Su Wanqing selalu hidup sebagai orang asing di rumahnya sendiri. Namun, di tengah hujan deras yang mengguyur sore itu, ia dikejutkan oleh satu kenyataan pahit—tanpa sepengetahuannya, keluarganya telah menjodohkannya dengan seorang pria yang paling ditakuti di seluruh negeri, Jenderal Lu Jingyuan.
Dikenal sebagai pahlawan revolusi sekaligus monster di medan perang, Lu Jingyuan adalah sosok dingin yang namanya mampu membuat musuh gemetar. Di balik reputasinya yang kejam, tersembunyi luka masa lalu dan trauma perang yang mengubahnya menjadi pria yang sulit didekati dan tak pernah mengenal kebahagiaan.
Terjebak dalam pernikahan yang tidak pernah ia pilih, Su Wanqing hanya bisa pasrah menghadapi takdirnya. Namun, ketika dua jiwa yang sama-sama terluka dipersatukan oleh keadaan, akankah mereka saling menyembuhkan... atau justru semakin menghancurkan satu sama lain?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syfaanca, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17 - Ditinggal Suami
Wanqing masih sibuk menyajikan beberapa makanan hangat di atas meja ketika ajudan Han datang menjemputnya. "Siapa pria itu?" Tanya Ibu. Wanqing tersenyum, "Dia ajudan Han yang ditugaskan oleh Jenderal Lu Jingyuan untuk menemani Aku belajar banyak hal dan berkeliling Bu."
Ibu Mei mengangguk. "Ayo makan bersama saja, sepertinya Jingyuan dan suamiku akan makan bersama di kantor." Ajudan Han masuk setelah dipersilahkan masuk oleh Ibu Mei dan mengangguk, "Betul, tadi Saya sempat melihat Tuan Lu dan Jenderal Lu sedang berbincang sembari makan di kantor."
Ibu Mei tersenyum dan mempersilahkan Ajudan Han untuk duduk. Sup ayam herbal dan daging babi kecap itu sangat lezat. Berulangkali Ajudan Han memuji masakan Ibu Mei dengan mulut manisnya.
"Ah pria ini bermulut sangat manis dan pintar menilai."
Setelah sarapan itu, Wanqing diminta Ibu Mei menuju ruang jahit yang berada di halaman belakang kediaman dinas itu. "Ajudan Han, nanti Aku akan pergi sendiri ke gedung perawatan untuk belajar beberapa ilmu medis dari ahlinya langsung, temui aku di sana saja ya."
Ajudan Han mengangguk dan pamit. Wanqing yang masih membereskan bekas makan mereka mendengar Ibu Mei memanggil dirinya lagi. "Iya Bu.."
Wanqing mendapati Ibu Mei yang tengah sibuk mengeluarkan beberapa kain indah yang sangat banyak jumlahnya. "Ini kain-kain siapa Bu?"
Ibu Mei tersenyum senang, ia lalu memberikan beberapa catatan dan menunjukkan kain mana yang merupakan milik catatan mana. Wanqing dengan fokus memisahkan kain-kain itu dan menatap bingung Ibu Mei. "Ibu.."
"Ini semua adalah pesanan dari para istri pejabat. Butikmu sudah resmi dibuka bahkan ketika Kau pulang dari pesta beberapa hari lalu."
Wanqing terkejut. "Bagaimana bisa Bu?"
Ibu Mei menceritakan bagaimana dirinya terus memamerkan foto couple Wanqing dan Jenderal Lu Jingyuan untuk promosi pakaian yang akan dijahitkan oleh Wanqing. Ibu Mei juga bilang dia hanya mempromosikan dan tidak tahu harga yang pantas berapa, yang jelas pasti tidak murah karena istri Jenderal sendiri lah yang menjahitkannya, namun para istri pejabat tak panjang berpikir dan langsung menyetujuinya.
Wanqing yang mendengar itu semua merasa sangat bahagia dan tidak menyangka betapa baiknya Ibu Mei membantu dirinya bahkan ketika ia tidak meminta itu. Ibu Mei berkata, "Kerjakanlah perlahan saja, mereka semua sudah tau berapa lamanya baju yang harus dijahit, apalagi semuanya mengantri. Nanti beberapa hari kedepan Ibu akan kembali melihat apakah ada hasil jahitan yang bisa Ibu bawa, sekaligus memastikan kondisi anak Ibu." Ujarnya sambil mencubit kedua pipi Wanqing gemas.
"Terima kasih Ibu.."
Tak terasa perpisahan pun akhirnya harus Wanqing rasakan lagi, Ibu Mei kembali ke kediaman siang itu tanpa diantar oleh Jenderal Lu Jingyuan yang masih saja terus meeting dari pagi tadi. Wanqing yang memang memiliki jadwal untuk pergi belajar medis ke gedung perawatan akhirnya berangkat juga.
Dua orang dokter yang siaga di bangsal itu menyapa Wanqing dengan hangat. Dokter Wen dan Dokter Chen, keduanya adalah dokter militer yang bertugas untuk membantu dan turun dalam peperangan jika diperlukan untuk merawat dan mengawasi para prajurit.
"Ada perlu apa Nyonya Muda datang menemui kami berdua?"
Wanqing segera mengeluarkan beberapa buku medisnya yang ia temui dari perpustakaan. "Apakah Dokter sibuk? Ada beberapa hal yang ingin Saya tanyakan dan Saya praktikan."
Kedua dokter itu menggeleng. "Baiklah Nyonya, Ayo ikut Saya." Dokter Chen membawa Wanqing masuk ke ruangan dokter sementara Dokter Wen masih harus mengurus beberapa dokumen pasien untuk laporan rutin setiap sore.
Wanqing mulai bertanya dan belajar banyak sampai ia tidak sadar sudah berapa lama berada di ruangan itu bersama Dokter Chen. "Nah, Ayo Nyonya ikut Saya studi kasus beberapa pasien yang ada dan metode pengobatannya."
Wanqing mengangguk setuju dan mengekori Dokter Chen. Di depan ruangan dokter, Ajudan Han ternyata sedari tadi sudah berdiri berjaga. "Ajudan Han?"
Pria itu memberikan hormat dan tersenyum, "Tadi Wan'er bilang temui di sini, ketika Aku sampai ternyata Kau sudah mulai belajar, jadi ayo lanjutkan saja."
Dokter Chen memandang Ajudan Han bingung. "Kalian sedekat itu ya?"
Wanqing tertawa kecil, "Ajudan Han memang ditugaskan menjagaku di sini mulai dari hari pertama, jadi agar tidak canggung, Aku memintanya sendiri untuk memanggilku Wanqing saja."
Dokter Chen mengangguk tanda mengerti. Mereka pun mulai pembelajaran sesi studi kasus. Hebatnya, Wanqing beberapa kali benar menebak metode pengobatan yang diberikan, dan bahkan menyarankan metode pengobatan lainnya yang jauh lebih efisien dan belum pernah didengar oleh Dokter Chen.
Dokter Wen yang juga sedari tadi mengekori mereka turut menimpali betapa pintar dan penuh perhitungannya dirinya. Tak terasa, hari sudah malam, Wanqing memutuskan untuk pamit dan tidak mengganggu lagi pekerjaan kedua dokter itu. Ia juga bilang akan datang beberapa hari kedepan untuk belajar banyak dan praktik lebih dalam lagi.
Sambil menunggu Jenderal Lu Jingyuan pulang, Wanqing malam itu masak banyak sekali, ia juga sudah memasang beberapa dupa wewangian di sekitar ruangan dari halaman sampai kamar. Ia juga belajar beberapa ilmu medis tradisional mengenai kecemasan dan membuatkan suaminya itu teh lavender untuk mempermudah dirinya tidur di malam hari.
Wanqing menatapi gerbang yang tak kunjung terbuka, jam di dinding juga sudah menunjukkan pukul 10 malam. Karena khawatir kondisi Suaminya, Wanqing pergi mengantarkan beberapa makanan termasuk makanan untuk para ajudan dan teh yang masih belum diseduh, ia juga membawakan selimut dan pakaian ganti untuk suaminya.
Ternyata Wanqing benar, malam itu Jenderal Lu Jingyuan tidak ada di kantor, ajudan Han yang memang tinggal untuk menjaga Wanqing bilang bahwa Jenderal harus pergi memantau kondisi pos pengaman di bagian utara namun belum kembali juga. Wanqing mengangguk tanda mengerti dan menitipkan barang-barang termasuk instruksi merebus teh pada ajudan Han dan menitipkannya untuk melakukan itu semua jika nanti Jenderal pulang ke kantor alih-alih ke rumah.
Wanqing berjalan pulang dengan perasaan khawatir. Ia tahu ini bukan main-main. Ia tahu bagaimanapun juga, situasi kali ini sedang memanas dan belum kunjung selesai. Itu lah kenapa beberapa hari belakangan suaminya sibuk dan terus mengurus beberapa hal sampai abai pulang. Namun tetap saja, Wanqing sangat mengkhawatirkan kondisi suaminya itu. Bagaimana pun juga, Jingyuan tidak pernah memperlakukan Wanqing dengan buruk. Ia bahkan sangat bersyukur bisa ada di sini daripada di dalam rumahnya yang penuh luka itu.
Dalam bekapan selimut malam itu, Wanqing berdoa untuk mendoakan keselamatan suaminya, kesembuhan ibunya, dan kebaikan pada keluarganya. "Dimana pun Jenderal berada, tetaplah sehat dan jauh dari musibah."
...****************...
Sementara itu di pos perbatasan,
"JENDERAL!"
"Jenderal.."
Pria itu berdiri dengan sigap dan berlari keluar dari posnya. "Ada apa-"
Tubuh dua orang prajurit yang terluka parah dibawa masuk ke dalam pos. "Cepat, Cepat obati, Laporkan!"
"Ada serangan--"
*BERSAMBUNG*
Waduh, kepisah tanpa pamit nih :(
Yuk berikan dukungan dan semangat untuk Author, terima kasih!!