NovelToon NovelToon
Pangeran KW Salah Server

Pangeran KW Salah Server

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Fantasi Isekai / Komedi
Popularitas:758
Nilai: 5
Nama Author: Soobin Chan

Kiano (18), remaja narsis asal era 2050, apes total! Tersesat di stasiun kuburan tua, ia malah mencabut golok pusaka dan membebaskan Tengkorak Hideung, jin buronan yang kini menempel padanya.

Niatnya mau pulang ke Jakarta Barat, Kiano malah terdampar di Kerajaan Bunian dan dikira Pangeran Wirasada yang kabur. Alhasil, kaus mewahnya disita, menyisakan kolor kuning Upin-Ipin, dan ia dipaksa ikut Kencan Buta Maraton dengan ratusan putri jin yang wajahnya bikin jantungan! Tanpa sinyal 6G dan dikepung dedemit Sunda kuno, mampukah pangeran KW ini selamat dari kejaran dan penyihir peminum darah, Nini Kalingking?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15. Amarah Ki Saron

Karena merasa sudah kepalang tanggung dan lelah berakting menjadi pangeran kaku, Kiano akhirnya meledak. Ia berkacak pinggang dengan berani.

"Kalau iya, kenapa?! Gue emang bukan Wirasada! Nama gue Kiano! Puas lo?!" sembur Kiano dengan nada menantang. Saking emosinya, udeng hiasan di kepalanya sampai bergetar hebat lalu merosot miring ke sebelah kiri, merusak total wibawa pangerannya.

Dharma terlonjak kaget. Ia mundur selangkah, menatap Kiano dengan pandangan yang kian waspada. "Di mana kau sembunyikan pangeran yang asli?!" tuntutnya seraya mengambil ancang-ancang, siap melayangkan serangan ghaib.

"Eits, kalem, Bro! Gak usah ngegas begitu!" Kiano buru-buru mengangkat kedua tangannya ke udara, menenangkan. "Gue juga enggak tahu dia di mana! Lo masih ingat, kan, kalau kemarin malam lo nemuin gue terkapar di kuburan? Nah, tahu-tahu pas bangun gue udah ada di kamar istana ini. Terus gue langsung dikira pangeran bunian sama raja dan ratu lo itu!"

Kiano membetulkan letak udengnya yang miring dengan kesal. "Ya mau enggak mau gue terpaksa akting pura-pura jadi anaknya, daripada gue langsung kena bacok ular kadut... eh, maksud gue ular naga peliharaan raja lo itu!"

"Sekarang gini aja," desak Kiano, mencoba bernegosiasi dengan taktis. "Lo jangan banyak omong dulu ke siapa pun, termasuk ke orang tua Wirasada. Gue juga sekarang lagi usaha nyari pangeran lo yang asli itu. Jadi, mending lo bantuin gue buat nemuin dia!"

Namun, Dharma sama sekali tidak mengindahkan ucapan tersebut. Baginya, pemuda asing di depannya ini adalah ancaman besar bagi keselamatan kerajaan. "Aku tidak percaya pada bualanmu! Berani-beraninya kau menyamar dan merebut wujud pangeran agung negeri ini!"

Syutt!

Dharma melesat maju, hendak melayangkan sebuah pukulan maut yang dialiri energi ghaib murni ke arah dada Kiano. Namun, sebelum tinju itu sempat meremukkan tulang Kiano, kepulan asap hitam mendadak meledak keluar dari tubuh remaja itu.

Bsstt! Brak!

Si TAHI muncul dengan wujud manusianya yang sangar dan berkumis melintang. Dengan satu tangan kekarnya, jin jawara itu berhasil menahan hantaman tinju Dharma dengan sangat mudah di udara. Percikan energi ghaib berdentum pelan, menggetarkan debu di koridor istana.

Wush!

Si TAHI mendorong kepalan tangan Dharma dengan satu entakan kuat, membuat pengawal istana itu melesat mundur cukup jauh hingga nyaris menabrak guci pajangan di koridor.

Dharma yang melihat dengan jelas kemunculan sosok pria berkumis melintang di depannya sontak membelalakkan mata lebar-lebar. Ia bahkan mengucek matanya berulang kali, seolah menolak percaya dengan penglihatan indra ghaibnya sendiri.

"Bukankah... Anda adalah mantan panglima perang tertinggi dari Negeri Parahyangan? Negeri bunian agung yang telah hancur ratusan tahun lalu itu?" tanya Dharma dengan suara yang mendadak bergetar karena rasa hormat sekaligus ngeri.

"Eh, lo kenal sama dia?" tanya Kiano polos. Ia melongokkan kepalanya dari balik punggung kokoh Si TAHI dengan raut wajah kepo maksimal.

Si TAHI membetulkan posisi kumis tebal melintangnya dengan gaya teatrikal yang sangat sombong, lalu menoleh sekilas ke arah Kiano. "Siapa yang tidak kenal denganku, Tuan? Aku dulu memang sangat terkenal hebat dan disegani di seantero negeri ghaib ini."

Kiano manggut-manggut paham. "Pantesan... Ck, sombong amat lo, Tahi."

Dharma yang masih terpaku di tempatnya perlahan melangkah mendekat dengan sisa-sisa rasa tidak percaya. "Bagaimana bisa Anda berada di sini? Bukankah Anda dikabarkan sudah lama tewas puluhan tahun yang lalu?"

"Siapa bilang aku sudah tewas?" sahut Si TAHI mendengus masygul. "Aku belum mati. Aku hanya dikubur hidup-hidup di dalam tanah oleh wanita iblis bernama Nini Kalingking itu!"

"Nini Kalingking?!" Dharma terbelalak. "Bukankah nenek sihir jahat itu juga sudah musnah, dihabisi oleh salah satu sahabat jawara Anda? Selama ini seluruh negeri mengira Anda sudah lama gugur dalam pertempuran itu. Kabar yang beredar mengatakan bahwa hanya teman Anda itulah yang berhasil selamat dan masih hidup sampai sekarang. Bahkan, beliau sudah menikah dan mempunyai seorang anak. Kebetulan... anaknya adalah sepupu Pangeran Wirasada, yaitu Pangeran Arshaka!" papar Dharma panjang lebar. Sebagai pengawal setia Kerajaan Mandala Hyang, ia tahu betul tentang silsilah sejarah dan sosok tokoh Tujuh Jawara Bunian yang melegenda itu.

"Apa maksudmu?!" bentak Si TAHI, rahang manusianya mengeras seketika. "Para sahabatku semuanya sudah dibantai habis tanpa sisa oleh Nini Kalingking! Mana mungkin ada yang masih hidup?! Kalaupun ada yang berhasil merangkak keluar dari neraka itu, ya hanya aku!"

Si TAHI mencengkeram lengan kokohnya sendiri, napasnya memburu ghaib. "Memangnya siapa nama teman yang kau maksud itu? Mungkin telingamu saja yang salah dengar rumor!"

"Saya tidak salah dengar, Ki Saron," ucap Dharma dengan nada takzim yang mantap. "Saya bahkan masih mengingat jelas nama Anda. Anda adalah Ki Saron, dan teman seperjuangan Anda yang dikabarkan masih hidup itu adalah Ki Pesut Kilat."

Mendengar nama itu, kepulan asap hitam di sekitar tubuh Tengkorak Hideung mendadak bergejolak hebat sebelum akhirnya mematung. Ia sama sekali tidak mengingat nama itu—namanya sendiri yang telah lama terkubur bersama memori masa lalunya. Otak ghaibnya mendadak buntu.

Apakah mungkin selama puluhan tahun ini ada sejarah yang sengaja dikelirukan atau ada konspirasi besar yang terlewatkan olehnya?

"Oh, jadi nama asli lo itu Ki Saron? Gue kira nama orisinal lo emang Tengkorak Hideung," celetuk Kiano tanpa dosa, memecah keheningan koridor yang mendadak terasa mencekam.

Si TAHI tidak menjawab. Ia masih berdiri linglung, menatap kosong ke lantai batu istana.

"Tengkorak Hideung itu julukan jawaranya, Kiano," balas Dharma ketus, otomatis ikut memanggil nama asli Kiano karena terbawa suasana gila ini.

"Kenapa lo enggak bilang kalau lo punya nama sekeren itu? Jadi gue enggak perlu repot-repot ngasih julukan TAHI ke lo," gerutu Kiano sambil menepuk dahinya sendiri.

Ki Saron mengabaikan pertanyaan konyol itu sepenuhnya. Fokus pikiran ghaibnya sekarang terkunci sepenuhnya pada sosok Dharma.

"Coba katakan padaku, Dharma. Apa saja yang kau dengar tentang malam pembantaian itu selama ini? Dan bagaimana bisa temanku itu menikah dengan kerabat raja negeri ini?" tuntut Ki Saron, suaranya terdengar berat dan sarat akan ancaman yang terpendam.

Dharma menatap Ki Saron dengan raut wajah serius. Ia menarik napas dalam-dalam lalu mengembuskannya perlahan sebelum membuka suara. "Biar saya jelaskan, Ki. Dulu, setelah kabar kematian Anda beredar, Ki Pesut Kilat kembali ke ibu kota. Ia mengumumkan kepada seluruh negeri bahwa ia telah berhasil membantai habis Nini Kalingking sendirian. Ia menyuarakan ke seantero negeri bunian bahwa dialah jawara terkuat yang tersisa."

Dharma menjeda kalimatnya sejenak, melirik ke arah dinding istana. "Sebagai bentuk penghargaan atas jasa besarnya yang telah menyelamatkan kerajaan dari teror nenek sihir itu, mendiang ayah Prabu Raksa Buana menikahkan salah satu putri keraton dengan Ki Pesut Kilat."

Rahang Ki Saron semakin mengeras hingga urat-urat ghaib di lehernya menegang. Kedua tangannya terkepal begitu kuat hingga menimbulkan bunyi gemertak yang mengerikan.

Secara refleks, ia mengangkat kepalan tangannya, hendak menghantam sebuah guci pajangan besar di dekatnya demi meluapkan amarah yang meledak-ledak.

"Eh, jangan!" seru Kiano buru-buru melompat menghadang langkah Ki Saron. "Itu guci antik, Tahi! Pasti harganya mahal banget kalau dibawa pulang terus dijual ke Opa gue yang kolektor barang antik di Jakarta!"

Dicegah seperti itu, tatapan merah menyala Ki Saron beralih ke arah dinding marmer istana yang dipenuhi hiasan permata berkilauan. Tangannya kembali terangkat.

"Eh, jangan yang itu juga, somplak! Sembarangan aja lo main mau ancurin barang estetik,"

1
Protocetus
Wuih cepet amat nulisnya Thor 💪
Soobin Chan: lumayan, udah hampir setahun juga nangkring di lapak sebelah. dari jaman bapaknya kiano SMA sampai punya anak. dan anaknya sekarang pindah kesini😄
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!