NovelToon NovelToon
ISTRI KONTRAK AKTOR TAMPAN

ISTRI KONTRAK AKTOR TAMPAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Pernikahan Kilat / Cerai / Diam-Diam Cinta / Nikah Kontrak / Model
Popularitas:4.6k
Nilai: 5
Nama Author: ARSYILA qirani

Rafael Adinata, adalah aktor terkenal yang terjerat skandal memalukan dengan aktris pendatang baru.

Rafael terpaksa menikah dengan wanita biasa demi menyelamatkan reputasinya. Gita Larasati, seorang editor buku yang hidupnya sederhana. Dengan terpaksa menerima tawaran Rafael pernikahan kontrak dengan sang aktor demi melunasi hutang keluarga.

Sebuah pernikahan dimulai, tanpa cinta hanya sebatas hitam diatas putih.
Mampukah Rafael dan Gita menjalani pernikahan kontrak mereka yang penuh liku-liku? berpisah setelah masa kontrak habis, atau justru saling jatuh cinta?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ARSYILA qirani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16 : Duka Gita

"Sekian dari saya, mari kita sukseskan acara di Surabaya." Arjusena menutup rapat hari ini.

Gita merapikan berkas-berkasnya.

"Gita ke meja saya." kata Arjusena tegas. Gita berjalan mengekor di belakang Arjusena.

Gita berdiri sopan didepan Arjusena sambil menunduk.

"Tambah draft yang saya kirim ke email kamu, untuk presentasi di Surabaya." Arjusena nampak serius memperhatikan laptopnya.

"Baik pak, saya permisi." Arjusena mencegahnya saat Gita akan beranjak keluar.

"Dan jangan lupa, buka blokir nomor saya." Arjusena menyunggingkan senyum miring di akhir.

Gita pergi begitu saja, meninggalkan Arjusena yang masih menatap punggung Gita. Padahal sudah beberapa tahun mereka tak bertemu, tapi ketika ia kembali bertemu Gita. perasaannya pada Gita tidak berubah.

Dulu ia egois, melakukan cara kotor agar Gita menjadi miliknya. Bukan menjadi miliknya Gita malah membencinya. Dan kini Gita malah menikah dengan pria lain.

Gita duduk di kubikelnya. Ia membuka komputer dan memeriksa email yang di maksud Arjusena. Benar saja, ada beberapa tambahan materi untuk presentasi di Surabaya Minggu depan. Ia fokus membaca setiap poin. Sampai matanya tak sengaja bertemu dengan Arjusena.

Arjusena sedang melihat Gita intens, Gita langsung memutuskan kontak lalu kembali fokus pada komputer didepannya.

***

Lantai kantor sudah mulai kosong, sebagian lampu dimatikan menyisakan beberapa titik yang masih di gunakan. Gita memijat pelipisnya, ia merenggangkan tubuhnya.

Matanya terasa berat sejak satu jam terakhir, tapi pekerjaannya harus selesai besok pagi. Ia melihat layar komputer yang mulai nampak buram dimatanya.

"Ngopi dulu deh." Gita beranjak dari duduknya. Menuju pantry di ujung koridor.

Malam itu kantor terasa sunyi, hanya ada bunyi pendingin udara suara ketukan sepatunya sediri.

Sesampainya di Pantry Gita mengambil cangkir lalu memasukkan kopi instan ke dalamnya. Saat air panas mulai mengalir, ia mendengar suara pintu pantry terbuka.

Gita menoleh, Arjusena berdiri disana. Tubuh Gita langsung menegang.

"Belum pulang?" tanya Arjusena. Kemejanya sudah sedikit berantakan, ia menggulung lengan sebatas siku.

Gita hanya mengangguk sebagai jawaban. Arjusena mendekat langkahnya pelan. Bagai sebuah musik horor di telinga Gita. Bulu kuduknya meremang. Ia sedikit mundur ketika Arjusena makin mendekat.

"Sekarang selera kopimu berbeda ya?" Arjusena melirik bekas bungkus kopi di sebelah cangkir yang belum sempat Gita buang.

"Apa pentingnya." suara Gita terdengar ketus. Arjusena tersenyum tipis. Kepala Gita makin menunduk.

"Maaf saya permisi dulu." kata Gita, suaranya sedikit bergetar sekarang jarak mereka semakin dekat.

Arjusena menarik lengan Gita. Sebelum Gita mengangkat cangkirnya. Ia mendorong Gita ke tembok dan mengunci dengan kedua tangannya. Ia bisa mencium parfum perpaduan Jasmine dan lemon milik Gita. Bahkan parfumnya masih sama.

Tubuh Gita gemetar, pelipisnya berkeringat.

"Pak lepaskan ini kantor!" hardik Gita. Tangannya terasa kaku bahkan ia tidak bisa menggerakkan untuk mendorong Arjusena.

"Jadi.... kalau di luar kantor boleh?" sudut bibir Arjusena terangkat. Membuat Gita teringat semua kejadian masa lalu.

"Pak Saya akan...." belum sempat Gita melanjutkan kata-katanya. Mulutnya di bungkam bibir kenyal milik Arjusena. Matanya melebar terkejut. Kini kedua tangan Arjusena turun ke pundak Gita lalu tangan kanannya naik menekan tengkuk Gita.

Bibirnya melumat kasar bibir tipis Gita, tak ada balasan dari Gita, ia menyesap bibir bawah Gita semakin dalam. Gita memukul dada bidang Arjusena. ia kehabisan napas. Namun dekapan erat Arjusena tidak mengendur. Kini tangan Arjusena turun ke pinggang Gita.

Entah kekuatan dari mana. ia berhasil mendorong kuat Arjusena hingga mundur beberapa langkah. Lalu menampar Arjusena keras hingga telapak tangannya terasa panas. Gita mengatur nafasnya, pipinya sudah basah sejak tadi.

Arjusena menjilat bibirnya, ada sedikit rasa asin karena air mata Gita. Ia mengusap bibirnya ada bercak lipstik Gita yang menempel.

"Kamu bajingan!" Gita pergi setelah meneriaki Arjusena.

Gita cepat-cepat memasukkan barang miliknya ke dalam tas. Dengan tangan gemetar dan derai air mata ia mencoba menutup resleting tasnya, yang sempat beberapa kali gagal.

Arjusena mengepalkan tangannya emosi, ia melakukan kesalahan fatal lagi kepada Gita. Hormon laki-lakinya berpacu saat melihat Gita. Ia menonjok tembok dihadapannya. ia hanya menatap Gita pergi dari kejauhan.

Titik hujan membasahi wajah Gita, hidungnya memerah karena menangis dan dingin. Gita melajukan motornya lebih cepat dari biasanya, jalanan mulai lenggang. Ia juga tak membawa jas hujan. Terpaksa harus menerobos hujan.

Gita menekan tombol sandi apartemen dengan tangan gemetar dan basah. Dadanya masih berdegup kencang karena kejadian di pantry beberapa saat tadi.

Pintu terbuka, ia berjalan cepat menuju arah dapur. Namun sial suatu pemandangan yang tak ingin ia liat. Matanya melebar tak percaya. Rachel berada di bawah kungkungan Rafael dengan posisi tiduran di sofa ruang tengah. Gita menutup mulutnya. air matanya kembali menetes, ada sesuatu yang lebih sakit dihatinya.

Rafael dan Rachel menoleh bersamaan ke arah Gita. Rafael menelan ludah dan langsung berdiri dari posisinya. Ia melihat keadaan Gita yang berantakan

Begitu juga Rachel, terduduk dan merapikan roknya yang sedikit tersingkap.

Gita mengigit bibir bawahnya, kakinya terasa kaku.

"Git.... Ini..." suara Rafael tertahan di tenggorokan.

Rachel hanya diam saja.

Gita menutup matanya ingin rasanya ia meluapkan emosi, tangannya mengepal.

"Gita ini tidak...." Gita mengangkat telapak tangannya di depan Rafael. "stop!" hardik Gita.

Gita melirik Rachel yang bersedekap.

"Kamu keluar dari rumah ini, aku mau bicara dengan Rafael." Gita menatap mata Rachel tajam.

"Kamu..." Rachel tak terima. "Pergi!" bentakan Gita cukup membuat Rafael dan Rachel terjingkat.

"Oke, tapi kamu harus tau. Perasaan Rafael padaku tidak akan pernah berubah. Sampai kapanpun." Rachel berkata dengan nada culas. Lalu pergi dari hadapan Gita.

Pintu apartemen tertutup.

"Git...."

"Aku nggak peduli kamu ngapain aja sama Rachel, tapi please jangan di sini. Aku males liatnya." Gita berkata sebelum Rafael bicara.

Rafael menegakkan tubuhnya.

"Ini apartemen aku, mau ngapain juga sama Rachel itu urusanku." jawab Rafael tak mau kalah.

Gita memutar bola matanya.

"Terserah deh, yang penting gak ada aku di rumah." Gita mencoba untuk masa bodoh, bertolak belakang dengan hatinya. Rafael berkacak pinggang lalu meneliti penampilan Gita.

"Kamu kehujanan? Kamu habis nangis?" tanya Rafael bertubi-tubi.

"Di luar cuma rintik doang, aku gak nangis. Aku akting tadi biar natural, liat kamu ciuman sama Rachel." Gita mengambil minum di lemari pendingin.

"Aku gak ciuman!" balas Rafael cepat. Gita hanya mengangkat bahu.

"Cepat ganti baju." kata Rafael.

"Iya," Gita pergi melewati Rafael.

Gita mandi sambil menangis, berulang kali ia menggosok bibirnya. Perasaan jijik menjalan dalam hatinya. Ia benci Arjusena, ia jijik di sentuh pria itu. Gita menangis sesenggukan sambil memeluk kakinya dibawah pancuran shower.

Sedangkan didapur, Rafael sedang membuat jahe hangat untuk Gita minum. Ia sedikit iba ketika melihat perempuan itu pulang dengan keadaan basah dan wajah memerah.

1
Tutik Wahyuni
lanjut
deathnote
lanjut💪
Rabiah Hamid
lanjut
Agatha soul
aku mau dong di tawarin begitu, asal ganteng🤣
🍒⃞⃟🦅 CACASTAR
ya Tuhan situasi mavam apa itu😄
mama Al
lah nyimpan kodok git
T28J
kok gampang banget sih, harusnya ada konflik disini🤔
T28J
jadi gimana ceritanya, lebih bagus kayaknya kalau di jelaskan
T28J
emaknye aje heran 🤣🤣🤣
🍒⃞⃟🦅 CACASTAR
dari tadi nyuruh Gita mulu, ya, heran
arsyila putri
siap kak, terima kasih.🙏🙏
T28J
berapa yang ditransfer tuh?
Ibu Rasyidd
kak, setiap awal kalimat di usahakan huruf kapital kak💪
Vibiappoline
Akal akalan si maya inimah
Agatha soul
scandal di balas scandal, beeuuhhh
mama Al
Git, kamu gimana sih. masa suruh perempuan lain bangunin Rafael.
mama Al
siram aja pake air segayung
Emi Sudiarni
Lanjut kita kak, kren bngat
Nyai Aksara 👩‍🦯
Wih, siapa ya apa pacarnya?
EvhaLynn
curigaan banget ya Gita .
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!