Lilyana Cooper, ialah seorang dokter bedah jenius dengan tingkat keberhasilannya dalam mengobati pasien 99% membuatnya diagung-agungkan sebagai dewi penyembuh oleh orang-orang.
Akan tetapi dalam 1% itu ialah hasil dari kegagalannya, entah kutukan atau apa tetapi ia selalu gagal mengobati orang yang ia sayang, termasuk suaminya sendiri.
Ditengah keterpurukan dan kehilangan orang yang ia mata cintaku, setelah ia gagal menyelamatkannya, tiba-tiba dia terbunuh saat sudah menyelamatkan seseorang ditangan seorang anak kecil, membuatnya langsung mati di tempat berdampingan dengan jasad suaminya.
Bukannya menyusul suaminya dan mati tetapi ia malah terlempar ke zaman kuno dimana semua penduduknya yaitu ras beasthuman, dan ia terlahir kembali sebagai salah satu penduduk disana, sebagai manusia setengah binatang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lorong Smartphone, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Adaptasi
...----------------...
Baru semenit ia duduk di gua dalam keheningan, beberapa kali ia membolak-balikkan tubuh untuk menghilangkan bosan akan tetapi tidak kunjung hilang, Yuna merasa jenuh di dunia baru, tempat ia harus adaptasi kembali, hidup sederhana tanpa internet, handphone, teknologi dan orang-orang yang ia kenal di dalam hidupnya.
Ia terdiam meringis bertanya-tanya apakah ayah dan ibunya sedih menangisi kehilangannya membuat hatinya terhenyut, setiap kali ia ingat rasa sakit dikhianati membuatnya bimbang melanjutkan tujuannya untuk kembali atau tidak.
"Ibu...Ayah.... Bagaimana kabar kalian?"
Saat melamun memikirkan jalan keluar bagaimana cara ia kembali ke dunia aslinya, ia tiba-tiba mendengar suara langkah kaki mendekat memasuki gua, melihat Ashen pulang setelah hari akan malam, menghilang pergi ke hutan dan kembali lagi setelah ia menahan lapar selama beberapa jam.
"Kau dari mana saja? Kupikir kau tidak akan kembali lagi."
Ashen hanya tersenyum mulai membuka sebuah tumpukan barang yang ia bawa, membukanya seketika begitu banyak buah-buahan berbagai macam keluar, dimulai dari beri-berian, segala macam buah juga daging mentah yang diikat setelah dibersihkan. "Apakah benar? Aku sudah mencobanya terlebih dahulu, jangan khawatir, kupikir akan baik-baik saja untukmu."
Yuna berbinar melihat aneka buah, dari mulai blackcurrant, rasberi, apel, pisang bahkan buah-buahan berwarna hijau dan bulat menyerupai kiwi membuatnya ragu-ragu memakannya dengan lahap akibat lapar yang terus menyiksanya.
Saat mendengar ucapannya seketika hatinya berdenyut sakit membuatnya menatapnya diam, memerhatikan ada bercak kemarahan di badan Ashen, sadar pasti ia mencoba semua tumbuhan yang ada sehingga ia mengalami alergi ringan dan membawanya setelah melihat hasil pada tubuhnya, hanya untuk memastikan agar ia baik-baik saja.
Leopard itu hanya terdiam menyadari diperhatikan, ia memiringkan kepala menatapnya cemas. "Apakah benar? Atau ada sesuatu yang tidak cocok?"
Mata Yuna seketika berkaca-kaca mengingat ucapannya, sadar ia egois membuatnya bekerja keras memanfaatkan hatinya demi keinginannya, ia hanya menunduk dengan terbuka mulut tanpa henti mengunyah.
"Baik,... bagaimana dengan kau? Buah ini masih banyak, kau silahkan makan juga "
Ashen menggeleng melihat betinanya suka buah-buahannya yang ia berikan membuatnya enggan mencicipinya karena merasa itu berharga dan hanya untuknya, ia memilih mengambil daging yang sudah dibersihkan itu, membuka ikatannya menggigit daging mentah itu langsung.
"Aku akan makan ini, ....... Kau mau? Sudah aku bersihkan sesuai kemauanmu." tawarnya dengan santai memberikan potongan daging mentah yang terlihat masih memiliki bercak darah.
Yuna merinding ngeri ternyata selama ini Ashen langsung memakan daging mentah, seketika nafsu makannya turun mengerti ia tidak punya tradisi memasak mematangkan daging, apalagi untuk manusia hewan sepertinya, ia menarik daging yang dipegang meletakkannya kembali ke bawah.
Seketika Ashen terdiam bingung bertanya-tanya apakah betinanya serakah ingin memakan semuanya. "Baiklah, kau pasti lapar."
Membuat Yuna memerah sadar dia dianggap rakus, ia perlahan berdiri mengambil dua bongkahan batu yang ada di lantai gua, menyusun kayu dibawahnya dengan sedemikian rupa sehingga menghasilkan tumpukan kayu, ia menggesekan batu ke dahan kayu terus-menerus.
"Kau harus memasaknya dulu bodoh! Mereka banyak bakteri jahat yang belum mati, apalagi rasanya amis, kau selama ini memakannya ternyata." Omelan mulai keluar sembari terus berusaha menghasilkan api, namun nihil api tidak kunjung keluar membuatnya berdecak kesal beberapa kali.
"Mengapa tidak hidup apinya sih! Di film langsung menyala, jika tidak berarti selama ini ternyata hanya marketing?"
Ashen sang leopard tersebut melihat kekesalannya dengan heran, tiba-tiba ia sadar apa yang diinginkannya, pastinya sebuah hawa panas yang selalu ditakuti orang-orang, ia mulai menarik batu mengikutinya menggesekan ke dahan kayu, seketika api menyembur keluar menghiasi batang-batang kayu dibawahnya.
Yuna yang melihat itu menghentikan kegiatannya dengan lemas, menatapnya takjub sadar ternyata ia semuanya gagal karena ia tidak becus.
"Kau ingin kembang merah panas yang menyala-nyala ini? Kau hebat juga padahal orang-orang ketakutan jika menyentuhnya langsung karena sangat panas hingga membakar kulit."
Seketika Yuna tersadar bertanya-tanya siapa erangan bodoh yang memegang api langsung dengan kulit tanpa perantara benda, membuatnya menggeleng heran, tapi ia memilih tidak berkomentar langsung menusuk daging dengan dahan dan menjemurnya di atas api.
"Ini namanya api, kegunaannya untuk memasak makanan sebagai perantara agar benda panas, seperti membuat daging matang sehingga lebih baik dikonsumsi."
Leopard tersebut hanya diam menatap kagum dengan pengetahuannya, ia hanya mengamati sebelum akhirnya mengikutinya menusuk daging tersebut mulai memanggangnya diatas api.
Beberapa menit berlalu seketika Yuna selesai dengan sesi memasaknya, meletakan daging yang sudah berwarna hitam kecoklatan itu di atas alas daun yang tersedia, melihat gerakannya Ashen mulai mengikutinya, seketika Yuna mulai memotongnya pelan permukaan daging mengunakan ujung dahan, mengigit daging tersebut, seketika ia mengigil karena rasa amis yang menyerang indra perasanya.
Ashen mengikuti mengigit daging itu awalnya melepeh saat ia lidahnya merasakan panas, namun karena penasaran ia meniupnya dan menggigitinya kembali, seketika lidahnya merasakan perasaan berbeda dari daging mentah, dagingnya agak melembut walaupun rasanya sama sedikit berubah lebih tidak amis, tapi entah kenapa lidahnya lebih suka versi mentahnya.
"Tidak buruk."
Namun Lily terdiam hanya mendengus meletakan lemas daging tersebut, berharap setidaknya ada garam sehingga ia bisa menelannya, ia kemudian memilih melanjutkan kembali memakan buah.
"Kau makan saja, aku mau makan ini"
Melihat gerakannya membuat bingung menyadari betinanya pemilih makanan, tidak suka daging mentah ataupun terlihat gosong ini, ia sadar mungkin Yuna hanya tidak suka daging hanya suka buah, Ashen menurut menghabiskan daging yang tersisa itu.
.
.
.
.
.
.
.
.
Beberapa menit berlalu matahari benar-benar terbenam meninggalkan kegelapan sehingga semuanya jadi sunyi hanya dihiasi suara ramai binatang di hutan, tapi sekelilingnya mulai tak terlihat, Yuna berusaha berbaring di sarang yang terbuat dari tanaman merambat yang terlihat jadi alas tidurnya, ia kesulitan menutup mata untuk tertidur karena masih beradaptasi dalam tempat, ditambah ia sendiri terbiasa tidur penuh cahaya lampu karena takut tidur dengan lampu gelap.
"Uhh...gelap, ayah ibu.... Aku takut." Tanpa sadar Yuna bergumam mencoba memeluk dirinya sendiri untuk menghilangkan ketakutan dan rasa dingin yang menyergapnya.
Mendengar itu seketika Ashen bergerak meraba-raba sudut gua, menemukan kain binatang yang selalu ia simpan hanya untuk diperuntukan musim dingin, tapi ia mengambil kain pemberian sang ibu, mulai menyelimuti tubuh Yuna pelan-pelan berharap tidak mengganggu tidurnya.
Ia bangkit mulai mengambil beberapa genggam batu, menggesekan satu-persatu, meletakkan di setiap sudut gua hingga seketika gua yang tadinya gelap gulita menjadi terang dari cahaya batu yang memancar.
Yuna yang sadar dengan cahaya itu ragu-ragu membuka mata seketika ia melirik kagum melihat batu-batu berwarna, mulai dari biru, kuning hingga hijau, begitu terang menerangi sekeliling gua.
"Apa ini?" tanyanya sembari duduk seketika ia sadar sekarang ada kulit hewan yang berada di atas tubuhnya.
Ashen menengok sadar ia terbangun ia mulai mendekatinya, dan duduk di dekatnya memberikan salah satu batu tersebut.
"Ini batu cahaya peri, batu ajaib yang bisa mengeluarkan cahaya di malam hari setelah digesekan satu sama lain, tidak ada di desamu?" jawab Ashen heran karena, bertanya-tanya seburuk apa kehidupannya sehingga tidak ada batu seperti ini.
Yuna menggeleng hanya menatap kagum batu tersebut, sembari tersenyum membayangkan mungkin jika batu ajaib ini ada di dunia modern pasti akan mengguncang penemuan dan harganya menjadi fantastis.
Macam tutul tersebut memerhatikan kekagumannya hanya tersenyum kecil, mulai berbaring kembali sembari bertumpu memandangnya.
Melihat itu, ia sadar dari tadi Ashen berbaring di lantai tanpa alas sementara ia di tumpukan semak-semak belukar ditambah kain hewan, sementara ia kedinginan tanpa memakai apapun setelah semuanya diberikan padanya.
"Kau,..... Kau berbaring di sini saja, ini kan luas, cukup untukmu."
"Benarkah?" Tidak percaya setelah sejak awal menjauhinya karena takut menyakitinya tapi sekarang ia diberikan lampu hijau, diijinkan mendekat.
Yuna mengangguk tersenyum kecil membenarkan ucapannya, membuat Ashen tidak berpikir dua kali untuk melewatkan kesempatan ini, ia langsung naik ke dalam masuk ke kulit binatang mengikutinya, memeluknya dari belakang.
Merasakan itu seketika Yuna tersipu malu, tadinya ia berpikir ia akan tertidur hanya berdekatan dengan jarak cukup jauh, tapi ia tidak menyangka akan dipeluk juga.
"Kau---
Tapi sebelum ia menyelesaikan kata-katanya ia malah mendengar suara damai, hembusan nafas di belakang lehernya membuat seketika ia sadar Ashen baru saja sudah tertidur nyenyak.
"Menyebalkan." Yuna mengomel tapi yang keluar dari mulutnya bukan penolakan hanya perkataan lemah, pipinya tersipu merasakan tubuh keduanya bersentuhan, ia akhirnya kembali berbaring berusaha meyakinkan diri bahwa ini hanya terjadi kali ini saja.
"Aku yang berbaik hati kali ini, awas saja."
...----------------...