Su Wanqing selalu hidup sebagai orang asing di rumahnya sendiri. Namun, di tengah hujan deras yang mengguyur sore itu, ia dikejutkan oleh satu kenyataan pahit—tanpa sepengetahuannya, keluarganya telah menjodohkannya dengan seorang pria yang paling ditakuti di seluruh negeri, Jenderal Lu Jingyuan.
Dikenal sebagai pahlawan revolusi sekaligus monster di medan perang, Lu Jingyuan adalah sosok dingin yang namanya mampu membuat musuh gemetar. Di balik reputasinya yang kejam, tersembunyi luka masa lalu dan trauma perang yang mengubahnya menjadi pria yang sulit didekati dan tak pernah mengenal kebahagiaan.
Terjebak dalam pernikahan yang tidak pernah ia pilih, Su Wanqing hanya bisa pasrah menghadapi takdirnya. Namun, ketika dua jiwa yang sama-sama terluka dipersatukan oleh keadaan, akankah mereka saling menyembuhkan... atau justru semakin menghancurkan satu sama lain?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syfaanca, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16 - Dupa Penenang
"Ibumu, Kami tau Dia ada dimana."
Wanqing yang sedari tadi berdiri perlahan seakan ingin ambruk dan jatuh dari posisinya, dengan sigap Jingyuan berlari mendekatinya dan memapah dirinya yang lemah untuk segera duduk. Jingyuan menatap tajam Ibu Mei dan Tuan Lu. Ia berjalan ke dapur dan menuangkan secangkir teh hangat lalu menyodorkannya pada Wanqing.
"Terima kasih." Ujar Wanqing.
"Ada apa?!" Suara tegas Jingyuan seolah sangat mengintimidasi di ruangan yang sempit itu. Jenderal Tua Lu menatap Wanqing dan Jingyuan bergantian, tersirat sebuah senyuman penuh arti di wajahnya.
"Selama ini, Wanqing telah dipisahkan dari Ibu kandungnya tanpa alasan. Kami baru mengetahui dimana keberadaannya tadi pagi. Salah satu ajudan ayahmu, Cufan. Cufan menemukan Ibu Wanqing terlihat tengah berbelanja beberapa kebutuhan rumah tangga dan obat di pasar tradisional yang letaknya sangat jauh dari Guangzhou maupun Fuzhou. Letaknya ada di Kota ujung negeri, Kota Yinchuan."
Wanqing berlari mengambil salah satu buku yang sedang ia pelajari dari perpustakaan. "Ibu, Kota Yinchuan jauh sekali jaraknya dari Guangzhou maupun Fuzhou ini, bagaimana mungkin Ibuku ada di sana? Kenapa harus di sana? Bagaimana kondisinya?" Tanyanya terbata-bata.
Lengan kekar pria di sampingnya terus berada di punggung Wanqing yang sedikit bergetar. "Kami tidak tahu pastinya kenapa dan ada apa Wanqing. Sebaiknya, dan memang seharusnya, Kau mencari tahu sendiri masalahnya."
Jingyuan mengepalkan tangannya kesal, "Kenapa tidak ada yang bisa dilakukan?! Kirimkan beberapa ajudanku saja untuk menyelidiki."
Wanqing seakan terkejut menoleh dan spontan meremas paha Jingyuan di sampingnya. "Ibu benar, sebaiknya Aku yang menyelidiki kondisi Ibuku. Kau tau sendiri bagaimana luasnya kamar dagang ayahku, bagaimana juga intelejen keluarga Su pasti akan mengacaukan segalanya. Hal ini.. Memang tidak bisa dipaksakan dan diburu-buru."
Jingyuan seolah menyadari apa yang sebenarnya terjadi akhirnya terdiam tanpa reaksi. Tuan Lu menggeleng pelan, "Su Gongqi ini bukan orang yang sederhana, bahkan di hari pernikahan kalian, mereka mengantarkan anaknya hanya sampai pintu dan pergi begitu saja. Bisa jadi, bagi dirinya, Kita tak lebih dari seekor semut mainan."
Wanqing tersenyum miring, "Ayah, Ibu, sebaiknya Kita makan dulu, Wanqing rindu juga masak bersama Ibu. Ibu Mei menginap kan?"
Ibu Mei mengangguk. "Baiklah." Wanqing beranjak dari tempat duduknya masih sedikit oleng. Jingyuan yang melihat itu spontan bangkit dan seolah dengan sigap menuntun Wanqing ke dapur. "Perihal Ibuku, Aku sangat berterima kasih, terutama pada Jenderal Tua Lu dan Ibu Mei." Wanqing membungkukkan badannya dalam sekali sampai se lututnya di hadapan Ibu Mei dan Tuan Lu.
"Sudah Anakku, sudah, Kami dengan senang hati pun akan membantu." Ujar Ibu Mei sembari dengan cepat membantu Wanqing berdiri tegak lagi.
"Setelah dinas ini selesai, Aku bawa Kau menemui Ibumu." Ujar Jingyuan singkat lalu berjalan pergi keluar kediaman dinas itu.
Wanqing yang tak kuasa mendengar dan mendapatkan banyak bantuan dari keluarga itu hanya bisa terdiam dengan air matanya yang deras mengalir tanpa henti. Rasa syukur terus ia panjatkan.
"Sudah-sudah, Ayo, banyak agenda yang bisa Kita lakukan kan?"
...****************...
Malam itu Wanqing tidak bisa tidur. Ia terus berbulak-balik ke kanan dan ke kiri. Tubuh besar Jenderal Jingyuan pun sudah terlelap di sampingnya. Setelah sekian lama di kediaman dinas itu, ini adalah pertama kalinya Wanqing tidur berdua dengan suaminya.
Wanqing masih terus gelisah dan kesulitan tidur ketika ia mendengar rintihan perlahan dari samping kasurnya. Sigap, Wanqing bangkit dan mencoba menunggu reaksi lebih dari sosok suaminya itu.
"AWAS!! AWAS!!!"
Dugaan Wanqing benar, mimpi buruk akibat trauma yang Jenderal alami itu masih selalu kambuh setiap malam. Wanqing bergegas bangkit dan menyalakan dupa penenang yang ia beli di pasar beberapa saat sebelum pergi mengikuti suaminya ke tempat dinas ini. Wanqing mulai menyium aroma dupa yang semerbak perlahan mengisi seisi ruangan, aromanya sangat menenangkan dan damai. Wanqing juga pernah baca bahwa bunga Lavender membantu tidur lebih berkualitas, itulah kenapa ia memilih dupa penenang dengan kandungan Lavender.
Wanqing melihat kondisi Jingyuan yang masih tertidur dengan wajah dan kening yang mengerut tegang. Setidaknya Jingyuan tak lagi mengeluarkan suara atau amukan dalam tidurnya seperti biasanya. Wanqing kembali ke atas kasur itu. Ia mendekatkan dirinya yang mungil pada pria itu dan mencoba sedikit memberikan elusan santai pada punggung tangannya.
Sambil berbisik, Wanqing berkata, "Tenanglah.." Ia perlahan-lahan menyanyikan lullaby yang lembut dan tenang sembari terus memijat punggung tangan Jingyuan perlahan. Usaha itu terus ia lakukan sampai Jingyuan terlelap dengan tenang, tanpa ekspresi ketakutan dan kegelisahan yang terus ia alami sebelumnya.
Wanqing tak sadari dirinya terlelap juga dalam kondisi setengah memeluk tubuh besar itu. Tangan mungilnya ia lingkarkan pada leher Jingyuan sementara tubuhnya tertidur pulas di samping lengan kekar Jingyuan.
Pagi hari tiba tanpa permisi, Wanqing yang masih terlelap tidak sadar ketika pria itu yang telah menjadi suaminya bangun. Tanpa sadar, Pria itu yang masih terkejut dengan posisi tidur mereka mencoba mengingat apa yang terjadi malam tadi.
Mimpi buruknya dan sayup-sayup suara lullaby menenangkan itu memasuki ingatannya. Pria itu juga mendapati dupa penenang yang masih terus terbakar nyala. Ia menatap wajah polos istrinya dari samping, ada senyum penuh arti dari wajah tegang itu.
Wanqing terbangun hampir siang hari, ia tidak menemukan suaminya, maupun bekas dupa yang ia bakar semalam. Bangkit dari kasurnya, ia pergi menuju dapur.
"Ibu masak apa?" Wanqing masih mengucek mata kanannya ketika melihat asap dan aroma enak menyerbu ke arahnya begitu ia membuka pintu rumah dinasnya.
"Bahan makanan di sini sangat terbatas, jadi Ibu hanya bisa memanfaatkan apa yang ada dan mengundang Cufan serta Ajudan Han untuk makan bersama."
Wanqing mengangguk dan mulai membantu Ibu Mei. "Jingyuan pagi tadi bangun dengan sangat berbeda, biasanya rambutnya berantakan, matanya merah menyala dan bibirnya kering sekali. Tapi tadi.. Dia sudah membaik ya?" Tanya Ibu pada Wanqing.
Wanqing menggeleng pelan, ia menceritakan semua kejadian semalam dan dupa serta lullaby yang ia lakukan. Ibu Mei mengangguk, "Syukurlah ada Kamu sebagai istri siaga."
Wanqing tersenyum malu. Mereka masih terus memasak ketika Ibu mengeluarkan perkataannya, "Bai Yueran ada di kamp ini ya?"
Wanqing menoleh pelan dan terpaku, "Kok Ibu bisa tau?"
Ibu Mei menghela napas kasar, "Wanita itu bahkan tidak akan berhenti menggangu Jingyuan sejak dua tahun lalu, saat dimana dia tiba-tiba kembali setelah beraninya meninggalkan Jingyuan dengan seribu luka yang menusuk. Ibu dan Tuan Lu sudah berusaha menjauhkan mereka. Namun, hah... Semuanya jadi semakin susah dikendalikan."
Wanqing mengangguk tanda mengerti, "Ibu tenang saja, harimau kecil sepertinya akan hancur juga di tangan kelinci licik ini." Ujar Wanqing sembari tersenyum lebar.
"Hahaha, anak ini!"
Hati Wanqing perlahan meragu, dapatkah ia memenangkan hati Jenderal jika mantan kekasihnya akhirnya kembali? Baginya, ia harus berusaha dengan penuh tekad. Tidak mungkin dan tidak akan sudi ia kembali ke kediaman Su yang penuh neraka itu.
*BERSAMBUNG*
Seperti biasa, mohon dukungannya pembacakuh!!