Benedict Franklin, pemilik Equinox Ventures dan pemimpin organisasi Veto, adalah pria yang hanya percaya pada angka dan kekuasaan. Baginya, emosi adalah kelemahan, dan tatapan matanya mampu meruntuhkan siapapun dalam hitungan detik. Namun, hidupnya yang penuh kendali berubah saat ia bertemu dengan Zara Clarance Harrison. Bagi Zara, hidupnya sudah cukup indah hanya dengan aroma tepung dan manisnya gula di toko kue kecil miliknya. Namun, dunianya yang tenang, hancur dalam semalam ketika ayahnya, David Harrison, menggunakan dirinya sebagai jaminan hutang kepada Benedict Franklin
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Callalily, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 13
Waktu terus bergerak, membawa hari-hari yang hening, seakan hidup hanya berjalan sebagaimana mestinya.
Benedict selalu berangkat membersamai matahari terbit dan baru kembali saat dini hari, tenggelam dalam tumpukan berkas dan pertemuan bisnis yang seolah ia buat padat. Saat di rumah, jika ia tak sengaja berpapasan dengan Zara, Benedict hanya akan melewatinya seolah Zara hanyalah debu.
Zara sendiri kembali ke toko rotinya, atas izin Benedict tentunya. Meski tubuhnya lelah setelah seharian bergelut dengan adonan, Zara tetap memenuhi janjinya. Setiap hari ia menyiapkan makanan untuk Benedict. Namun, setiap usahanya selalu Benedict abaikan.
Suatu malam, Benedict pulang lebih awal. Ia tampak sangat lelah, wajahnya pucat. Zara yang baru saja selesai menata meja makan, segera menghampirinya dengan celemek yang masih terikat di pinggangnya.
Di atas meja, sebuah piring berisi steak yang dimasak dengan tingkat kematangan sempurna, lengkap dengan aroma bawang putih dan mentega yang gurih, telah tersaji.
“Kau pulang tepat waktu. Aku membuat steak dengan saus jamur. Aku ingat kau butuh protein untuk memulihkan lukamu” ucap Zara lembut.
Benedict melirik meja makan. Ia melonggarkan dasinya dengan kasar.
“Berapa kali harus kukatakan, Zara? Jangan buang waktumu. Aku tidak akan memakan apapun yang dibuat oleh tanganmu.”
“Hanya steak, Tuan. Aku menyiapkannya sendiri.”
Benedict terkekeh sinis. Ia melangkah mendekat ke arah meja, menatap potongan daging itu.
“Kau menatanya dengan sangat rapi. Apa yang kau masukkan ke dalam bumbunya? Atau mungkin kau sudah merendam daging ini dengan sianida sebelum memanggangnya?”
“Apa?” Zara ternganga.
“Kau pikir aku sebodoh itu?“ Benedict menatap Zara dengan sorot mata yang mengintimidasi.
“Kau punya sejuta alasan untuk membenciku. Mungkin saja kau memasukkan racun ke dalam makanan yang kau buat.”
“Aku bukan pembunuh, Tuan Benedict!” suara Zara meninggi. “Jika aku ingin kau mati, sudah ku bunuh kau sedari lama”
“Mungkin kau hanya sedang menunggu waktu yang tepat agar kematianku tidak terlihat seperti direncanakan,” sahut Benedict datar.
Pria itu mengambil pisau yang ada disamping piring, menimbangnya sejenak, lalu meletakkannya kembali dengan denting yang kasar. Ia kemudian menoleh ke arah Anna yang berdiri tak jauh dari sana.
“Singkirkan ini. Siapkan makanan baru untukku, dan pastikan wanita ini tidak mendekati dapur lagi saat makananku disiapkan,” perintah Benedict dingin kepada Anna sang kepala pelayan.
Tanpa menunggu balasan, Benedict berbalik menuju kamarnya. Zara hanya bisa berdiri mematung di samping meja, menatap steak yang perlahan mendingin sementara Anna dan pelayan lain mulai membereskannya dengan canggung.
Namun, saat pintu kamar Benedict tertutup, pria itu bersandar pada daun pintu sambil memejamkan mata rapat-rapat. Aroma steak itu terus membayangi pikirannya. Aroma itu membangkitkan sebuah memori lama yang sangat ia rindukan, namun ia enggan untuk mengakuinya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Zara menarik napas dalam, merapikan kotak makan siang yang telah ia siapkan. Setiap hari Selasa ia menutup toko rotinya, jadi ia memutuskan membuatka makan siang untuk Benedict.
Ia telah menyiapkan sebuah Panino Caprese, roti ciabatta yang ia panggang sendiri, diisi dengan irisan mozarella, tomat, dan daun basil yang wanginya merebak saat bersentuhan dengan minyak Zaitun. Sebagai pelengkapnya, ia menyertakan anggur hijau yang segar dan beberapa keping biscotti sebagai pencuci mulut.
Dengan kotak bekal itu, Zara melangkah mantap menuju pusat finansial Manhattan, berdiri di depan gedung pencakar langit, Equinox Ventures.
Begitu melangkah masuk ke lobi, Zara langsung disambut oleh tatapan menyelidik dari balik meja resepsionis. Seorang wanita dengan pakaian formal menatapnya dari ujung kepala hingga ujung kaki. Namun Zara tetap mengulas senyumnya.
“Ada yang bisa saya bantu?” tanya resepsionis itu dengan datar.
“Saya ingin bertemu dengan Benedict Franklin, dimana ruangannya?” jawab Zara.
Resepsionis itu mengangkat alisnya, lalu melirik kotak bekal di tangan Zara dengan pandangan meremehkan.
“Anda punya janji temu? Jadwal Tuan Franklin sudah penuh hari ini. Dan kami tidak menerima pengantaran makanan di meja depan.”
“Saya tidak punya janji temu. Saya istrinya” ucap Zara pelan, namun cukup tegas.
Wanita itu memberikan senyum sinis. “Nona, setiap minggu ada saja wanita yang datang kesini mengaku sebagai kerabat bahkan istri Tuan Franklin. Dan maaf saja, penampilan anda sedikit tidak meyakinkan untuk menjadi seorang nyonya Franklin”
Mata wanita itu tertuju pada pakaian sederhana yang Zara kenakan.
“Saya sarankan anda segera pergi sebelum saya memanggil petugas keamanan karena anda dicurigai membawa barang terlarang ke dalam sini.”
Zara menarik napas dalam. “Aku tidak berbohong. Katakan saja padanya Zara Clarance ada disini.”
“Cukup, Nona. Silakan keluar,” ucap resepsionis sambil menekan tombol merah di bawah meja, memberi isyarat pada dua pria bertubuh besar di sudut lobi untuk mendekat.
Tepat saat petugas keamanan hendak menyentuh lengan Zara, pintu lift eksekutif di belakang mereka berdenting terbuka.
Luca melangkah keluar dengan langkah cepat sembari memeriksa tablet di tangannya, namun langkahnya terhenti seketika matanya menangkap keributan di meja depan.
“Ada apa ini?” suara Luca yang berat menginterupsi.
Resepsionis itu langsung berdiri tegak. “Ah, Tuan Luca. Wanita ini membuat keributan. Dia bersikeras ingin bertemu Tuan Franklin dan mengaku sebagai istrinya. Saya sedang memintanya keluar.”
Luca menatap Zara. Ia menghela napas panjang, memberikan tatapan yang membuat resepsionis itu langsung tertunduk lesu karena ketakutan.
“Biarkan dia naik,” ucap Luca. “Dia memang istri Tuan Franklin.”
Resepsionis itu ternganga. Tangannya gemetar saat ia dengan gugup menempelkan kartu akses untuk membuka palang pintu secara otomatis. Tanpa sepatah kata pun, Zara melangkah masuk, meninggalkan kehebohan di lobi.
Di dalam lift yang bergerak cepat menuju lantai lima puluh, Luca melirik ke arah kotak bekal Zara.
“Dia sedang dalam suasana hati yang sangat buruk hari ini, Nona. Sebaiknya anda berhati-hati, dia mungkin tidak akan menyambut ini dengan baik.”
Zara hanya mengangguk kecil, memeluk kotak makan siangnya lebih erat. Pintu lift terbuka. Zara berjalan perlahan, melewati meja sekretaris yang kosong, hingga tiba di depan pintu yang tertutup rapat.
Dari dalam, ia bisa mendengar suara Benedict yang dingin sedang memberikan instruksi dengan nada tinggi di telepon. Zara mengambil napas panjang, lalu mengetuk pintu.
Pintu besar itu terbuka pelan. Di balik meja, Benedict berdiri memunggungi pintu, menatap tajam gedung-gedung Manhattan di balik dinding kaca.
“Aku tidak peduli berapa kerugiannya. Putuskan kontraknya sekarang,” ucapnya dingin sebelum mematikan sambungan telepon dengan kasar.
Benedict berbalik, dan matanya seketika menyipit saat melihat siapa yang berdiri di ambang pintu.
“Zara? Apa yang kau lakukan disini?” tanya Benedict dengan suara rendah, sarat akan nada peringatan.