Dia tidak pernah terlihat.... tapi selalu ada.
“Kalau abang serius… kamu mau kenalin abang ke dia?”
Hanif tidak pernah benar-benar muncul di depan Riyani. Namun ia tahu banyak tentangnya—lebih dari yang seharusnya.
Dari kebiasaan kecil, cara berbicara, hingga senyum yang diam-diam ia tunggu.
Melalui adiknya, Hanif memilih jalan yang tidak biasa: mendekati Riyani tanpa pernah benar-benar “hadir” sebelumnya.
Tapi…
bisakah seseorang menerima cinta dari orang yang hampir tidak pernah ia sadari keberadaannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chocoday, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keseriusan Hanif
"Kan tadi udah bilang, Neng udah baikan," jawab Riyani.
"Bukan pinggang kamu. Aa tanya keadaan kamu sekarang," jelas Hanif.
Riyani paham dengan apa yang ditanyakan Hanif sekarang. Ia menelan ludahnya kuat lalu mendongak pada Hanif yang masih menatapnya.
"Siapa yang datangi Aa?" tanyanya.
"Datangi apa? Aa cuman tanya keadaan kamu sekarang, kenapa malah balik tanya."
"Siapa yang datangi Aa dan suruh Aa bicara sama aku?" tanya Riyani lagi.
Hanif menghela napasnya.
"Ternyata gak bisa ya bohong sama kamu."
Riyani menatap meminta penjelasan darinya. Hanif menceritakannya—bahwa Bu Sinta, mamah riyani yang mencarinya. Menjelaskan tentang permohonan Bu Sinta pada Hanif tadi.
"Menurut Aa, Neng egois gak sih kalau untuk saat ini gak mau ketemu sama mereka dulu?"
Hanif menggeleng.
"Enggak sama sekali. Kamu mungkin butuh waktu untuk lebih tenang menghadapi semuanya. Gak apa-apa, kita itu cuman manusia. Gak ada yang sempurna, ada masanya sedih, senang ataupun bahkan kecewa kayak yang kamu rasakan sekarang."
"Jadi gak usah berpikir aneh-aneh. Aa gak bakal menilai kamu egois atau bahkan durhaka hanya karena gak mau ketemu orang tua kamu. Pasti ada alasan dibalik semuanya kan?"
Riyani menangis mendengarnya. Selama ia hidup, rasanya ia baru kali ini merasa dihargai, merasa pendapatnya didengar dengan baik.
Hanif meraih tangan Riyani.
"Neng, nikah yuk!" ajaknya tiba-tiba.
Riyani terbelalak. Ia memukul pelan lengan lelakinya.
"Aa ngajakin nikah udah kayak ngajak main aja."
"Beneran loh. Aa pengen ada di setiap momen kamu, Aa gak mau ada jarak lagi kayak begini. Kan kalau kamu lagi sedih, lagi nangis, lagi seneng. Aa bisa peluk kamu kalau udah nikah."
Riyani terkekeh pelan.
"Cuman karena itu aja?"
"Ya enggak lah. Itu sih cuman alasan kecil, alasan besarnya gak perlu dikasih tau," jawab Hanif.
Riyani menggeleng dengan senyumannya.
"Jadi gimana? Mau gak? Dipercepat rencana menikahnya?" tanya Hanif, "kan Aa kemarin bilang mau nunggu kamu sampai siap. Tapi kayaknya kamu santai aja gak bersiap."
"Emang harus siapin apa?" tanya Riyani.
"Ya kamu bilang belum siap, mau siapin apa coba?"
(Susah banget yaa kalahnya kalau debat sama orang pinter gini)
"Gimana? Kalau boleh, Aa mau bawa orang tua aa ke sini."
"Sekarang?" tanya Riyani.
Hanif mencubit pipi riyani.
"Ya enggaklah, Neng. Nanti kalau Aa libur, biar sekalian bicara rencana lamaran sama nikahnya nanti."
Dengan anggukan pelan, Riyani menjawabnya.
Hanif tersenyum.
"Alhamdulillah kalau gitu. Aa mau bicara sama kakek dulu, terus nanti pulang mau bicara sama ibu dan ayah."
"Boleh," jawab Riyani dengan senyuman.
Sebelum pulang, Hanif mengobrol dengan kakek di teras rumah. Dengan senyumannya, mereka mengobrol dengan santai. Begitupun dengan Riyani yang melihatnya merasa haru.
(Alhamdulillah ya Allah)
(Ternyata kalau udah dikasih jalannya, emang ketemu dan dipermudah jalannya)
...----------------...
Adzan magrib berkumandang, Riyani baru saja mengganti pakaiannya. Wanita itu bergegas untuk sholat lalu makan malam bersama dengan kakek dan neneknya.
"Kakek gak nyangka, cucu cantik kakek ini bakal segera jadi istri," ucap kakek.
Riyani tersenyum.
"Kamu tenang aja. Kakek sama nenek bakal bantu kamu buat urus semuanya, jangan pernah sungkan ya!"
Riyani mengangguk.
"Kek!?"
"Bapak sama mamah gimana? Katanya tadi juga mamah datang temuin Aa, buat minta Neng biar bisa ketemu sama mereka."
"Neng belum mau ketemu sama mereka?"
Riyani menggeleng.
"Neng belum siap, Kek. Apalagi mereka juga kayaknya gak pernah mengharapkan Neng pulang. Sekalinya dirawat pun mereka gak ada jenguk Neng."
"Ya udah gak apa-apa kalau belum siap. Nanti biar kakek yang bicara sama mereka, kamu jaga kesehatan aja ya!"
Riyani kembali menggeleng.
Begitupun di sisi Hanif, lelaki itu membicarakan tentang keseriusannya dengan Riyani pada orang tuanya.
Tentunya, orang tua hanif merasa senang. Apalagi selain ia sudah mengenal Riyani lama, anak sulungnya ini tidak pernah membicarakan pernikahan atau bahkan sekedar kenalan dengan perempuan sebelumnya.
...----------------...
Hari berikutnya, Hanif baru saja sampai di parkiran. Azka sudah terlihat menunggunya di samping motor yang ia kemudikan.
"Kenapa lo diem di sini?" tanya Hanif.
"Ada yang mau gw bicarakan sama lo," ucap Azka.
"Apa?"
"Sambil jalan aja. Biar gak telat masuk," jawab Azka.
Hanif mengikuti langkahnya.
Azka bercerita tentang orang tua riyani akhir-akhir ini. Memang rumah azka cukup jauh dengan orang tuanya tapi ia mendengarnya dari cerita ibunya sendiri.
"Lo yakin?" tanya Hanif.
Azka mengangguk.
"Gw denger semuanya dari ibu gw. Gw gak tau sih pastinya gimana, cuman rasanya konyol gak sih kalau harus ngandelin Riyani terus?"
"Iya sih, gw tau kalau udah usia begitu emang sering sakit-sakitan. Orang tua gw juga sama kakak cewek juga lebih banyak di rumah dibanding gw anak cowoknya. Tapi kan anak juga punya kehidupannya masing-masing."
"Iya gak apa-apa kalau cuman ngurus orang tuanya. Ini ditambah ponakannya, ibunya leha-leha di rumahnya. Kan rada gila ya!"
"Sebenernya dalam pandangan gw, kakak iparnya biang kerok semua ini kan?"
Azka mengangguk mengiyakan.
"Neng belum mau ketemu sama orang tuanya,"
"Ya wajar sih. Gw juga kayaknya gak bakal pulang-pulang kalau orang tua kayak begitu. Herannya, mamah dan bapaknya itu galak, tapi kalau kaitan sama Bang Ardi. Riyani yang harus ngalah," ucap Azka.
Hanif mengangguk setuju.
"Gw gak mau Neng terus-terusan kepikiran hal ini. Gw mau seriusin dia, Azka."
"HAH? Serius lo?"
Hanif mengangguk.
"Syukurlah kalau gitu. Gw sedikit tenang kalau sama lo, kalaupun amit-amit nya nanti dia sakit hati karena lo, kan gampang hajar lo habis-habisan di parkiran rumah sakit. Biar semua orang nantinya tau."
Hanif terkekeh.
"Ya enggak lah. Ngapain juga gw nikah sama dia kalau gw mau nyakitin dia."
Sejak berteman dengan Hanif, Azka memang tahu jika lelaki itu pikirannya sudah dewasa, emosinya sudah stabil dibanding dengan teman-teman yang lainnya.
...----------------...
Setelah berpisah jalan dengan Azka, Hanif masuk ke gedung poli. Dimana sudah terlihat banyak orang duduk menanti kedatangan beberapa dokter yang praktik hari ini.
Pasien pertama Hanif masuk, seorang gadis kecil datang dengan ibunya. Keluhannya tidak jauh dan tidak bukan muntah-muntah dan mual.
Hanif sudah mencurigainya, sejak awal dia melihat pasiennya masuk. Perutnya bahkan sudah terlihat, tapi ibunya bicara bahwa anaknya terkena kutukan.
Hanif dan perawat yang berjaga itu saling menoleh. Apalagi setelah memeriksa gadis kecil itu.
"Ibu, anaknya sudah mens?" tanya Hanif.
Ibu pasien mengangguk.
"Apa hubungannya emangnya, dok? Kutukannya pake darah mens anak saya?"
Hanif tersedak.
"Bukan, Bu. Anak ibu bukan terkena kutukan tapi seperti sedang mengandung."
Ibu pasien terkejut. Ia berdiri dengan wajah marahnya.
"Dokter gak usah ngada-ngada deh. Kemarin saya periksa ke dukun katanya diguna-guna, mana bisa lagian dia hamil. Orang dia diam di rumah sehari-hari, karena sudah putus sekolah."
"Bu, lebih baik tanyakan sama anaknya. Apa dia sudah pernah melakukan hubungan suami istri atau belum? Atau bila perlu saya alihkan ibu ke dokter kandungan biar lebih percaya dengan apa yang saya katakan tadi."
Ibu itu melihat pada anaknya yang masih duduk pada ranjang pemeriksaan sembari menunduk.
"Jeung saha ngalakukeun na? Eta anak saha?"