Kekaisaran Aurellian telah menikmati kedamaian selama 1500 tahun, hingga sebuah bayangan misterius jatuh tepat di atas takhta mereka. Arta Valerion, seorang penyihir muda jenius, menemukan bahwa rembulan yang selama ini dipuja kini menyimpan ancaman yang tak terbayangkan. Kehadiran sang utusan dari peradaban masa lalu yang telah binasa—membawa peringatan dingin: bahwa mereka tidak sendirian, dan mereka tidak siap.
Di ambang kehancuran yang telah menelan delapan planet sebelumnya, Aurellian harus memilih: tunduk pada teknologi asing atau menghadapi kepunahan. Bagi Arta, ini bukan lagi tentang prestasi sihir, melainkan perjuangan untuk mempertahankan senyum orang-orang yang ia cintai sebelum fajar terakhir tiba.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Manusia Ikan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ARC 1 -BAB 5 -KERAGUAN (2)
Hari yang ditentukan untuk memasuki kapal luar angkasa Nebula akhirnya tiba. Sebuah kelompok atau party dibentuk secara mendadak dari para peserta seleksi yang masih tersisa—mereka yang cukup berani untuk tidak melarikan diri saat kehancuran melanda.
Elian berdiri di depan sebagai ketua kelompok. Selain Arta, terdapat empat anggota luar biasa lainnya yang berhasil lulus dalam seleksi darurat ini.
Di barisan depan, sosok Grom berdiri dengan angkuh. Ia adalah laki-laki dewasa dari ras Dwarf dengan peralatan paling berat yang pernah dilihat Arta. Zirah titanium yang ia kenakan adalah kualitas terbaik di antara petualang peringkat A; namanya sudah melegenda dalam hal menaklukkan monster-monster dengan ketahanan fisik yang mustahil.
Senjata di genggamannya adalah sebuah palu besar yang ukurannya cukup untuk membuat manusia biasa kewalahan, namun Grom menyandarkannya di bahu seolah benda itu seringan kapas. Hal ini tidak mengejutkan bagi siapa pun, mengingat Dwarf adalah ras dengan kekuatan fisik terkuat kedua setelah bangsa Orc.
Di sebelahnya, berdiri seorang wanita Elf bernama Lilia. Ia adalah yang paling tinggi di antara mereka semua, dengan tubuh ramping dan tegap yang memancarkan keanggunan alami rasnya—tak heran jika bangsa Elf sering menjadi ikon kemewahan. Lilia membawa busur panah kayu yang unik dengan ukiran tanaman di beberapa sisi nya
Di barisan belakang, terdapat dua orang lagi. Salah satunya adalah Raylen, seorang laki-laki manusia. Dilihat dari tumpukan botol dan peralatan yang ia bawa, Raylen adalah seorang Alkemis yang berperan sebagai support. Pekerjaan ini sangat langka dan berharga dalam sebuah tim. Secara penampilan, Raylen tampak biasa saja dan tenang dibandingkan rekan-rekannya yang lain.
Namun, di samping Raylen, berdiri sosok yang sangat mencolok: Reldia, seorang wanita cantik dari ras Manusia Naga. Sepasang tanduk hitam kemerahan mencuat dari kepalanya, dan ia tampak asyik menjahili Raylen yang pendiam dan tidak bisa melawan. Manusia Naga adalah ras yang sangat langka dan dikenal sebagai bangsa yang gemar berperang serta sering berkonflik dengan kerajaan-kerajaan luar.
Reldia mengenakan zirah baja dengan plat berlapis, namun desainnya tetap memperlihatkan lekuk tubuhnya yang atletis. Di punggungnya, sepasang sayap naga bersisik sesekali mengepak kecil, sementara ekor tebalnya di lapisi sisik naga yang kuat.
Mereka menempuh perjalanan singkat menggunakan kereta kuda perang berlapis besi dari kediaman Elian. Karena lokasi jatuhnya kapal tersebut tidak jauh, mereka segera tiba di tujuan.
"Ternyata benda ini jauh lebih besar dari yang kubayangkan," ucap Grom sambil menjatuhkan kepala palu beratnya ke tanah dengan dentuman keras. "Sejak dulu aku selalu bertanya-tanya bagaimana benda ini bisa diam di atas langit tanpa pancaran energi sihir sedikit pun."
"Sangat mengerikan. Lihatlah, semua pohon tumbang dan tanah di sekitarnya terkoyak seperti dicakar monster raksasa," tambah Lilia dengan nada prihatin.
"Baiklah, mari kita mendekat. Seharusnya benda ini tetap memiliki jalan masuk, bukan?" ucap Elian tegas, mencoba memimpin fokus tim.
Arta hanya diam di sisi Elian. Ia mengikuti langkah tunangannya itu dari belakang dengan pandangan yang masih sedikit kosong.
Mereka sempat berkeliling untuk mencari pintu masuk, namun tidak menemukan bagian mana pun yang menyerupai pintu normal. Hingga akhirnya, di sisi depan pesawat, mereka menemukan robekan besar yang menganga akibat serangan dahsyat beberapa hari yang lalu.
"Astaga... serangan kemarin benar-benar gila," ucap Grom takjub sambil meraba pinggiran logam yang terkoyak. Sebagai bangsa penempa senjata terbaik, ia benar-benar terpana. "Tidak hanya membuat lubang besar di tanah, tapi juga mampu menembus besi pesawat ini yang tebalnya bahkan menyamai lebar tubuhku sendiri."
"Itu... itu berarti musuh kita benar-benar tidak terhentikan, bukan?" sahut Arta dengan suara datar. Kalimatnya yang dingin seketika memecah kekaguman Grom dan merusak suasana semangat tim.
Elian menatap Arta sejenak, lalu kembali menatap lubang gelap di depan mereka. "Mungkin kamu benar, Arta. Tapi sebelum menyimpulkan itu, mari kita masuk melalui lorong ini. Siapa tahu kita akan bertemu dengan Nebula di dalam, bukan?"
Dengan senjata yang telah siap di tangan, mereka melangkah masuk dengan hati-hati, menembus kegelapan lorong panjang kapal raksasa yang dingin dan asing itu.
akan aku lanjut baca malam nanti, mau serius up cerita ku dulu KK😭😭
“…jadi kalian benar-benar memanggil Titan ke dunia ini.”
Bukan penolakan, justru sebaliknya. Sudut bibirnya terangkat tipis. “Menarik...”
Karena setiap dunia yang mulai menyentuh kekuatan Titan… biasanya tidak akan pernah kembali sama.
“Jaga mereka baik-baik. Titan bukan sekadar kekuatan... mereka adalah awal dari perubahan.”
—Arven, Mechanist of Legacy🔥
"Sepertinya monster di dunia ini, sangat terobsesi dengan kekayaan.. bahkan serangganya pun. dari batu mahal." sahut Alice sembari duduk di singgasananya dengan anggun.
"Kalau aku disana, apa pisau ku bisa membelah mereka?" Violet tiba-tiba menatap kumpulan pisau lempar di pinggangnya.
"Bisa atau tidak, yang jelas kita kaya kalau disana!!" Xena mulai berlarian tak jelas, membuat Arthur menahan emosi.
"huuh... apa-apaan dunia ini?!" Arthur memijat pelipisnua, merasakan gejolak membara (bah?) maksudnya merasakan emosi panas yang mengalir sampai ke ubun-ubun.
"Santailah, Arthur. kau terlalu emosional!" gumam Albertio, nadanya begitu tenang bahkan sangat tenang untuk situasi absurd saat ini.
"We.. wee.. udah capek...!!! bubar!!!" Alice berteriak kesal, membubarkan pertikaian di Kuil dewi itu segera. Teriakannya menggema ke pikiran Author yang menulis cerita ini.
salut sama kak manusia ikan🐳
semangat