Tujuh tahun lalu, kerasnya hidup memaksa sepasang kekasih berpisah jalan. Kini, mereka kembali dipertemukan di puncak kesuksesan. Alesha seorang Direktur wanita yang tangguh, dan Zehar telah menjadi perwira polisi yang mapan.
Kesempatan kedua pun diambil. Namun tepat saat hubungan mereka kembali bertaut, sebuah utang budi dari masa lalu datang menagih.
Alesha dihadapkan pada dua pilihan, antara harus berbakti pada perjodohan orang tua, atau mempertahankan cinta sejatinya.
Saat pangkat dan jabatan sudah di tangan, mampukah mereka memenangkan takdir yang dulu sempat gagal?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Badai Pertama, Kebangkrutan Keluarga
☘️ FLASHBACK
Memasuki awal semester tiga perkuliahan, suasana di lingkungan kampus masih terasa semarak dengan kesibukan mahasiswa yang memulai kembali rutinitas belajar.
Bagi Zehar dan Alesha, masa ini menjadi titik di mana mereka mulai membayangkan masa depan yang semakin terlihat jelas, seolah jalan yang akan mereka lalui telah terbuka lebar dan mulus tanpa hambatan.
Namun, ternyata takdir sudah menyiapkan kejutan yang mengubah alur kisah, semua dimulai dengan kabar yang dibawa oleh Zehar pada sore itu.
Sore itu, mereka duduk berdua di bangku taman yang menjadi tempat favorit di halaman belakang kampus.
Daun‑daun pohon rindang bergoyang perlahan ditiup oleh angin sepoi‑sepoi, menjadi saksi bisu percakapan mereka.
Zehar terlihat lebih bersemangat dari biasanya, matanya bersinar penuh kebanggaan saat memegang selembar surat resmi yang tergulung rapi di tangannya.
Ia menarik napas panjang seolah mengumpulkan keberanian sekaligus kegembiraan, lalu menoleh menatap Alesha yang sedang menyandarkan dagunya seraya memandang langit yang biru cerah.
“Alesha, aku ada kabar penting yang ingin aku sampaikan hari ini,” ucap Zehar dengan nada yang mantap namun penuh rasa haru.
Alesha segera memalingkan wajahnya, senyum lembut terukir di bibirnya.
“Pasti kabar baik, bukan? Dari wajahmu sudah terlihat sangat bahagia.”
Zehar mengangguk mantap, lalu membuka gulungan surat itu dan menunjuk pada tulisan di bagian atasnya.
“Aku diterima masuk Akademi Kepolisian Republik Indonesia. Proses seleksinya sudah selesai beberapa minggu lalu, tapi aku baru mendapatkan kepastian resminya hari ini. Kamu tahu kan, ini adalah cita‑citaku sejak masih duduk di bangku SMA, Lesha. Sejak dulu aku ingin mengabdikan diri, melindungi orang lain, dan menegakkan keadilan. Akhirnya kesempatan itu benar‑benar datang.”
Mendengar kabar itu, wajah Alesha bersinar cerah. Ia tidak menunjukkan sedikit pun rasa kecewa atau cemas, melainkan langsung menggenggam kedua tangan Zehar dengan semangat. Matanya berkaca‑kaca karena turut merasakan kebahagiaan kekasihnya.
“Ini kabar bahagia, Zehar! Aku ikut senang mendengarnya, aku sangat bangga padamu,” ucapnya dengan suara yang lantang dan tulus.
“Ya, Aku tahu betapa besar keinginanmu selama ini. Selama ini kamu rajin berlatih, menjaga kondisi tubuh, dan belajar dengan giat agar bisa lolos. Usahamu tidak sia‑sia. Tentu saja aku mendukung sepenuhnya. Jadilah polisi yang jujur, bertanggung jawab, dan membanggakan, sesuai dengan apa yang selalu kamu impikan.”
Ucapan dukungan itu membuat hati Zehar terasa semakin hangat. Ia meremas genggaman tangan Alesha, merasa sangat beruntung memiliki kekasih yang begitu memahami cita‑citanya.
“Terima kasih, Alesha. Aku sempat khawatir kamu akan merasa terbebani atau cemas karena nanti jadwalku akan jauh lebih padat dan ketat. Tapi setidaknya untuk tahap pelatihan dasar ini, aku masih akan berada di Ibu Kota. Belum ada penugasan ke luar daerah untuk beberapa tahun ke depan. Kita masih bisa bertemu dan berkomunikasi secara teratur, meski mungkin waktunya tidak seluas sekarang.”
“Selama itu jalan yang terbaik untuk masa depanmu, aku akan selalu menunggumu dan mendukung dari sini,” jawab Alesha tegas.
“Jangan khawatirkan aku, fokuslah pada pelatihan dan tugasmu nanti. Kita sudah melewati banyak hal bersama, ini hanya ujian kesabaran dan kepercayaan yang baru.”
Mereka meluangkan waktu lebih lama sore itu, membicarakan persiapan Zehar yang akan mulai mengikuti masa pendidikan dalam waktu dekat.
Suasana terasa penuh harapan, seolah tidak ada awan gelap yang akan mengganggu kebahagiaan mereka.
Namun, kebahagiaan itu hanya bertahan beberapa hari saja, sebelum sebuah musibah besar datang menimpa keluarga Alesha secara tiba‑tiba.
Hanya berselang lima hari setelah kabar gembira itu disampaikan, hidup Alesha berubah drastis dalam sekejap mata.
Bisnis perdagangan yang selama ini menjadi tulang punggung ekonomi keluarga ayahnya tiba‑tiba runtuh total.
Seorang rekan kerja yang sudah dipercaya bertahun‑tahun ternyata melakukan penipuan besar‑besaran, membawa kabur uang kas perusahaan, serta mengajukan pinjaman atas nama perusahaan dengan jaminan aset yang ada.
Saat fakta itu terungkap, semua urusan hukum dan keuangan sudah terlanjur kusut dan tidak bisa diperbaiki lagi.
Dalam waktu singkat, surat pemberitahuan penyitaan datang berturut‑turut.
Rumah besar tempat Alesha tumbuh dan menghabiskan masa remajanya, kendaraan keluarga, tanah usaha, serta semua barang berharga yang menjadi milik keluarga harus diserahkan dan dijual untuk melunasi sebagian dari jumlah utang yang sangat besar itu.
Ayahnya terpuruk secara fisik dan mental, kehilangan semangat hidup yang selama ini menjadi tulang punggung keluarga.
Ibunya hanya bisa menangis dan berusaha menenangkan suami sekaligus mengatur ulang kebutuhan sehari‑hari dengan keadaan yang serba terbatas.
Dengan kondisi yang terpaksa, keluarga kecil itu harus segera meninggalkan rumah yang selama ini menjadi tempat berteduh mereka.
Mereka akhirnya menyewa sebuah rumah kontrakan yang sangat sempit dan sederhana di pinggiran kota, jauh dari kawasan tempat tinggal mereka sebelumnya.
Ruangan yang hanya cukup untuk dua kamar tidur, ruang tamu yang sempit, serta dapur kecil yang terasa pengap.
Alesha harus segera menyesuaikan diri dengan perubahan hidup yang mendadak ini. Uang saku yang selama ini cukup untuk kebutuhan kuliah dan kegiatan sehari‑hari kini harus dipangkas sedemikian rupa.
Ia mulai berjalan kaki lebih sering, memilih makanan yang paling murah namun tetap mengenyangkan, dan berusaha mengurangi segala pengeluaran yang tidak perlu.
Setiap malam ia tidur dengan pikiran yang berat, memikirkan kondisi ayah yang semakin kurus, air mata ibunya yang terus terlihat menetes, dan bagaimana melanjutkan kuliahnya agar tidak terhenti di tengah jalan.
Namun di tengah kepahitan itu, satu keputusan tegas yang diambilnya adalah ia memilih untuk tidak memberitahu Zehar apa pun tentang musibah yang menimpa keluarganya.
Di benaknya, ia berpikir bahwa saat ini Zehar sedang bersiap memulai langkah baru menuju cita‑citanya.
Ia tidak ingin beban berat ini membebani pikiran kekasihnya, mengganggu konsentrasi, atau membuat Zehar merasa harus memikul tanggung jawab yang belum seharusnya dipikul.
Baginya, biarlah Zehar fokus sepenuhnya pada masa depannya tanpa terganggu masalah keluarga ini.
Setiap kali bertemu atau berkirim pesan, Alesha tetap memasang senyum seperti biasa, bercerita hal‑hal ringan mengenai kuliahnya, dan menyembunyikan kelelahan serta kesulitan yang ia rasakan sehari‑hari.
Ia berusaha keras agar perubahan hidupnya tidak terdeteksi sedikit pun oleh Zehar, ia memilih menyimpan rapat‑rapat kenyataan pahit itu hanya untuk dirinya dan keluarganya sendiri.
"Zehar... Aku tidak ingin membebanimu, tapi aku ingin berbagi kisah denganmu. Aku harus bagaimana, Zehar?" gumam Alesha dalam hati sembari berbaring meringkuk sambil terisak.
Ia sungguh lelah karena harus berpura-pura kuat.
Di awal semester tiga yang seharusnya menjadi awal babak baru yang cerah, malah menjadi ujian hidup babak pertama.
kalah saing kmu erhan
real sahabat ini mah😍
kalau bisa up banyak y. plis 🙏