NovelToon NovelToon
Terpaksa Menikahi SERUNI (Kembang Desa)

Terpaksa Menikahi SERUNI (Kembang Desa)

Status: sedang berlangsung
Genre:Beda Usia / Romansa pedesaan / Trauma masa lalu / Bertani / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:146.3k
Nilai: 5
Nama Author: Safira

Seruni (20 tahun) adalah kembang desa cantik, lugu dan polos yang tinggal di wilayah terpencil daerah Tapal Batas.

Pernah bertunangan dengan salah satu pemuda dari kampung sebelah. Berujung putus dan gagal menikah karena ditikung adik tirinya bernama Rasti.

Suatu hari, Seruni dijodohkan dengan seorang pria dari kota. Musibah datang menerpa, di mana rombongan bus calon pengantin laki-laki mengalami kecelakaan, lalu terbakar hebat. Semua penumpang tewas di TKP termasuk calon suami Seruni.

Kepercayaan masyarakat setempat, jika sampai seorang gadis gagal menikah dua kali maka dianggap pembawa sial. Pastinya tak ada pemuda yang akan sudi menikahi Seruni.

Pak Tono selaku Kades yang berstatus sebagai ayah kandung Seruni, terpaksa menerima laki-laki asing bernama Bastian Fernando Malik yang mendadak bersedia menjadi suami Seruni. Tanpa diketahui semua orang bahwa Bastian tengah lari dan bersembunyi dari kasus pembunuhan yang menjeratnya.

Bagian dari Novel : Maafkan Mama, Pa🍁

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14 - Nugal

"Maaf ya, Run. Abang udah gak tahan. Gerah banget," ungkap Bastian secara jujur.

Kali ini bukan gerah karena hasrat menggelora, tapi hawa di bilik pengasingan benar-benar panas menurut Bastian hingga banjir keringat.

Seruni menelan salivanya dalam-dalam. Terlebih Bastian saat ini sudah dalam kondisi bertelan_jang dan hanya memakai celana pendek alias boxer. Bastian segera naik ke atas peraduan mereka.

"Selimutnya kamu aja yang pakai. Abang enggak perlu," ucap Bastian yang sudah merebahkan tubuhnya di atas ranjang sederhana mereka.

"Eh, i_ya Bang." Seruni tergagap menyahutinya.

"Ayo tidur, Run." Titah Bastian yang melihat Seruni masih setia dalam kondisi duduk di atas ranjang, sepertinya sang istri sedang melamun.

Seruni seketika tersadar dari lamunannya. Sejujurnya, tubuh Seruni mendadak dihantam gelenyar aneh yang bikin bulu ku_duk nya berdiri semua. Tentu saja hal ini karena Seruni masih ada rasa kaget melihat pemandangan indah yakni pahatan tampan nan gagah dari tubuh Bastian untuk yang kedua kalinya sejak mereka menikah.

Perlahan Seruni merebahkan tubuhnya di samping Bastian. Ia merapatkan selimut ke tubuhnya sendiri untuk mengusir hawa canggung luar biasa yang menerpa dirinya saat ini.

Tak berselang lama, suara dengkuran halus terdengar di telinga Seruni. Ia melirik ke arah sampingnya, ternyata Bastian sudah tertidur pulas.

Gelap tanpa aliran listrik malam ini di bilik pengasingan terus bergulir. Seruni masih belum juga mampu memejamkan kedua matanya. Padahal jam sudah menunjukkan pukul satu dini hari. Akhirnya Seruni baru bisa tertidur menjelang pukul tiga pagi.

☘️☘️

Jam enam pagi, Seruni dan Bastian sudah berada di lahan yang akan dijadikan tempat bercocok tanam alias bertani.

"Lumayan banyak lahan yang nggak terawat di sini, Run."

"Iya, Bang. Kita harus nugal dulu,"

"Hah, nugal itu apa?"

Nugal adalah tradisi menanam padi di ladang (tanah kering) secara gotong royong dilakukan oleh banyak orang. Tradisi ini kental dengan nilai kebersamaan, ritual syukur, dan pelestarian benih lokal.

Seruni berusaha menjelaskan beberapa tradisi dan kebiasaan masyarakat desanya perihal bertani atau meladang.

"Nanti Mamat dan Ningsih akan bantu kita buat nugal di sini. Biasanya jika ada warga yang hendak nugal, tetangga yang lain akan ikut membantu. Tapi karena sekarang kita lagi di tempat pengasingan, cuma Mamat dan Ningsih yang bantu kita. Maaf ya, Bang." Seruni kembali didera rasa bersalah dan tak enak hati pada Bastian.

"Tak apa. Sesekali kita keluar dari zona nyaman. Hidup akan semakin berwarna, Run."

"Abang tak masalah nanti nugal kita cuma berempat saja yang mengerjakan?"

"Tak masalah. Santai saja dan tak perlu dipikirkan terlalu berat. Jalani saja apa yang ada saat ini," tutur Bastian.

"Seperti kita menjalani pernikahan penuh keterpaksaan karena keadaan ini," lanjut Bastian di hatinya.

Satu jam kemudian, Mamat dan Ningsih datang ke ladang, tempat di mana mereka akan nugal bersama.

"Semangat !!" seru Ningsih.

"Bersama Mamat pasti bisa!" sahut Mamat ikut memberi semangat pada yang lain.

Bastian dan Seruni tersenyum bahagia melihat dua orang yang tidak ada hubungan keluarga dengan mereka, tapi begitu peduli saat kesusahan seperti ini di tempat pengasingan.

Setengah waktu proses nugal hampir rampung, para wanita melipir ke pondok yang ada di dekat ladang.

"Hari ini kita masak apa, Run?" tanya Ningsih.

"Ini tadi Mamat bawa ikan patin. Tadi pagi aku ambil daun genjer sama jamur tak jauh dari sungai. Jadi, nanti ikan patinnya dibakar saja. Daun genjer sama jamur nya kita tumis,"

"Jangan lupa coco_lan sambal mantap buatanmu, Run." Seru Ningsih.

"Oke, beres."

Kedua perempuan desa ini saling bahu-membahu mempercepat proses masak di pondok. Sebab, matahari sudah sangat terik di atas kepala mendekati waktu makan siang.

Ningsih sibuk menanak nasi di kuali sederhana sembari memotong sayur. Seruni tengah mengolesi bumbu ala kadarnya di atas ikan patin yang siap dibakar.

Jangan membayangkan kuas oles seperti kita masak di dapur modern. Seruni mengunakan batang serai yang digeprek sebagai pengganti kuas untuk mengolesi bumbu pada ikan patin nya.

Saat proses bakar pun, Seruni tetap setia mengolesi sisa bumbunya agar lebih terasa sedap dan merasuk sampai ke dalam daging ikan nya sembari diselingi mengulek sambal di atas c0bek.

Masak di pondok dekat ladang seperti ini, tidak ada kompor pada umumnya di rumah. Mereka hanya memakai kayu sebagai bahan bakar memasak dengan tungku tradisional pengganti kompor.

Walaupun begitu sederhana, jangan diragukan rasanya. Konon memasak menggunakan kayu banyak orang bilang rasanya sangat enak dan wangi daripada kompor gas elpiji atau minyak tanah.

"Gimana Run, malam pertama sama Bang Bul? Panjang gak anu nya?" tanya Ningsih tanpa tedheng aling-aling.

"Bang Bul?" sahut Seruni yang tak mengerti maksud Ningsih.

"Astaga, Bang Bul itu kepanjangan dari suamimu Run. Bang buleee..." jelas Ningsih.

"Jangan suka disingkat, Ning. Awak tak paham,"

"Jadi gimana rasanya malam pertama sama suamimu? Sepanjang apa terongnya?" cecar Ningsih yang didera penasaran akut alias kepo tingkat dewa.

"Kami belum malam pertama," jawab Seruni apa adanya.

"APA ??"

"Ssstt !! Jangan keras-keras bicaramu, Ning! Nanti didengar abang sama Mamat, aku jadi malu."

"Bagaimana bisa kalian tidak segera menunaikan hajat malam pertama? Apa kau lagi datang bulan, Run?"

"Enggak,"

"Terus?"

"Terus apanya?"

"Ya, terus kenapa masih belum malam pertama Seruni?" seru Ningsih penuh penekanan di ujung kalimatnya.

"Abang enggak minta ke aku," jawab Seruni dengan mimik wajah lugunya.

"Ya ampun, Run. Malam pertama tak harus nunggu laki-laki duluan yang nyerang. Kau serang Bang Bul duluan gak masalah kok. Malah dapat pahala dan aku yakin Bang Bul pasti mau kok,"

"Aku malu, Ning. Masa perempuan minta malam pertama duluan," cicit Seruni.

"Run, di luar sana orang lain sudah terbang dan menjelajah ke luar angkasa. Bahkan ada orang sudah bisa menerbangkan pesawat yang isinya ratusan orang. Zaman semakin berubah maju. Hal semacam malam pertama tak harus pria duluan yang minta," tutur Ningsih sejenak menjeda ucapannya.

"Perempuan yang pengin duluan juga gak apa-apa. Suamimu aku jamin bakal suka dan makin sayang ke kamu kalau istrinya minta duluan," lanjutnya.

"Apa bener begitu, Ning?"

"Iya," jawab Ningsih berusaha meyakinkan Seruni agar sahabatnya itu punya rasa percaya diri lebih tinggi. "Kalau kamu gak percaya, coba saja nanti malam," imbuhnya.

"Nan_ti ma_lam?" sahut Seruni tergagap sendiri.

"Iya nanti malam. Jangan sampai ular Bang Bul karatan karena tak segera diasah untuk unjuk kebolehan serta kekuatan. Haha..." ujar Ningsih seraya tertawa terbahak-bahak membayangkan terong impor milik Bastian berkarat karena kelamaan menunggu di luar landasan pacu.

"Semalam abang mendadak bahas ular peliharaannya, Ning. Tapi, aku gak paham ular yang dimaksud sama abang. Apa ular yang kamu bilang tadi itu sebenarnya sama seperti yang dibahas abang semalam?"

Bersambung...

🍁🍁🍁

1
Ayesaalmira
coba runi kluar dari blik pengasingan samperin bang bul,br jls smuanya...
Teh Euis Tea
sabar ya runi, doain aj suamimu bisa membuktikan klu dia tdk bersalah, jgn dengetin si maura apa lg ibu dan adik tirimu yg menginginkan km sengsara
kaylla salsabella
masak bastian udah dipenjara 🤔🤔🤔
Dew666
💜💜💜
Sugiharti Rusli
dan sekarang pada akhirnya si Seruni malah tahu perkara kamu dari si Maura, yang pasti bias omongannya karena ada kepentingan buat dirinya
Sugiharti Rusli
padahal meski dari kampung, tapi Seruni termasuk perempuan cerdas kan dia, seharusnya Bastian paling tidak kasih pengertian sebelum berangkat
Sugiharti Rusli
nah kan, akibat si Bastian ga mau jujur sama si Seruni sekarang dia jadi memperta nyakan ketulusan cinta kamu kepadanya Bas,,,
Wardi's
trus maksudnya maura apa datang ke seruni? cuma mau ngasih tau bastian d penjara?? tp kenapa berbelit2 sampai bilang pernah nganu2..
Nena Anwar
tuh kan Seruni tau dari org lain kan karena Bastian gk mau jujur sih
Ayuk Witanto
Bastian menyerah kan diri
Ayuk Witanto
sabar ya run...
Al Fatih
bang bul...,, bang bul...,, pergi tanpa memberikan penjelasan yang sebenarnya
Al Fatih
sabar yaa mbak seruni....
Nia nurhayati
dasar perempuan durjana kauuuu selvongggg
𝕸𝖆𝖗𝖞𝖆𝖒🌹🌹💐💐
sabar ya seruni🥹
Nia nurhayati
betapa baik nya hati istri mu bastian iya berbesar hati me ma'af kan muu
maka,sayangi dan cintai seruni sepenuh jiwa bastian
Muji Lestari
semangat Thor. selalu di tggu kelanjutanya
Tuti Tyastuti
𝘈𝘭𝘩𝘢𝘮𝘥𝘶𝘭𝘪𝘭𝘢𝘩 𝘴𝘦𝘩𝘢𝘵" 𝘴𝘦𝘭𝘢𝘭𝘶 𝘬𝘢 𝘧𝘪𝘳𝘢
Tuti Tyastuti
𝘣𝘢𝘨𝘶𝘴 𝘳𝘶𝘯𝘪 𝘥𝘢𝘯 𝘯𝘪𝘯𝘨𝘴𝘪𝘩 𝘩𝘦𝘮𝘱𝘢𝘴𝘬𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘭𝘢𝘬𝘰𝘳
Nena Anwar
sehat selalu ya othor dan kluarga
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!