NovelToon NovelToon
Sumpah Pengawal Kuno

Sumpah Pengawal Kuno

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Romansa Fantasi / Mengubah Takdir
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Mamah Nissa

Gugur dalam tragedi berdarah di abad ke-14, jiwa Nyai Kencana—kesatria wanita Kerajaan Sunda—terlempar ke masa modern. Ia merasuki raga Citra, mahasiswi beasiswa yang nekat melompat dari jembatan demi menjaga kehormatannya dari jebakan pemerkosaan.
​Kini, Citra bangkit dengan kepribadian baru: dingin, tegap, dan menguasai ilmu kanuragan kuno. Tidak ada lagi Citra lemah yang bisa ditindas!
​Perubahan drastis Citra membuat Elang Dirgantara, pewaris tunggal konglomerat yang angkuh dan sombong, penasaran sekaligus jengkel. Hubungan mereka layaknya anjing dan kucing yang selalu bergesek konflik.
​Namun, roda takdir berputar. Keluarga Elang bangkrut total dalam semalam. Diusir, dikhianati teman-temannya, dan nyaris bunuh diri.
Bagaimana kisahnya baca terus novelnya ya...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mamah Nissa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 13: Detik-Detik Bom Waktu Meledak!

Udara pagi di area selasar Universitas Dirgantara bertiup dengan kesegaran yang menipu. Matahari yang merayap naik memantulkan pendaran kemilau pada bodi serat karbon dari supercar hitam legam milik Elang Dirgantara saat kendaraan itu membelok tajam, memotong jalur bus kampus, dan mendarat dengan angkuh tepat di area parkir VVIP.

Elang turun dengan gerakan yang sengaja diperlambat, sebelah tangan merapikan kerah jaket bomber kulitnya, sementara tangan lainnya dengan santai melempar kunci mobil ke arah salah satu mahasiswa pengikutnya untuk sekadar dipamerkan.

"Gila, Lang! Hari ini auranya makin kelihatan kayak bos besar ya," sahut salah seorang penjilat di sampingnya, memajukan tubuh dengan senyuman yang direkayasa seramah mungkin.

Elang hanya terkekeh pendek, menyisir rambutnya ke belakang dengan jemari yang dihiasi cincin monogram perak. Egonya yang sempat tergores oleh perdebatan kelas dengan Citra Kencana beberapa hari lalu kini telah pulih seutuhnya, disuapi oleh jajaran fakta bahwa dia adalah pangeran mahkota tak tertandai di lingkungan ini. Dia berjalan membelah lobi, mengabaikan tatapan kagum maupun iri dari ratusan pasang mata yang membelah jalur untuknya.

Saat melangkah di koridor utama dekat perpustakaan, langkah Elang mendadak melambat ketika matanya menangkap sosok Citra dan Kirana yang sedang berjalan dari arah berlawanan. Citra, seperti biasa, membawakan dirinya dengan punggung yang tegak lurus sempurna, memeluk sebuah buku diktat tua tanpa ada kepura-puraan.

Elang sengaja menggeser posisi berdirinya, memblokade separuh jalur koridor sembari menatap Citra dengan senyum seringai yang sarat akan sisa dendam kesumat.

“Pagi, anak beasiswa. Gimana model ekonometrika pesanan gue? Udah lo revisi atau otak subsidi lo cuma bisa sampai di situ doang?” sindir Elang, suaranya sengaja dikeraskan agar beberapa mahasiswa yang lewat ikut mendengarkan.

Kirana di samping Citra sudah bersiap mengambil langkah maju dengan wajah ketus, namun sebuah sentuhan halus dari jemari Citra di lengannya menahan gerakan tersebut.

Citra tidak membalas sindiran itu dengan kemarahan atau kata-kata pisau yang tajam seperti sebelumnya. Ia justru menghentikan langkahnya, berdiri tegak lurus dengan keanggunan seorang kesatria purba yang sedang mengamati pergerakan lawan. Sepasang mata bulatnya menatap lurus ke dalam manik mata Elang, bukan dengan pandangan permusuhan, melainkan dengan sebuah ketenangan yang amat dingin, mendalam, dan sarat akan sebuah isyarat sunyi. Jiwa Nyai Kencana yang bersemayam di dalam raga itu, entah mengapa, menangkap adanya pergeseran frekuensi takdir yang pekat di sekeliling tubuh Elang. Sesuatu yang berbau keruntuhan besar sedang bergerak mendekat dari balik cakrawala, bersiap untuk meremukkan seluruh keangkuhan pemuda di hadapannya ini.

Melihat Citra yang hanya diam menatapnya dengan pandangan sedingin es, Elang mendengus kasar.

"Halah, gak bisa jawab kan lo? Makanya, kalau gak selevel, gak usah sok ngajari gue soal bisnis." Elang melangkah pergi dengan tawa angkuh yang menggema, tanpa menyadari bahwa itu adalah tawa terakhirnya di atas takhta kaca ini.

Ketegangan yang sesungguhnya meledak tepat pada tengah hari, saat jarum jam dinding raksasa di kantin utama Gedung Alpha menunjuk angka dua belas lewat lima belas menit.

Suasana kantin yang semula riuh oleh suara denting sendok dan musik pop yang mengalun dari pengeras suara, mendadak senyap seketika dalam hitungan detik. Fenomena aneh terjadi: hampir secara bersamaan, ratusan ponsel milik mahasiswa yang sedang duduk di sana bergetar pendek, menyuarakan nada notifikasi darurat dari berbagai aplikasi berita nasional.

Drrrt... Drrrt... Drrrt...

"Eh... demi apa nih? Lo dapet notif ini juga gak?"

"Astaga! Ini beneran Dirgantara Perkasa?!"

Elang, yang sedang duduk di meja tengah dikelilingi oleh sirkel setianya, mengerutkan dahi melihat perubahan atmosfer yang mendadak sunyi tersebut. Belum sempat ia meraih ponselnya yang tergeletak di atas meja, salah seorang temannya menyodorkan layar gawai dengan tangan yang gemetar hebat.

"L-Lang... lo harus lihat ini. Ini pasti hoaks, kan?"

Mata Elang terpaku pada baris kalimat tebal berwarna merah menyala yang bertengger di halaman utama media ekonomi nasional: "BOM WAKTU KORPORASI: MEGA-KORPORASI DIRGANTARA PERKASA RESMI DINYATAKAN PAILIT TOTAL. SELURUH ASET DISITA NEGARA AKIBAT KASUS LIKUIDASI MENDADAK!"

Elang sempat tertawa hambar, suara tawanya terdengar ganjil di tengah kesunyian kantin. "Gila ya media zaman sekarang, bikin hoaks gak kira-kira. Perusahaan kakek gue itu perusahaan gede, masuk sembilan naga negeri ini, gak mungkin bisa bangkrut dalam semalam!"

Demi membuktikan kata-katanya dan memulihkan harga dirinya yang mulai terusik oleh tatapan-tatapan aneh dari mahasiswa di sekitar, Elang berdiri dan melangkah menuju kasir VIP kafe untuk membayar pesanan sirkelnya. Ia menarik selembar kartu kredit hitam berlapis titanium, Centurion Card, dari dalam dompet kulitnya, lalu menyerahkannya pada petugas kasir dengan gerakan angkuh yang dipaksakan.

"Gesek semua, Mbak," ujar Elang datar.

Petugas kasir memasukkan kartu tersebut ke dalam mesin EDC. Beberapa detik berlalu dalam keheningan yang menyiksa. Mesin tersebut mengeluarkan bunyi bip panjang yang nyaring, disusul selembar kertas resi kecil yang keluar dengan tulisan tebal: DECLINED / TRANSACTION BLOCKED.

"Maaf, Mas... kartunya ditolak. Statusnya dibekukan dari pusat," ucap petugas kasir dengan nada suara yang mendadak berubah, tak lagi penuh ketundukan ramah seperti biasanya.

Wajah Elang seketika menegang, bintik-bintik keringat dingin mulai merembes di pelipisnya. "Coba lagi! Mesin lo yang rusak itu!"

Bip. DECLINED / ACCOUNT FROZEN.

Di saat yang bersamaan, ponsel di saku celana Elang bergetar hebat. Nama "Ayah" bertengger di layar. Elang menyambar ponsel tersebut, menempelkannya ke telinga dengan tangan yang mulai gemetar.

"Halo, Ayah? Ini ada hoaks apa di media…"

"Elang... kakekmu... semuanya sudah habis," suara Bramantyo Dirgantara terdengar pecah di ujung telepon, sarat akan keputusasaan seorang pria yang hancur total. "Seluruh aset kita, rumah, rekening, saham... semuanya disita pengadilan sejak satu jam lalu. Ayah bahkan tidak bisa mengakses uang sepeser pun. Jangan pulang ke rumah, rumah kita sudah disegel garis kurator..."

Sambungan telepon terputus. Elang berdiri mematung di depan meja kasir, merasakan seolah-olah lantai marmer yang dipijaknya runtuh, melemparkannya ke dalam palung kegelapan tanpa dasar. Realitas baru menampar wajahnya dengan kejam: dalam hitungan menit, status pangerannya telah menguap, menyisakan sebatang lidi yang telanjang di tengah badai.

Drama kejatuhan Elang mencapai klimaksnya yang paling mematikan sepuluh menit kemudian di area parkiran utama Universitas Dirgantara.

Suara raungan sirine mobil patroli kepolisian dan deru mesin truk derek raksasa membelah keheningan kampus, bergerak lurus menuju area parkir VVIP. Tiga orang pria mengenakan setelan jas rapi dengan emblem kurator pengadilan, dikawal oleh dua petugas kepolisian bersenjata, melangkah turun dan langsung memasang garis kuning bertuliskan "ASET DALAM SITAAN NEGARA" di sekeliling supercar hitam milik Elang.

Elang berlari menuruni tangga selasar dengan napas yang megap-megap, rambutnya yang semula rapi kini berantakan ditiup angin siang yang gerah.

"Hentikan! Apa-apaan kalian?!" teriak Elang membabi buta, melompati garis kuning dan mencoba mendorong salah satu petugas kurator. "Ini mobil gue! Ini wilayah Universitas Dirgantara! Kakek gue yang punya tempat ini! Berani-beraninya kalian menyentuh barang-barang gue!"

Seorang petugas kepolisian dengan dingin meletakkan tangannya di atas sarung pistolnya, menatap Elang dengan pandangan tanpa kompromi. "Saudara Elang Dirgantara, harap tenang. Mobil ini terdaftar sebagai aset operasional milik PT Dirgantara Perkasa Tbk. Berdasarkan keputusan pengadilan niaga nomor 45/Pailit/2026, seluruh aset di bawah kepemilikan korporasi harus disita demi memenuhi kewajiban likuidasi. Jika Anda melakukan perlawanan fisik, kami terpaksa mengamankan Anda atas tuduhan merintangi eksekusi hukum."

Mendengar kalimat dingin itu, Elang terhuyung mundur. Ia menoleh ke arah kerumunan ratusan mahasiswa yang kini telah memadati pagar selasar parkiran.

Di sana, ia melihat pemandangan yang meremukkan sisa-sisa harga dirinya hingga menjadi debu. Natasha berdiri di barisan depan dengan senyum seringai penuh kepuasan psikologis, seolah merayakan bahwa dia bukan lagi satu-satunya orang yang hancur di kampus ini. Wijaya Samudra berdiri di sampingnya dengan tangan bersedekap, menatap Elang dengan pandangan congkak yang menganggap Elang tak lebih dari sekadar sampah jalanan.

Lebih menyakitkan lagi, sirkel mahasiswa penjilat yang pagi tadi masih berebut memuji jaket mahalnya, kini berdiri jauh di belakang kerumunan, memalingkan muka seolah-olah mereka tidak pernah mengenal nama Elang Dirgantara seumur hidup mereka. Puluhan layar ponsel pintar diarahkan ke wajahnya, merekam setiap detik kejatuhan sang pangeran untuk dijadikan bahan gunjingan di media sosial.

Klik. Klik.Suara jepretan kamera ponsel terdengar laksana letusan senapan yang mengeksekusi harga dirinya.

"Lang... sori, kunci mobil lo gue taruh di lantai ya. Gue... gak mau ikutan urusan orang bangkrut," salah seorang mantan pengikutnya berbisik pelan, menjatuhkan kunci supercar itu begitu saja di atas aspal sebelum lari menyusup ke dalam kerumunan mahasiswa.

Truk derek mulai mengangkat bagian depan mobil sport mewah milik Elang. Bunyi gesekan besi dan deru mesin truk terdengar laksana lagu pengiring kematian bagi masa kejayaannya. Elang berdiri lunglai di tengah area parkiran, kedua tangannya tergantung lemah di samping tubuh. Ia tidak lagi memiliki kekuatan untuk berteriak; egonya telah runtuh total, meninggalkan raga muda yang mendadak kosong, miskin, dan tidak memiliki arti apa pun di mata menara kaca ini.

Di sudut lantai dua koridor yang menghadap langsung ke arah parkiran, Citra berdiri di balik pagar pembatas, ditemani oleh Kirana.

"Mampus. Sukurin lo, Elang. Makanya jadi orang jangan sombong-sombong amat. Kena karma instan kan lo dari Tuhan," komentar Kirana sinis, mendengus melihat tontonan di bawah sana.

Citra tidak menanggapi ucapan sahabatnya, dan menurutnya wajar kata-kata itu keluar dari mulut Kirana, saking kesalnya. Ia tetap berdiri diam, membeku bagai patung marmer purba. Sepasang mata bulatnya menatap lurus ke arah sosok Elang yang sedang berdiri sendirian di tengah parkiran, dikerumuni oleh cemoohan dan kilatan kamera mahasiswa. Di dalam batin kesatria kunonya, tidak ada rasa puas atau keinginan untuk merayakan kemenangan atas jatuhnya seorang musuh yang telah kehilangan senjatanya.

Nyai Kencana justru melihat pemandangan itu sebagai visualisasi dari takdir yang kejam, melihat seorang pemuda yang seluruh dunianya sengaja diruntuhkan berkeping-keping dalam hitungan jam, persis seperti runtuhnya tatar Sunda di Lapangan Bubat masa lalu.

Ada kedalaman rasa empati psikologis yang aneh yang merayap di sudut batin purbanya, meskipun ia belum memahami mengapa takdir mengikat pandangannya begitu kuat pada pemuda tersebut.

Elang Dirgantara, dengan langkah kaki yang terhuyung dan tatapan mata yang kosong tanpa arah, perlahan berjalan melintasi gerbang utama kampus. Ia melangkah menyusuri trotoar jalanan Jakarta yang panas, berjalan sendirian tanpa sepeser uang di dompetnya, tanpa teman yang biasa mengelu-elukannya, di bawah naungan awan hitam kumulonimbus yang mendadak berkumpul pekat di langit, siap menumpahkan badai hujan yang akan menghapus sisa-sisa kemegahan sang mantan pangeran untuk selamanya.

1
Darma
hik kasihan citra
Apis
thor sebenernya ceritanya bagus tp gmn ya bnyk kata" yg g sat set ke inti jln ceritanya
Mamah Nissa: siap kk di bab awal lebih banyak bercerita, sedikit dialog ya. makasih sarannya kak, ini tanggung di draft udah sampe bab 32. bab 33 ke sana coba dibikin yang lebih simple.
total 1 replies
Sarah
Woahh, bab 1 yang keren. Meskipun kadang paragraf kerasa tetlalu panjang. Tapi masih enak diliat sih. 👍
Mamah Nissa: Makasih kakak sudah mampir mohon bimbingannya...
total 1 replies
Mamah Nissa
siap kk. makasih dah mampir mohon bimbingannya
putratunggal
mantaps ceritanya meski baru awal
Mamah Nissa: makasih kak mohon bimbinganya
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!