kematian membuat dia hancur, namun kematian orang yang disayang juga yang membuat dirinya bangkit.
Berjuang dan bertarung menjadi jalan hidupnya yang baru, jalan hidup menuju keabadian. Anak polos yang menjadi harapan bagi semua manusia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MartimbulSiregar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18
Setelah Jaka menguasai sepenuhnya jurus-jurus jari api Petapa muka dua kembali memberikan jurus baru pada Jaka Srenggi.
"Tapak api!"
"Tapak api juga terbagi tiga jurus."
"Tapak kematian. Tapak suci dan tapak bara api!"
Petapa muka dua menjelaskan dan memperagakannya seperti saat memperagakan jurus jari api.
Karena Jaka Srenggi sudah menguasai jari api yang memang dasar dari jurus tangan api, jurus tapak api juga mampu Jaka Srenggi kuasai dalam tiga hari.
"Hahahaha!!"
"Belum sampai satu purnama kau belajar ilmu silat, tapi kau sudah menguasai jurus-jurusku Jaka Srenggi. Guru sangat bangga padamu," ucap Petapa muka dua dengan wajah yang berseri.
"Terima kasih guru, semua itu bimbingan keras dari guru."
"Sekarang guru akan memberikanmu jurus tinju api. Dan terakhir pukulan api." kata Petapa muka dua.
"Pukulan api merupakan pukulan jarak jauh. Tak akan di pergunakan untuk pertarungan jarak pendek. Pukulan api bisa kau gunakan saat musuhmu akan melarikan diri." kata Petapa muka dua menjelaskan pada Jaka Srenggi.
"Apa kau paham Jaka??" tanya Petapa muka dua.
"Iya guru, Jaka paham!"
"Sekarang kau pergilah ke air terjun di bawah sana. Kau berlatih di sana. Lawan air terjun itu!" perintah Petapa muka dua.
Srenggi turun dari gua dan menuju air terjun. Jaka Srenggi memukul apa saja yang ada di sekitar air terjun itu, batu kayu bahkan air bergejolak karena pukulan dari Jaka Srenggi. itu pukulan yang masih menggunakan tenaga biasa, belum menggunakan tenaga dalam.
Sementara itu di gua tinggal sendirian Petapa muka dua.
"Aku merasa racun ini semakin menyiksaku. Rasanya aku tak akan mampu bertahan lama. Aku harus segera mengajarkan pada Jaka dasar-dasar dari ilmu pedang. Setelah itu aku akan memberikan kitab pedang seribu. Dan aku bisa pergi dengan tenang." gumam Petapa muka dua.
"Uhukk ... uhukkk...!!"
Petapa muka dua batuk begitu keras, dari mulut nya menyembur cairan kental berwarna hitam pekat.
"Tak ada waktu lagi, aku harus mulai mengajari Srenggi besok pagi."
"Jaka Srenggi! kembali lah!" suara itu di lembari dengan tenaga dalam.
"Guru memanggilku??"
Jaka Srenggi bergegas kembali dengan baju yang sudah basah.
"Ada apa guru??" tanya Jaka Srenggi.
"duduk lah, guru akan bercerita sedikit dengan mu"
"Bercerita? Apa guru??" tanya Jaka Srenggi.
"Sebenarnya hidup guru tak lama lagi, guru sudah diracuni oleh seseorang yang bernama Ragil, anak buah dari topeng hitam."
"Tak lama lagi? Topeng hitam? Guru ... Jangan tinggalkan Jaka!!"
Tanpa sadar air mata Srenggi menetes tak tertahan.
"Ini guru berikan kepadamu."
Petapa muka dua memberikan kitab pedang seribu ke tangan Jaka Srenggi.
"Jaka Srenggi tak butuh semua ini guru, Jaka ingin guru tetap bersama Jaka." ucap Jaka Srenggi.
"Diam dan dengarkan guru! Besok guru akan mengajari dasar-dasar dari bermain ilmu pedang. Setelah itu kau harus belajar sendiri, dengan kitab ini guru yakin kau akan menguasai dunia persilatan."
"Tidak guru, tidak! Jaka hanya ingin bersama guru!"
Air mata Jaka Srenggi semakin membasahi lantai batu gua.
Petapa muka dua berdiri dan berjalan ke belakang Jaka Srenggi.
"Tukkkkkk!!"
Petapa muka dua menotok Jaka Srenggi, setelah itu dia menempelkan telapak tangannya di punggung Jaka Srenggi.
Jaka Srenggi merasakan sesuatu yang lain masuk ke dalam tubuhnya, itu sangat hangat, tapi perlahan lahan berubah menjadi panas. Petapa muka dua memberikan hampir seluruh tenaga dalamnya kepada Jaka Srenggi.
"Huakkkkkk!!"
Petapa muka dua kembali muntah cairan kental berwarna hitam.
"Guru!!!"teriak Jaka Srenggi.
"Guru sudah memberikanmu tenaga dalam guru, kau tinggal menambahnya. Ingat! Jangan pernah semudah itu percaya pada orang. Yang putih belum tentu putih dan yang hitam belum tentu hitam." kata Petapa muka dua setelah membuka totokan ditubuh Jaka Srenggi
"Guru!!"
Jaka Srenggi tak sepenuhnya mendengarkan semua perkataan gurunya, wajahnya sangat sedih dan tak tahu harus berbuat apa.
"Guru hanya meminta padamu, lanjutkan dendam guru, bunuh topeng hitam untuk guru. Jika kau sudah melakukannya, maka kematian guru akan terasa akan damai."
"Guru tak akan mati, Jaka akan mencari obat untuk guru. Guru harus tetap hidup. Guru harus melihat Jaka berdiri di puncak dunia persilatan." ucap Jaka Srenggi.
"Sudah! guru ingin istirahat. Kau pun istirahat, staminamu harus kuat karena besok kau akan kembali berlatih." kata Petapa muka dua.
***
Di Padang ilalang tempat biasa Jaka Srenggi berlatih. di tangan Petapa muka dua sudah ada kayu panjang.
"Anggap ini sebuah pedang Jaka." ucap Petapa muka dua, tapi itu tak terlalu didengarkan Jaka Srenggi.
"Jaka, fokus untuk berlatih" bentak Petapa muka dua.
"Iya guru! maaf!"
"Perhatikan! dasar dari ilmu pedang."
"Menebas, memotong dan mengiris. Setelah kau menguasai dasar dari ilmu pedang maka kau akan masuk ke seni pedang."
"Perhatikan akan guru peragakan!"
Petapa muka dua memperagakan dasar ilmu pedang, meskipun tubuhnya sudah sangat lemas tapi dengan bantuan sisa tenaga dalamnya gerakannya tetap terlihat lentur dan memiliki seni dalam pedang.
"Apa kau melihatnya dan memperlihatkannya Jaka??"
"Iya guru, Srenggi memperhatikannya. Sekarang peragakan." perintah Petapa muka dua.
Jaka Srenggi dengan malas memperagakan tapi semuanya serba tak jelas.
"Jaka Srenggi!!"
"Apa kau ingin mengecewakan guru??" Bentak Petapa muka dua.
Wajah Jaka Srenggi seperti kehilangan semangatnya.
"Berikan guru penghormatanmu, bersemangatlah. Apa kau tahu, guru bertahan hidup hanya demi kamu. Tapi sekarang kau mengecewakan aku!" kata Petapa muka dua dengan sangat marah.
Wajah Srenggi menjadi pucat.
"Guru, maafkan Jaka. Jaka akan serius, Jaka tak akan mengecewakan mu guru. Lihatlah guru, bagaimana Jaka akan menguasai semua yang guru ajarkan?"
Jaka Srenggi memperagakan semua gerakan dasar yang diajarkan oleh gurunya, meskipun masih banyak salah, tapi dengan adanya Petapa muka dua semua gerakan Srenggi yang salah diperbaiki oleh gurunya.
"Jaka, kau memang selalu membanggakan guru. Guru benar-benar tak kecewa meskipun harus mati."
"Terima kasih guru," kata Jaka Srenggi dan menghentikan latihannya.
"Jaka! Ingat semua kata-kata guru. Tak ada putih dan tak ada itu hitam. Dan satu lagi jangan terlalu percaya pada perempuan. perempuan hanya akan membuatmu lemah."
"Membuat lemah kenapa guru??" tanya Jaka Srenggi.
"Kau akan tahu nanti, tapi tetap ingat, jangan terlalu percaya pada perempuan."
"Kau hanya ak.!!"
"Energi ini? Aku mengenalnya" Petapa muka dua diam dan wajahnya pucat karena merasakan energi yang sangat dikenalnya
"Ini energi iblis jerangkong" Sepertinya mereka sudah menemukan keberadaanku." kata Petapa muka dua dalam hatinya.
"Jaka, Apa kau membawa kitab itu bersamamu??"
"Bawa guru, ini! ada apa??" tanya Srenggi dan menunjukkan kitab nya pada gurunya.
"Ada ap...?"
"Tuk ... tuk ... tuk...!!"
Tubuh Jaka Srenggi langsung mati rasa saat gurunya menotok semua urat nadinya. Petapa muka dua mengangkat tubuh Jaka Srenggi dan menyembunyikan di rimbunnya pepohonan. setelah itu dia menyembunyikan hawa kehidupan dari Jaka Srenggi.
"Guru ada apa??" tanya Jaka Srenggi, tapi suaranya tak ada keluar sedikitpun.
Petapa muka dua pura-pura bersila, dan dari dua arah empat manusia berjalan kearahnya.
"Pucuk di cinta ulam pun tiba!"
"Hahahaha!"
Kematianmu sudah dipastikan hari ini Petapa sialan!"