Di bawah gemerlap penthouse mewah Chicago, Suzanne Klatten terjebak dalam neraka pernikahan tanpa cinta.
Enam bulan menyandang status istri sah Willem Daendels, dia hanya menerima penolakan, dihina, dan dikhianati demi wanita simpanan.
Namun, sebuah pelarian di koridor privat mengubah segalanya.
Dalam rapuhnya batin yang hancur, Suzanne menyerahkan kesuciannya kepada Aiden Luther Stone—bocah SMA berusia 18 tahun yang kehilangan kendali akibat pengaruh obat perangsang.
Saat fajar menyingsing, kepolosan runtuh dan takdir baru terajut.
Aiden yang didera rasa bersalah bersumpah akan bertanggung jawab dan menikahinya, tanpa tahu wanita misterius itu seorang istri Tetangga Apartemennya.
Di balik balutan hoodie kebesaran dan cincin pernikahan yang disembunyikan, Suzanne melangkah kembali ke neraka rumah tangganya dengan rahasia paling berdosa.
Sebuah romansa terlarang yang penuh manipulasi, dan ego yang siap membakar batas moralitas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#13
Aiden menatap lekat-lekat kedua manik mata Suzanne yang bergetar.
Genggaman tangannya pada jemari wanita itu tidak melonggar sedikit pun, justru semakin hangat seolah ingin menyalurkan seluruh kekuatan dan keyakinan yang ia miliki.
Namun, di balik ketegasan sikapnya, ada sebuah gejolak rasa penasaran bercampur kecemburuan samar yang kembali mencuat ke permukaan begitu kata 'pernikahan' kembali melintasi benaknya.
"Apa kau belum siap hamil? Kau takut suamimu tahu, Anne?" tanya Aiden, suaranya memberat, mengintip langsung ke dalam kabut misteri yang menyelimuti wanita di hadapannya.
Suzanne tersentak kecil, namun ia memilih untuk memalingkan wajahnya, enggan menatap binar mata elang Aiden yang terlalu menuntut jawaban.
Melihat reaksi diam tersebut, dada Aiden mendadak terasa dihantam oleh rasa sesak yang tak kasatmata.
Ada satu pertanyaan ketakutan terbesar yang sejak tadi pagi ia pendam, sebuah pertanyaan yang paling tidak ingin ia dengar jawabannya, namun ego mudanya mendesak untuk dikeluarkan.
"Kau... kau mencintai suamimu?" tanya Aiden lagi, suaranya merendah, hampir berupa bisikan yang sarat akan ketidakrelaan.
Anne—atau Suzanne—lagi-lagi tidak menjawab.
Keheningan yang pekat kembali merayap di antara mereka, hanya diiringi oleh detak jam dinding digital yang terus berjalan.
Keengganan Suzanne untuk membuka suara membuat Aiden dilanda kepanikan emosional yang aneh.
Sebagai seorang remaja delapan belas tahun yang terbiasa mendapatkan apa yang ia inginkan, bungkamnya wanita ini terasa seperti siksaan batin yang lambat.
Aiden memajukan tubuhnya, sedikit meremas jemari Suzanne demi mendapatkan perhatiannya kembali.
"Kumohon katakan sesuatu, Anne. Atau... atau kau mau aku beli obat kontrasepsinya sekarang? Apa masih belum terlambat kalau kita beli sekarang?" tanya Aiden dengan nada terburu-buru, mencoba mencari solusi medis instan jika memang kehamilan adalah momok menakutkan yang sedang membuat wanita ini menangis seharian.
Sebagai putra dari seorang dokter spesialis kandungan terpandang seperti Nora Amelie Stone, Aiden tahu ada batas waktu tertentu untuk obat pencegah pasca-hubungan, dan otaknya yang cerdas langsung menghitung sisa waktu yang mereka miliki sejak badai semalam.
Mendengar kepanikan dan rentetan pertanyaan Aiden yang mulai melintasi batas privasinya, Suzanne menarik napas panjang.
Rasa hangat yang sempat ia rasakan akibat perhatian remaja ini mendadak tergantikan oleh kesadaran pahit tentang status sosial dan hukum yang mengikat lehernya saat ini.
Suzanne menarik tangannya secara paksa dari genggaman Aiden. Ia menegakkan punggungnya, menatap Aiden dengan tatapan mata yang kembali mendingin dan kaku.
"Aku masih seorang istri, Aiden," ucap Suzanne dengan nada ketegasan yang mutlak, seolah sedang menegaskan garis batas di antara mereka berdua yang tidak boleh dilanggar.
"Dan jangan paksa aku untuk menceritakan hal yang bukan ranahmu. Hidupku, pernikahanku, dan apa yang terjadi di unit apartemen seberang... bukan urusan seorang anak sekolah sepertimu."
Kata-kata Suzanne laksana tamparan dingin yang mengembalikan Aiden pada posisinya.
Aiden terdiam, rahangnya mengatup rapat.
Namun, alih-alih tersinggung karena direndahkan sebagai 'anak sekolah', dia justru mengangguk pelan, menghormati batasan kaku yang sengaja dipasang oleh wanita itu demi melindungi sisa harga dirinya.
Aiden berdiri dari posisi berlututnya, namun matanya tetap mengunci pandangan Suzanne.
Sebuah pemikiran yang sangat kokoh dan posesif mendadak lahir di dalam benak seorang Stone.
"Baik, aku tidak akan bertanya tentang pernikahanmu," kata Aiden, suaranya beralih menjadi sangat dalam dan penuh penekanan yang mutlak.
"Tapi kumohon... jangan gugurkan anak kita jika dia benar-benar hadir nanti. Lahirkan untukku, Anne. Aku yang akan menghidupinya, aku yang akan menjaganya, dan aku yang akan bertanggung jawab penuh atas darah dagingku sendiri."
Suzanne tertegun mendengar kalimat seberani itu keluar dari mulut seorang remaja delapan belas tahun.
Lahirkan untukku? Suzanne tersenyum sinis, sebuah kekehan hambar yang menyiratkan kepahitan hidup lolos dari bibirnya.
Remaja di depannya ini berbicara seolah-olah dunia ini begitu murah dan mudah untuk ditaklukkan.
Dia tidak tahu seberapa kejamnya Daendels Group jika nama baik mereka diusik oleh skandal kehamilan di luar nikah sang istri sah.
Suzanne mengalihkan pandangannya, menyapu seluruh interior kamar tamu dan ruang dalam apartemen tempat ia berada sekarang.
Desain interior yang minimalis namun dipenuhi oleh furnitur kelas atas bermerek internasional, lantai marmer langka, dan sistem otomatisasi mutlak yang hanya ada di unit-unit termahal kompleks penthouse Chicago ini membuat sebuah kecurigaan baru melintas di benaknya.
"Apa apartemen ini milik orang tuamu?" tanya Suzanne dengan nada menyelidiki, matanya menyipit menatap Aiden yang masih bertelanjang dada dengan kaus dalam hitamnya.
Aiden menggelengkan kepalanya dengan santai.
"Milikku sendiri. Aku membelinya dengan uangku sendiri," jawab Aiden jujur.
Sebagai seorang Stone, meskipun dia belum sepenuhnya memegang kendali atas Luther Corporation, dia sudah memiliki investasi mandiri dan hadiah dana perwalian yang nilainya lebih dari cukup untuk membeli beberapa unit penthouse mewah di distrik elite ini tanpa perlu menyentuh sepeser pun uang saku dari sang Daddy.
Suzanne tiba-tiba tertegun di atas sofanya. Lidahnya mendadak kelu, dan jantungnya berdegup dengan ritme yang aneh.
Jawaban Aiden yang begitu enteng seolah membuka sebuah pintu darurat di tengah kegelapan neraka hidupnya.
Mata Suzanne menatap lekat-lekat pada figur tegap remaja di hadapannya.
Dia tahu persis berapa harga pasar untuk satu unit penthouse privat di lantai elite ini; nilainya mencapai jutaan dolar—sebuah angka yang bahkan tidak bisa disentuh oleh sisa aset keluarga Klatten yang sudah dinyatakan pailit.
Sebuah harapan baru, yang teramat gila dan nekat, mendadak menaruh jangkar di dalam hati Suzanne.
Jika remaja di depannya ini mampu memiliki properti semewah ini atas namanya sendiri di usia delapan belas tahun, itu artinya dia bukan sekadar anak dari keluarga kelas menengah yang kebetulan bersekolah di sekolah elite.
Apa... apa Aiden bisa membantunya terlepas dari cengkeraman Willem?
Pikiran Suzanne berputar cepat.
Ancaman Willem tentang memotong biaya rumah sakit ayahnya adalah satu-satunya rantai yang membuatnya bertekuk lutut selama ini.
Jika dia memiliki sekutu yang memiliki kekuatan finansial mandiri tanpa terikat oleh birokrasi Daendels, maka posisi tawarnya di depan Willem akan berubah seratus delapan puluh derajat.
Tanpa berpikir panjang, didorong oleh rasa putus asa yang mendalam akan keselamatan sang ayah, Suzanne langsung melontarkan pertanyaan yang sangat lugas, mengabaikan seluruh basa-basi sosial.
"Kau... orang kaya?" tanya Suzanne, matanya menatap tajam, menuntut konfirmasi atas status finansial remaja di hadapannya.
Aiden sempat tertegun, otaknya yang cerdas tidak bisa langsung mencerna arah kalimat sensitif yang mendadak keluar dari mulut wanita yang sejak tadi bersikap begitu tertutup ini.
Mengapa tiba-tiba Anne mempertanyakan kekayaannya dengan binar mata yang begitu penuh harap dan putus asa?
Aiden melangkah mendekati konter dapur mini, mematikan kompor sepenuhnya, lalu bersandar pada meja marmer sambil bersedekap.
"Bukankah kau juga tinggal di lantai privat yang sama, Anne? Kompleks ini hanya memiliki akses untuk kalangan tertentu," jawab Aiden tenang, mencoba membalikkan logika pertanyaan tersebut.
"Itu apartemen suamiku," jawab Suzanne cepat, suaranya terdengar datar namun menyiratkan kepahitan yang nyata.
"Bukan milikku. Aku tidak punya apa-apa."
Aiden terdiam mendengar pengakuan jujur itu.
Kepingan-kepingan teka-teki di dalam kepalanya perlahan mulai menyatu, membentuk sebuah gambaran yang semakin jelas tentang penderitaan wanita di depannya.
Aiden mengangguk perlahan, ekspresi wajahnya berubah menjadi lebih serius dan penuh empati.
"Kalian... pengantin baru?" tanya Aiden lagi, nadanya melembut, mencoba mengorek durasi hubungan yang mengikat Anne.
Suzanne menarik napas pendek, menatap cincin emas putih di jari manisnya dengan pandangan dingin. "Aku telah menikah selama enam bulan."
Enam bulan.
Aiden terdiam seribu bahasa di tempatnya berdiri.
Detik itu juga, otaknya yang taktis langsung menarik kesimpulan yang sangat akurat.
Pernikahan selama enam bulan, Status finansial apartemen yang murni milik sang suami, dan fakta paling krusial yang ia temukan semalam di atas ranjangnya sendiri: noda merah di atas seprai putih.
Aiden mengerti sekarang.
Pola ini terlalu familier di dunia kelas atas Chicago.
Pernikahan enam bulan tanpa adanya sentuhan fisik dari sang suami, dikombinasikan dengan tangis keputusasaan Anne pagi ini, hanya menunjuk pada satu kesimpulan mutlak.
Anne sepertinya berada dalam lingkaran pernikahan politik atau dijodohkan demi kepentingan bisnis.
Dan tangis sembabnya tadi pagi? Itu sudah pasti karena perbuatan atau perlakuan buruk dari sang suami brengsek yang menyia-nyiakannya.
Aiden mengepalkan tangannya di balik lipatan dadanya, sebuah kemarahan murni yang dingin merayap naik ke kepalanya.
Enam bulan pernikahan? Lalu bagaimana mungkin pria itu membiarkan istrinya tidak disentuh sama sekali hingga aku yang menjadi orang pertama yang merobek kesuciannya?
Pemikiran itu membuat ego pria Stone di dalam diri Aiden mendidih.
Dia merasa pria yang berstatus sebagai suami Anne adalah seorang pengecut tak berguna yang tidak layak memiliki wanita seindah dan seberharga ini.
"Aku akan menyelidikinya," batin Aiden dengan tekad yang sangat berbahaya berkobar di dalam matanya.
"Marcus harus memberikan identitas lengkap pria itu sebelum hari ini berakhir. Jika dia berani menyakitimu lagi, Anne... aku bersumpah akan merebutmu darinya."
Aiden meluruskan tubuhnya, mengambil piring berisi roti panggang dan sosis yang sudah selesai ia siapkan, lalu melangkah lebar mendekati meja di depan sofa tempat Suzanne duduk.
Ia meletakkan piring itu dengan lembut, lalu menatap Suzanne dengan senyum tipis yang penuh dengan janji terselubung.
"Makanlah dulu, Anne. Jangan pikirkan apa pun untuk saat ini," ucap Aiden lembut, menyodorkan garpu ke arah tangan Suzanne.
"Selama kau berada di dalam apartemenku, tidak akan ada satu orang pun yang bisa menyentuhmu atau membuatmu menangis lagi. Termasuk suamimu."
😌
sukaaak thor sama tokoh pria yg begini👍