Amira 3 Tahun Jadi TKI, melunasi hutang keluarga suami
meninggalkan dua anaknya yang masih kecil
saat pulang di mendapatkan
arjuna anak sulungnya usia 7 tahun sedang di pukul oleh seorang wanita
wanita itu adalah istri muda suaminya
anak keduanya saat itu usia 1 tahun tidak ada di rumah
Hati Amira hancur namun dia harus tetap hidup
sebuah kisah kebangkitan wanita
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi damayanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
makan bersama pertama
Lantai masih basah. Air menyisakan jejak-jejak kecil yang memantulkan cahaya pagi dari jendela. Nanda masuk ke kamar mandi tanpa banyak bicara, sementara Amira kembali ke dapur. Tak lama kemudian, terdengar desis suara minyak panas. Wangi bawang dan ayam goreng mulai memenuhi ruangan, hangat, mengundang, seperti memanggil siapa saja yang menciumnya.
Arjuna keluar perlahan dari meja persembunyiannya. Gerakannya hati-hati, seolah takut suara kecil pun bisa memicu sesuatu yang buruk. Di sisi lain, Dewi berdiri dengan wajah serius, hidungnya terus naik turun mencium aroma makanan seperti detektif kecil yang sedang bekerja.
Arjuna berjalan ke dapur, mengambil kain pel, lalu mulai membersihkan lantai. Tangannya bergerak pelan. Lengannya tampak kaku, bekas gigitan Dewi masih terasa perih. Tapi ia tidak mengeluh. Ia terbiasa menahan rasa sakit.
“Dia masak, ya?” tanya Dewi, mengagetkan Arjuna yang sedang mengepel.
Arjuna celingukan. Ia benar-benar tidak paham siapa yang dimaksud.
“Kok diam, kenapa?” kembali Dewi bertanya, nadanya mulai tak sabar.
“Dia siapa?” suara Arjuna tampak bergetar, pelan, seperti takut salah.
“Dia ibu kamu?”
“Mamah?” Arjuna menegaskan.
“Iya, mamah kamu?”
“Mamah kita.” Ucap Arjuna ingin mengingatkan kalau dia itu mamah kita berdua.
Dewi masih terasa berat mengakui kalau Amira adalah mamahnya, namun bayangan kalau neneknya akan diambil Mak Lampir membuat Dewi harus belajar menerima kalau Amira adalah mamahnya.
“Iya, mamah kita.”
Arjuna tersenyum kecil. Senyum yang sederhana, tapi terasa tulus.
“Iya, mamah yang masak.”
“Enak enggak masakannya?”
“Enggak tahu, tapi dari baunya sih enak.”
Dewi mengerucutkan bibir.
“Kok enggak tahu? Dia enggak pernah masak, ya? Enggak pernah masak buat kamu? Mau-maunya kamu manggil dia mamah?”
Arjuna hanya melirik sekilas, lalu melanjutkan pekerjaannya. Lantai sudah bersih. Ia membawa pel itu ke kamar mandi tanpa menjawab.
Dewi mendengus kesal.
“Dia manggil mamah pasti juga karena Mak Lampir,” gerutunya pelan.
Tak lama kemudian Arjuna kembali.
“Kesini kamu.” Tangan Dewi melambai-lambai seperti bos memanggil bawahan.
Arjuna mendekat. “Ada apa?” tanyanya.
“Kenapa kamu manggil dia mamah? Kamu takut sama Mak Lampir, ya?”
Arjuna terdiam. Wajahnya kosong. Bukan karena tidak mau menjawab, tapi pikirannya memang berjalan pelan. Kata-kata harus dicari dulu, disusun dulu.
“Kamu kenapa sih kalau ditanya itu lama jawabnya?”
“Bingung.”
Jawaban itu singkat, jujur, dan membuat Dewi menghela napas panjang.
“Kamu saja bingung kenapa memanggil dia mamah. Sama aku juga bingung kenapa Mak Lampir menyuruhku manggil dia mamah, padahal dia enggak pernah masakin kita, dan dia nampar nenekku.”
“Tapi mamah baik, kok.”
Dewi langsung menatap tajam.
“Enggak pernah masak buat kamu, apa baiknya?”
“Tapi dia merawat aku dan membela aku dari bapak.”
“Membela gimana?”
Arjuna kembali diam. Kata-kata itu seperti tersangkut di tenggorokan. Dewi menggeleng pelan.
“Bisa-bisanya manusia kayak gini jadi kakakku,” gumamnya dalam hati.
“Apa dia pukul bapak kamu?”
Arjuna menggeleng.
“Bapak kamu memukul mamah kamu?”
Arjuna menganggukkan kepala.
“Payah,” gumam Dewi.
“Kenapa?” Arjuna mulai menatap Dewi. Ada sesuatu yang bergerak di dadanya—tidak nyaman.
“Kata nenek, jangan pernah mau dipukul. Kalau ada orang yang mau mukul, pukul duluan. Kalau terlanjur kepukul sekali, balas sepuluh kali. Tapi mamah kamu malah dipukuli bapak kamu… benar-benar payah.”
“Tidak,” jawab Arjuna dengan suara gemetar.
Untuk pertama kalinya, ia menolak.
“Mamah tidak payah. Mamah sebelum dipukul bapak, mukul nenek sama mamah tiri. Mereka semua bonyok, bahkan satunya harus masuk di rumah sakit.”
Kali ini suaranya lebih tegas. Ada keberanian kecil di sana.
Dewi justru berbinar.
“Wah, keren sekali. Jadi sebelum dipukul bapak kamu, mamah kamu mukulin orang duluan?”
Tanpa menunggu jawaban, Dewi menarik tangan Arjuna.
Arjuna meringis. Tapi ia menurut saja.
Mereka keluar rumah. Udara terasa lebih segar, tapi suasana tetap tegang dengan cara yang aneh.
“Duduk dan ceritakan. Kalau tidak cerita…” Dewi menatap Arjuna sambil mengepalkan tangan ke arah wajahnya.
Ancaman sederhana, tapi cukup jelas.
Arjuna pun mulai bercerita. Awalnya terbata-bata, kata-katanya terputus-putus. Tapi perlahan, cerita itu mengalir. Tentang pertengkaran, tentang keberanian Amira, tentang orang-orang yang ia hadapi.
Dewi mendengarkan dengan mata berbinar. Sejak umur dua tahun, dia sudah hidup di jalan bersama neneknya, sering melihat pertengkaran dan perkelahian. Setiap ada perkelahian, dia menonton dengan antusias karena di rumah tidak ada televisi dan tidak punya ponsel.
Mendengar Amira sudah memukul orang, Dewi merasa bangga.
“Keren mamah kamu. Mungkin aku juga akan manggil dia mamah.”
Arjuna terdiam. Ada rasa hangat kecil di dadanya.
“Kenapa? Karena Mak Lampir?”
“Aku enggak takut sama Mak Lampir. Aku hanya takut Mak Lampir bawa nenek. Kalau aku yang dibawa, aku makan dia mentah-mentah.”
Arjuna menelan ludah, melihat ke arah Dewi sebentar lalu menundukkan kepala.
“Karena dia sudah memukuli dua orang jahat, aku akan panggil dia mamah.”
Arjuna menatapnya, bingung.
“Kenapa mau manggil aku kakak?”
“Iya, walau kamu lemot, tapi kamu keren. Kamu sudah melempar debu sama orang jahat, itu keren sekali.”
Arjuna diam. Hanya karena itu, ia diakui.
“Benar-benar lemot,” gerutu Dewi.
“Jadi kamu mau aku panggil apa?”
“Ka Juna saja.”
“Oke,” ucap Dewi, lalu berdehem kecil. “Oke, Ka Juna.”
Dewi mengulurkan tangan.
Arjuna melihat tangan itu. Besar. Kuat. Lalu ia melihat tangannya sendiri—kurus, kecil.
“Benar-benar lemot,” gerutu Dewi lagi.
Ia langsung menarik tangan Arjuna dan meraih kelingkingnya, lalu disatukan dengan kelingkingnya.
“Mulai sekarang kita adalah saudara.”
Arjuna kembali menggaruk kepala yang tidak gatal.
Kita ini saudara, bahkan aku masih ingat saat kamu dilahirkan. Dari dulu juga kamu adikku. Kenapa baru sekarang mengakui aku saudara kamu? Namun dia tidak kehilangan momen dia diakui sebagai saudara, maka dia berkata dengan nada lembut, “Baik, Dek.”
“Iya, walaupun kamu kurus, tetap kamu kakakku. Mulai sekarang kamu harus melindungiku, memberikan aku makan, menemani aku main. Kalau aku lapar, kamu harus cari makan untukku. Kalau aku capek, kamu harus gendong aku.”
Arjuna tertegun.
“Menggendong kamu sebesar itu.” Arjuna membayangkannya saja terasa berat.
Belum sempat Arjuna menjawab, terdengar suara Nanda, “Ayo makan,” ucap Nanda.
Sebenarnya dari belakang, Amira dan Nanda sedari tadi mendengar percakapan mereka dari balik pintu. Mereka merasa lega akhirnya kakak beradik itu bisa saling mengakui.
Mata Dewi berbinar. Panggilan yang paling dia sukai adalah, “Dewi, ayo makan.”
Dewi langsung berdiri dan menarik tangan Arjuna dengan kencang.
“Ayo makan, jangan malu-maluin aku. Sebenarnya aku enggak suka orang kurus.”
Tenaga Dewi memang kuat. Arjuna sampai terseret.
“Pelan-pelan, Wi,” tegur Nanda.
Mereka duduk melingkar di ruang tengah.
Arjuna, Nanda, dan Amira makan dengan tenang, dan Dewi adalah yang paling bersemangat untuk makan.
“Kalau makan itu harus dihabiskan,” ucap Dewi.
Semua ingin tertawa, namun ditahan, karena yang dimaksud Dewi adalah seluruh makanan yang ada, bukan hanya makanan yang ada di piringnya.
Itu adalah makan bersama untuk pertama kali, dan itu masakan pertama yang Dewi rasakan dari ibunya.
Dewi keluar dari rumah menuju halaman belakang. Amira melihat dari kejauhan Dewi sedang mengangkat barbel, dan Amira melihat ada beberapa alat olahraga di halaman belakang.
Amira kembali ke dapur. Tampak Arjuna dan Nanda sedang bekerja sama membersihkan piring.
Nanda merasakan ada yang mengawasinya, dia menoleh. Amira memberi kode untuk mendekat.
“Mah, Dewi habis makan memang harus olahraga, ya?”
“Mungkin dia kelebihan energi, makanya harus olahraga… dia memang anak empat tahun, tapi tenaganya… umur anak sepuluh tahun ke bawah satu kali pukul tumbang.”
Amira bingung, apa harus bahagia atau khawatir dengan perkembangan anak bungsunya itu.
“Sekarang sudah ada kamu, jadi tanggung jawab kamu untuk mengendalikannya,” ucap Nanda.
Amira terdiam. Sekarang dia single parent. Dia harus berpikir dan bekerja keras untuk masa depan anaknya.
ayo semangat demi masa depan yg cerah..secerah duit merah merah di dompet dan bawah kasur🤣🤣🤣🤣
ambil j nek buat alas tidur🤣🤣
huuuuh...akhirnya
mudah mudahan mereka lekas bangkit..menyusun masa depan dg kuat dan tegar
yg ada di tindas terus
semangat thor banyak banyak up tiap hari
💪💪💪💪