Kristella Duan tak menyangka jika pekerjaannya sebagai penulis novel erotis membawanya terjebak dalam pusaran obsesi mafia kejam Dominic Stralerr. Ketua klan mafia terbesar yang hanya bisa bergairah karena membaca novel yang dia buat.
Bagaimana Kristella di tekan untuk membuat cerita- cerita hanya untuknya, dan demi membangkitkan gairahnya yang telah mati. Hingga sebuah ide gila muncul yang Kristella kira bisa membuatnya lepas dari tekanan tersebut, namun justru membuatnya semakin terjerat dan tak bisa lepas.
"Bagaimana kalau kita praktekan saja secara langsung, Tuan?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nenah adja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tamat!
Dominic adalah orang yang peka. Dia terlatih untuk mengenali suasana sekitarnya, bahkan jika itu seekor lalat dia akan tahu perubahan di dalam kekuasaannya.
Dan saat ini, saat dia memasuki kamarnya dia tahu ada orang lain yang menyelinap masuk tanpa permisi. Namun dia tetap tenang dan melakukan kegiatannya mulai dari mandi bahkan melatih diri untuk membangunkan pilarnya yang masih saja sia- sia.
Dia tetap tak bisa berdiri meski sudah melihat pepaya yang menggantung dan menggoda di depannya.
Entah kesialan apa yang dia alami sampai-sampai dia bahkan tak bisa bangun meski hanya sebentar.
Hal yang lagi- lagi dia sadari jika miliknya hanya bisa berdiri saat membaca novel Ella.
Tidak! sebenarnya ada yang lain, saat itu ... saat tanpa sengaja tubuhnya merapat dengan Ella, entah kenapa dia memiliki reaksi yang sama seperti saat membaca novelnya.
Dominic kesal, saat lagi- lagi wanita di depannya tetap tak berguna hingga dia harus kembali menghabisi wanita di depannya demi terus menjaga rahasia 'ketidakmampuannya'.
Lalu sekarang saat Ella keluar dari persembunyiannya gadis itu menawarkan hal yang tidak terduga.
"Bagaimana kalau kita praktekan saja secara langsung, Tuan?"
Langkah Dominic berhenti, begitupun Ella yang kini tertahan sebab tembok di belakangnya. Tubuhnya menyusut sebab merasa terpojok dengan gerakan intimidasi Dominic.
Mata tajamnya terlihat lebih gelap dengan aura yang semakin mengerikan.
"Kau yakin?"
Ella menelan ludahnya kasar. "Tentu saja... itu patut di coba ... bagaimana pun teori tak lagi berguna, kan?"
"Kau pikir melihatmu aku tertarik?" Dominic menarik kerah blouse Ella dengan bibir berdecak penuh ejekan. "Penampilanmu bahkan terlihat mengganggu."
Ella menatap tajam dengan wajah merah karena marah. "Memang kenapa dengan penampilanku? Penampilanku bukan urusanmu!" Bibir Ella tertekuk.
"Lalu kau pikir praktek apa yang akan kita lakukan saat aku bahkan tak tertarik melihatmu?"
Ella menatap tak percaya bibirnya terbuka saking syoknya dia. Apa sebegitu jeleknya dia? "Tuan, apa kau salah paham?"
Ella berdecak, "Aku memberi saran agar kita mempraktikkannya dengan wanitamu." Mata Ella memicing. "Atau kau memang membayangkan melakukannya denganku?"
Ell mendengus. "Kau pikir aku mau?"
Dominic tertegun dengan tak percaya. Jadi maksudnya dia salah paham? Lalu gadis ini menolaknya?
Dominic mendatarkan wajahnya menutupi rasa malu.
"Bagus, kalau kau tahu diri."
Ella menghela nafasnya lega saat Dominic menarik diri.
"Jadi, bagaimana Tuan? Kau mau mempraktikkannya, kan? Tenang saja, aku akan membantumu."
Dominic menaikan alisnya, disaat banyak para wanita yang berebut untuk tidur dengannya, Ella justru terang- terangan menolaknya, dan justru membantunya untuk tidur dengan wanita lain.
"Lalu kalau ini gagal? Apa yang kau pertaruhkan?"
Ella menelan ludahnya kasar. Jika ini gagal maka seperti yang Dominic katakan dia akan mati.
"Kau bisa lakukan apapun padaku," Ella merengut lesu, suaranya bahkan mencicit pelan saking putus asanya dia. "Termasuk membunuhku..."
Habislah, dia akan benar-benar mati malam ini.
"Baiklah, ingat janjimu." Dominic berbalik dan kembali duduk di kursi tunggal miliknya. "Aku tak sabar mempraktikkannya," Dominic menyeringai menaikan satu kakinya menopang di kaki lain, dan duduk dengan santai.
Ella menelan ludahnya kasar. Sekarang bagaimana?
"Pertama ... kita bisa panggil wanitamu."
Dominic segera menepuk tangannya membuat kepala pelayan masuk diikuti seorang wanita di belakangnya.
Ella menatap si wanita yang tak berani mendekat lalu pada Dominic yang bergeming.
Kini di dalam kamar tersisa mereka bertiga dengan pengawal dan kepala pelayan yang sudah pergi menutup pintu.
"Bisakah ... kalian duduk bersisian?" Ella menunjuk sofa panjang agar Dominic dan wanita itu duduk disana.
Dominic menatap tajam, "Apa dia pantas?" Ella mengerutkan keningnya.
"Kalau kau tidak mau dekat dengan wanita itu, lalu bagaimana kita praktik? Kau pikir hubungan 'itu' bisa lewat telepati?"
Dominic berdecak lalu duduk di sofa panjang di susul wanita seksi dengan senyum menggoda di bibirnya. Wajahnya sudah merah sebab dia bisa duduk bersisian dengan Dominic yang kaya dan tampan. Jika dia beruntung dan bisa menaklukan pria itu maka sudah bisa dipastikan bayaran yang fantastis akan dia dapatkan.
Ella menatap keduanya lalu mengambil tablet dan mengetik di situs pencarian untuk mendapatkan beberapa vidio.
Setelah mendapatkannya Ella menyimpan tablet dengan menaikan penyangga dan memutar vidio di hadapan Dominic dan si wanita.
"Baiklah tonton itu!" Ella sendiri berjalan ke arah kotak tisu lalu menutupi telinganya agar telinganya tak mendengar desahan- desahan menjijikan dari vidio tersebut.
Ya, vidio yang tengah Dominic tonton adalah vidio vulgar.
Ella duduk di depan Dominic memperhatikan keduanya. Terlihat si wanita wajahnya semakin merah, sementara Dominic menaikan alisnya menatap ke arah Ella yang duduk dengan perasaan takut.
Dari mana gadis itu dapat vidio di depannya ini?
Dominic bahkan tak tertarik sama sekali melihat sepasang manusia yang bertarung tanpa busana di sana.
Ella masih memperhatikan Dominic dan si wanita yang semakin tak karuan, tangannya saling meremas dengan keringat dingin yang muncul juga cara duduknya yang tak bisa diam. Wanita itu terlihat sudah benar-benar bergairah.
Namun lain halnya dengan Dominic yang masih terlihat datar. "Setelah ini apa?" katanya menatap Ella yang melepas tisu di telinganya.
Dahi Ella mengernyit dalam. Ini tidak seperti bayangannya, seharusnya setelah menonton vidio tersebut keduanya langsung terangsang kemudian bercinta. Tapi hal yang tak biasa nampak dari Dominic yang tak bereaksi sedikitpun, wajahnya masih datar dan tenang.
Sial!
Sekarang bagaimana?
Ella menatap Dominic lalu turun ke bagian bawah pria itu. "Tuan, kau sungguh tak merasakan apapun setalah menonton itu?"
Dominic kembali menaikan alisnya. "Normalnya kau akan seperti dia, lihat dia sepertinya ingin segera melakukannya." Dominic melirik wanita di sebelahnya yang memang nampak gelisah.
"Itu artinya praktik yang kau lakukan tidak berguna."
"Itu artinya kau memang tidak mampu—" Ella menghentikan ucapannya sesaat merasa tatapan Dominic menajam. "Ka— kalau tidak, mana mungkin kau tidak tergoda." Meski takut dia tetap melanjutkan ucapannya.
Dominic mengeraskan rahangnya. "Kau mempermainkan aku?"
Ella menggeleng cepat. "Tidak, Tuan! Be— begini saja, kalian bisa berciuman kan? Ayo berciuman!"
Dominic menoleh pada wanita yang kini tersenyum malu- malu, wanita itu bahkan menggigit kecil bibirnya membuatnya semakin muak.
"Kau membuang waktuku."
Dor!
"Akh!" Ella menjerit saat peluru bersarang di dahi wanita tersebut yang menghilangkan senyum malu- malunya.
Dominic beranjak dan melangkah ke arah Ella. Menatap tajam dengan intimidasi yang kental.
"Ka— kalau begitu kita coba cara lain." Ella bangkit hendak pergi, namun Dominic mengurung tubuhnya membuatnya terjerembab kembali ke sofa dengan tubuh mengerut ketakutan. "Tu— tuan satu kesempatan lagi. Aku — aku jamin kau bisa." Mata Ella menatap ngeri, hari ini dia menyaksikan dua pembunuhan sekaligus.
Tamat! Dia benar-benar akan mati saat ini juga!
"Kau hanya sedang mencoba menghindar dari kesepakatan kita."
"Tapi, Tuan..." Wajah Ella memelas penuh ketakutan saat Dominic menekan moncong pistol di dahinya.
Mata Ella yang berkaca- kaca menatap Dominic yang masih bergeming, rasa putus asa menguasai Ella hingga saat Dominic menekan pelatuknya Ella mencengkram kerah kimono Dominic menariknya dan mendaratkan ciuman tepat di bibirnya...
Dor!
...
Tamat 🤣
kan kamu yg ngawalin....
jadi ketagihan kan itu Dom..🤭
ada musuh atau emang sengaja diledakin sama Dom buat ngehapus jejak 🤔🤔
kamu malah bikin Ella jadi takut sama kamu..
bakal kangen dunks kak ....
aq dah vote kamu nih..
semoga retensi kamu bagus ya..