"Apa-apaan sih loe, pincang! Jangan sok kecantikan deh. Lebih baik pakai baju loe sana! Loe pikir gue bakalan tertarik apa sama loe!" ujar Zayn berkata kasar pada istrinya saat malam pertama mereka.
Varisha Salsabilla Jannah.
Gadis pincang yang baru saja kehilangan suami sekaligus calon anaknya.
Ia bahkan terpaksa harus menikah dengan adik iparnya sendiri, yaitu Zayn Alkautsar.
Adik ipar yang membenci dirinya.
Apakah pernikahan terpaksa ini akan berakhir mulus?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Regazz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14 — ngapain aku nyium dia?!
Bab 14—Ngapain aku nyium dia?!
•••
Taklama, Varisha pun tiba di toko butik.
Varisha merasa heran. Ia ingin bertanya.
"Gak usah banyak tanya. Sekarang cepat turun dan temui ibu didalam butik itu." kata Zayn tanpa menatap Varisha sama sekali.
"Baik mas." Varisha ingin membuka pintu.
Namun, perkataan Zayn kembali menghentikan dirinya. "Tutupi luka di bibir loe itu!" ujar Zayn yang tak menatap Varisha sama sekali.
Varisha langsung berkaca pada ponselnya. Ada bekas darah disudut bibirnya. Dan ini adalah ulah Zayn tadi.
Ia hanya mengangguk paham dan langsung keluar mobil.
Mobil Zayn langsung melaju cepat. Ia bahkan disepanjang perjalanan memukul kepalanya dengan tangannya.
"Bodoh! Bodoh! Bodoh!!"
“Ngapain juga gue nyium si pincang itu. Dasar idiot!”
“Si pincang itu bikin repot saja!”
Sedangkan, disebuah toko butik mewah. Dengan berbagai gaun dan dress yang mewah terpajang di etalase depan toko. Varisha mencoba memakan foundation pada bibirnya untuk menyamar bekas luak di bibirnya tersebut.
Dan ia pun masuk kedalam toko butik itu. Ia bahkan tak sempat kembali mengingat rambutnya. Ia hanya membiarkannya tergerai saja.
Ia berjalan dengan perlahan dan bunyi tongkatnya terlihat jelas sekali.
"Nah, itu putriku datang!" seru Lestari menoleh ke belakang.
Para pekerja disana langsung menyambut Varisha dengan senyuman. "Selamat datang nona!" sapa mereka.
Varisha hanya tersenyum tipis.
Ia langsung duduk disamping Lestari.
"Ada apa ibu menyuruhku kesini?" tanya Varisha.
"Ibu hanya ingin membelikan kamu gaun baru. Kan, sebentar lagi ada acara pembukaan bisnis baru keluarga kita." ujar Lestari.
Varisha hanya diam saja. Dan hanya bisa mengiyakan saja keinginan mertuanya tersebut.
•••
Zayn masih berada didalam mobil miliknya sedari tadi. Ia tak ingin kemanapun, bahkan untuk ke bengkel sekalipun. Sedangkan, Dion sedari tadi menelpon dirinya.
“Punya ponsel itu diangkat, muda didiemin doang?" omel Dion di seberang sana.
"Ada apa?" Zayn menjawab dengan nada malas.
"Buruan loe ke bengkel, lagi banyak mobil masuk nih!"
"Gue lagi ada urusan. Lagian gue bosnya, ngapain juga gue kesana." ujar Zayn.
“Justru karna loe bosnya, makanya loe harus kesini. Mana sanggup gue dan anak buah loe yang cuma 4 orang.”
“Pokoknya loe aja yang ngurus. Gue lagi badmood. Kalau bisa rekrut aja anggota baru kek.” Zayn langsung menutup ponselnya.
Sedangkan, Dion diseberang sana sudah mengomeli Zayn yang suka sekali menutup sambungan telepon secara sepihak.
"Songong banget dia!" gerutu Dion.
Sedangkan, Zayn yang masih berada didalam mobil masih sibuk dengan otaknya. Ia kembali membayangkan ciumannya tadi dengan Varisha.
Begitu memabukkan dan membuatnya candu. Rasanya ia ingin mencicipi bibir ranum itu kembali. Sontak tanpa sadar ia mengelus bibirnya.
"Arghh! Tolol banget sih, ngapain juga gue mikirin dia?!" teriak Zayn membenturkan kepalanya di stir kemudi hingga menimbulkan suara klakson.
•••
Beberapa hari berlalu dengan sangat cepat sekali. Kini, tibalah hari acara pembukaan bisnis baru keluarga Pak Faruq.
Varisha masih berada diruang guru. Acara tersebut akan berlangsung dari sore hari hingga malam. Jadi, Varisha masih punya waktu. Sebab, hari ini adalah hari terakhir ia mengajar. Sebelum, liburan kenaikan kelas yang dimulai besok hari.
Varisha : Mas Zayn, nanti sore jemput aku dirumah, ya.
Varisha mengirim sebuah pesan pada suaminya.
Zayn : Pergi sendiri, pincang!
Melihat balasan chat Zayn, membuat Varisha murung. Ia langsung memasukkan ponselnya kedalam tas.
‘Seharusnya aku tak perlu mengirim pesan.’ sedih Varisha dalam hati.
"Gimana? Udah ada tanda-tanda belum?" tanya Emily teman Varisha.
"Tanda apa?"
Emily langsung memperagakan perut yang besar.
"Belum ada." balas Varisha.
"Kalian harus lebih berusaha lagi kayaknya,"
Varisha hanya tersenyum getir. "Bagaimana mau punya anak, tidur seranjang denganku saja dia tak mau." batin Varisha.
Varisha segera pamit pulang. Jam sudah menunjukkan pukul 1 siang. Masih punya banyak waktu untuk lebih banyak bersiap. Sesaat, ia keluar dari area sekolah. Dari kejauhan ia melihat sosok yang sangat ia kenal. Ia melihat Adinda dengan seorang pria. Bukan, Zayn namun pria lainnya. Terlihat Adinda yang sedang berusaha mencegah tangan pria tersebut.
Namun, pria itu langsung pergi. Dan secara kebetulan, Adinda berbalik dan melihat Varisha menatapnya. Wajah Adinda nampak kaget dan panik. Namun, ia seperti berusaha untuk tetap tenang.
Adinda dengan kedua tangan terlipat berjalan santai kearah Varisha, menatap wanita di hadapannya dari pandangan atas hingga bawah. Dengan pandangan mengejek melihat kondisi kaki Varisha yang tak sempurna.
"Ohh, jadi loe itu guru disini?" tanya Adinda menatap sekolah swasta mewah yang berdiri megah di sebelah Varisha.
"Kamu dengan siapa tadi?" selidik Varisha langsung to the point.
"Bukan urusan loe. Lebih baik loe urusin tuh kaki loe, biar lancar jalan." hina Adinda menatap kaki Varisha dengan tatapan mengejek.
Varisha merasa tertohok.
Namun, ia sudah bisa mendengar ejekkan dan hinaan seperti itu.
"Seharusnya kamu tau diri, aku dan Zayn sudah menikah. Lebih baik kamu jauhi suamiku!" tegas Varisha. Ia tak mau kalah terus menerus.
"Hahaha..." Adinda malah tertawa.
Ia berjalan lebih mendekat, ia bahkan menunjuk dada atas bagian kanan Varisha.
"Seharusnya loe itu yang tau diri dong. Gue dan Zayn itu sudah lama pacaran. Sekarang gue mau nanya, kenapa loe malah merebut milik gue, hah??"
"Aku tidak merebut dan aku mendapatkan restu dibandingkan dengan diriku." balas Varisha.
Adinda merasa kalah telak. Ia tak menyangka jika Varisha pintar juga berbicara. Ia mengira Varisha hanyalah wanita pendiam dan lemah.
Adinda mendengus, "loe makin kurang ajar, ya. Awas saja gue bakal laporin semuanya pada Zayn. Dasar cewek pincang!" Ia langsung berbalik pergi.
Varisha hanya diam saja. Ia masih curiga dengan siapa tadi Adinda bertemu. Kenap mencurigakan sekali?
Apa Adinda selingkuh?
Tapi, itu bukan masalahnya. Setidaknya jika Adinda selingkuh, Zayn pasti akan meninggalkan wanita itu.
•••
Kehidupan malam di kota Jakarta begitu indah sekali. Ditambah dari kejauhan sebuah hotel bintang 5 berdiri dengan megahnya di tengah kota tersebut.
Aula didalam hotel tersebut begitu sangat ramai sekali. Begitu banyak sekali orang-orang yang mengenakan pakaian dan barang super branded. Acra yang diadakan oleh keluarga Albert sangat mewah sekali.
Para tetamu juga kebanyakan adalah relasi bisnis keluarga Faruq. Sekaligus, orang petinggi di negara ini.
Terlihat Lestari dengan pakaian mewahnya sedang menatap para tamu undangan. Disana juga ada Faruq dan Zayn.
Zayn sibuk dengan ponsel miliknya.
Ia sedang mengetik sesuatu.
"Zayn please, aku boleh datang ya sayang. Aku juga ingin ada disana."
"Jangan sayang, ini adalah acara penting."
Zayn sibuk membalas pesan dari Adinda. Hingga Lestari menghampiri dirinya.
"Kenapa kamu tidak datang dengan Varisha, Zayn?" tanya Lestari yang cemas karna menantunya tak kunjung datang. Padahal acara akan dimulai sebentar lagi.
Zayn menggaruk kepalanya, ia sendiri yang memang sengaja tak ingin pergi bersama dengan Varisha.
"Aku lupa, Ibu."
Lestari menyenggol pundak Zayn, "kamu ini gimana sih? Mana ponselnya juga gak diangkat."
"Wah siapa tuh cantik sekali?"
"Cantik banget."
"Kalau nggak salah itu Varisha, menantunya keluarga Faruq. Menantu keluarga ini. Istrinya Adam yang kini menikah dengan Zayn."
Bisik-bisik rasa kagum tersebut terdengar jelas sekali. Hingga bisa dilihat oleh Zayn sendiri. Ia melihat ke lantai atas, seorang wanita yang sedang turun dengan gaun berwarna soft blue nya selutut. Begitu cantik dengan jilbab senada dan beberapa pinta kecil disana. Bahkan, make up yang dikenakan Varisha semakin membuat dirinya bertambah cantik bak putri dongeng.
"Itu Varisha!" seru Lestari.
Zayn hanya terpaku menatap Varisha yang terlihat sangat cantik sekali malam ini. Meski, wanita itu berjalan tak sempurna. Namun, kecantikan alami itu gak bisa luntur.
Matanya tak bisa berkedip hingga Varisha kini berdiri tepat di hadapannya sembari menyapa Lestari.
"Jelek nggak sih, Bu? Aku jadi malu dilihatin orang-orang." tanya Varisha yang tidak percaya diri.
Ia bahkan menggaruk tekuk lehernya. Ditambah tatapan Zayn yang sulit sekali diartikan. Saat di lantai atas hingga ke bawah, Zayn bahkan tak melepaskan pandangannya pada dirinya.
"Cantik kok. Putri ibu adalah paling cantik di dunia. Iya kan, Zayn?" tanya Lestari pada Zayn dengan menyenggol lengannya.
Zayn tersadar, "cantik kok." spontan Zayn.
Hal itu membuat Varisha jadi bersemu merah. Ia jadi malu. Entah itu tulus atau tidak. Tapi, jantung Varisha kini semakin berdebar-debar.
Deg! Deg!
‘Jantungku berdetak lagi.’
Acara pun segera dimulai. Awal mulanya Faruq yang berbicara di panggung dan kemudian Zayn. Varisha tersenyum manis menatap Zayn diatas sana.
"Zayn, ayo perkenalkan Varisha pada yang lainnya!"
Varisha melihat wajah Zayn yang gak nyaman sama sekali.
"Tidak perlu, ibu. Ini kan bisnis," tolak Varisha. Ia tak percaya dirinya. Gak mungkin Zayn akan memperkenalkan dirinya pada relasi bisnis baru mereka. Pasti Zayn akan malu sekali.
"Baik, Bu." balas Zayn yang langsung menggenggam tangan Varisha dengan erat membawa dirinya ke kerumunan para tamu malam ini.
Varisha menatap genggaman tangan Zayn pada tangannya. Ia tak percaya. Baru kali ini, Zayn melakukan hal ini padanya.
Hatinya berbunga-bunga sekali.
Apakah Zayn sudah membuka hati padanya?
"Loe itu gak usah kesenangan. Gue ngelakuin semua ini demi orangtua gue dan bisnis ini. Loe harus tau diri, mana mungkin gue senang punya istri pincang kayak loe ini.” bisik Zayn dengan matanya menatap sekitar, tanpa melihat Varisha sama sekali.
Varisha langsung sedih, "aku tau kok mas."
To be continue…
.. smangat untuk kak author .. sdah ngh sbar nungu bab berikutnya