar kebebasannya demi membayar balas budi. Berkat sang ayah angkat, hidupnya yang terpuruk di jalan, kini menjadi sukses.
Bila balas budi bisa dibayar dengan uang, Taqi pasti melakukan hal itu. Tapi bagaimana, jika Taqi harus menikahi wanita pilihan keluarga angkatnya itu untuk membalas jasa. Belum lagi latar belakang Taqi yang perlahan mencuat ke permukaan. Siapa sebenarnya Taqi? Ketika banyak pihak mengincar nyawanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sept, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Terkejut
Jodoh Titipan Bagian 19
Oleh Sept
Semua tamu sudah meninggalkan kediaman abah Yusuf satu persatu. Karena memang digelar secara sederhana, yang datang pun tidak banyak. Hanya sanak kerabat, tetangga, dan rekan Taqi Bassami.
Setelah acarapun, Nada langsung ke kamarnya saat bersama Zain ketika menginap di rumah abah. Kamar waktu Zain remaja. Sedangkan Taqi, pria itu sedang menjamu beberapa tamu penting yang baru datang belakangan.
Di kamar Nada dan Zain dulu, Sarah membantu kakak perempuannya itu berganti pakaian. Sedangkan Naqiyyah, bayi munggil itu ikut bersama ummi. Menemui kerabat ummi dan abah yang masih tinggal di sana. Mungkin akan pulang beberapa jam lagi.
***
"Mbak, besok Sarah ada ujian. Sarah balik nanti sore ya?"
Nada menoleh, menatap adiknya yang kini melipat baju kebaya pengantin yang ia kenakan tadi.
"Udah, taruh situ aja, Sarah!"
"Nggak apa-apa, biar gak kusut," jawab Sarah.
"Terus naik apa nanti?" tanya Nada sembari merapikan pakaian. Sebab ia juga akan menemui sanak saudara yang masih ada di rumah abah.
"Naik kereta aja, Mbak. Yang sore. Kalau bus takut macet."
"Hemm ... maaf. Mbak gak bisa antar."
"Gak apa-apa, Mbak. Sarah sudah besar. Gak perlu diantar. Oh ya ... selamat ya Mbak. Semoga pernikahan Mbk Nada awet sampai jannah."
Seketika wajah Nada berubah sendu. Doa yang sama sering ia dengar dulu ketika menikah dengan Zain. Tapi apa yang terjadi? Hanya dua bulan, terlalu singkat tapi meninggalkan rasa sakit yang terasa begitu lama.
"Mbak!" panggil Sarah yang melihat kakak perempuannya melamun.
"Ya ..."
"Pengantin baru kok melamun!" canda Sarah ingin mencairkan suasana.
Nada hanya tersenyum tipis, kemudian mengajak adiknya keluar.
***
Di teras rumah, Taqi sedang berbicara dengan seorang pria berjas rapi. Rupanya pria itu baru tiba dari Malaysia dan langsung ke acara pernikahan Taqi dan Nada.
Dia adalah kolega Taqi di negeri Jiran. Sudah lama menjalin kerja sama dengan Taqi Bassami. Pemuda mapan dan kelihatannya orang baik. Dan ketika Taqi mendengar suara Nada dari dalam, ia pun beranjak.
"Sebentar, saya panggilkan istri saya."
Pria bernama Samir itu pun mengangguk, setelah Taqi masuk ke dalam rumah, Samir mengamati sekeliling. Sorot matanya berubah seketika. Sambil menunggu Taqi kembali, ia mengirim pesan pada seseorang.
Beberapa saat kemudian
Taqi muncul bersama Nada.
"Kenalkan, Nada ... ini Mr. Samir. Mister ... ini istri saya. Qotrunnada."
Taqi mengenalkan istrinya pada koleganya tersebut.
Nada pun menundukkan wajah, sambil mengenalkan diri. "Nada."
"Samir Ahmad."
Sepanjang duduk di teras itu, Nada hanya diam saja. Mungkin juga tidak nyaman. Karena menemani Taqi nenjamu rekan kerjanya dari jauh.
Barulah setelah abah muncul dari dalam, Nada mencari alasan untuk masuk ke dalam rumah kembali. Pengantin baru itu mencari putrinya. Sudah rindu, padahal juga baru sebentar tidak bertemu.
"Udah, kamu duduk aja Nada. Biar kami yang gendong bayimu," ujar salah satu kerabat ummi yang memang kelihatan sayang pada baby Naqiyyah.
"Nggak usah KB ya. Biar Naqi langsung dapat adek. Enak jaraknya dekat, sekalian ngurusnya," komentar saudara sepupu almarhum Zain.
Nada hanya tersenyum tipis, tapi wajahnya jelas gelisah. Seperti tidak nyaman di ruangan itu. Untung saja Naqi menangis, alhasil Nada bisa alasan untuk memberikan bayi kecilnya itu ASI di dalam kamar. Sekalian menghindar dari obrolan ibu-ibu serta saudara yang masih ada di sana.
Saat akan ke kamarnya, ummi tiba-tiba datang mencegah. Ibunda almarhum Zain itu buru-buru membuka pintu kamar Taqi.
"Di sini ... kamar kalian sekarang di sini."
Nada menelan ludah, dan ia bisa merasakan beberapa pasang mata sedang mengamati Nada dari belakang. Akhirnya, dengan langkah yang berat, Nada masuk ke dalam kamar suaminya. Suami yang baru saja menikahinya beberapa saat yang lalu.
Di dalam kamar Taqi, Nada berbaring dengan gelisah. Mungkin takut Taqi masuk secara tiba-tiba.
Sementara itu, Taqi yang masih di luar masih berbicara santai dengan Mr. Samir. Dan ketika Mr. Samir meminta sesuatu, Taqi pun kembali masuk ke dalam.
"Bukankah sudah saya emailkan beberapa hari yang lalu?" tanya Taqi.
"Masih ada yang kurang. Perjanjian dengan PT. Global belum ada sepertinya, ini juga sekretaris saya mengabari. Sepertinya hanya kurang itu saja."
"Sebentar, saya ambilkan. Kemarin juga sudah saya cetak dan tandatangi. Sepertinya saya lupa scan yang satu itu. Tunggu sebentar ..."
Mr. Samir mengangguk, kemudian meraih cangkir kopi. Ia menyesapnyaa sampai habis. Entah haus atau memang penyuka kopi. Yang jelas, gelasnya sudah kosong. Sampai abah memanggil ART untuk membuat minuman lagi.
"Tidak usah, Abah."
"Tidak apa-apa," kata Abah.
Sementara itu, Taqi tanpa ragu langsung saja berjalan masuk dan membuka pintu kamarnya.
'Astaghfirullahaladzim," pekik Taqi terkejut.
BERSAMBUNG
Selamat menjalankan ibadah puasa bagi yang menjalankan. Semoga puasa kita lancar dan diterima oleh Allah. Aamiin.
IG Sept_September2020
jawab iya salah jawab tidak juga berat
😭😭😭