NovelToon NovelToon
Akhirnya Menemukan Mu

Akhirnya Menemukan Mu

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / CEO
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Call Me Nunna_Re

Haikal yang sebelumnya impotent tiba-tiba menjadi pria normal saat bertemu Laura...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Call Me Nunna_Re, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 16

Ratna menutup pintu kamarnya rapat-rapat. Ia memastikan tidak ada suara dari luar sebelum duduk di tepi ranjang. Lampu meja menyala temaram, cukup untuk menerangi wajahnya yang kini serius.

Ia menekan nomor di ponselnya.

“Ya?” Suara di seberang terdengar tenang, berwibawa.

“Nyonya,” ujar Ratna dengan nada hormat. “Kekhawatiran Nyonya itu benar.”

Hening sejenak.

“Apa maksud kamu, Coba Jelaskan dengan singkat dan padat, jangan bertele-tele Ratna,” jawab Amara penasaran.

Ratna menarik napas. “Pembantu baru bernama Laura itu bukan gadis biasa, Nyonya. Hari ini saya melihat sendiri bagaimana Pak Haikal menunjukkan ketergantungan yang jelas padanya.”

“Ketergantungan seperti apa?” tanya Amara, kini terdengar lebih tegang.

“Pak Haikal menolak pelayanan saya secara langsung,” kata Ratna. “Ia menegaskan bahwa semua kebutuhan pribadinya mulai dari kopi, sarapan, pengaturan harian dan sebagai nya tetap harus ditangani Laura. Alasannya hanya satu, karena sudah terbiasa.” jelas Ratna panjang lebar.

“Berani sekali dia memerintah kamu. Yang menggaji kamu kan saya bukan dia.” gumam Amara.

“Itu yang membuat saya yakin, Nyonya,” lanjut Ratna. “Laura bekerja dengan cara halus. Ia tidak terlihat agresif, tidak menonjol. Justru itu yang membuat Pak Haikal nyaman. Seolah-olah hanya dia yang mengerti.”

Nada Amara mengeras. “Bagaimana mungkin Gita putriku bisa tersisih oleh seorang pembantu?”

“Karena Laura tidak menempatkan dirinya sebagai saingan nyonya,” jawab Ratna mantap. “Ia menempatkan dirinya sebagai kebutuhan. Dia sangat pandai membuat pak Haikal sangat ketergantungan padanya, baik dalam hal pelayanan maupun emosional.”

"Emosional?."

"Iya nyonya, saya bisa melihat jika Tuan Haikal begitu bersemangat dan wajahnya tampak cerah ketika berada di dekat Laura. Saya sudah perhatikan itu beberapa hari ini,tapi dari Laura nya sendiri saya tidak melihat adanya pergerakan aneh untuk menarik perhatian tuan Haikal. Saya juga tidak mengerti kenapa tuan Haikal bisa se ketergantungan itu kepadanya, padahal ia tidak tampak mencolok."

Tarikan napas terdengar jelas dari seberang. “Gadis seperti itu berbahaya.”

“Benar, Nyonya. Kenapa tidak di pecat saja nyonya.”

“Kita tidak bisa memecatnya tanpa alasan Ratna,” kata Amara dingin. “Gita akan terlihat kejam. Kita butuh kesalahan, kesalahan sekecil apa pun.”

Ratna mengangguk, matanya menyipit. “Saya akan mengawasinya terus, Nyonya. Saya juga akan membatasi interaksinya dengan Pak Haikal sebisa mungkin.”

“Jangan gegabah Ratna, jangan sampai Haikal merasa curiga,” perintah Amara.

“Biarkan dia merasa aman. Orang seperti itu selalu lengah saat merasa menang.”

“Baik, Nyonya,” jawab Ratna. “Saya mengerti.”

"Pokoknya kamu jangan sampai membiarkan nya berduaan. Setiap mereka berdua kamu harus masuk."

"Baik nyonya, saya paham."

Sambungan terputus.

Ratna menurunkan ponsel perlahan. Senyum tipis muncul di sudut bibirnya, bukan senyum puas, melainkan senyum seseorang yang tahu perannya semakin penting.

Namun ia tidak tahu, pada saat laporan itu disampaikan…

Laura justru sedang melangkah lebih dekat ke pusat perhatian dengan caranya sendiri, tanpa meninggalkan jejak yang mudah disalahkan.

Tiba-tiba saja Ratna teringat akan Laura dan ia pun segera bergegas keluar dari kamarnya menuju ke kamar Laura. Ia ingin memastikan jika malam ini gadis itu berada di kamarnya bukan kelayaban ke kamar majikan. Sesampainya di depan pintu kamar Laura, Ratna mencoba untuk membukanya tetapi sepertinya pintu itu terkunci dari dalam dan itu menandakan bagi Ratna jika Laura sudah tertidur.

"Sepertinya dia sudah tidur, sebaiknya aku juga harus beristirahat untuk menyambut apa yang akan terjadi esok hari." gumam Ratna kemudian kembali ke kamarnya.

Sementara itu...

Haikal masih berdiri di depan jendela kamarnya ketika suara pintu terdengar pelan.

Bukan ketukan.

Bukan sapaan.

Ia menoleh dan seketika tubuhnya menegang.

Laura sudah berada di dalam kamarnya.

“Laura?” suara Haikal tertahan. “Kamu… kamu ngapain di sini?”

Laura menutup pintu perlahan, nyaris tanpa suara. Pakaiannya sederhana, namun terlalu tipis untuk ukuran seorang pembantu yang seharusnya sudah beristirahat. Cara kain itu jatuh di tubuhnya membuat Haikal refleks memalingkan wajah bukan karena tidak ingin melihat, tapi karena terlalu sadar akan reaksinya sendiri.

“Bapak kelihatan belum bisa tidur,” kata Laura tenang.

“Ini kamar saya,” ujar Haikal cepat. “Bagaimana kalau Ratna melihatmu?”

Laura tersenyum kecil. “Bu Ratna tidak akan tahu. Bu Gita bukanya baru akan pulang pekan depan pak?” ucap Laura menggoda.

Haikal menatapnya tajam. “Jangan main-main Laura.”

“Saya tidak pernah main-main,” jawab Laura. Ia melangkah lebih dekat. Tidak tergesa. Tidak menantang.

“Ratna melihat kamar Bapak gelap. Ia akan mengira Bapak sudah tertidur.”

Haikal terdiam.

Laura berhenti beberapa langkah di depannya. “Bapak terlalu khawatir pada orang yang tidak benar-benar penting.”

Kalimat itu membuat Haikal mengernyit. “Maksudmu?”

Laura mengangkat bahu ringan. “Saya hanya melihat Bapak sering sendirian. Bahkan saat Nyonya ada.”

Nama itu membuat Haikal refleks menghela napas.

“Nyonya terlalu sibuk,” lanjut Laura, suaranya lembut namun tepat sasaran. “Dan Bapak… terlalu lama belajar menahan diri.”

Haikal menatapnya. Ia ingin menyangkal. Ia ingin menyuruh Laura pergi. Tapi kata-kata itu terlalu jujur untuk diabaikan.

“Kamu tidak tahu apa-apa tentang rumah tangga saya,” katanya pelan.

Laura mendekat satu langkah lagi. Kini jarak mereka begitu dekat hingga Haikal bisa mencium aroma lembut dari tubuhnya.

“Saya tahu rasa sepi,” jawab Laura. “Dan saya tahu bagaimana rasanya tidak dianggap.”

Keheningan jatuh di antara mereka berat, penuh makna.

Laura kemudian duduk di tepi tempat tidur, posisinya dekat dengan Haikal. Tidak menyentuh. Tidak memaksa.

Hanya duduk.

Ia mengangkat tangannya, ragu sejenak, lalu menyentuh pipi Haikal dengan lembut,sebuah sentuhan singkat yang lebih berbahaya daripada pelukan.

Haikal menahan napas.

“Laura…” suaranya serak. “Ini salah.”

Laura menatapnya, matanya tenang. “Saya tidak meminta apa-apa.”

Ia menarik tangannya kembali. “Saya hanya ingin Bapak tahu… ada seseorang yang melihat Bapak sebagai lelaki, bukan masalah.”

Kalimat itu menghantam lebih keras dari apa pun.

Laura berdiri. “Saya akan pergi.”

Ia berjalan menuju pintu, meninggalkan ruang itu dengan hawa yang berubah, lebih hangat, lebih berbahaya.

Haikal tiba-tiba berdiri dan menarik tangan Laura, menyandarkan tubuh Laura pada pintu dan mengukungnya.

"Kamu mempermainkan saya?."

"A-apa maksud bapak?."

"Setelah merayu saya dengan berpakaian seperti ini lalu kamu mau pergi begitu saja?."

"Bukankah tadi bapak bilang ini salah?." Elak Laura tapi matanya menatap teduh ke arah pria mapan itu.

"Saya suka dengan kesalahan." Ucap Haikal kemudian menarik tengkuk Laura melumat bibir ranum gadis itu dengan rakus. Laura pun tak tinggal diam, dia mengalungkan tangan nya di leher Haikal dan menyeimbangi ciuman panas itu. Laura membuka mulutnya agar lidah Haikal bisa menerobos masuk dan bergelut dengan lidahnya.

"Hmpphh....." Lenguh Laura saat tangan Haikal sudah meremas bongkahan bobanya membuat gadis itu semakin membalas lumatan demi lumatan yang di berikan Haikal.. tanpa aba-aba Haikal menyingkap kaos tipis itu dan terpampang lah dengan jelas duo jelly indah yang tidak di tutupi apapun.

"Ternyata kamu sudah berniat sejauh ini, saya tidak menyia-nyiakan nya." Ucap Haikal kemudian melumat Boba pink sebelah kanan dengan lembut seperti anak kecil yang tengah menyusu sementara tangan yang satu lagi meremas bongkahan kiri.

"Aahhh...sssttt...." Enak mas, racau Laura yang sudah memanggil Haikal dengan sebutan mas.

"Hhmmmpphh... Nikmat sekali mas."

Haikal yang mendengar kata-kata itu keluar dari bibir Laura membuatnya semakin ber hasrat dan semakin menjadi-jadi.

Tangan Laura pun tak tinggal diam, ia teringat akan tombak besar ber urat yang ia lihat beberapa hari yang lalu, dia pun mengelusnya dengan lembut membuat Haikal men Des ah...

"Aaahh...."

"Keluarian ya mas, aku mau ngemut bakso daging kamu." Bisik Laura sen sua l membuat Haikal semakin menegang.

Baru saja Haikal akan membuka nya tiba-tiba...

Drrrttttt.....

Drrtt......

Mama is calling....

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!