NovelToon NovelToon
Transmigrasi Zura Or Ziva

Transmigrasi Zura Or Ziva

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi ke Dalam Novel / Transmigrasi
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: Wilaw

Menceritakan seorang gadis bernama Zura. Dan Kebingungan Zura kenapa dirinya bisa nyasar ke raga Ziva sang Antagonis di dalam buku novel yang pernah dia baca sebelum nya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wilaw, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 014

​Bel istirahat kedua berbunyi dengan nada yang terasa lebih bersahabat di telinga Ziva. Setelah dua jam bergulat dengan rumus Kimia yang membuatnya ingin benar-benar berubah menjadi atom agar bisa menghilang, Ziva meregangkan otot lehernya yang kaku.

​"Ziv, kantin nggak?" tanya Manda sambil merapikan saku seragamnya yang penuh permen.

Ziva menggeleng pelan. "Gue ada janji sama Liana di perpus. Mau bahas proyek anatomi itu biar cepet kelar."

​Tika membelalak. "Sama si Liana? Serius? Lo nggak takut tiba-tiba Reygan muncul terus bikin drama 'Si Cantik dan Si Terindas' lagi?"

"Makanya gue pilih perpus," sahut Ziva sambil menyampirkan tasnya. "Di sana ada aturan dilarang berisik. Kalau Reygan teriak, dia bakal diusir sama Bu Endang pakai penggaris sakti. Aman."

​Ziva melenggang pergi, meninggalkan dua sahabatnya yang masih tidak habis pikir melihat Ziva lebih memilih buku daripada bakso kantin.

Perpustakaan SMA Pelita Bangsa adalah satu-satunya tempat yang menurut Ziva paling manusiawi. Dingin, bau buku tua, dan yang terpenting: sunyi. Ia melangkah menuju pojok kanan belakang, area yang jarang dikunjungi murid karena tertutup rak ensiklopedia besar.

​Liana sudah di sana. Gadis itu mengenakan kacamata berbingkai tipis, tampak fokus mencoret-coret kertas draf. Saat melihat Ziva, Liana tersenyum kecil—bukan senyum takut seperti kemarin, tapi senyum yang menunjukkan rasa hormat.

​"Kak Ziva, sudah makan?" tanya Liana pelan.

​"Belum. Nanti aja, gue bawa roti di tas," jawab Ziva sambil duduk di depan Liana. "Gimana? Mana bagian yang harus gue kerjain? Kasih yang paling gampang aja ya, otak gue lagi mode hemat daya."

​Liana terkekeh. Ia menyodorkan beberapa lembar kertas. "Aku udah bagi-bagi tugasnya, Kak. Bagian Kakak cuma rangkum materi klasifikasi tumbuhan ini. Nanti aku yang susun ke dalam slide presentasi."

​Ziva menatap kertas itu. "Lho, Reygan kebagian apa?"

​"Dia aku kasih bagian cari sampel foto di lapangan," sahut Liana dengan nada bicara yang sedikit datar. "Biar dia sibuk di luar dan nggak ganggu kita diskusi di sini."

​Ziva menatap Liana dalam-dalam. "Li, lo... beda ya dari yang gue denger."

​Liana meletakkan pulpennya, menatap balik Ziva. "Semua orang nganggep aku butuh dilindungi Reygan, Kak. Padahal aslinya, aku cuma males cari musuh. Tapi setelah liat Kakak berani tegas kemarin, aku sadar kalau nggak semua hal harus aku tangisi."

​Ziva tersenyum tipis. "Bagus. Jangan mau jadi figuran di drama orang lain."

Diskusi mereka berjalan lancar. Ziva ternyata cukup cepat dalam merangkum materi—efek jiwa mahasiswanya yang dulu terbiasa meringkas jurnal dalam semalam. Namun, di tengah keseriusan mereka, Ziva merasakan sebuah tatapan yang tidak asing.

​Ia menoleh ke arah rak buku di sampingnya. Di meja yang terhalang rak tinggi, tampak seorang cowok sedang duduk sendirian.

​Aksa.

​Cowok itu tidak sedang tidur. Ia sedang membaca buku tebal berjudul Physics and Architecture. Ia tampak sangat fokus, namun Ziva tahu Aksa menyadari keberadaannya karena cowok itu sempat membalik halaman buku dengan ritme yang persis saat Ziva mulai bicara.

​Ting.

​Ponsel Ziva yang diletakkan di atas meja bergetar.

​[Aksa]: Fokus. Jangan ngobrol terus.

​Ziva melotot menatap layar ponselnya. Ia menoleh ke arah Aksa, tapi cowok itu bahkan tidak menoleh balik.

​"Dih, stalker," gumam Ziva pelan.

​"Kenapa, Kak?" tanya Liana bingung.

​"Nggak, ada gangguan tiang listrik," sahut Ziva sambil kembali menulis.

Di koridor luar perpustakaan, Kenan dan Vino sedang mengintip lewat celah pintu kaca.

​"Tuh kan, bener! Si Aksa sengaja mojok di perpus demi mantau Ziva," bisik Vino sambil menyikut Kenan. "Padahal biasanya dia mana mau ke perpus kalau nggak terpaksa."

​"Gue bilang juga apa. Ziva itu magnet baru buat si Bos," sahut Kenan. "Eh, liat deh... Si Bos barusan seperti nya dapet sebuah notif deh, terus mukanya langsung mengkerut kaya gitu."

​Di dalam perpustakaan, Aksa memang baru saja menerima sebuah pesan singkat dari nomor yang tidak ia kenal, tapi ia tahu betul siapa pemiliknya dari gaya bicaranya yang menyebalkan.

​[0812-XXXX-XXXX]: Woi, Aks! Ini Abian, kakaknya Ziva yang ganteng. Sabtu sore basket di lapangan komplek gue, ya. Jangan telat. Kalau lo nggak dateng, Ziva gue jodohin sama tukang cilok depan rumah. Gue serius.

​Aksa memijat pelipisnya. Kenapa keluarga Winata ini semuanya ajaib? Adiknya ratu rebahan yang mager, kakaknya preman martabak yang hobi mengancam.

​Aksa melirik ke arah Ziva yang sekarang malah sudah menelungkupkan kepalanya di samping buku catatan—ketiduran di tengah diskusi kelompok. Liana tampak hanya tersenyum maklum dan tetap melanjutkan pekerjaannya.

​Aksa bangkit dari kursinya, berjalan melewati meja Ziva dengan langkah yang sangat pelan. Saat melewati meja itu, ia meletakkan sebuah pulpen bermotif unik miliknya di atas buku catatan Ziva yang terbuka, seolah-olah menandai bahwa area itu berada di bawah pengawasannya.

​Liana mendongak, matanya bertemu dengan mata Aksa. Aksa memberikan kode "diam" dengan jari di bibirnya, lalu ia melenggang pergi begitu saja.

​Ziva sedikit terusik dalam tidurnya ketika aroma maskulin yang dingin—seperti perpaduan antara sabun mint dan hujan—menyapa indra penciumannya. Ia mengerang pelan, memiringkan kepalanya di atas lipatan tangan, mencari posisi yang lebih stabil.

​Liana, yang masih duduk di hadapannya, menahan napas saat melihat Aksa berjalan menjauh. Ia memperhatikan pulpen perak dengan ukiran geometris yang ditinggalkan Aksa di atas buku Ziva. Pulpen itu bukan sembarang alat tulis; ada inisial "A.E" kecil yang terukir di klipnya.

​Gila, batin Liana. Seorang Aksa Erlangga meninggalkan barang pribadinya cuma buat nandain wilayah? Ini bukan lagi soal gosip kencan, ini sudah seperti penjagaan ketat.

Kenan dan Vino masih betah mengintip. Ketika Aksa keluar dari perpustakaan dengan wajah datar—namun ada kilat kepuasan yang sangat tipis di matanya—keduanya langsung bersembunyi di balik mading.

"Lo liat tadi?" Vino berbisik heboh. "Dia naruh pulpen keberuntungannya di meja Ziva!"

​"Gue liat, Vin. Gue liat," sahut Kenan sambil geleng-geleng kepala. "Itu pulpen pemberian nyokapnya yang dia nggak pernah pinjemin ke siapa pun. Bahkan gue pernah mau pinjem buat tanda tangan absen aja diancem bakal dipatahkan jari gue."

​"Ziva beneran penyihir ya? Atau dia pake susuk mager?" Bram muncul tiba-tiba dari belakang, membuat Kenan dan Vino hampir meloncat kaget.

​"Bukan susuk, bego," Daren menimpali sambil menyandarkan bahu di tembok. "Ziva itu anomali. Aksa itu orangnya bosenan. Dia bosen sama cewek yang terlalu berusaha narik perhatian dia. Ziva yang sekarang? Dia bahkan nggak peduli Aksa ada di meja sebelah. Itu yang bikin Aksa penasaran."

Sekitar lima belas menit kemudian, Ziva akhirnya mengerjap. Ia mengangkat kepalanya dengan rambut yang sedikit mencuat ke samping karena tertekan lengan baju. Matanya yang sayu menatap sekeliling, mencoba mengingat ia ada di mana.

​"Kak Ziva sudah bangun?" Liana bertanya lembut sambil menutup buku paketnya.

​"Hmm... jam berapa?" Ziva menguap lebar, tidak peduli pada citra.

​"Sudah mau bel masuk jam pelajaran terakhir, Kak."

​Ziva merapikan kertas-kertasnya. Saat itulah matanya tertumbuk pada benda asing di atas catatannya. Sebuah pulpen perak yang terlihat sangat mahal dan berat.

​"Lho? Ini pulpen siapa? Li, pulpen lo ketinggalan di meja gue?" Ziva mengambil pulpen itu, menimbangnya di telapak tangan. Terasa dingin dan kokoh.

​Liana tersenyum penuh arti. "Bukan punya aku, Kak. Tadi ada... orang yang lewat terus naruh itu di sana. Katanya biar Kakak semangat nyatetnya."

​Ziva mengerutkan kening. "Siapa? Bang Abi nyuruh orang ke sini?"

​"Bukan Bang Abi," Liana tertawa kecil. "Orangnya tinggi, jaket kulit, dan irit ngomong. Kakak pasti tahu siapa."

​Ziva tertegun. Ia teringat pesan singkat tadi. Si tiang listrik. Ia melihat inisial 'A.E' di pulpen itu. "Aksa? Ngapain sih dia hobi banget naruh barang sembarangan? Entar kalau ilang gue yang disalahin."

​Meski mulutnya mengomel, Ziva tidak mengembalikan pulpen itu ke meja sebelah. Ia justru memasukkannya ke dalam kotak pensilnya dengan gerakan cepat, seolah takut ada orang lain yang melihat.

​Saat jam sekolah berakhir, Ziva tidak lagi merasa dikejar-kejar oleh ketakutan akan Reygan. Ia berjalan santai menuju gerbang, melewati kerumunan murid yang masih membicarakan foto kencannya kemarin.

​Di dekat gerbang, Reygan berdiri sendirian. Wajahnya tampak lebih kusut dari tadi pagi. Saat melihat Ziva lewat, ia hendak membuka mulut, namun niatnya luntur saat melihat sebuah motor sport hitam legam meluncur perlahan di samping Ziva.

​Aksa tidak berhenti total. Ia hanya melambatkan motornya, menyamakan kecepatan dengan langkah kaki Ziva. Kaca helmnya terangkat sedikit.

​"Pulpennya dipake," ucap Aksa tanpa basa-basi.

​Ziva menoleh, sedikit mendongak karena Aksa berada di atas motor yang tinggi. "Iya, gue amankan. Takut dicolong orang, mahal kan itu?"

​Aksa hanya mendengus, sebuah reaksi yang hampir menyerupai tawa kecil. "Sabtu jangan telat. Gue nggak mau dijodohin sama tukang cilok."

​Ziva melotot. "Bang Abi beneran nge-chat lo?! Aduh, sori banget ya, Sa. Kakak gue emang otaknya agak miring."

​"Gue dateng," sahut Aksa singkat. Ia kemudian menutup kaca helmnya, memacu mesin motornya hingga menderu keras, dan melesat pergi meninggalkan kepulan asap yang mengenai wajah Reygan yang masih terpaku di tempatnya.

​Ziva berdiri diam di pinggir jalan, menatap punggung Aksa yang menjauh. Ia merasakan sensasi hangat yang menjalar di wajahnya. Sesuatu tentang cara Aksa menghadapi kegilaan keluarganya membuat Ziva merasa... terlindungi.

​"Ziva, lo beneran pindah haluan?"

​Suara Manda yang tiba-tiba merangkul bahunya membuat Ziva tersentak.

​"Bukan pindah haluan," gumam Ziva sambil berjalan menuju mobil Pak Jajang yang sudah menunggu. "Gue cuma lagi menikmati tontonan drama dari kursi paling depan."

Manda menyipitkan mata, menatap sahabatnya dengan saksama. "Menikmati drama atau malah jadi pemeran utama yang baru, nih? Lo liat tadi mukanya Reygan? Udah kayak adonan kue gagal, ciut banget pas Aksa lewat."

​Ziva hanya mengibaskan tangan, membuka pintu mobil sedan hitamnya. "Gue cuma mau pulang, mandi, terus tidur tanpa gangguan notifikasi grup angkatan yang isinya teori konspirasi tentang kita. Dah, Manda! Jangan kebanyakan ngunyah permen, ntar gigi lo bolong!"

​Begitu pintu mobil tertutup, Ziva langsung menyandarkan kepalanya ke jok kulit yang empuk. Ia merogoh kotak pensilnya, mengambil pulpen perak pemberian Aksa, dan memutar-mutarnya di antara jemari. Inisial 'A.E' itu berkilat terkena sinar matahari sore yang menembus kaca mobil.

​"Sabtu ya..." gumam Ziva. Ia membayangkan kekacauan yang akan terjadi jika Aksa Erlangga benar-benar muncul di depan Abangnya.

1
Ridho Radiator
kak aq tunggu up ny
Ridho Radiator
kak bagus banget
W: Terimakasih😍
total 1 replies
Ridho Radiator
kak aq tunggu up ny
W: siap , besok ya 👁👄👁 😊
total 1 replies
ana Ackerman
iya thor masa nggk di lanjutin... 😤😤
lanjut ya thor... 🤧
W: Kelanjutan nya di sambung besok ya 👁👄👁
total 1 replies
Susi Nugroho
Di tunggu lanjutannya nggak pakai lama
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!