Masa remaja Andini, seorang gadis SMA yang ceria, seharusnya dihabiskan dengan mengerjakan PR, tertawa bersama teman-teman, dan menikmati masa muda yang bebas. Namun, takdir berkata lain. Sebuah perjodohan mendadak menyeretnya ke dalam ikatan pernikahan yang tidak pernah ia bayangkan, dengan pria yang berada di dunia yang sangat jauh berbeda dari dunianya.
Charles, seorang CEO muda yang dikenal dengan reputasi "es berjalan". Baginya, hidup adalah tentang keuntungan, strategi, dan kesempurnaan. Ia tidak pernah menginginkan pernikahan ini baginya, Andini hanyalah tanggung jawab yang harus ia jaga demi memenuhi wasiat sang kakek.
Di sekolah, Andini adalah siswi biasa yang berusaha menjalani hari dengan tenang. Namun di balik pintu apartemen mewah, ia adalah istri dari pria yang paling disegani sekaligus ditakuti di dunia bisnis. Pernikahan ini harus dirahasiakan rapat-rapat; satu kesalahan kecil bisa menghancurkan reputasi Charles dan masa depan sekolah Andini...?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Selenium Alchemy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 17
Pagi setelah panggilan telepon dari kepala sekolah itu terasa sangat berbeda. Tidak ada lagi suara alarm yang memaksa aku untuk segera bersiap mengenakan seragam putih abu-abu. Tidak ada lagi kepanikan mencari kaos kaki atau mengejar bus sekolah. Hanya ada hening yang luas di apartemen Charles, namun kali ini, hening itu tidak lagi terasa mencekik.
Aku duduk di dekat jendela besar yang menghadap langsung ke arah jantung Jakarta. Di pangkuanku, buku catatan pemberian Bapak Sudarman terbuka pada halaman yang baru. Di sana, aku mulai menuliskan bait-bait kalimat tentang rasa kehilangan dan harapan yang baru saja kutemukan.
"Masih terlalu pagi untuk melamun, Andini."
Suara Charles memecah lamunanku. Ia berjalan mendekat dengan pakaian santai—sesuatu yang sangat jarang kulihat. Ia membawa nampan berisi dua cangkir cokelat panas dan beberapa keping biskuit gandum.
"Charles, kau tidak ke kantor?" tanyaku heran.
"Hari ini aku memutuskan untuk bekerja dari rumah," jawabnya sambil meletakkan nampan di meja kecil di depanku. Ia duduk di kursi seberang, menatapku dengan sorot mata yang jauh lebih tenang dari kemarin. "Aku sudah berjanji padamu, kita akan membangun dunia baru di sini. Dan duniamu yang baru dimulai dengan ini."
Ia menyodorkan sebuah tablet tipis. Di layarnya, sudah terbuka portal pembelajaran daring kelas dunia dan jadwal pertemuan dengan beberapa guru privat terbaik yang akan datang ke apartemen mulai besok.
"Aku tidak ingin kau merasa terasing," lanjut Charles. "Guru-guru ini sudah kupastikan memiliki integritas tinggi. Mereka tidak akan bertanya tentang berita di luar sana. Mereka di sini hanya untuk membantumu mengejar mimpi menjadi penulis dan menyelesaikan pendidikanmu."
Aku menatap daftar jadwal itu dengan perasaan haru yang membuncah. "Kau benar-benar memikirkan segalanya, ya?"
Charles tersenyum tipis—senyuman yang kini terasa sangat tulus. "Aku hanya memastikan bahwa 'investasiku' tidak terhambat hanya karena kebisingan dunia luar."
Aku tertawa kecil mendengar kata "investasi" yang kembali ia gunakan. Namun sekarang aku tahu, itu adalah caranya menyembunyikan rasa peduli yang begitu besar. "Terima kasih, Charles. Atas segalanya."
"Jangan berterima kasih," ucapnya pelan. Ia meraih tanganku dan menggenggamnya erat. "Malam ini, Kakek mengundang kita kembali. Tapi kali ini bukan untuk penghakiman. Beliau ingin kita merayakan keberanianmu menghadapi Vivian. Beliau melihat potensi besar dalam dirimu, Andini. Bukan hanya sebagai istri Charles Utama, tapi sebagai seseorang yang memiliki harga diri yang kuat."
Aku mengangguk. Ketakutanku terhadap Kakek Utama perlahan luruh, digantikan oleh rasa hormat. Ternyata, kejujuran yang diajarkan Ibu Narsiah benar-benar menjadi kunci yang membuka pintu hati orang-orang di sekitarku.
Sore itu, aku tidak lagi merasa seperti siswi yang terusir. Aku merasa seperti seorang wanita yang sedang dipersiapkan untuk sesuatu yang lebih besar. Aku mulai belajar, bukan karena kewajiban sekolah, tapi karena keinginan untuk membuktikan bahwa aku pantas berdiri di samping pria hebat seperti Charles.
Di bawah langit Jakarta yang perlahan berubah menjadi jingga, aku menyadari bahwa kehilangan duniaku yang lama hanyalah cara Tuhan untuk memberiku dunia yang lebih luas. Di samping Charles, aku tidak lagi bersembunyi di balik masker atau topi. Aku belajar untuk menghadapi dunia dengan kepala tegak, karena aku tahu, sekeras apa pun angin di luar sana, aku punya tempat yang paling aman untuk pulang.
Masa remajaku mungkin telah berubah arah, namun tujuanku tetap sama. Dan kali ini, perjalananku terasa jauh lebih bermakna. Kami bukan lagi dua orang asing yang terikat kontrak; kami adalah dua jiwa yang sedang belajar menyembuhkan luka bersama di bawah cahaya jendela yang sama.
Mohon maaf baru bisa update soalnya author lagi sibuk di dunia nyata.. 😂😂😂