Sinopsis
Alya Maheswari percaya satu hal: cinta pertamanya sudah mati.
Lima tahun lalu, ia meninggalkan kota kecilnya dengan hati yang hancur dan mimpi yang hampir padam. Ia memilih kuliah di luar kota, membangun hidup baru, dan berjanji tak akan pernah kembali ke tempat yang menyimpan terlalu banyak kenangan.
Namun takdir punya caranya sendiri.
Saat ibunya sakit, Alya terpaksa pulang. Dan di kota yang penuh senja itu, ia kembali bertemu dengan Arka Pratama — pria yang pernah menjadi rumahnya… dan juga luka terbesarnya.
Arka bukan lagi pemuda ceroboh yang dulu ia kenal. Kini ia lebih tenang, lebih dewasa, dan menyimpan sesuatu yang belum pernah sempat ia katakan.
Di antara rahasia masa lalu, kesalahpahaman yang belum selesai, dan perasaan yang ternyata tak pernah benar-benar pergi… apakah cinta mereka benar-benar sudah berakhir?
Atau justru, senja hanya menunggu untuk kembali pulang?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon penulis handal wakakkak, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18 – Barang yang Tidak Masuk Koper
Melbourne menyambut mereka dengan langit rendah dan angin yang bau laut campur aspal basah. Alya turun dari taksi di depan apartemen lantai tiga di Carlton, troli koper Arka nyangkut di trotoar retak. Dia menahan jaket di dada—bukan karena dingin, tapi karena paru-paru terasa sempit. Pintu unit 3B terbuka ke ruangan yang lebih kecil dari foto di listing, karpetnya warna oats yang sudah lelah, jendela menghadap gang tempat kontainer sampah dijajarkan tiap Selasa pagi. Arka meletakkan tas, berdiri di tengah ruang kosong, lalu berkata, “Kita bisa cat tembok itu jadi hijau mint.”
Alya tertawa, tapi tawanya habis di tenggorokan. “Kita belum buka koper, Bang.”
“Aku tahu,” sahutnya. “Aku cuma mau kamu ingat kita pernah milih warna bareng.”
Tidak ada pelaminan, tidak ada pengumuman ke kantor. Mereka hanya dua orang dengan dua visa kerja dan satu cincin di jari Alya yang memantulkan cahaya lampu neon dapur. Email-email sudah terkirim; besok Alya masuk orientasi tim Regional Lead, Arka berjanji datang ke0030 pertemuan pendiri partnership jam sepuluh. Hidup baru seharusnya dimulai dengan spreadsheet. Yang terjadi justru Arka duduk di lantai, mengeluarkan French press dari bubble wrap, dan Alya menghitung berapa panel listrik yang harus ditambah supaya pemanggang roti dan laptop tidak jegleg bersamaan.
Malam pertama habis untuk merakit rak buku dari toko Swedia. Sekrup hilang dua, Arka improvisasi pakai sendok teh. Alya memotret kekonyolan itu diam-diam, lalu mengirim ke grup chat keluarga dengan caption: _Rumah._ Ibunya membalas tiga titik, lalu: _Hati-hati di musim dingin._ Alya menghapus draf balasan _Kita baik-baik saja_ dan menggantinya dengan: _Iya, Ma._
Hari keempat, Alya sudah hafal rute trem 96 dan tahu barista di sudut selalu kasih ekstra biji kopi kalau ditatap sambil bilang “long day, huh?” Di kantor, dia bertemu regional head yang memanggilnya “chief” sejak pertemuan pertama—guyonan yang berasa tes. Timnya solid tapi waspada; proyek yang ditinggal ex-lead tersisa celah di anggaran karbon kuartal ini. Alya minta data mentah, bukan rangkuman. Sepanjang sore, dia mengetik catatan di margin: _Jangan janji efisiensi di minggu satu._
Arka lebih senyap. Partnership-nya bergerak cepat: dua klien baru, satu pivot produk, dan satu investor yang mengirimi voice note jam 22.47 menanyakan “moat” bisnis itu. Di kamar yang berfungsi juga sebagai kantor, Arka mengambil panggilan dengan earphone sambil berdiri—kebiasaan lama supaya vokal terdengar yakin. Alya duduk di tepi tempat tidur, mencoret daftar belanja, sengaja tidak menatap. Bahu Arka mengeras saat kata “probabilitas” muncul. Dia melirik Alya setelah tutup telepon; Alya mengangkat bahu, pura-pura netral. “Aku dapet mie instan rasa ayam,” katanya. Arka mencium keningnya, dan keduanya makan di meja lipat yang goyang.
Minggu kedua, konflik muncul bukan karena siapa mencuci piring, tapi karena waktu. Alya pulang Rabu jam dua pagi setelah insiden vendor logistik yang tiba-tiba ubah rute karbonnya. Apartemen gelap; dia mengira Arka tidur. Ternyata Arka duduk di lantai dengan laptop, diagram Gantt di layar. “Investor mau milestone Oktober,” ujarnya singkat. Alya meletakkan tas, tidak menyalakan lampu utama. “Kita janji nggak biarin kerja jadi orang ketiga.” Arka diam, menggeser kursor. “Ini kerja kita, Al. Beda.”
“Janjimu waktu lamaran beda,” kata Alya pelan. “Kamu bilang nggak akan diam saat ada masalah.”
“Aku nggak diam.”
“Kamu nggak ngomong sama aku.” Sunyi. Trem melintas di luar, lampunya menyapu plafon. Arka menutup laptop. “Aku takut kalau aku cerita betapa berantakannya minggu ini, kamu pikir aku nyesal ikut kamu.”
Alya duduk di karpet, menarik lutut. “Nah, itu masalah. Kita boleh takut bareng, kan?”
Arka menghela, lalu bercerita soal klien yang minta fitur keluar scope dan ancang-ancang mundur kalau tidak dikasih. Alya mendengar, menahan dorongan untuk memberi saran “seharusnya”. Saat Arka selesai, dia hanya menyentuh punggung tangan Arka. “Besok kita masak, jam delapan. Kamu boleh bawa kekacauan itu ke meja, tapi jangan lebih dari dua puluh menit. Sisanya kita nonton video kucing.” Arka tertawa kecil, lelah namun nyata. “Deal.”
Minggu ketiga, langit makin kelabu, suhu turun. Alya pulang membawa tanaman lidah mertua dalam pot bekas cat. “Biar kita punya sesuatu yang tumbuh,” ujarnya. Arka menaruhnya di ambang jendela, lalu memperlihatkan paperbag berisi croissant dan dua tiket konser jazz gratis dari barista langganan Alya. “Katanya dia penggemarmu,” goda Arka. Mereka pergi Jumat malam; di ruangan remang, Alya menyandarkan kepala ke bahu Arka, berpikir: komitmen itu ternyata bunyi sendok beradu piring kotor, pesan “meeting molor” yang dibalas “bawa roti ya”, dan menahan diri untuk tidak mengoreksi cara orang yang kamu cintai memegang pisau.
Hari ke-22, telepon dari Singapura: ibu Arka jatuh di dapur, bukan serius tapi cukup untuk rontgen. Video call malam itu penuh detail cairan infus dan “nggak usah pulang, mahal”. Alya memotong: “Kami pulang akhir tahun, Bu. Tapi malam ini, cerita obatnya apa.” Ibunya menurut, Arka tersenyum pertama kali dalam dua hari. Setelah telepon ditutup, Alya bertanya apakah dia mau ganti tiket pulang jadi lebih awal. “Nggak,” jawab Arka. “Tapi makasih udah nawarin.” Diam-diam Alya menukar poin kartu kreditnya—bukan untuk tiket, melainkan kursi yang lebih lega jika mereka pulang nanti.
Bab 19 ditutup Sabtu subuh, Alya terbangun karena Arka tidak ada di kasur. Dia menemukannya di meja, mengetik rencana mitigasi risiko. Alya menyodorkan mug teh. Arka membaca chat investor, lalu menutup layar. “Takut?” tanya Alya. Arka menarik napas, mengangguk. “Kamu?”
“Sedikit.”
“Masih milih aku?”
“Masih milih kita.”
Izinnnnnn
Mas sssss tolong di dukung yaaa pemulaaaa iziiinnn
ahh pria solo itu lagii🤣🤣